LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{46}



Beberpa hari setelah kejadian itu, Cansu yang di bawa ke mansion Yohan tidak mendapatkan perlakuan buruk seperti biasanya.


Aneh? Ya tentu.


Lebih aneh lagi saat Yohan bersikap lain dari biasanya, Cansu yakin pasti ada niat jahat lainnya yang Yohan sembunyikan sekarang.


Sebuah mobil sport terpakir berhenti di pelantara mansion. Mobil putih itu membuat Cansu mengerinyit di atas balkon.


Siapa itu? Setahunya mobil Yohan tidak ada yang berwarna putih selain hitam dan merah yang melambangkan ciri khasnya yang kejam dan bingas.


Saat orang yang membuat Cansu penasaran keluar dari mobilnya, Cansu bisa melihat sepasang dua orang paruh paya yang dibalut dengan pakaian mereka yang elagan.


Wajah mereka tampak terlihat tampan dan cantik walau di usia mereka yang menua.


“Siapa itu?”


Tanpa berfikir panjang Cansu turun dari kamarnya untuk menyambut tamu yang datang, lagian di mansion ini siapa lagi yang mau menyambut tamu Yohan selain dirinya? Bukannya Cansu lancang, tapi Yohan kini sedang tidak ada di mansion.


“Salam Tuan, Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” sambut Cansu.


“Oh kau pasti gadis yang dimaksud itu bukan?” tebak pria paru baya tersebut.


Ia menjulurkan tangannya. “Saya Lucas Amor, Daddy nya Yohan.” Cansu menyambut uluran tangan Lucas, ia baru tau kalau Lucas itu Daddy nya Yohan.


“Dan ini istri saya Fanny.”


“Salam Tante.”


Fanny tidak terlalu suka melihat Cansu, ia bahkan tak berniat bersalaman dengan dirinya.


“Salam,” jawab Fanny cuek.


“Apa Yohan ada nak?” tanya Lucas.


“Dia sedang tidak ada sekarang,” jawab Cansu, “Tapi Om dan Tante bisa masuk dulu jika ingin menunggu Yohan.” Persilahkan Cansu.


Lucas dan Fanny pun masuk ke dalam, Cansu menyuruh beberapa pelayan untuk membuatkan minum untuk kedua orang tuannya Yohan.


“Apa kehadiran kami mengganggu nak?” tanya Lucas.


“Bagaimana kalian bisa mengangguku? Ini mansion Yohan dan kalian adalah orang tuanya, tentu saja kehadiran orangtua itu sangat berarti bagi anaknya.”


Lucas tersenyum hangat ke arah Cansu. “Seandainya saja Yohan juga berfikiran sama sepertimu.”


Tak lama kemudian deru suara mobil sport di pelantara mansion membuat Cansu yakin bahwa kini Yohan telah kembali.


“Kurasa Yohan telah kembali.”


“Ada apa ini? Kenapa aku tidak tau ada tamu tak di undang kemari?” Muncul suara Yohan tiba-tiba.


Yohan menatap Daddy dan Mommy tirinya enggan. “Siapa yang mengizinkanmu membawa penyusup ke rumahku heh?!” bentak Yohan pada Cansu.


Cansu memejamkan matanya takut melihat murka Yohan yang lebih mengerikan dari biasanya.


“Yohan! Mommy dan Daddy datang kemari karena merindukanmu sayang,” ujar Fanny.


“Kau bukan Mommy ku! Pergi dari sini se-ka-rang!” tekan Yohan di ujung kalimat.


Dadanya bergemuruh, amarahnya meledak-ledak saat melihat Fanny dan Lucas, ia sudah terlalu muak dengan mereka.


Yohan menunjukkan pintu utama untuk Fanny dan Lucas agar mereka cepat keluar dari mansion nya.


“Nak, Daddy hanya—”


“Aku tidak punya Daddy! Jangan mengaku-ngaku kau adalah orang tuaku, Daddy ku tak akan pernah membuang anaknya begitu saja,” Menyunggingkan senyumannya miring. “Benar 'kan Mr. Lucas Amor?”


“Yohan! Dia Daddy mu jangan kurang ajar kepada orang tua?!” bentak Cansu, entah kenapa kata-kata ini terlontar dari mulut Cansu begitu saja, ia terlalu kesal dengan Yohan yang memperlakukan orang tuanya seperti itu. Pantas saja dirinya tak punya hati sedikitpun untuk membunuh kedua orang tuanya yang ia sayangi.


“Aku bilang pergi!” teriak Yohan.


Lucas menarik nafasnya dalam lalu membuangnya pasrah, percuma! Dendam Yohan seolah menuntup semua kemungkinan untuk Lucas agar anaknya mau memaafkannya.


Hanya satu cara yang mungkin bisa membuat Yohan mau memaafkannya, yakni membuat Fanny menderita seperti ia melakukannya dulu kepada mendiang istrinya.


Lucas dan Fanny pun beranjak pergi menaiki mobil mereka meninggalkan kediaman Yohan.


Dan kini tinggal Cansu, Yohan menatapnya murka.


Celaka! Pasti Yohan akan menyiksanya lagi, atau kemungkinan terparahnya ia akan di ceburkan dari balkon atas ke dasar kolam.


Nyatanya ia salah, Yohan malah membuang muka dan berjalan masuk ke lift menuju ke kamarnya.


“Apa dia baru saja mengalah?”


•••


Hari ini Jovan sudah bisa pulang ke mansion nya, Jesy juga yang mengurus segala keperluannya.


