LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{9}



Cansu, gadis cantik berusia 19 tahun itu menatap nanar jendela kaca kamarnya, bayang-bayang akan kematian kedua orang tuanya terus menghantui pikirannya. Apa ini mimpi? Atau hanya halusinasi saja? Bayang-bayang itulah yang selalu dipikirkan Cansu bagaikan kaset siaran ulangan.


Ia sangat dendam dengan pria bernama Yohan itu, dan demi apapun ia akan mati dengan tenang setelah membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.


Namun dirinya tak sekejam pria itu, ia tak bisa membunuh seseorang. Kedua orang tuanya selalu mengajarkan kebaikan pada dirinya.


Jangan 'kan untuk membunuh Yohan, membunuh seekor seranggapun ia malah ketakutan sendiri.


Ia juga ingin terlihat seperti wanita yang tangguh di depan pria itu agar tidak bisa diremehkan, tapi nyatanya selalu tak mempan, mau sampai mana ia bisa membantah perkataan Yohan, ada saja yang pria itu lakukan untuknya agar semakin tersiksa.


Menyiksa, menyakitinya,... Hal itulah yang selalu tertancap dipikiran Cansu jika melihat sosok Yohan dibalik ketampanannya.


Tapi hati ini,... Hati ini tak seikhlas sebegitu saja! Apa yang harus ia lakukan? Apa harus ia ikuti saja kata-kata Bibi Pet kemarin? Bahwa ia harus memahami karakter Yohan baru akan bisa memahami seluruh isi hati sebenarnya pria itu?


Bahkan Cansupun tak yakin bahwa seorang Yohan yang terkenal licik juga bisa memiliki hati nurani? Hanya itu yang bisa menjadi pertanyaan Cansu dihatinya.


Tapi jika melihat tingkah bejat Yohan itu, kurasa Bibi Pet salah mengartikulasi sosok yang yang baik didepannya, Yohan itu cenderung sebaliknya.


Dia itu iblis dari berbagai macam bentuk iblis berbentuk manusia dengan memanupulasi umat manusia dengan wajahnya yang tampan bak dewa Yunani.


Cih! Membayangkannya saja sudah membuat Cansu muak!


Sebuah pintu berdecit, seorang pelayan atau Nanny memasuki kamarnya dengan menunduk hormat. “Nona, Tuan Yohan memanggil anda.” Cansu menoleh. “Baiklah aku akan menyusul.” lalu Cansu berlalu pergi menyusul Yohan di bawah lantai dasar mansion.


‘Mau apa lagi dia?!’ Batin Cansu.


•••


Bahkan gara-gara hal ini, ia sampai-sampai tak pergi merayakan pesta kecil-kecilan bersama rekan-rekan kerja lainnya, padahal ia sangat ingin melakukannya, namun hal lain yang lebih penting membuatnya lebih dulu ke mansion Yohan, Ya! Jovan harus memastikan bahwa Yohan akan menandatangani map yang ia berikan beberapa hari yang lalu kepadanya, dan hal itu harus ia pastikan bahwa adik nya akan menandatanganinya didepan matanya sendiri, karena melihat sifat Yohan, ia yakin pria itu tak sebegitu mudahnya menuruti perintahnya.


Jovan mengendarai mobil sport mewah keluaran terbarunya melaju di jalanan sepi menuju mansion adik nya, memang mansion mewah adik nya itu berada di daerah yang terletak sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jadi jangan heran kalau jarang pengendara yang lewat dari arah jalan yang ia lewati.


Pintu pagar depan mansion yang menjulang tinggi menyambut kedatangan Jovan, pintu pagar besi yang menjulang tinggi itu, terbuka otomatis tak kala mobil Jovan mengklason beberapa kali.


Pagar besi yang sudah berbasis teknologi.


Jovan mengendarai mobilnya kembali menelurusi jalanan searah yang di sungguhi pohon pinus yang indah dan beberapa pohon sakura yang tidak berbunga karena gugur. Sesampainya Jovan ditengah-tengah pintu utama mansion kita akan mendapati air mancur berpantung dewa cinta. Jovan memutar kemudinya kekanan dan memakirkan mobilnya di depan teras mansion.


Deru suara mobil sport itu, membuat penjaga menghampiri mobilnya dan membukakan pintu mobil Jovan hormat.


“Selamat datang Tuan Jovan,” ujar salah satu penjaga hormat membungkuk kearah Jovan.


“Dimana adik ku?”


“Tuan Yohan, dia ada di ruang tengah bersama dengan Nona Cansu.”


“Nona?” heran Jovan, setahunya adiknya itu tak pernah sekalipun terlibat dengan makhluk bernama ‘wanita’ tapi apa yang ia dengar dari penjaga mansion adiknya itu apa benar adanya?


Hal itu malah semakin membuat Jovan semakin penasaran dan masuk kedalam mansion untuk menemui adik nya.