LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{31}



🐾“Ca! Ca! KEMARI GAK!” bentak seorang anak laki-laki dengan wajahnya yang marah kepada anak perempuan di depannya, Caca menggeleng lantas menggenggam boneka beruangnya erat-erat tak kala anak laki-laki itu kembali ke panti asuhan hanya untuk mengganggunya lagi dan lagi.


“Aku gak mau! Yohan jahat!” jeritnya berusaha hendak kabur namun, Yohan kecil dulu menghalanginya.


“Kau harus bermain denganku Ca!” tarik Yohan dipergelangan tangan Caca.


Hari-hari Yohan yang setiap bulannya berada di panti asuhan selalu membuat Yohan senang berada di sisi Caca, ia bahkan mengecap anak perempuan dengan mata polosnya itu sebagai miliknya namun cara bertemanan Yohan yang tergolong kasar membuat Caca sedikit tak menyukai Yohan kecil dulu.


“Akh sakit,... Sakit....” erang Caca berusaha melepaskan cekalan Yohan kecil dari tangannya. “Yohan ini sakit Yohan!” bentak Caca lalu menhentakkan tangannya dari pergelangan tangan Yohan kecil.


Yohan terkejut, sontak ia melototkan matanya kesal dengan Caca yang menolaknya, Caca menunduk takut melihat Yohan yang mengancamnya dengan sorot matanya itu.


“Ayo bermain denganku, atau bonekamu itu ku buang seperti kemari-kamarin!” ancam Yohan kecil menatap boneka beruang di tangan Caca, Caca menggeleng takut, seranya mengetatkan pegangannya kebonekanya, ia tak mau kejadian seperti tempo lalu membuat Yohan marah dengan bonekannya yang dibuang di ku bangan kotor lagi.


“I,... Iya,... Aku mau.” Angguk Caca, lalu membiarkan Yohan kembali memegang pergelangan tangannya dan menariknya pergi.


“Caca! Caca!”  teriak anak laki-laki membuat Caca menoleh, ia mendapati Jovan kecil membawa sebuah boneka beruang yang cukup besar, Yohan melirik Jovan sinis saat Kakaknya itu menyerahkan boneka dari tangannya kepada Caca sehingga mau tak mau pengangan Yohan terlepas begitu saja dari tangan Caca, Caca mengambil boneka pemberian Jovan senang lantas memeluk boneka yang diberikan Jovan untuknya.


“Sudah ku bilangkan jika aku akan membeli boneka yang baru untukmu.” Senyum Jovan seranya mengacak-ngacak pucuk rambut ikal panjang milik Caca.


“Terima kasih JoJo kau memang yang terbaik,” girang Caca.


“Jojo? Panggilan apaan itu?” tanya Yohan.


“Panggilan sayangku untuk Jovan,” jawab Caca tersenyum malu.


“Aku suka.” Senyum Jovan.


Yohan yang melihat Caca lebih akrab dengan Kakaknya itu merasa diacuhkan sekarang, ia benar-benar cemburu dan juga jengkel dengan perkataan Caca pada Jovan barusan.


“Bagaimana denganku? Kenapa kau tidak memanggilku dengan nama yang kau buat untuk Jovan?!” tanya Yohan garang lantas membalikkan tubuh Caca spontan menghadap ke arahnya.


“Ak,... Ak,... Sakit Yohan!” ringis Caca karena bahunya yang di cengkram Yohan.


“Yohan hentikan! Caca kesakitan,” ujar Jovan.


“Aku tanya, bagaimana denganku heh?!”


“Kau,... Kau,...Yoyo, kupanggil kau Yoyo, Jojo dan Yoyo,” jawab Caca takut-takut kalo Yohan menolaknya.


“Bagus,” seringai Yohan. “Apa itu nama sayangmu untukku juga?” tanya Yohan lagi.


“I—Iya,” jawab Caca takut-takut.


Melihat hal itu Jovan kecil sangat tak suka dengan sikap possessive adik nya, ia lantas menarik tangan Caca untuk pergi dari hadapan Yohan.


“Ayo Caca kita main bersama.” Tarik Jovan.


“Ayo."


Namun Yohan langsung menarik lengan Caca yang sebelahnya lagi, membuat kedua boneka ditangan Caca terjatuh di atas tanah.


“Aku deluan yang mengajaknya!” Intemidasi Yohan.


Caca menghentakkan pergelangannya kasar. “Berhenti! Jojo sama Yoyo kenapa bertengkar? Kalian 'kan saudara? Seharusnya kalian saling menyanyangi! Aku tak mau bermain dengan salah satu dari antara kalian jika kalian begini!” bentak Caca merajuk.


“Tapi Ca—” melas Jovan.


"Tapi Ca, aku 'kan yang deluan mengajakmu,” ujar Yohan.


“Baiklah, jika kalian ingin bermain denganku, maka kita bermain bersama-sama saja, bagaimana?” usul Caca.


Jovan dan Yohanpun saling menatap tak suka, usulan Caca membuat mereka akan cangung jika bermain bersama, tapi saat pupil mata Caca menatap meraka seakan memohon, keduanya hanya bisa menarik nafas mereka pasrah.


“Baiklah aku tak masalah kalau begitu,” jawab Jovan spontan.


“Kalau Yoyo bagaimana.” Kini tatapan Caca mengarah kepada Yohan.


“Baiklah,” jawab Yohan dingin menatap kakaknya tak suka.


Caca mengambil kedua bonekanya yang terjatuh di tanah. Lalu Caca Yohan dan Jovan pun bermain seperti biasa, mereka berlari main kejar-kejaran, bersepeda, bermain ayunan, petak umpet, bermain masak-masakkan, dan permainan lainnya.


“Aku lelah! Ayo coba permainan yang belum pernah kita coba!” ujar Yohan yang merasa bosan.


“Iya, aku juga bosan, tiap kali bermain ini-ini saja.”


“Bagaimana kalau kejar-kejaran?” usul Jovan.


“Sudah pernah,” ujar Yohan.


“Bermain robot-robotan?” usul Jovan.


“Wah itu baru bagus!” ujar Yohan.


“Itu permainan laki-laki aku tak suka!” sambung Caca.


“Benar juga, bagaimana kalau bermain—” gantung Jovan. “Suami istri dan anak?” kini pipi Jovan memerah menatap Caca berharap anak perempuan di depannya seperti tertarik.


“Permainan apa itu? Aku belum pernah memainkannya, kedengarannya sangat asik, siapa yang akan menjadi suami, istri dan anaknya?” tanya Caca.


“Tentu saja karena kau perempuan, kau istrinya dan karena aku lebih tua dari kalian aku adalah suaminya, dan kau Yohan kau anak kami,” ujar Jovan.


“Kita mulaikan perannya mulai sekarang ya.”


“Tidak! Aku maunya menjadi suami! Kau saja yang anak,” tolak Yohan.


“Mana bisa begitu kau belum cukup umur menjadi suami,” balas Jovan.


Yohan tak tau menjawab apa, ia membuang mukanya kesembarang arah.


“Anakku, kenapa kau marajuk nak?” ujar Caca lalu memegang pipi Yohan, Yohan yang mandapat reaksi Caca yang begitu, menegang seketika. Pipinya benar-benar seperti tomat. “Tenanglah, aku kini sudah berakting menjadi Mommy yang baik,” desis Caca.


Baiklah, kalau Yohan bisa menjadi anakpun tak masalah, asal Caca bisa selalu begini untuknya, mungkin tak ada salahnya ia mencoba—