LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{14}



“Geo apa maksudmu heh?” tanya Jovan saat Geo malah mencekal pergelangan tangannya. “Dari tadi kuperhatikan kau ini aneh, ada apa sebenarnya?” tanya Jovan curiga melihat ekspresi Geo.


“Tuan... Maafkan aku, tapi tadi—” belum sempat Geo berbicara, seorang wanita dengan dress ketat berlari kearah Jovan manja.


“Sayang~” rayunya lalu memeluk lengan kekar Jovan possessive. “Sayang, kau tau aku menunggumu lama disini, tapi si pelayanmu ini malah mengusirku tadi, sayang... Pecat dia demi aku.” kedip mata Casely manja lalu menunjuk Geo sinis.


Bukannya Jovan semakin terpikat, ia malah menghempas tubuh wanita lintah darat didepannya.


“Kenapa kau disini heh?!” bentak Jovan. “Pergi dari sini atau kuseret kau paksa!” ancam Jovan.


“Jovan!!!” pekik Casely tak terima, sedangkan Jovan memasang wajah dinginnya menatap Casely. “Oh... Aku mengerti, karena wanita disampingmu ini kau tak ingin aku yang melayanimu lagi?” lalu Casely berjalan maju ketubuh Cansu yang kini menegang karena tatapan tajamnya Casely. “Seberapa lihainya kau sampai-sampai membuat Jovan tak menginginkanku lagi hem...” tantang Casely lalu mengelus pipi mulus Cansu dengan kukunya yang tajam.


Jovanpun menepis tangan Casely kasar dari pipi Cansu. “Enyahlah tanganmu itu darinya!” tegas Jovan.


“Jovan... Kenapa kau kasar begini denganku hemmm?” lalu Casly memeluk dada bidang Jovan menggoda. “Apa aku kurang membuat adikmu lelah?” erangnya, lalu membuka satu kancing Jovan dan menjilatnya.


Jovan memeramkan matanya, jujur... Rayuan Casely hampir membuat adik dibawahnya terasa sakit.


Cansu yang melihat gadis murahan didepannya mengidik jijik seketika.


Apa yang harus dibanggakan dari gadis itu, jika ia cuman sebagai budak pemuas nafsu?.


Casely hendak memegang bagian bawah Jovan, namun buru-buru Jovan mendorong gadis itu hingga terkulai dilantai. “Dasar tidak tau malu! Geo suruh penjaga untuk menyeretnya paksa dari sini!” titah Jovan geram.


“Baik Tuan.”


Tak beberapa lama para penjaga menyeret Casely berserta bawaannya. “Jovan!!! Kenapa kau mengusirku heh? Apa karena gadis itu?! Hei dengar kau gadis sialan! Jovan itu brengsek! Kau pasti juga akan sama sepertiku! Hanya dimanfaatkan saja! Setelahnya kau akan dicampak olehnya!!!” teriak Casely, walau dirinya sudah diseret penjaga, ia tak bosan-bosannya memaki Jovan dan menyumpahi Cansu yang akan bernasib sama sepertinya.


“Kau tak perlu mendengarkan orang gila itu,” ujar Jovan.


Cansu menganggukkan kepalanya, walau pikirannya selalu terbayang-bayang dengan perkataan Casely, apa benar Jovan orang yang seperti itu? Lagian jika dilihat mana ada orang yang mau membantu seseorang tanpa pamrih jika tidak mengambil keuntungan yang bisa diambil olehnya?


‘Tapi ini tak baik Cansu! Tuan Jovan sudah baik denganmu! Kenapa kau harus berfikiran negatif seperti itu dengan orang yang menolongmu!’ batin Cansu.


“Nona... Mari saya antar kekamar anda,” ujar Geo menuntun Cansu kekamar.


•••


Detingan piring bertubrukkan dengan pisau dan garpu, tak ada percakapan satu sama lain.


Disisi lain Cansu yang tak biasa makan tanpa adanya percakapan berusaha untuk mencairkan suasan yang hening bagaikan kuburan ini.


“Aku—”


“Ah aku—” ujar mereka kompak disaat yang bersamaan.


“Kau deluan.” persilahkan Jovan.


“Ah tidak... Tuan saja deluan.”


“Tidak kau yang deluan.”


“Baikalah, sebelum aku ingin bilang ke kepada Tuan terima kasih banyak sudah menampungku di mansionmu, bahkan kau juga memberikan pakaian dan juga makanan untukku secara cuma-cuma.” terang Cansu terus terang.


“Iya sama-sama, lagian aku tak bisa membiarkan seorang gadis disiksa dengan adikku sendiri.”


“Yohan itu apa benar adikmu Tuan?” tanya Cansu polos.


