
Ada yang mengambil gambar, merekam, siaran live dan sebagainya.
Cansu tersenyum paksa saat lengan kekar itu semakin melengketkan tubuh keduanya.
“Tersenyumlah lebih manis,” bisik Yohan ketelinga Cansu, orang kira Yohan sedang mencium tenguk belakang Cansu padahal itu sama sekali bukan.
Yohan yang terkenal sebagai sosok yang anti perempuan mengemparkan seluruh orang yang melihatnya, para wanita yang mengharapkan sosok Yohan yang menjadi kekasih mereka harus bisa lapang dada karena hati mereka yang seperti terlempar dan dihempas dari lantai tertinggi.
Jovan yang dari tadi melihat Yohan menatapnya sinis, ia menggepalkan lengannya geram saat Yohan seperti mencium Cansu.
Yohan dan Cansu berjalan kedepan menelusuri karpet merah, sepasang mata biru laut itu menatap warna netra coklat itu.
Jovan dan Cansu yang saat itu berpaspasan harus memasang wajah tampak bahagia mereka di depan paparazi.
Keempatnya membuat semua orang akan mengabdikan momen mereka yang fenomenal.
“Senang berjumpa denganmu Yo,” sapa Rebecca, tapi Yohan tak mengindahinya dan malah menatap Jovan yang kini menatap lekat Cansu.
“Hei Tuan,,, bisakah kau menatapnya nantinya saja.” Seringai Yohan yang ditunjukkannya untuk Jovan.
Rebecca yang merasa tidak dipedulikan hanya bisa tersenyum kecut, padahal di dalam hati ia sangat membenci gadis di depannya yang merebut Yohan darinya.
“Maaf,” ujar Jovan gelagapan melihat kecantikan Cansu.
“Tak apa Jo.” Senyum Cansu tulus.
Yohan menggenggam tangan Cansu lalu menarik gadis itu kembali masuk ke gedung.
Di sisi lain dua orang yang sangat membenci sosok Yohan dan Cansu menatap nyalang dari atas jendela gedung hotel.
Mereka adalah Joguar dan juga Casely, dua orang yang berhasil kabur dari tangan anak buahnya Yohan.
Dan tentu jika Yohan melihat mereka di sini, jangan harap mereka bisa kabur lagi.
“Kau lihat di bawah sana Joguar? Yohan ternyata kesini juga, bagaimana jika dia mengincar kita?”
“Bodoh! Kau tak lihat tatapan Yohan seperti sedang perang dingin dengan Jovan?”
“Kau benar, lalu ada apa dengan itu?”
“Aku tentu saja tak ikhlas gadis itu lari dari tanganku, tapi aku lebih tak ikhlas lagi saat Yohan membogemku.”
“Kau punya rencana?”
“Tentu saja, tak ada yang bisa menandingi otak licik seorang Joguar walaupun itu Yohan sang ketua mafia yang paling ditakutkan sekalupun. ” Seringai Joguar sambil meneguk winenya senang.
•••
Di pesta itu dari tadi cansu malah melirikkan matanya ke arah Jovan, pria itu sepertinya tampak asyik berbicara dengan Rebecca.
Cansu menundukkan kepalanya sedih. Iya berpikir kalau Jovan sama sekali tidak ingin berbicara dengannya, bukankah sudah jelas? pria itu sedap ngobrol dengan Rebecca sekarang, kalau ia menghampirinya jelas ia seperti akan mengganggunya nanti, hal ini pasti akan menjadi aneh.
Beberapa mata tertuju kepada Cansu baik itu laki-laki mereka seakan terpesona dengan kecantikannya, sedangkan perempuan mereka menatap Cansu ada yang kagum dan ada juga yang merasa iri dan dengki.
Di sisi lain, Jovan yang dari tadi berbicara kepada Rebecca, melirik Cansu sesekali. Gadis itu selalu tertunduk ke bawah, awalnya ia ingin berniat menghampiri Cansu nanum melihat Yohan yang berada di samping Cansu, pria itu menatap Jovan seakan seperti mencari sinyal perang dengannya, Jovan tentu tak mau gara-gara hal ini pesta ini akan kacau karena Yohan dan juga dirinya nanti.
Memegang pundak cansu. Cansu menoleh. “Kau tak apa?” tanya Yohan sok khawatir, padahal matanya kini melirik Jovan yang sepertinya tak suka dengan tangan Yohan yang berada di bahu mulusnya Cansu.
Cansu menggeleng, Yohan tersenyum smirk saat melihat di ujung sana Kakaknya seperti menggepalkan tangannya geram.
“Mau minum?”
“Tidak, aku tidak ingin mabuk.”
“Alkohol di sini kadarnya mabuknya rendah.”
