LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{49}



Jesy Rereybic•


Hari ini aku memakai dress cantik berwarna merah bata, kesannya memang tampak diriku yang lebih dewasa, rambut pirang panjangku yang di gulung ke atas menampakkan punggung putih mulusku yang terbuka.


Sesekali aku tersenyum geli melihat pantulan wajahku di kaca rias.


Kalian tau kenapa aku sangat bahagia kali ini? Aku sangat bahagia kali ini karena Jovan akan mengajakku ke resto, dan itu kali pertamanya pria yang diam-diam kusukai mengajakku ke restorant mewah hanya berdua saja. Ya berdua! Bahkan aku yang diberitahunya saja agak terkejut.


Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan? Kenapa juga ia mengajakku pergi ke restorant, malahhan berdua lagi.


Tin~Tin~Tin~


Sebuah lamborghini berwarna hitam berteger di pekarangan rumahku. Aku menoleh ke kaca jendela balkonku, di sana Jovan sudah menungguku sambil menyenderkan tubuhnya di pintu mobil.


Pria itu benar-benar sangat tampan, lain dari biasanya yang selalu memakai baju casual atau baju fashion model, kini ia tampak sangat gagah dengan stelan jas yang melekat di tubuhnya, rambutnya yang model jatuh itu ia sibakkan ke belakang yang menambahkan aura ke tampanan pria itu.


Aku turun dari kamarku menuju perkarangan depan rumah.


Sungguh aku terkejut saat dengan tidak biasanya Jovan mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku.


“Silahkan masuk bidadari,” ujar dengan senyum mempesona.


Aku meraih tangannya lalu masuk ke dalam mobilnya. Jovan menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah sebaliknya dan masuk ke dalam.


“Kau pasti terkejut karena aku menyuruhmu pergi mendadak begini, tapi setelah sampai di sana kau akan tau nanti,” ujarnya seolah-olah tau apa yang akan ku tanya 'kan padanya.


Lalu Jovan menyalahkan mobil dan melajukannya.


“Hari ini kau tampak cantik sekali,” pujinya yang membuat pipiku bersemu memerah.


Ada apa ini? Kenapa Jovan bisa lain dari biasanya? Ini bukan mimpi bukan? Jika ini mimpi kuharap aku tak akan bangun untuk selama-lamanya.


Mimpi ini telalu indah untuk sebuah kenyataan, yang bahkan tak bisa aku bayangkan jika memang benar sosok di depan mataku adalah Jovan yang asli.


Dan ya ini bukan mimpi karena tak mungkin juga sejelas ini.


“Terima kasih, kau juga tampak tampan kali ini.”


“Benarkah?” tanyanya menatapku.


“Tentu.”


Sesampainya kami di restorant, aku menatap aneh dan terkejut pada tempat kelas makan mewah yang akan kami singgahi.


Bukan! Bukan karena gedungnya yang indah tapi yang membuatku terkejut dan aneh, ini adalah tempat sepasang ke kasih menghabiskan waktu hanya berdua.


Tak mungkin 'kan Jovan—


Ais?! Jesy kau terlalu berharap! Jovan mana mungkin memilih tempat seperti ini untuk melamarmu! Itu tidak mungkin!


“Kenapa berdiri saja? Ayo,” ajak Jovan masuk, lalu menyanggah sebelah lengan tangannya untuk ku gandeng.


“Apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti, 'kan aneh saja seorang Jovan mau aku untuk menggandeng lengannya.


“Apalagi? Kau mau lenganku berjamur? Ayo gandeng,” titahnya yang lebih seperti keharusan, namun aku menyukainya.


Aku menggandeng lengan Jovan dan kami masuk ke dalam restorant bintang lima itu.


Seorang penjaga lobi menuntun kami.


“Selamat datang Tuan dan Nona Jovan.” Hormat mereka.


Aku terkejut menatap Jovan yang kini menatapku biasa-biasa saja.


“Kau membooking restorant ini heh?”


“Tenanglah tak ada paparazi di sini.”


Aish bodohnya?! Aku bukan bertanya itu, tapi kenapa juga seorang Jovan harus pakai acara membooking tempat romantis seperti ini hanya untuk diriku?


Pikiran aneh menjamuri isi otakku, aku berfikir kalau Jovan bakal melamar atau menembakku, tapi pikiran itu harus ku hapus karena aku tau isi hati Jovan hanya untuk gadis bernama Cansu.


Ya, aku sadar diri. Aku ini hanya sebagai sahabatnya dan itu tidak akan lebih dari itu.


“Mari Tuan dan Nona di sebelah sini,” ujar salah seorang pelayan menuntun kami ke meja makan.


Di sana aku bisa melihat ruangan dengan cahaya memerah redup, meja berbentuk lingkaran dengan lilin mawar menambah aroma harum lilin tersebut, taplak meja yang di penuhi kelopak bunga mawar menambah kesan romatis kala itu.


Ya Tuhan! Jovan benar-benar akan membuatku tidak bisa berpaling jika ia terus begini.


“Silahkan Tuan, Nona ini mejanya.”


Lalu pelayan itu pergi bersamaan dengan Jovan yang manarik kursi untuk aku duduki.


“Silahkan duduk bidadariku.”


Deg.