“Hahaha...” tawa Jovan melihat ekspresi Cansu. “Kenapa kau berpikir begitu, tentu saja iya.”


“Apa adik kandung? Atau tiri?” tanya Cansu lagi dan lagi.


“Tentu saja kandung, kenapa bertanya begitu?”


“Tidak mirip sama sekali,” guman Cansu yang terdengar di pendengaran Jovan yang tajam. “Ah tidak apa-apa Tuan,” jawab Cansu.


“Bagaimana Tuan bisa tau?”


“Kau tadi berbicara sendiri.”


‘Ya Tuhan... Kupingnya ternyata tajam juga.’ batin Cansu.


“Orang bilang Yohan itu kebalikan dari diriku.” terang Jovan. “Pernah dengar minyak dan air yang dicampur tak bisa bersatu?” tanya Jovan.


Cansu mengangguk. “Pernah.”


“Dalam teori kimia itu, aku dan Yohan ibarat minyak dan air, mau kau aduk sekalipun agar menyatu tapi tetap tak bisa, kau tau kenapa? Itu karena molekul dan senyawa yang dihasilkan bertolak belakang, ibarat sifat kami yang bertolak belakang pula.”


“Ah aku mengerti, kalau boleh bertanya kenapa kalian bisa tak akur?” tanya Cansu penasaran. “Ah maaf karena aku lancang Tuan aku tak bermaksud.” gelagap Cansu.


“Tak apa, aku senang jika ada orang yang penasaran dengan kisah hidupku dari pada yang tampak dipermukaan saja.” terang Jovan, melihat Cansu yang bingung Jovan tersenyum lembut.


“Aku ini berkerja sebagai aktor dan model, sedangkan adikku ia lebih mendalami perannya sebagai mafia didunianya, tak banyak orang yang tau itu, dia dikenal orang umum sebagai Trillionaire no satu didunia saja, jika melihat sama kecil kami, ia tak pernah mendapat kasih sayang dari Daddy, berbeda denganku, mungkin dia merasa begitu, tapi nyatanya kami menyayanginya.” jelas Jovan tersenyum simpul.


Cansu memahami kata-kata Jovan bahwa orang tak akan berubah kecuali ada suatu alasan yang jelas, namun tidak bisa dipungkiri juga dia tetap membenci Yohan yang telah membunuh keluarganya.


‘Orang jahat itu terlahir dari orang baik yang tersakiti.’


“Geo.” panggil Jovan.


“Ya Tuan?”


“Bawa semua makanan yang tak tersentuh ini kepada orang yang membutuhkan mengerti?” titah Jovan.


“Baik Tuan, saya akan memberikannya ke fakir miskin di pinggir jalan.”


Cansu tersenyum lembut kearah Jovan, disaat semua orang sibuk merebut kekuasaan dengan mengijak-ijak hak orang miskin untuk menaiki diri mereka agar lebih tinggi.


Jovan yang sudah berada diatas puncaknya masih tetap memandang orang-orang yang berada dibawahnya.


“Kenapa tersenyum begitu?” tanya Jovan.


“Akh... Tidak.” gelagap Cansu yang seperti ketahuan melihat Jovan dalam diam.


“Tak mungkin, jadi kenapa kau bisa tersenyum, kau tak gilakan?”


Cansu memajukan mulutnya merajuk. “Aku tidak gila! Aku tadi tersenyum karena ketulasan hatimu.”


“Ketulusan hatiku?”


“Ya, kau sangat baik Tuan, kau bahkan masih sempat melihat orang yang berada dibawahmu.”


“Aku selalu melakukannya tiap hari.” terang Jovan. “Atau kau mau coba ikut membagikan makanan yang dimasak Nanny inu?” ajak Jovan.


“Memang bolehkah?” tanya Cansu polos membuat Jovan gemas dibuatnya.


“Tentu saja, ayo!” ajak Jovan menarik lengan Cansu pergi.


•••


“Terima kasih nona, ada sangat baik, semoga Tuhan merahmati anda dan kekasih anda hingga menjelang pernikahan,” ujar gelandangan wanita tua membuat Cansu terkejut dan menatap Jovan spontan.


Ternyata Jovan juga mendengarnya.


“Akh tidak Bibi, bukan begitu, kami hanyalah—”


“Aminnn... Semoga Bibi, doakan saja.” senyum Jovan merekah membuat Cansu membulatkan matanya tak percaya melihat Jovan, sedangkan Jovan ia kembali membagikan kotak berisi makanan yang lain dan tak menaggapi Cansu yang tepelongo dibuatnya.


‘Hahaha... Lihatlah wajahnya itu, kurasa aku berhasil mengerjainya.’ batin Jovan terkekeh dalam diam.