“Aku tak pernah meminum alkhol sebelumnya.”
“Jadi kenapa kau seperti tak enak badan begitu hem?” Yohan mendekatkan wajahnya k arah Cansu, jika di lihat dari belakang punggung Cansu, mereka seperti pasangan kekasih yang sedang bercumbu.
Padahal Yohan hanya ingin memeriksa dahi Cansu, Yohan menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Cansu.
Disisi lain Jovan seakan murka, namun ia mencoba menahannya. Mungkin apa yang di lihat itu salah. Yohan tak mungkin mencium Cansu, apalagi dengan penyakit anti wanitanya itu.
“...Hei, kau lihat? Tuan muda kedua dari keluarga Amor, kurasa gosip tentang dia anti wanita itu tidak benar.”
“Ckck bodoh sekali kalian, jelas-jelas Tuan muda dari keluarga Amor belum pas saja mencari pasangan, jelas siapa yang tak mau sosok sepertinya itu.”
“Kau benar, gadis itu sangat Cantik. Apalagi tadi saat melewati karpet merah, mereka seperti pasangan dalam dunia dongeng.”
“Jangan lupakan ini, kau lihat tadi, sepertinya mereka sangat serasi, bahkan aku mengira mereka tadi bercumbu.”
“Aku kurang jelas melihatnya tadi, tapi jika dilihat seperti ini pun kurasa memang Yohan menciumnya bukan?”
“Hei, kata-katamu itu kurang pantas tau hahaha,... Jangan memangil Tuan muda kedua dengan namanya bisa-bisa kau di geret dengan para boyguardnya.”
“Tak masalah lagian anak buahnya juga tampan, walau tak setampan Tuan muda kedua dari keluarga Amor.”
“Hahaha,... Kau ini!”
Mendengar sekelompok orang berbicara tentang Yohan dan juga Cansu membuat Jovan yang sangat jelas mendengarnya jadi sakit kuping.
“Jovan kau tak apa sayang?” tanya Rebecca.
Jovan tersenyum kecut, panggilan Rebecca jelas hanya untuk membuat citra mereka seperti pasangan di mata publik, bukan berarti Rebecca memang benar-benar memanggilnya ‘sayang’
“Aku tak apa-apa.”
“Tapi kenapa kau seperti orang sedang marah seperti itu? Kau punya masalah?”
“Tidak kau tenang saja, nikmati acara ini.”
“Bukan begitu, jelas-jelas aku melihatmu selalu melirik ke arah Yohan dan juga gadisnya, apa kau mau menghampiri mereka?”
“Tidak, hubunganku dan juga Yo, kurang baik saat ini.”
“Apa gara-gara gadis di samping Yo?”
“Bukan.”
Rebecca terdiam, awalnya ingin menanyakan tentang map yang batal ditandatagani Yohan itu gara-gara gadis di samping Yohan?
Namun, melihat wajah Jovan yang seperti enggan membicarakan Yohan, membuat Rebecca hanya bisa bertanya dalam hati.
“Sudahlah Jo, nikmati pesta ini! Bukankah kau harus senang? Namamu dalam ajang ini pasti ada lagi.” Semangat Rebecca.
“Terima kasih Rebecca.”
•••
Casely duduk di kursinya sesekali ia melihat gelagat Yohan yang dibuat-dibuat tampak serasi dengan Cansu.
Casely benar-benar membenci gadis itu! Ia seperti mejilat sana-sini. Setelah Jovan dan sekarang Yohan?
‘Benarkah yang kulihat ini? Kenapa seorang yang dikenal anti perempuan nampak begitu dekat dengan gadis bernama Cansu itu? Bukankah itu gadis yang Jovan bawa dari mansion tepo lalu, ada apa ini? Kenapa Yohan dan juga Jovan saling bertatap-tatap sengit seperti itu? Ini aneh.’ batin Casely.
“Otakmu tak akan sampai memikirkannya! Jelas-jelas ini dinamakan cinta segitiga,” ujar Joguar tiba-tiba duduk di samping Casely.
“Cinta segitiga apaan? Jelas-jelas ini aneh! Bukakah kemarin sikap Yohan menganggap gadis itu hanyalah anjingnya? Sekarang kenapa seperti nampak sok serasi begini?”
“Tentu saja karena citra.”
“Ck, gadis bernama Cansu itu seperti penjilat, setelah dengan Jovan ia lari lagi ke Jovan.”
“Bilang saja kau iri.”
“Aku tidak begitu!”
“Seharusnya kau lebih fokus ke Rebecca, kau lihat gadis itu juga sangat cantik, bahkan Jovan tampak serasi dengannya.”
“Jovan itu hanya milikku! Tak ada yang boleh mengambilnya dariku!”