
Jovan kini berada dilokasi syuting, bersama Cansu yang sedang menyiapkan bajunya yang telah diberi arahan oleh Jesy sang manager.
Sebelum memulai adegan sesi rekaman selanjutnya, Jovan disuruh beristirahat sebentar diruangannya, ruangan yang hanya ia seorang berada. Nampak sepi, dan juga,... Entahlah, perasaannya kian campur aduk, menatap kearah atas langit-langit ruangan, Jovan mengeluh lantas membuang nafasnya kasar, saat dirinya mencari ponsel untuk menghilangkan rasa jenuhnya ini, namun ponselnya tak ia temukan di manapun, begitulah benda saat tak dicari ada, saat dicari tak ada.
“Kemana Jesy menaruhnya ya?” guman Jovan mengingat lalu mengobrak-abrik seluruh laci rias hanya untuk mencari ponselnya.
Hah! Ketemu!
Saat ia menemukan ponselnya dilaci, ia menemukan selipan foto yang tertimpa diponselnya, Jovan mengambil foto berukuran kecil itu, foto yang seketika itu juga bisa membuatnya bad mood kian bercampur aduk semakin tak karuan, tubuhnya menegang, rasa perasaaan ini, rasa rindu yang belum kian terobati, masih sama seperti dulu sejak kepergiannya lukanya juga kian lama semakin terbuka bukannya tertutup.
Foto itu adalah foto dirinya bersama Yohan saat mereka masih kecil dulu, yang di tengah meraka ada seorang anak perempuan cantik tengah tersenyum mendapati Jovan dan Yohan menciumnya dari pipinya yang berbeda, kanan dan kiri.
Senyumnya yang manis membuat Jovan kian merindukannya,padahal ia ingin membuang foto ini sejak lama, namun sangat disayangkan jika ia membuangnya, karena foto ini adalah foto satu-satunya yang ia miliki. Foto yang bisa mengingat Jovan dengan anak perempuan itu.
Cinta pertamanya dan mungkin juga untuk selama-lamanya.
‘Aku merindukanmu Ca,... Apa kau bisa melihatku tersiksa disini karenamu diatas sana?’ batin Jovan sedih.
Lalu memasukkan lagi foto kecil itu ke dalam laci, ia tak mau berlama-lama dalam perasaan ini, dan ia terlalu malas membawa foto itu juga ke mana-mana, jadi ia hanya menaruhnya di ruangan ini agar tak pernah membukanya. Tapi nyatanya ia melihatnya juga.
Jovan memejamkan matanya lelah, sambil membantingkan dirinya ke sofa santai, ia mengingat kembali kenangannya bersama anak perempuan itu.
Kembali ke masa kecilnya, Dulu,... Sekali....
🐾Seorang anak laki-laki menghampiri seorang anak perempuan yang terduduk di bawah pohon sambil bersedih, dirinya menangis sesegukkan karena ulah anak laki-laki lainnya yang mengerjainya.
Jovan kecil dulu, merasa kasian dengan anak perempuan itu, lalu ia berjongkok menyamai tingginya dengan anak perempuan itu.
“Kau kenapa?” tanyanya. Anak perempuan itu mengangkat wajahnya melihat Jovan sedikit takut. Takut kalau Jovan juga sama seperti anak laki-laki yang mengerjainya itu.
Anak perempuan polos itu mengelengkan kepalanya takut.
“Tenang, aku tak berniat jahat,” ujar Jovan seakan tau isi hati anak perempuan didepannya.
Anak perempuan itu cantik sekali, rambut lurusnya berwarna coklat tua sama seperti netranya yang terdalam, menampakkan keteduhan bila kita memandanganya.
“Kau-kau sendiri siapa?” tanya anak perempuan itu ragu-ragu. Jovan menunjukkan dirinya sendiri lantas duduk bersama disamping anak perempuan itu.
“Aku? Tentu saja tamu yang berkunjung,” terangnya.
Anak perempuan itu terdiam sambil menatap rumput di bawahnya lantas berujar. “Keluarga yang lengkap,” gumannya kecil, tapi Jovan bisa mendengarnya, namun ia tak ingin menanyakannya karena anak perempuan itu terlihat bersedih.
“Namaku Jovan, namamu siapa?” Seranya mengulurkan tangannya ke anak perempuan itu disampingnya, anak perempuan itu menjawab salam Jovan senang.
“Caca,” jawabnya.
“Caca dari pada kau bersedih disini, bagimana kalau kau bermain denganku?” tanya Jovan, yang diangguki oleh anak perempuan itu.
Lantas Jovan berdiri dan tak lupa membantu Caca berdiri juga, Jovan dan Caca bermain bersama, mereka menghabiskan waktu hingga lamanya dengan bermain sambil tertawa bahagia, mereka berlari-larian sambil tertawa. Bermain ayunan ban di pohon beringin besar sambil tertawa, dan banyak hal yang mereka lakukan hingga menjelang sore pun tiba.
“Caca awas kau ya aku akan mengejarmu!” pekik Jovan.
“Hahaha,... Kau lucu sekali dengan wajah itu Jovan.” Caca tertawa, membuat Jovan tersenyum karena berhasil membuat anak perempuan yang diajaknya bermain tak lagi bersedih.
“Ketangkap kau!”
“Jovan! Lepaskan hahaha.”
Keakrapan mereka bisa terlihat jelas oleh sorot mata tajam anak laki-laki yang sudah dari tadi menatap mereka.
Bagaimana bisa begini? Padahal ia deluan yang menemukan anak perempuan itu dan kenapa malah Jovan yang bersenang-senang dengan miliknya? Ini tidak bisa dibiarkan!
Menggepal tangannya kuat, sorot mata tajam itu sangat tidak suka dengan keasikan Jovan dan juga Caca yang bermain.