Namun, bukannya ingin pulang ke rumah Jovan malah menyuruh Jesy untuk mengantarkannya ke mansion Yohan.


Gila!


Memang kalau di katakan bodoh, gila, itu sekarang melekat di kepala Jovan, untungnya Jovan tak memberitahukan Jesy bahwa ia bisa sampai babak belur dan besimbak darah karena Yohan yang menghajarnya.


Kalau tidak?


Sudah dipastinya Jesy tidak akan mau mengantar Jovan ke kadang singa itu.


Bisa-bisa bukan Jovan yang pernah masuk ker rumah sakit karena sekarat, melainkan ia akan terbunuh dan menjadi pahatan nama dalam batu nisan di tanah.


“Mansion Yohan? Kau serius Jo? Bukannya kemarin lalu kalian habis perang dingin?” Jesy menyetir mobilnya tanpa melihat Jovan sekalipun.


“Kau tidak berbohongkan?” Jesy sesekali melirik Jovan dengan sedikit curiga.


“Memangnya aku tampak berbohong.”


“Hampir, tapi aku percaya denganmu Jo, baiklah aku akan mengantarmu ke sana.”


Lalu, Jesy memutar kemudi stirnya menuju ke kediaman mansion Yohan.


Sesampainya Jovan di pelantara mansion Jovan, Jovan langsung menyuruh Jesy untuk pulang secepatnya.


Jovan menunduk, menatap kaca jendela mobil dari luar yang sengaja di buka.


“Pulanglah deluan, aku akan masuk.”


“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulud, bye.”


Jovan melamabaikan tangannya saat mobil Jesy melaju pergi meninggalkannya.


“Kau Tuan Jovan bukan?” tanya salah satu boyguard yang kebetulan berjaga di teras mansion.


“Ya, kenapa?”


Dua pria berbadan kekar itu langsung menghadang tubuh Jovan yang ingin masuk ke dalam.


“Kau dilarang untuk ke sini lagi, sebaiknya kau pulang Tuan.”


“Atau kami akan menghajarmu di sini.”


“Berani sekali kalian, kalian tidak tau aku heh?”


“Kau adalah Kakak dari Tuan kami.”


“Jika kalian tahu kenapa tidak langsung bukakan aku jalan!”


“Maaf Tuan silahkan anda pergi, Tuan Yohan tidak ingin melihat Kakaknya berada di mansion nya lagi.”


“Tidak! Sebelum aku berbicara dengan Yohan! Kalian berdua, cepat panggilkan Yohan kemari!”


“Ada apa ini?!”


“Tuan.”


“Yohan!”


•••


“Aku baru tau ada rumah kaca berisi bunga-bunga yang cantik di sini.”


“Ini adalah tempat Favorite Tuan Yohan, Nona,” terang Bibi Petty.


“Yohan? Suka bunga? Prffttt— Kalau itu aku mungkin tak akan percaya! Bagaimana seorang yang sangar seperti dia pecinta bunga-bunga yang indah ini?”


Atau bisa dibilang ototnya itu hanya digunakan untuk berkebun hahaha.


“Nona jangan seperti itu, jika Tuan Yohan tau—”


“Tentu saja dia akan malu karena aku mengetahui rahasia buruknya ini, pria gagah dengan sisi yang lembut seperti kapas hahaha, kau tau apa maksudku 'kan Bibi Pet?”


“Ya Tuhan hahaha, aku tak bisa membayangkannya Nona.”


“Bagaimana kalau dia memakai pakaian pelayan? Kurasa itu lebih cute lagi di otot-otot kekarnya itu,” ledek Cansu.


“Tapi nyatanya rumah kaca ini Tuan Yohan sendiri yang mendekornya, kadang ia sering kemari untuk sekedar menanam dan menyiramnya.”


“Wahh benar-benar tidak terduga hahaha....”


Waktu makan malam hampir tiba, Bibi Petty harus segera menyiapkan masakkannya untuk hidangan malam ini.


“Nona, ayo balik ke kamar, aku takut Tuan Yohan mencarimu nanti.”


“Akh ya kau benar Bi, sebaiknya kita balik segera.”


Saat Cansu dan Bibi Petty yang sibuk mengobrol tentang sisi lain dari seorang Yohan.


Sebuah kericuhan mengusik indra pendengaran Cansu, ia milirik ke pelantara mansion.


Di sana ada Jovan dengan tubuh masih di balut dengan perban putih tersungkur di lantai karena di dorong para boygruar Yohan.


“Jovan!” teriak Cansu.


Jovan yang mendengar suara Cansu menoleh, Cansu berlari menyusul Jovan dan memeluk kepalanya agar para boyguard Yohan berhenti menendangnya.


“Masuk Cansu!” tegas Yohan


“Tidak! Kau ini kenapa heh? Dia ini Kakak mu Yohan!” pekik Cansu tak suka.


“Ini tidak ada urusannya denganmu, kubilang masuk, ya masuk Cansu!”


“Aku tidak mau sialan!” umpat Cansu.


Plak!


Yohan menampar pipi Cansu kasar, kini wajah putihnya memerah seketika, darah segar mengalir di sisi bibir Cansu yang perih dan terasa sakit bukan main.


Itu bukan seperti tamparan! Melainkan pukulan tinju yang meretakkan rahang.


Jovan berdiri dengan sekuat tenaga. “Kau boleh menghajarku, tapi jangan pernah melakukan hal sekasar ini dengan seorang gadis Yohan! Dasar pengecut! Cuih.” Meludah kesembarangan arah, Jovan menatap nyalang adik nya.