
Yohan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar Cansu saat ini, tapi nyatanya gadis itu tidak ada.
Ia awalnya berniat menyuruh gadis itu untuk menyapu halaman teras mansion, ya walau Yohan bisa saja menyuruh pelayannya yang lain, tapi ia ingin membuat Cansu seperti berada di nerakanya sekarang, apalagi saat ia tau Jovan malah menolong Cansu, itu semakin membuat Yohan semakin ingin membuatnya menderita.
Namun, saat Bibi Pet datang keruang kerjanya dengan tergesa-gesa, Bibi Pet bilang bahwa Cansu kabur dari mansion, karena ia tak ada di kamarnya.
Tentu saja Yohan sangat geram, berani sekali gadis itu mencari pasal dengannya, apalagi saat ia tahu siapa dalang dari semua ini tak lain dan tak bukan Jovanlah yang membawa gadis itu.
Kenapa Yohan bisa tahu? Ia bisa melihatnya di cctv berukuran kecil yang ia tancapkan di kamarnya Cansu.
Jovan pikir ia bisa lolos semudah itu apa ditangan Yohan? Jangan harap! Yohan akan memberikan perhitungan dengan Kakaknya itu yang berani-berani mencari masalah dengannya.
“Sialan kau Jovan! Cari mati kau rupanya heh!” desis Yohan geram lalu menendang pintu kamar dan berlalu pergi mencari Cansu.
“Siapkan mobilku!” titah Yohan kepada Bibi Pet.
“Baik Tuan....”
•••
Jovan dan Cansu kini sudah berada dimobil, melaju dengan kecepatan sedang, Jovan dan Cansu ternyata bisa lari dari mansion Yohan tanpa ketahuan sedikitpun.
Padahal disisi lain Yohan sedang mengikuti mobil mereka hanya saja ia tak mengambil Cansu sekarang, ia akan membuat keduanya bersenang-senang dahulu karena merasa bebas dari mansion nya sebentar sebelum ia akan mengambil Cansu dari tangan Jovan.
“Terima kasih Tuan,... Terima kasih,” ucap Cansu.
Jovan tersenyum masih dalam keadaan menyetir. “Tak perlu, aku hanya tak ingin adikku berbuat hal gila lagi dengan orang yang tak bersalah,” jawab Jovan santai.
Cansu menganggukkan kepalanya lalu tertunduk tak membalas jawaban Jovan, Jovan melirik gadis yang berada di sampingnya hanya menatap lututnya sendiri dengan tatapan kosong.
“Kenapa?”
“Eh...?”
“Kenapa kau seperti kepikiran begitu?”
“Aku,... Aku hanya binggung Tuan.”
“Binggung kenapa?”
“Orang tua ku telah tiada, kini aku tak memiliki siapa-siapa lagi, bagaimana kalau Yohan menemukanku? Bisa-bisa ia membunuhku.” Tunduk Cansu sedih.
Jovan yang melihat itu menggenggam tangan Cansu agar gadis itu sedikit tegar. “Itu tak akan terjadi, Yohan tak akan menyakitimu jika kau bersama ku, bagaimana jika kau tinggal di mansion ku saja?” tanya Jovan.
“Hah? Kau yakin Tuan? Aku?” tunjuk Cansu kedirinya sendiri, sedangkan Jovan menganggukkan kepalanya yakin. “Iya, lagian mansion ku terlalu besar untuk kutinggal sendiri.”
Cansu pun tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya setuju. “Aku mau Tuan.”
Jovanpun memutarkan kemudinya kearah kediaman mansion nya.
Sedangkan dari arah belakang Yohan terus mengikuti mereka.
Walau Jovan tau letak mansion adiknya, tapi Yohan yang enggan berurusan dengan Jovan tak pernah tau di mana letak mansion Kakaknya itu, dan ini mungkin hal yang pertama kalinya ia mengikuti sang Kakak pergi ke mansion nya.
Pintu pagar kayu jati menyambut kediaman Jovan, penjaga yang menunggu Tuannya menunduk hormat dan membuka pintu mansion.
Disisi lain, Yohan hanya bisa berdiam diri di sisi pinggir jalan letak mansion Kakaknya.
“Sial! Ada penjaga!” geram Yohan mencengkram stir mobil lalu berlalu pergi dari kediaman Jovan.