Harusnya dia yang berada di posisi Jovan! Percuma saja ia membuat anak perempuan itu menangis kalau ujung-ujungnya ia malah lebih ingin bermain bersama Jovan ketimbang dirinya.
Anak laki-laki itu lantas berjalan menghampiri Jovan dan Caca.
“Oi!” serunya sambil memainkan boneka beruang ditangannya.
Caca dan Jovan kala itu sedang lari kejar mengejerpun menghentikan lariannya dan menoleh ke sumber suara.
“Yohan?” ujar Jovan. “Ada apa?” tanyanya.
“Bonekaku!!!” seru Caca lalu berlari menghampiri Yohan untuk mengambil bonekanya yang direbut Yohan tadi.
Yohan menaikan alisnya sebelah. “Kau mau boneka ini heh? Mau? Kalau mau ambil ini!” lalu mencampakkan boneka itu ke dalam kubungan air yang kotor.
“Hiks,... Hiksss,... Hiksss.”
“Yohan! Kenapa kau membuatnya menangis! Itu tidak baik,” nasehat Jovan.
Tapi Yohan kecil dulu tidak peduli sama sekali, malahan ia menganggap omongan Jovan sebagai angin yang berlalu.
Sebuah klason mobil membuat Yohan dan Jovan menoleh, itu sopir mereka, disana sudah ada Daddy dan Mommy mereka yang sudah selesai berjumpa dengan kepala panti.
Ya, mereka kini berada di panti asuhan, tempat di mana orang tua mereka yang akan menjadi donatur donasi terbesar di panti ini.
“Yohan!” teriak Jovan karena Yohan yang berlari ke Daddy dan Mommy mereka sehabis melakukan kesalahan.
Jovan mengambil boneka beruang milik Caca lalu mengelus rambut Caca sayang agar anak perempuan itu berhenti menangis.
“Sudahlah, maafkan Yohan ya, dia memang jahil, tapi dia baik kok, ini ambillah,... Jika aku kesini lagi, aku akan memberikan boneka yang lebih bagus untukmu,” rayu Jovan.
Caca yang mendengar itu pun berhenti menangis seketika. “Benarkah?” tanyanya meyakinkan.
Jovan kecil dulu tersenyum lembut sambil menganggukkan kepalanya. “Tentu saja,” terangnya.
Tin~Tin~
Sebuah klason mobil menunggu Jovan untuk segera naik agar pulang ke mansion segera.
Jovan memberikan boneka beruang milik Caca yang telah ia bersihkan sedikit kepada anak perempuan itu.
“Aku pulang ya dah Caca! Besok aku akan kesini lagi,” terangnya.
“Janji.” Caca mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Jovan.
Jovan tersenyum lembut. “Janji.”
“Baiklah, aku pergi dulu, Dah!!!” Lambai Jovan dan berlari ke arah mobilnya yang berada di depan gerbang panti.
“Dahh.” Lambai Cansu.
Mereka berpisah sambil melambaikan tangan.🐾
Kembali ke kehidupan sekarang, Jovan terkejut tak kala sebuah tangan menggoncangkan tubuhnya.
Ternyata ia bermimpi masa kecilnya lagi.
Membuang nafas gusar, hatinya berdebar-debar, bahkan itu hanya mimpi, tapi bisa membuat seorang Jovan yang telalu susah digapai bisa kembali berdebar.
Bagaimana jika sosok itu masih hidup sampai sekarang? Mungkinkah debaran ini lebih kencang dari pada sebelumnya?
Itu mungkin saja, karena Jovan mencintai Caca sampai sekarang.
“Jovan, bersiap-siaplah 30 menit lagi kita akan mulai adegan selanjutnya,” ujar Jesy yang dari tadi membangunkan Jovan.
“Oh iya! Dimana asisten barumu itu?” tanya Jesy.
“Aku tak tau, tadi katanya ia sedang mancari baju untuk adegan selanjutnya kerena baju yang dipesan tak sesuai,” jawab Jovan.
Sebuah pintu ruangan terbuka menampakkan seorang gadis cantik membawa sebuah baju yang ia pegang.
“Jesy?! Ah,... Maaf aku telat ya? Aku tadi kebingungan mencari pakaiannya,” terang Cansu sesal.
Jesy menggeleng. “Tidak juga, kau tepat pada waktunya, kalau begitu, karena kau asisten Jovan, kau lah yang menggantikan dia baju ya, aku punya urusan yang lain.”
“Tapi Jes—” Belum sempat Cansu berbicara gadis itu telah berlalu pergi.
“Kau dengar 'kan tadi Jesy bilang apa? Gantikan aku baju.” Goda Jovan merentangkan tangannya.
Cansu menyerahkan pakaian yang berada di tangannya kepada Jovan spontan.
“Pakailah sendiri! Kau 'kan punya tangan!” jengkel Cansu, bahkan Jovan sedikit terkejut melihat galaknya gadis itu, kemarin-kemarin saja ia sangat kalem, dan lihatlah sekarang ia lebih sedikit garang dari biasanya.
“Wajahmu memerah tuh,” tunjuk Jovan membuat Cansu menutup wajahnya spontan tak ingin dilihat Jovan. “Tapi bo'ong,” lanjutnya.
“Menyebalkan!” rancaunya lalu berlalu pergi meninggalkam Jovan yang tertawa terbahak-bahak karena selesai habis menggoda Cansu.
Mungkin akan menjadi suatu kebiasaan bagi Jovan, untuk menjadikan Cansu sebagai bahan tertawanya sekarang.
Lalu, Jovan berlalu ke toilet untuk memakaikan pakaiannya yang diserahkan Cansu padanya tadi.