LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{47}



“Kenapa? Kau ingin berkelahi lagi denganku heh?” Jovan yang kesal manarik kerah baju Yohan geram.


“Ck! Jovan, Jovan, apa hak mu untuk melarang budakku heh? Aku ini Tuannya, wajar aku bisa berlaku seenaknya, jadi—” Menggantungkan kalimatnya Yohan melepaskan cengkraman lengan Yohan dari kerah bajunya, “lepaskan, tanganmu itu sialan.”


“Kau memang tidak punya hati Yohan! Tega sekali dirimu berlaku kasar terhadap seorang gadis,” decak Jovan.


“Tak ada urusannya denganmu!” tunjuk Yohan tepat di muka Jovan.


Yohan manarik lengan Cansu untuk masuk ke dalam mansion.


“Oh ya, satu lagi ku peringatkan Jo, segera pergi dari sini dan jangan pernah kembali!” menoleh ke belakang, Yohan menatap Jovan dengan tatapan mengintemidasi, “atau kau tak akan pernah tau apa yang akanku perbuat pada Cansu ataupun dirimu!”


Jovan hendak mengejar Cansu. Namun, Para boyguard Yohan langsung menghadang Jovan dan mendorongnya untuk pergi menjauh.


“Sebaiknya kau mendengar perkataan Tuan kami, Tuan,” ujar mereka, “atau kau mau kami memakai cara kasar untuk mengusirmu.”


‘Sialan!’ batin Jovan.


Jika begini, jangankan untuk mengejar Cansu, membawanya sajapun akan susah kedepannya.


Jovan butuh rencana.


Ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari mansion Jovan setelah ia menelepon sopirnya untuk menjemputnya.


•••


Yohan melempar tubuh Cansu ke kasur. Cansu bangun, ia hendak memukul Yohan, tapi percuma Yohan menangkap lengannya.


“Aku tidak tau lagi bagaimana membuatmu patuh kepadaku Cansu,”  Wajah suram itu menatap Cansu dengan pandangan mematikan.


“Ku rasa menyiksamu saja tidaklah cukup—” Yohan menggantungkan kalimatnya.


Kabut gairah tiba-tiba menyeliputi wajah Yohan. Pupil mata Cansu menatap panik ia berusaha mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melempar Yohan.


Ia tau pandangan itu, benar benar sangat tau.


Yohan ingin melecehkannya!


Disisi lain, Yohan tidak tau lagi apa yang bisa membuatnya memiliki hasrat berlebihan seperti ini, padahal ia sangat anti dengan wanita, tapi melihat Cansu ia benar-benar tak tahan.


Persetanan dengan semua pikiran itu, kini Yohan tak peduli lagi dengan dia yang anti wanita, mungkin benar apa yang dikatakan Leyos, bahwa ia harus mencoba Cansu sebagai cara untuk menghilangkan traumanya.


“Yohan! Kau! Jangan macan-macam! Berhenti di tempat!!!”


Yohan tak peduli, ia merasa cara seperti ini lebih ampuh dari pada ia lelah menyiksa Cansu. Yohan tersenyum ia semakin berjalan maju ke depan sedangkan Cansu semakin memundurkan langkahnya, gadis itu bahkan mengambil vas bunga yang ia todong di hadapan Yohan.


Yohan melepaskan dasinya yang membelenggu kerahnya. “Percuma.”


“Berhenti atau benda ini melayang ke arahmu!”


“Kau pikir aku takut heh?!”


“Yohan berhenti!!!”


Prang!


Cansu melempar vas bunga itu. Sayangnya benda itu tidak mengenai Yohan. Yohan langsung mendekap tubuh Cansu ia menutup mulut Cansu dengan sebelah tangannya, tangan sebelahnya lagi mengunci kedua tangan Cansu.


Cansu memberontak sekuat tenaga.


Ia benar-benar takut sekarang, tubuhnya bergetar hebat.


“Mmmm....”


“Berhenti melawan atau aku tak akan segan-segan lagi,” desis Yohan tepat di kuping Cansu.