•••
“Jovan,... Jovan sayang!” teriak Casely memenuhi seluruh penjuru mansion.
“Nona Casely, Tuan Jovan sedang tidak ada, mohon mengertilah,... Dia mungkin tidak pulang kali ini,” balas ketua pelayan mansion, bernama Geo.
Geo berusaha mengusir halus Casely keluar dari mansion Jovan, namun gadis itu tetap saja bersikukuh ingin menemui Jovan segera.
Geo menunduk meminta maaf. “Maaf Nona,... Bukan maksudku begitu, tapi Tuan Jovan tidak pulang hari ini.”
“Tuan berpesan pada saya agar tidak menerima tamu.”
“Tamu kau bilang? Hei,... Kupastikan kau akan dipecat Jovan! Aku ini Nyonya yang akan menjadi istri Jovan nanti! Jadi bersikaplah sopan! Kalau kau tak percaya, suruh Jovan kemarin!” titah Casely jengkel.
“Maaf Nona,... Tuan Jovan di jam seperti ini tak bisa diganggu.”
“Kalau begitu sediakan aku kamar, aku akan menginap disini,” terangnya jelas lalu menghempas tubuhnya ke sofa.
“Maaf Nona,... Anda harus izin terlebih dahulu dengan Tuan Jovan.”
“Izin kau bilang?! Hei! Aku ini adalah pacarnya sekaligus calon istrinya kelak! Jadi tak ada berhaknya kau mengatur-ngaturku!” encamnya.
“Tapi Nona—” belum sempat Geo berbicara, Casely langsung menarik kopernya menuju lift ke atas lantai tiga, tepat dimana kamar Jovan berada.
“Nona anda mau kemana?” kejar Geo.
“Tentu saja kekamar pacarku!” terang Casely.
“Tapi Nona....”
Ting.
Lift tertutup begitu saja, dan Geo hanya bisa menghela nafasnya berat saat Casely menuju kamar Jovan.
Ya Tuhan,... Bagaimana jika Jovan tau ini? Bisa-bisa Tuannya itu akan marah besar dengannya!
Tiba-tiba saja sebuah deru suara mobil sport membuat Geo tercengang, ia sangat kenal dengan suara mobil itu,... Siapa lagi kalau bukan Tuannya?
Oh,... Tuhan,... Apa yang harus ia bilang kepada Tuannya kali ini?
Di sisi lain, Jovan turun dari mobilnya tak lupa pula berjalan kearah pintu mobil sebelahnya untuk membukakan pintu mobilnya bagi Cansu.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Ayo masuk,” ajak Jovan yang diikuti dibelakangnya Cansu.
Geo menghampiri Tuannya dengan nafas terburu-buru.
“Tuan? Anda pulang hari ini?” Kejutnya.
Jovan mengerinyit dahinya curiga. “Kenapa memangnya jika aku pulang atau tidak? Ini kan mansionku,” terang Jovan. “Oh iya Geo? kenapa kau seperti dikejar setan seperti itu heh?”
‘Lebih tepatnya aku berjumpa dengan setan wanita Tuan.’ batin Geo.
Geo menggeleng, “Bukan apa-apa Tuan, aku habis berolahraga berlari,” bohongnya.
“Lari di dalam mansion? Ada-ada saja kau ini!, Oh iya, Geo kenalkan ini Cansu,” terang Jovan memperkenalkan.
Geo membungkukkan tubuhnya hormat kepada Cansu. “Geo Nona,... Ketua pelayan di mansion ini,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Akhh,... Aku,... Cansu Yan Rasly, kau tak perlu membungkuk seperti itu, aku lebih muda darimu Tuan,” balas Cansu.
Geo tersenyum, baru kali ini Jovan membawa gadis yang menurutnya sopan walau dengan orang yang mempunyai jabatan rendah sepertinya.
Ya, Cansu bukan satu-satunya gadis yang pernah Jovan bawa ke mansionnya.
Tapi ia gadis satu-satunya yang dibawa Jovan yang memiliki sifat yang baik dan sopan.
“Geo, siapkan Cansu sebuah kamar untuknya, dan juga air panas untukku mandi mengerti,” titah Jovan lalu saat ia ingin berlalu pergi menuju kamarnya, Geo buru-buru mencegat Jovan.
“Tuan!!! Jangan!!!”