LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{35}



Dentuman musik slow membuat para tamu undangan bersorak senang dengan kelompok-kelompok mereka.


Tak kecuali seorang Yohan yang mengetatkan tangannya kepingang  Cansu.


“Yohan, senang berjumpa denganmu disini, seperti biasa kau jadi topik gosip panas sekarang,” sapa seorang pria menghampiri. “Hahaha Yohan, ini gadis itu bukan?” Leyos menujuk Cansu dengan tangannya.


“Halo Tuan,” sapa Cansu ramah kepada Leyos.


“Akh, tak perlu formal begitu.”


“Kau kira siapa lagi?” tanya Yohan.


“Hei,... Kuperingatkan Yohan itu hatinya batu, jadi kau jangan mudah kepicut dengannya ya.” Sengol Leyos di sikut Cansu berbisik.


Dalam hati Cansu merutuki dirinya sendiri, mungkin Jovan pikir ia mendekati Yohan karena memang suka? Nyatanya sama sekali tidak! Ia malah berencanakan agar pria itu menyukainya saja dan meninggalkannya begitu pria itu jatuh cinta dengannya sama seperti rasa sakitnya ditinggal kedua orang tuanya.


“Hahaha kau ini bisa saja Tuan.” Tawa Cansu palsu.


“Perkenalkan namaku, Leyos. Raford Leyos Alexcildriz, aku kebangsaan asli Roma. Aku sudah lama berteman dengan Yohan, dan juga aku seorang dokter yang beberapa kali menyembuhkanmu, namun kita tak pernah sempat berkenalan karena kau selalu tak sadarkan diri ditangan pria ini.” Lirik Leyos kearah Yohan, sedangkan pria itu menatapnya sinis yang dibalas tatapan senang dari Leyos karena selalu berhasil membuat temannya naik urat.


Leyos mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Cansu. “Senang berjumpa denganmu Tuan Leyos, namaku Cansu Yan Rasly. Aku kewarganegaran campuran Jerman dan Indonesia.”


“Wah kau orang Bali?”


“Bukan Bali, tapi aku juga pernah ke sana bersama keluargaku dulu.”


“Kalau begitu aku harus mengajakmu jika aku kesana lagi.”


“Wah benarkah? Aku akan menantikannya.”


“Jadi kau bisa berbahasa Indonesia?”


“Tentu saja bisa, mendiang Mommy orang Indonesia asli. Dan mendiang Daddy orang Jerman, aku bisa berbahasa 3 bahasa. Inggris, Jerman dan Indonesia.” Entah saat mengatakan kata mendiang hati Cansu bersedih, ia merindukan kedua orang tuanya itu.


“Apa kedua orang tuamu sudah meninggal?”


“Hem....”


“Maaf jika aku salah berbicara.”


“Tak apa.”


Yohan yang mendengarkan obrolan Cansu dan juga Leyos, enggan untuk mengubris. Menurutnya itu adalah hal yang tidak penting.


“Yohan sepertinya aku ingin ketoilet sebentar,” ujar Cansu menatap tangan kokoh itu yang masih saja di pingangnya, Yohan yang mengerti melepaskan tangannya dari pinggang Cansu.


Di sisi lain Jovan yang melirik Cansu yang seperti pergi dari Yohan, ia pun  mengikuti Cansu dari belakang.


Iya butuh penjelasan sekarang, bagaimana tidak? Jelas-jelas Cansu itu benci Yohan dan kenapa sekarang mereka seperti sepasang kekasih begitu?


Jovan tak suka! Itu lah kata yang mewakili dadanya yang terasa panas saat melihat pigang Cansu di peluk possessive oleh Yohan adik nya yang kejam itu.


“Jovan kau mau kemana sayang?” tanya Rebecca.


“Rebecca aku ingin ke toilet sebentar kau nikmati saja minumanmu.”


“Tapi acara penobatannya bakal dimulai.”


“Aku tak akan lama.” Lalu Jovan berlalu menyusul Cansu.


Di sana gadis itu belum juga keluar dari kamar kecil, saat pintu terbuka alangkah kagetnya Cansu saat mendapati Jovan yang menunggunya sambil bersender di dinding.


“Jovan?”


Ia pikir pria itu enggan berjumpa dengannya, sejak kejadian kemarin.


“Cansu aku butuh bicara denganmu, tapi tidak disini, ayo,” ajak Jovan keluar gedung.


Cansu pikir Jovan setidaknya akan khawatir tentang dirinya, namun nyatanya ia terlalu berharap lebih.


Di ujung tembok tempat persembunyian Casely dan juga Joguar, membuat mereka menoleh satu sama lain.


“Kau tau Sely? Sepertinya ada hal yang menarik antara Tuan aktor dan sang ketua mafia,” rancau Joguar.