Mendapat ancaman, Cansu berhenti memberontak. Yohan tersenyum miring, ia melepaskan dekapannya dari tubuh Cansu.


“Kurasa cara ini lebih ampuh membuatmu tak bisa berkutik,” sinis Yohan.


‘Sialan! Apa ia menganggap itu hanya candaan heh?!’ batin Cansu.


“Dengakan aku gadis bodoh.” Menunjuk tepat di dahi Cansu, “kau itu bukan seleraku, lihatlah dirimu itu—” Menunjuk dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Ck! Tak ada yang menariknya, tepos!”


“Apa?! Jadi kau—”


Bohong! Nyatanya Yohan terlalu ngengsi untuk mengakuinya.


Melihat kejengkelan di wajah Cansu membuat Yohan memutar otak untuk tidak menunjukkan rasa ketertarikannya terhadap gadis itu.


Cansu membuang muka, ia sangat jengkel dengan Yohan yang berbuat hal tidak senonoh hanya untuk bermain-main, ia pikir itu lucu heh?!


Berbalik badan Cansu pergi dari hadapan Yohan.


•••


Beberapa orang sibuk dengan perkerjaan mereka, tak jarang mereka bermondar-mandir demi menyelesaikan pekerjaan mereka yang di kejar waktu.


Di sana Jovan sedang duduk di kursinya, make-up artis sibuk memperbaiki penampilannya, beberapa hari tidak syuting karena pemeran tokoh utama mereka yang cedera kini harus di bayar dengan kerja lembur bagai kuda.


“Yohan~”


Tunggu! Bahaya! Sinyal ini, suara bariton yang di buat sok lembut membuat bulu kuduk merinding, arwah-arwah yang bergentayanganpun menolak untuk mendengar panggilan yang mengalahkan hakim yang menindak lanjuti tahanan.


Menyeramkan?


Jelas, ini lebih menyeramkan dari sosok makhluk abstrak dari belahan dunia manapun.


“Ye ye yu lah deh lame tak jumype.”


Bahasa yang digunakanpun kelewatan tidak dimengerti makhluk bumi.


Alien?


Dia bukan alien, ini bisa di katakan—


“Rindyu dye.”


Manusia jadi-jadian.


Jovan menoleh, ia hanya bisa tercengir paksa saat melihat Alexsa, pria bukan! Gadis, bukan! Gadis/pria yang berada di depannya.


Jangan salahkan Jovan karena ia tidak tau apa kelamin manusia di depannya ini.


Alexsa adalah orang yang kerap kali memilih baju saat ia syuting, tubuh yang penuh tato dengan wajah sangarnya itu kadang membutakan orang kalau jiwanya itu melebihi wanita sejati.


“Kenape taykz key lokasi syuntings marin, udeh beberape hariz yu bikinz semuaz orangz di siniy libur tauw."


“Akh, aku sakit kemarin,” ujar Jovan seadanya.


“Aype?! Jadiz yu takz kaci tau me?”


“Jovan, kau di panggil sutradara,” teriak awak kru camera man.


“Oh, aku akan kesana,” teriak Jovan, lalu ia kembali menatap Alexsa, “Aku harus pergi dulu.” Lalu Jovan berlalu pergi, ia terlalu males jika bersama Alexsa yang hebohnya melebihi wartawan pers.


“Oh okey baby.”


Saat Jovan pergi Casely menghampiri Alexsa.


“Alex! sini!” panggil Casely untuk menghampiri dirinya.


“Ihh akak Celi panggil nape?”


“You know problem Jovan not?”


“Ambigu dehzz jangants pakey bahase Alex dongz.”


“Kau tau masalah Jovan tidak?”


Kini wajah seorang Ibu arisan kelas atas sudah mencerminkan wajah Alexsa, kupingnya sangat menyimak apa yang Casely ucapakan padanya.


“....”


“APA?!” pekik Alexsa yang bahkan burung-burung bertembrangan dari atas langit karena keluarnya suara asli barinton yang berat itu.


Ibarat tenggorokan kesangkut duri, ya begitulah suara Alexsa.