
Sinar mentari yang masuk melewati jendela kamar membuat seorang gadis yang tak sadarkan diri selama tiga hari itu pun akhirnya siuman.
Badannya kebas bukan main, yang dirasakannya hanya balutan perban yang melilit tubuh dan kepalanya. Cairan infus mengalir di aliran pembulu darah nadinya.
Ini kamar yang tak asing lagi dengannya. Jovan? Ini mansionnya. Apa pria itu yang menolongnya? Seingatnya ia sudah hampir mati karena ulah Yohan yang menceburkan dirinya ke dalam kolam renang.
Kreaattt~
Suara pintu terbuka membuat Cansu menoleh ke samping, di sana ada seorang suster yang membawakan alat-alat medisnya.
“Nona anda sudah siuman ternyata?”
Suster itu membalikkan badannya lalu berlari keluar kamar.
Tunggu! Padahal Cansu belum saja sempat berkata apa-apa.
Namun, tak lama kemudian Jovan memasuki kamarnya bersamaan dengan suster yang sama.
“Cansu kau sudah sadar?” ujar Jovan bahagia, ia spontan menggenggam telapak tangan Cansu.
Cansu hanya mengangguk lemah.
“Sus panggilkan dokter kemari untuk memeriksa Cansu kembali,” titah Yohan yang di angguki suster itu.
“Kau masih merasakan sakit? Apa itu di pungung atau dikepalamu hem?” tanya Jovan khawatir sedangkan Cansu hanya menggelengkan kepalanya lemah.
Jovan mengelus pucuk rambut Cansu sayang.
“Syukurlah....” Mengehela nafas, Jovan tertunduk. “Maaf, jika aku lebih cepat menjemputmu mungkin kau tak akan seperti ini, Yohan dia—” Memegang alisnya yang mengkerut, Jovan memang tak bisa lagi berfikir dengan tingkah Yohan.
Cansu mengerti dengan kekhawatiran seorang Kakak yang melihat adiknya yang bersalah.
Berusaha menggapai telapak tangan Jovan, Cansu menepuk-nepuknya lembut agar pria itu sedikit tenang.
Cansu tersenyum lembut, walau dirinya memang sedikit lemah. Memegang rahang kokoh milik Jovan dan mengelusnya.
“Tak apa,” ujar Cansu dengan suara serak dan lemahnya.
Jovan menutup matanya, ia menikmati helusan tangan Cansu yang bersemayam di rahang kokohnya.
“Maaf....”
•••
“...Berita kali ini di datangkan oleh salah satu artis besar kita. Casely yang keluar dari luar belakang pintu gedung pada acara ajang oscar menyita banyak perhatian warga dunia dengan seorang pria yang ia bopong. Tampak dari gambar yang di ambil salah satu juru kamera awak kami kurang jelas memperlihatkan sosok pria itu, siapakah dia? Banyak warga net membicarakan itu adalah Jovan, karena pada acara yang sama Casely mengungkapkan bahwa mereka adalah pasangan kekasih, sedangkan di sisi lain tampak penggemar Jovan tau betul bahwa punggung lelaki yang di bopong Casely tidak tampak seperti dirinya,... Bla,... Bla....” Sebuah berita dari layar televisi yang di nyalakan tanpa seorang penonton membuat Rebecca yang awalnya sedang memotong sayuran di dapur berlari ke ruang tengah untuk menyaksikan berita yang gempar kali ini.
‘Apa?! Jovan? Jelas-jelas Jovan kemarin malam mengantarku, apanya yang Jovan!’ batin Rebecca.
Tak membuang waktu Rebecca mengikat rambutnya dan menaruh celemek yang baru saja ia pakai di sofa lalu berganti pakaian dan berdandan.
Ia akan menghampiri Jovan dan memberitahukan berita ini kepada dirinya, ia yakin Jovan tidak akan suka dengan berita yang selalu membawa namanya tanpa keterlibatan apapun terhadap dirinya.
Dan tentu saja untuk mengusir hidup Casely menjauh dari sosok Jovan pastinya.
Mengendarai mobil nya menuju ke mansion Jovan tak membutuhkan waktu yang lama.
Sesampainya gadis itu di sana, ia disambut oleh para penjaga gerbang yang memang sudah hormat dengan Rebecca layaknya Tuan rumah. Mereka membukakan pagar mansion agar mobil Rebecca bisa masuk.
“Nona, Rebecca? Ada apa kemari? Apa kau mencari Tuan Jovan?” tanya Geo.
“Apa ada Jovan di rumah? Atau dia sekarang di studio?”
“Tuan Jovan selama tiga hari ini tidak kerja, ia selalu berada di rumah,” terang Geo.