“Kau berfikir begitu? Dari kemarin sejak gadis sial itu datang aku sudah memikirkannya, 'kan sudah ku bilang ini pasti tak ada yang beres!” jawab Casely.


“Bagaimana kalau begini saja, rencana kita ubah,” usul Joguar.


“Maksudmu?”


“Beri tau aku sekarang.”


Lalu, Joguar membisikkan sesuatu di kuping Casely. Selesai membisikannya Casely tersenyum senang. Ia amat yakin rencana Joguar pasti akan mendatangan tontonan boomerang yang sangat dasyat kali.


“Idemu lumayam juga, tumben kau menggunakan otakmu.”


“Jadi kau pikir aku tak pernah menggunakan otakku heh?”


“Ck, kau 'kan selalu menggunakan dengkulmu.”


“Shitt!”


•••


“Yohan kau yakin Cansu tak tersesat? Sudah tiga puluh menit dia tak kembali, kau tak mengkhawatirkannya?” tanya Leyos sesekali melirik jamnya.


“Kalau kau peduli, cari saja dia sendiri.”


“Ais, kau ini dinginnya kelewatan, bahkan aku yang pria saja tau kalau kau ini benar-benar menjengkelkan.”


Yohan melirik jam ditangannya, benar gadis itu belum juga kembali.


Entah pikiran dari mana Yohan malah mengingat Cansu yang pernah dua kali kabur dari mansion nya.


Seketika itu juga Yohan melirik penjuru ruangan melihat apa ada Kakaknya.


‘Jovan tak ada, apa dia mencoba membawa gadis itu lagi?’ batin Yohan menggeram lalu memberikan gelas minuman sodanya kepada Leyos.


“Hei kau mau kemana?” teriak Leyos.


“Mencari gadis itu.”


“Dasar! Tadi bilang tidak peduli.” gerutu Leyos.


•••


“Katakan padaku kalau kau pasti dipaksa olehnya.” Tuding Jovan menatap intens Cansu.


“Tidak, aku tak dipaksa olehnya tapi aku memang ingin melakukannya.”


Jovan tak habis pikir dengan Cansu, baru kemarin gadis itu bilang Yohan itu bagaikan iblis baginya, lantas kenapa harus seperti ini?


Apa Yohan terlalu mengancamnya hingga membuat gadis di depannya ketakutan dan tak berani membantah.


“Aku tak percaya, matamu mengatakan kebohongan Cansu!”


“Terus kau mau apa Jovan? Kau mau aku selalu disiksanya? Bukankah lebih baik begini?”


“Tidak! Bukan itu maksudku, Kau bisa ikut aku, aku akan membawamu kabur, dan aku janji Yohan tak akan bisa mendapatimu lagi.” Yakin Jovan mengenggam erat tangan Cansu.


Cansu pikir setidaknya Jovan akan peduli dengan kejadian kemarin atau sekedar menanyakan keadaannya. Nyatanya Jovan itu mau Yohan marah dengan memperalatnya saja. Jelas-jelas tadi pria itu juga sama mersanya dengan Rebecca.


Cansu meneteskan air matanya, ia ingin sekali pergi dengan Jovan, tapi ia belum bisa jika tak membalas dendam orang tuanya dan hidup dengan tenang. Apalagi saat pikirannya selalu berfikir kalau Jovan benar-benar memperalatnya, ia benar-benar tak bisa membayangkannya.


“Percayalah Cansu, aku berjanji akan menjagamu.”


“Kenapa?” tanya Cansu, matanya kini berkaca-kaca menatap Jovan. “Kenapa kau mau melakukannya demiku? Jika Yohan tau dia akan membunuhmu, aku tak mau itu.”


‘Kenapa? Jelas-jelas Rebecca adalah gadismu, kenapa kau harus peduli tentangku kau bisa membuat hatiku berharap akanmu Jovan!’ batin Cansu.


‘Karena aku,... Entah kenapa hatiku berkata ingin melindungimu selalu.’ batin Jovan.


Ingin sekali Jovan berkata begitu, tapi mulutnya seolah terkunci untuk mengatakannya.


“Karena aku tak mau membuat Yohan menyiksamu, kau mengingatkanku dengan seorang anak perempuan yang pernah Yohan bunuh dulu.”


“Anak perempuan?”


“Itu pertama kalinya sikap Yohan berubah menjadi sikap seorang pembunuh.”


•••


Yohan berusaha mencari keseluruh penjuru namun ia tak menemukan Cansu di manapun.


“Kemana dia? Bukankah dia bilang ingin pergi ke toilet? Atau dia benar-benar kabur sekarang? Sialan! Budak tak tau diri.”