
Tubuhnya seakan kaku ditambah lagi pegal yang tak tertahankan dilehernya, suatu benda seperti mencekal leher dan sebelah kanan pergelangan kakinya. Ini sungguh menyakitkan,... Benar-benar menyakitkan, rasa-rasanya ia benar-benar tak bertenaga untuk bangun sekarang, seperti ditindih badannya serasa tak benyawa dan berenergi sama sekali, tapi matanya mencoba untuk terbuka....
Perlahan-lahan mata indah benetra coklat itupun terbuka....
Redup.
Itulah kata yang bisa ia katakan disaat yang bisa ia lihat hanyalah ruangan yang temaram yang hanya disoroti lampu yang tak terlalu terang, ruangan dingin dengan lantai kasar, semakin menyakiti kulit Cansu saat ia berusaha mendudukkan tubuhnya, lalu meraih benda apa yang seperti mencekal leher dan pergelangan sebelah kanan kakinya itu.
Dan ternyata benda itu adalah Borgol?!
Cih! Pria yang bernama Yohan itu benar-benar tak memiliki hati! Bisa-bisanya ia mengurung seorang gadis diruang bawah tanah! Bahkan borgol yang anak buahnya pasang rantainya itu memanjang hingga tertancap ke dinding.
Yohan kira ia itu hanya hewan peliharaan baginya?!
“Lihat saja kau Yohan! Akan kubalas kau,” geram Cansu mendumal.
Kurang ajar memang!
Kenapa pria itu berlaku seperti ini terhadapnya? Apa pria itu pikir jika ia berlaku seperti ini terhadapnya ia akan memohon dibawah kaki pria itu agar dilepaskan apa?!
Cih! Yang benar saja! Itu tak akan pernah terjadi, malahan Cansu berharap ia akan segera mati dan menyusul kedua orang tuanya diatas surga sana dan hidup bahagia. Tapi, tidak bisa begitu juga! Ia lebih tenang saat mati ketika ia bisa membunuh pria itu dengan tangannya sendiri, iya! Anggap saja hidupnya sekarang hanya untuk membunuh Yohan tak ada yang lain!
Cansu menggeram, ia lantas meronta-ronta berusaha melepaskan borgol dari lehernya namun nihil! Borgol itu tak terbuka sama sekali, jika begini niatnya untuk lari dari tempat sial ini malah tak akan pernah terjadi! Tapi bukan berarti ia pasrah jika Yohan malah semakin terus menyiksanya.
Berusaha untuk kedua kalinya, berharap rantai itu terbuka dari leher dan pergelengan kaki kanan Cansu, bukannya terbuka, borgol yang rantainya malah semakin mencekal leher dan pergelangan sebelah kanan kakinya membuat leher dan pergelengan kanan kakinya malah lecet.
Sial! Kenapa tidak ada suatu bendapun yang dapat ia gunakan untuk membukakan borgol yang menyakitkan ini?
Detakan sepatu kulit yang bertabrakkan diatas lantai kasar mengijaki lorong ruang bawah tanah mendengung hingga sampai ketelinga Cansu, semakin lama suara tapak kaki itu semakin mendekati jeruji besi tempatnya terkurung.
Saat suara tapak kaki itu berhenti, seorang pria dengan stelan jasnya berdiri menatap sinis kearahnya.
Yohan memukul pagar jeruji besi dengan salah satu kunci yang ia gunakan untuk mengurung Cansu.
Menambrak kunci itu di pinggir besi hingga membuat bunyi nyaring yang mengilukan gigi karena gesekannya.
Yohan tersenyum licik. “Sedang berusaha melepaskan borgol itu hemmm... Cansu Ya-n Ra-sly?” ujar suara dingin Yohan dari luar jeruji besi sambil menggantungkan kunci ditangannya kearahnya, iris mata hijau itu membuat Cansu semakin menatapnya tajam, antara benci, muak, dan marah menjadi satu. Sedangkan orang yang dibalik luar jeruji besi tersenyum smirk tak kala melihat amarah yang terpancar dalam sorot netra coklat tua didepannya.
Cansu menoleh sinis, “Kau!!!” geramnya, Yohan membuka jeruji besi yang mengurung Cansu dan masuk kedalam.
“Enyahlah kau biadab!” maki Cansu, tak puas-puaskan pria didepannya menyiksanyakah? Setelah ia membunuh kedua orang tuanya, ia bahkan tak punya hak untuk hidup dan malah berakhir menjadi budakknya hanya untuk menjadi mainannya saja.