“Tidak Nona, Tuan Jovan baik-baik saja, Tuan Jovan tidak ingin pergi kerja karena akhir-akhir ia mengkhawatirkan kondisi Nona Cansu.”
Cansu? Tunggu! Rebecca kenal dengan gadis itu, bukankah ia orang yang sama yang pergi bersama Yohan sebagai patner di acara oscar kemari? Gara-gara dia juga Jovan bisa membentaknya, ada apa ini? Kenapa sekarang gadis itu malah di mansion Jovan selama tiga hari lamanya? Bahkan gara-gara gadis itu Jovan rela tak kerja.
“Kenapa dengan gadis itu?”
“Nona Cansu dia sakit, Nona.”
“Di mana sekarang Jovan?”
“Ada di lantai dua, mari saya antarkan anda Nona.”
Rebecca mengikuti Geo yang menuntunnya ke salah satu kamar.
Saat sudah berada di luar pintu, celah pintu kamar itu terbuka setengah.
“Silahkan Nona.” Persilahkan Geo lalu berlalu pergi.
Rebecca menarik kenop pintu, di sana ia menemukan Jovan yang tertawa bahagia dengan menyuapi seorang gadis yang jelas sudah Rebecca ketahui. Cansu! Gadis itu membuat Rebecca tidak suka saat Jovan terasa dekat dengannya.
“Kenapa?” tanya Jovan saat melihat Cansu yang terdiam dari tawanya dan menatap luar pintu, otomatis Jovan mengikuti arah pandang Cansu.
“Rebecca? Kapan kau kemari?” tanya Jovan.
Rebecca tersenyum kecut, namun padangannya menatap sinis Cansu. “Sejak kau menyuapi Cansu.”
Jovan tersipu malu. “Ekhmmm, ini,... Ini tak seperti yang kau bayangkan Beca, aku hanya membantu Cansu, omong-omong kenapa kau ke sini?”
“Tentu saja ingin menemuimu dan kau? Kenapa dengan dia?” Tunjuk Rebecca kearah Cansu. “Bukankah dia gadis Yohan, Jo?”
“...”
“Aku tak tau masalahnya kenapa kau membawa Cansu ke mansionmu, tapi dengan kau yang ikut campur masalah Yohan, pria itu tak segan-segan menyakitimu Jo, aku tak mau hal itu terjadi.” Peringat Rebecca.
“Maaf Beca, hal ini sepertinya tak perlu kau khawatirkan karena aku sendiri yang mengurusnya, jika kau tak punya hal untuk di bicarakan lagi selain ini, silahkan pergi.”
Deg!
Seperti di tusuk belati, dengan mudahnya Jovan mengusir Rebecca, apa sebegitu pentingnyakah Cansu? Selama ini Jovan itu tak bisa mengusir dirinya di mansion miliknya ini, jangankan di suruh pergi dibentak saja tidak pernah.
Dan kali ini pandangan Rebecca tentang Jovan yang lemah lembut padanya harus hilang, karena sosok Cansu yang tidak diundang dalam kehidupan mereka.
“Kau mengusirku Jo?” tanya Rebecca meremehkan. Ia menaikkan alisnya sebelah tak percaya.
“Aku tak mengusirmu, aku hanya—” belum sempat Jovan mengkoreksi kata-katanya, Rebecca telah memotongnya.
“Jelas-jelas kau mengusirku secara tidak langsung Jo! Apa karena dia?” tunjuk Rebecca kearah Cansu. “Okay, aku paham sekarang.”
“Beca! Apa maksudmu? Cansu tidak ada hal yang terkait dengan ini!”
“Jadi kenapa sifatmu selalu berubah begini saat ada dia? Apa aku sekarang tak berarti lagi bagimu Jo?”
“Beca kau tak mengerti!”
“Kau yang tak mengerti Jo! Kau pikir aku kemari tak punya tujuan? Lalu kalau aku hanya ingin melihatmu apa aku harus punya alasan? Bagaimana jika tidak? Kau mengusirku begitu saja heh? Baiklah jika itu maumu, dengar ini Jovan, aku kemari hanya ingin memberitahumu tentang Casely, sebaiknya kau mengecek berita hari ini, namamu kini sedang menyita banyak sorotan, tapi tak perlu aku jelaskan karena kau pasti lebih memilih untuk aku pergi dan kembali bersenang-senang dengan gadis itu, ck.” Berbalik badan Rebecca berlari keluar mansion.
Jovan mengejar Rebecca, namun gadis itu lebih cepat meninggalkan Jovan mengendarai mobilnya.
“Rebecca!” teriak Jovan.