LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{44}



“Jo, kenapa harus menutup mataku segala?” Merabakan tangannya ke depan Jovan tertawa melihat Cansu yang kesusahan berjalan.


“Ayo, jalan sedikit lagi hahaha.”


“Kau ini, kenapa tidak bilang saja? Aku tidak tampak apapun jadinya, berjalanpun jadi sudah.”


“Aku di sini, kau tak perlu takut jatuh, sekarang dengarkan saja aku, mengerti?”


“Hemmm, baiklah.”


“Apa sudah sampai? Kenapa kau mengajakku ke jalan yang berbatu-batu heh?”


“Sebentar lagi,” ujar Jovan, “Sekarang kau bisa membuka matamu,” Membuka kain yang menutup mata Cansu.


Gadis itu menutup mulutnya tak percaya, lalu Cansu menatap Jovan dengan mata berkaca-kaca.


“Ini indah sekali Jo.” Mengibas matanya yang hampir saja menangis, “aku tak percaya kalau ada tempat secantik ini.”


Jovan lalu memeluk tubuh Cansu dari belakang.


“Jo?”


“Biarkan aku sebentar saja begini....”


Angin laut yang menerpa wajah keduanya, burung-burung seolah bernyanyi karena mereka.


Cansu membiarkan Jovan memeluknya. Di atas tebing mereka berdua menikmati angin laut dan pemandangannya yang begitu indah.


Jovan menyenderkan dagunya di bahu Cansu. Memejamkan matanya, air matanya mengalir begitu saja.


“Caca....”


Cansu membalikkan tubuhnya, ia merasakan hal aneh yang menetes di bahunya.


Jovan menangis, tapi senyumnya tetap hangat menatap Cansu.


Cansu mengelus rahang kokoh itu dan menghapus air mata Jovan yang mengalir di wajahnya.


“Jangan menangis Jo,” ujar Cansu, ia seolah merasakan kepedihan Jovan sekarang.


Jovan memeluk Cansu erat, kali ini hatinya tak bisa berbohong lagi, ia sudah tak bisa menyembunyikan kenyataan ini lagi.


Bahwa kini ia MENCINTAI CANSU.


•••


Yohan turun dari mobilnya, ia kali ini akan mendatangi Villa yang berada di atas tebing, Villa itu adalah kesayangan Mommy nya, jadi ia tak mau gara-gara kehadirannya, roh Mommy nya yang mungkin saja singgah kesini jadi terganggu karena dirinya yang membuat kericuhan dengan menembak Jovan.


“Kalian di sini saja, biarkan aku yang ke atas sana sendiri.”


“Baik Tuan,” ujar Famoz.


Lalu, Yohan berjalan menaiki anak tangga yang berbatu.


Saat dirinya sampai di atas puncak.


Terpaan angin yang kencang menerpa wajahnya, di ujung tebing sana juga Yohan melihat Cansu bersama Jovan yang sedang berpelukkan.


Yohan menggepalkan tangannya erat, entah kenapa hatinya begitu bergemuruh saat miliknya di sentuh orang lain.


Miliknya? Yang benar saja! Mungkin Yohan harus meralat ulang kata-katanya, ini lebih tepat dikatakan merebut budak miliknya.


Yohan bertepuk tangan.


“Menarik, kisah cinta yang hampir membuatku menangis tersendu,” sinisnya menatap kedua orang di depannya yang kini memasang raut terkejut mereka.


“Kenapa terkejut begitu heh? Apa aku menganggu kalian?”


Cansu menggepal baju kemeja Jovan, ia bersembunyi di belakang pungung Jovan kali ini.


Yohan tersenyum miring. “Ck, kenapa kau harus setakut itu dengan Tuanmu Cansu?” selidik Yohan.


“Cukup Jovan! Sebenarnya kau ini mau apa heh? Bukankah tidak cukup dengan yang kemarin?”


“Kau ini bicara apa heh? Jelas aku akan menjemput budak KE.SA.YANGAN.KU,” tekan Yohan di ujung kalimat.


“Tidak!” tolak Jovan.


“Aku tak butuh persetujuanmu Jo,” sinis Yohan, “Ayo Cansu kita pulang!”


Lalu, Yohan mengulurkan tangannya.


Cansu menggeleng takut. “Tidak! Aku tidak mau!”


“Ikut aku pulang Cansu!”


“Aku tidak mau Yohan! Cukup! Aku ini bukan binatang yang seenaknya kau siksa sesuka hatimu!”


“Hahahah,... Kau mengatakan kau ini bukan peliharaanku? Jelas-jelas kau ini peliharaanku Cansu!” Lalu Yohan menarik lengan Cansu kasar, “Jangan membuatku marah, ayo kita pulang sekarang.”


“Arhhhggg sakit Yohan!” ringis Cansu.


Namun, saat Yohan menarik pergelangan tangan Cansu, pergelangan tangan Cansu yang sebelahnya juga di tarik Jovan.


“Kau tak bisa membawa Cansu jika aku belum menyetujuinya.”


Yohan menggeretakkan giginya geram. “Jadi kau ingin aku menghajarmu dulu heh?”


“Jika kau ingin mengambil Cansu, aku tak punya pilihan cara yang baik lagi selain ini.”


“Ciuh! Persetanan denganmu Jovan!”


Duag!


Yohan meninju rahang kokoh milik Jovan hingga mengeluarkan darah segar.


Duag!


Belum sempat Jovan meninju sekalipun untuk Yohan, kini tinjuan itu mendarat di perutnya.


Bug!


Bug!


Bug!


Yohan memberhentikan tinjuannya yang hampir saja memukul Cansu karena gadis itu memeluk tubuh Jovan erat.