Yohan mencengkram dagu Cansu geram saat mulut perempuan didepannya tak pernah lepas memakinya.
“Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku tak membunuhmu sama seperti orang tuamu itu, dasar wanita tak tau diri!” lalu Yohan menghempas dagu Cansu kasar.
“Cih! Jangan harap Tuan Yo-han A-mor! Aku lebih sudi jika kau membunuhku saat itu juga dari pada aku harus bersujud syukur di bawah kaki busukmu itu!” sinis Cansu.
“Kau!!!!” geram Yohan naik pitam, baru kali ini ia mendapati seorang gadis yang keras kepala melebihi dirinya, tidak ada takut-takutnya sama sekali.
“Apa?! Kau heran kan kenapa aku tak takut denganmu?”
“Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau, jadi jangan pernah bermimpi aku akan melakukan hal hina itu!”
“Kau!!!”
“Apa?!” tantang Cansu semakin membuat urat leher Yohan seakan mencuat keluar.
“Cepat!”
“Tidak!”
“Baiklah jika itu maumu,” seringainya licik lalu melepaskan borgol yang berada dileher Cansu dan sebelah pergelangan kakinya.
Kini Cansu telah bebas dari benda yang menyakiti tubuhnya itu.
Cansu sempat terpelongo dengan tindakan Yohan yang membukakan borgol itu semua darinya, apa maunya? Tak mungkin 'kan seorang Yohan melepaskannya begitu saja? Ini terlalu janggal dan aneh bagi Cansu.
Yohan merogoh pisau lipat kecil dari saku celananya, pisau itu memang selalu ia bawa untuk menyiksa musuhnya hingga mati dengan cara yang tak manusiawi, makanya itu Yohan banyak ditakutkan, bahkan klan mafia dibelahan dunia tak berani berurusan dengan manusia yang sudah tak waras seperti Yohan, itu sama saja ingin dicabut nyawa lebih cepat.
Ia psycopath! Tak ada rasa kasian saat pisau lipat itu biasanya bersemayam di kulit seseorang.
Cansu bergemetar saat Yohan menertawainya yang katakutan dan bergemetaran.
“K-kau! Mau apa heh?!” tunjuk Cansu.
Lalu, ia memundurkan tubuhnya dengan menyeret, tapi Yohan semakin berjalan mendekatinya dengan tatapan Yohan yang sayup namun senyuman yang mengerikan itu bisa membuat siapa saja ketakutan dibuatnya.
“Kamarilah,... Jangan takut seperti itu, ayo maki sekali lagi, biar kuiris mulut mu itu dengan pisau kesayanganku ini,” ringis Yohan seolah-olah ia bisa merasakan betapa sakitnya pisaunya.
Cansu menuntup mulutnya lantas semakin mundur saat Yohan berjalan kearahnya semakin dekat, dekat, dan semakin mendekat, Cansu menggeleng.
Namun, tiba-tiba saja ia sudah tak bisa mundur lagi tak kala dinding jeruji besi bertubrukkan dengan punggungnya.
Yohan berjongkok menyamakan tingginya dengan Cansu, ia tersenyum licik lantas mengambil anak rambut Cansu dan meniup lembut kuping Cansu hingga gadis itu di buat gemetar sekarang.
Yohan mengarahkan ujung pisau lipat itu diwajah putih milik Cansu yang semakin pucat.
Memainkannya disekitar wajah Cansu yang ketakutan semakin membuatnya suka.
“Bagaimana hemmm...?” seringainya.
Deru nafas Cansu yang tak beraturan membuat Yohan menyunging senyumannya kejam, netra coklat tua dan hijau itu saling bertatapan, yang satu pupilnya merasa ketakutan, dan yang satunya menatap sendu dengan senyum yang semakin membuat orang menggidik ngeri.
“K-kau, kau pikir aku takut dengan ancamanmu heh?!” pekik Cansu berusaha berani di depan Yohan, walau dalam dirinya ia merasa sangat takut sekarang.
Yohan itu tipekal orang yang akan bertingkah jika Cansu semakin takut, tapi tidak jika Cansu berani melawannya, hal itu akan membuat titik darahnya mendidih naik.
“Hahaha,... Cansu, Cansu, kau memang gadis yang bodoh! Beraninya berurusan denganku,” tawa Yohan jahat, tapi seperkian detik wajah itu kembali berubah menjadi cuek dan dingin. “Kau kira aku hanya main- main saja heh?!” bisik Yohan licik disebelah telinga Cansu.
Srettt