
“Kau,... Kau memikirkannya apa karena—” Belum sempat Jesy menebak apa yang ia pikirkan itu benar, tapi Jovan langsung memotongnya.
“Aku menyukai. Sejak pertama aku berjumpa dengannya, hati ini rasanya sangat familiar dengannya, dan entah kenapa aku selalu ingin melindunginnya, menurutmu bagaimana Jes?” tanya Jovan menatap Jesy penuh harap agar gadis itu seperti biasa memberikan nasehat padanya.
Entah mimpi atau bukan, dugaan Jesy yang ia kira salah ternyata benar, seolah-olah dihentikan oleh waktu Jesy termenung dengan pernyataan Jovan yang menyukai gadis lain disaat hatinya malah menyukai Jovan.
‘Ya, Tuhan,... Apa sebegitu sakitnya seperti ini.’ batin Jesy yang hatinya terasa sakit namun tak berdarah.
Jovan menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Jesy karena gadis itu malah melamun sekarang.
“Jes,... Jes.. .” Lambai Jovan.
“Akhh.” Kejut Jesy yang kembali sadar. “Maaf-maaf aku shock banget dengernya, ternyata seorang Jovan bisa jatuh cinta juga ya hahaha.” Tawa Jesy palsu, seolah-olah ia juga senang dengan kebahagiaan sahabatnya itu.
Bukannya itu memang hal yang wajar? Seorang sahabat itu harus bahagia disaat melihat sahabatnya juga bahagiakan?
Namun tak ada persahabatan diantara laki-laki dan perempuan kalau diantara salah satu dari mereka tidak ada yang saling mencintai.
Dan karma ini harus Jesy terima seharusnya saat ia mencoba berteman dengan Jovan dulu.
“Menurutmu bagaimana?” tanya Jovan kembali.
“Kau harus membuatnya menjadi milikmu Jo.”
“Jadi milikku? Tapi jika dia tidak menyukaiku bagaimana?”
“Wanita itu sangat rapuh, saat hatinya dilindungi oleh seorang pria yang selalu mendukungnya dan juga nampak seperti seperti hero di depannya, kau harus seperti itu di depannya agar hatinya tertarik denganmu,” terang Jesy kembali, walau hatinya serasa diremas
sekarang.
“Kau benar Jes! Seharunya aku dari dulu membagikan masalahku ini padamu, kau memang sahabatku yang paling baik, aku akan menerima nasehatmu itu, terima kasih Jes.” Peluk Jovan ke Jesy senang, sedangkan Jesy tak membalas pelukan Jovan sama sekali, ia tersenyum paksa dengan matanya yang tak tahan ingin mengeluarkan air matanya.
Jesy melepaskan pelukannya spontan dari Jovan.
“Jo aku sepertinya ada urusan, aku pergi dulu.” Pamit Jesy tanpa melihat Jovan sedikitpun, air matanya tumpah begitu saja saat ia keluar dari ruangan Jovan.
“Jesy? Kenape you menangis syiih?” tanya Alexsa, yang langsung ditatap Jesy sendu dan pergi bergitu saja tanpa membalas pertanyaan Alexsa yang terheran-heran. “Iuwyyy emangnye wanita itu rempong deh, upsss... I 'kan cewe juge ye.” lalu membalikkan badannya masuk ke ruangan Jovan.
“My honey sweety heart, ayang bebeb Jovan tampan~ I bawa baju you ni.”
•••
Pagi yang cerah seperti biasa Jovan menikmati secangkir teh hijau dengan gelas pemberian anak perempuan yang selalu dirindukannya sampai sekarang, gelas itu adalah gelas pemberian Caca. Anak perempuan yang tak pernah lepas dari ingatannya. Bahkan hal ini sampai terbawa saat Jovan kerap kali melihat Cansu, entah kenapa bayangan Caca sangat mirip dengan keduanya, mulai dari cara mereka tersenyum dan bertindak membuat Jovan berfikir bahwa di dalam tubuh Cansu terdapat jiwa Caca yang bersamayam di sana. Iya tahu itu salah karena sejatinya Caca itu sudah tiada.
Memejamkan matanya menghirup aroma teh hijau, menyesapnya nikmat, Jovan tersenyum kecut melihat Cansu seolah mengingatkan ia dengan Caca, walau ia sedikit perih untuk mengingat itu semua, tapi tak ia pungkiri ia juga merindukan sosok itu. Tapi Cansu selalu berada di dekat Yohan di manapun pria itu berada, pria itu seperti penghalang antara Jovan dan juga Cansu.
Di saat membayangkan tentang Cansu, suara decitan pintu terbuka, Jovan yang kala itu sedang melihat pemandangan di luar jendela menoleh ke belakang.
“Geo, ada apa?”
Geo berjalan mendekati tuannya. “Maaf tuan, di bawah ada Nona Rebecca sedang mencari anda,” ujar Geo seranya menundukan tubuhnya kepada tuannya.