“Kumohon,... Jangan lagi Yohan, aku akan pergi denganmu, tapi aku mohon aku akan menelepon Jesy untuk menjemput Jovan disini,” pinta Cansu.


“Baiklah, aku akan mengabulkannya, setelah kau menelopon Jesy segera turun ke bawah dan masuk ke mobil, jika kau berani kabur lagi, jangan harap besok Jovan akan hidup!” ancam Yohan lalu berlalu pergi.


Kini Cansu menatap keadaan Jovan yang begitu miris.


“Uhukk,... Uhuk.....” Jovan memuntahkan Cairan merah kental itu dari mulutnya.


Cansu yang khawatir mengambil ponsel Jovan untuk menelepon Jesy.


Namun Jovan mencegat Cansu, ia menggenggam tangan Cansu seranya menggeleng.


“Masih dalam keadaan begini kau mau kita kabur lagi heh? Tidak! Aku tidak mau Jo!” tolak Cansu.


“Tapi— Bagaimana denganmu? Uhuk....”


“Jangan pedulikan aku, kau harus pergi dari sini.”


Lalu, Cansu menelepon Jesy.


“Ya Jo?” jawab nada sambung di sana.


“Jesy kumohon jemput Jovan, dia sekarat sekarang, aku akan mengirimkan lokasinya padamu.”


“Apa kenapa Jo—”


Tuttt Tuttt Tuttt


Cansu mematikan panggilannya secara sepihak, lalu ia mengirimkan pesan singkat di mana lokasi mereka saat ini.


Tak beberapa lama, Jesy dan beberapa kru datang, tapi saat melihat kondisi mengenaskan Jovan yang tertidur di atas tanah, Jesy tak melihat Cansu lagi.


Padahal sebelum Jesy datang Cansu yang sudah menunggunya buru-buru bergegas meninggalkan Jovan yang tak sadarkan diri dan berlari masuk ke dalam mobil Yohan yang telah menunggunya.


Air mata tak kunjung berhenti dari pelupuk mata Cansu.


“Tak perlu menangis, dia tidak akan mati semudah itu,” jawab Yohan entang.


“Kau! Gara-gara kau mungkin Jovan tak akan di larikan ke rumah sakit!”


“Jaga sikapmu Cansu! Aku ini Tuanmu!”


“Kau bukan Tuanku! Kau iblis! Kau manusia yang tak memiliki hati! Aku benci kau Yohan!!! Aku membenci Kau!” teriak Cansu.


Yohan mengerem mobilnya mendadak hingga kepala Cansu terjedut kuat di kaca jendela mobil.


Yohan menatap Cansu murka, ia mencekik leher Cansu yang seperti membela Jovan. “Cobalah kau berteriak lagi, atau kau hanya akan ku cebur di air kolam nantinya!” ancam Yohan lalu melepaskan cekikkannya di leher Cansu.


“Uhukkk, uhuk, uhuk,” Cansu terbatuk, ia memegang lehernya yang membekas karena cengkraman Yohan.


Kali ini Cansu tak menjawab, baginya Yohan itu bukan lagi bisa dikatakan manusia, ia bahkan tak segan-segan membunuhnya suatu saat nanti.


“Bagus! Anjing yang pintar!” Lalu Yohan kembali melajukan mobilnya.


‘Sialan! Aku bukan anjingmu Yohan!’ batin Cansu.


•••


Bau obat-obattan membuat Jovan yang awalnya tak sadarkan diripun terbangun.


Pandangannya sedikit rabun, ia mengerjapkan matanya dan melihat sekelilingnya.


Dinding putih dengan tangan yang di infus, seorang gadis tertidur di samping kabin tempat Jovan terbaring.


“Jesy?”


Jesy yang merasa terpanggil akhirnya terbangun, matanya yang sembab karena lelah menangis akhirnyapun tersenyum bahagia.


“Jo kau sudah sadar ternyata, untunglah, jika tidak aku tidak tau akan mengatakan apa untuk Om Lucas nanti.”


“Kau belum mengatakan pada semua orang aku ada di rumah sakit 'kan?”


“Belum, aku sampai lupa mengatakannya karena sangking paniknya melihatmu, ada apa? Kenapa kau bisa bersimbak darah di sana, jika Cansu tidak meneleponku nyawamu sudah tak tertolong sekarang.”


“Di mana Cansu?”


“Kenapa kau menanyakan dia? Kau tak ingat gadis itu bahkan tak menemanimu walau dalam keadaan kritis sekalipun!”


“Aku tanya di mana sekarang dia?!”


“Aku tidak tau, saat aku ke sana dia sudah tidak ada.”


Jovan menggepal sprai kabin geram, pasti Yohan sudah membawanya pulang, ini tidak bisa dibiarkan.


Jovan berusaha bangun dari tidurnya.


“Akhhh,” ringis Jovan memegang luka diperutnya.


“Jangan banyak bergerak! Kau ini belum sembuh total!”


“Aku harus pergi Jes, ini penting!”


“Ke mana? Jangan bilang kau akan mencari Cansu dengan keadaan begini?!” tuding Jesy, “aku tidak menyetujuinya!”


“Aku tak bisa meninggalkannya.”


“Jovan! Lihat dirimu, kau ini lebih menyedihkan sekarang kenapa harus mencari Cansu?”


“Karena dia adalah orang yang berarti bagiku!” jawab Jovan naik satu oktaf.


Jesy terkejut, namun ia juga tak bisa menyalahkan perasaan Jovan yang tak ada sedikitpun untuknya.


“Tidurlah, aku akan menyuruh orang untuk menjemputnya.”


“Yohan.”


“Hah?”


“Gadis itu pasti di bawa Yohan, dan kau tak bisa menyuruh orang untuk masuk ke kediaman Yohan, Jesy.”