Mengerutkan dahinya, Jovan berpikir tentang kedatangan Rebecca ke mansionnya kini, mau apa gadis itu? Apa tidak cukup sudah membuat Jovan cemburu dengannya kemarin? Sekarang malah semakin membuat Jovan jengkel, apa ia mau menagih hal kemarin lagi? Belum puaskah ia membuat Jovan perang dingin dengan Yohan karena permintaannya itu? Kini ia malah datang ke mansionnya membuat Jovan semakin enggan untuk berjumpa dengannya lagi, Iya masih terlalu kesal dengan Rebecca. Ralat! Cemburu lebih tepatnya.
Jovan menaruh gelas favorite nya di atas nakas. “Kalau begitu kau pergilah, aku akan ke bawah menyusulnya.”
“Baiklah tuan,” ujar Geo lalu berjalan mundur keluar dari kamar Jovan.
•••
“Ada apa kenapa kau kemari Rebecca?” ujar Jovan menghampiri.
Rebecca berdiri dari kursinya lalu memeluk Jovan erat, selalu seperti ini. Jika raut wajah Jovan yang menatapnya enggan, Rebecca selalu memeluk Jovan agar pria itu berbaikkan padanya, dan tentu saja Jovan tak bisa menolak untuk hal itu, karena jujur pria itu pun tak bisa berlama-lama membenci Rebecca.
“Bukankah aku selalu merindukanmu Jo?” Senyum Rebecca manis. Jovan hampir saja dibutakan oleh sifat Rebecca yang manja padanya.
“Oh ayolah Jo, aku memang membutuhkan itu, tapi kau harus percaya padaku, tidak ada yang bisa menggantikan sisimu di hatiku.”
“Hatimu? Ck yang benar saja heh?”
“Jo,... Kau boleh marah denganku, tapi jangan bersikap sinis seperti itu, kau menyakiti hatiku Jo.” Menampakkan raut wajah sedihnya, Rebecca melepaskan pelukannya dari tubuh Jovan. “Sepertinya kau masih marah denganku, sebaiknya aku pergi setelah kau bisa memaafkan aku kembali Jo.” Hendak saja Rebecca berbalik badan, tangannya langsung di cekal oleh Jovan.
Rebecca tersenyum sekilas lalu kembali memasang raut kecewanya kepada Jovan.
“Apa lagi Jo?” tanya Rebecca dengan suara yang seperti ingin menangis.
Jovan memeluk Rebecca erat. “Maafkan aku....”
Rebecca membalas pelukan Jovan, kembali menangis dengan tangisan palsunya.
Jovan melepaskan pelukannya, lalu menatap Rebecca khawatir.
“Kau memaafkan aku 'kan?”
Rebecca mengangguk. Jovan tersenyum menggengam tangan Rebecca.
“Kau sudah makan?” tanya Jovan.
“Belum,” balas Rebecca.
“Kalau begitu ayo kita makan.”
“Tapi kau yang memasak ya.,” lanjut
Rebecca.
“Tentu saja jika kau ingin makanan itu gosong hahaha.” Tawa Jovan.
Kali ini Jovan telah sepenuhnya berbaikkan dengan Rebecca, beginilah sifat Jovan. Iya tak bisa terlalu berlama-lama untuk mendiamkan Rebecca, karena disatu sisi iya menyukai gadis itu juga. Ia tak tau sejak kapan ia mulai menyukai Rebecca namun yang jelas Jovan cemburu jika Rebecca seperti lebih mengincar Yohan dari pada dirinya yang selalu ada di sampingnya.
“Oh iya Jo, kudengar bentar lagi akan ada ajang oscar untuk jajaran artis dan juga model tahun ini.”
“Hem benar....”
“Aku berharap kau akan menang lagi tahun ini.”
“Tentu, aku pasti akan memenangkan piagam itu lagi, lalu kenapa kau bertanya hal itu hem?”
“Apa kau mau pergi denganku untuk acara penobatan mu kali ini Jo?”
Jovan menoleh, dahinya mengerenyit. Bagaimana tidak? Hatinya kali ini seperti bercabang, niat awalnya ia berpikir akan membawa cansu untuk pergi dengannya, tapi jika ia bilang kepada Rebecca mungkin saja gadis itu akan kecewa padanya, kalaupun Cansu mau ikut dengannya, mungkin akan di pastikan ada penghalang antara Cansu dan juga Jovan yakni Yohan yang selalu mengatur-ngatur gadis itu.
Mungkin akan menjadi pilihan terbaik jika ia pergi bersama Rebecca saja, keputasan ini Jovan ambil mengingat kalau Cansu pergi bersamanya maka Yohan pasti akan bertindak hal tidak wajar lagi dengan gadis itu. Tentu Jovan tak menginginkan hal buruk itu terjadi kepada Cansu.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menjemputmu nanti.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Kau memang yang terbaik Jo!”
“Sekarang kau mau aku menyuruh Geo untuk menyiapkan makanan untuk kita atau kita makan di luar saja?” usul Jovan.
“Hufttt, padahal aku lebih minat jika kau yang masak tapi ya sudahlah, dari pada aku sakit perut lebih baik makan di Restoran yang baru di buka, bagaimana?”
Jovan mengacak-ngacak rambut Rebecca gemas. “Dasar. Baiklah kalau begitu.”