Jovan bercandakan? Ia habis mengucapkan bidadariku tadi 'kan? Atau hanya aku yang salah dengar?


Aku pun duduk di kursi yang Jovan persilahkan untukku. “Terima kasih Jo.”


“Sama-sama.”


Lalu Jovan duduk di kursinya, dengan posisi kami yang berhadap-hadappan membuatku sangat malu di tatap intest oleh pria di depanku.


“Jo! Kau sakit heh?”


“Tidak, aku tidak sakit.”


“Jadi kenapa kau menatapku begitu?”


“Karena kau cantik.”


“Berhanti melakukan itu!”


“Hahaha, kau malu Jes? Pipimu memerah.”


Dan lihatlah Jovan, Pria itu malah terkekeh sehabis membuatku malu setengah mati.


Menjengkelkan!


Selepas dari itu beberapa pramusaji menghidangkan makanan yang telah dari awal Jovan pesan.


“Selamat menikmati Tuan dan Nona Jovan.”


Alunan musik melow yang tiba-tiba muncul entah dari mana menambah kesan romantis kala itu.


“Jes,” ujar Jovan.


Aku menoleh, pria itu seperti merogo ke dalam jas nya, mengambil sebuah kotak cincin lalu membukanya di hadapanku.


Aku sontak menuntup mulutku terkejut, ini bercanda? Jovan? Seriuskan?


Bahkan dalam hatiku ikut berdebar saat Jovan menatapku lekat.


Pandangan mataku berkaca-kaca saat Jovan berjalan ke arahku dan membungkuk sambil menodongkan kotak cincin briliant di depan mataku.


Posisinya kini aku yang duduk dan dia yang berlutut di hadapanku.


And darling I will be loving you 'til we're 70


And baby my heart could still fall as hard at 23


And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways


Maybe just the touch of a hand


Oh me I fall in love with you every single day


And I just wanna tell you I am


So honey now.


Take me into your loving arms


Kiss me under the light of a thousand stars


Place your head on my beating heart


I'm thinking out loud


Maybe we found love right where we are.


Alunan musik yang melow semakin membuat dadaku bergemuruh, aku terharu. Benar-benar terharu, kukira selama ini Jovan mencintai Cansu, tak taunya ia juga memiliki perasaan yang sama denganku, tak ada kata-kata yang bisa terucap dalam mulutku, aku terlalu bahagia untuk kali ini.


“Jo—”


“Kau adalah segalanya bagiku, saat kala pertama kali pertama kita berjumpa, ku kira perasaanku padamu hanyalah sekedar teman biasa, namun aku menyadari perasaanku saat berada di sisimu,”


“Aku tak ingin menjadikanmu kekasihku, tapi—” Mengantungkan kalimatnya Jovan menatapku dengan senyum manisnya. “Will do you married me....”


Aku mengangguk yakin, lalu menyerahkan jariku untuk di sematkan sebuah cincin.


“Will do you married me Cansu,” lanjutnya.


Deg!


Cansu? Kenapa nama Cansu?


Jovan berdiri. Musik pun berhenti.


Kenapa? Kenapa Jovan tak melanjutkan untuk memasangkanku cincin?


“Terima kasih Jes, kuharap Cansu sama sepertimu, menurutmu bagaimana? Apa itu cara paling romantis untuk menjadikannya istriku?”


Apa?! Jadi tadi itu—


“Maaf sebelumnya aku tak memberitahumu, aku hanya ingin tahu respon wanita dengan caraku ini, dan kau orang yang tepat Jes, kuharap Cansu juga memiliki respon yang sama sepertimu, bagaimana apakah cara itu cocok untuk aku melamarnya besok?”


Air mataku bergerai, dadaku sesak seperti ada sebuah belati yang menacapkkannya. Ku kira Jovan benar-benar melakukannya untukku nyatanya aku salah! Aku hanya sebuah pemeran untuk uji cobanya.


Kukira semua ini untukku, cara dia menatapku, cara dia menggandeng tanganku, cara di memujiku, ku kira ini semua untukku.


Aku menyeka air mataku berusaha menahan rasa sesak di dada ini. “Kau benar-benar ingin melamarnya?” tanyaku menunduk.


“Tentu, besok aku akan melakukan hal yang sama untuknya sama sepertimu.” Senyum Jovan mengembang.


Kenapa? Kenapa kau tak pernah menatapku sekalipun sebagai wanita Jo?!


“Kalau begitu itu bagus,” ujarku lalu berdiri.


“Kau mau ke mana? Kita belum juga makan.”


“Aku ada keperluan mendadak, maaf Jo aku pergi.” Aku berlari dengan air mata yang tak berhenti-henti mengalir, rasa sesak ini semakin sakit saat aku mengetahui kebenaran yang pasti bahwa Jovan benar-benar akan melamar Cansu.


Tentu wanita mana yang akan menolak pesona Jovan? Bahkan Cansu saja sudah pasti akan menerimanya bukan? Dan Jesy tak sanggup jika ia akan menerima sebuah undangan pernikahan mereka nantinya.


•••


JUJUR JERO NULIS INI SESAK SENDIRI.


BAB SELAJUTNYA BAB BERGURAI AIR MATA, SIAPKAN TISU, SIAPKAN DADA YANG SAKIT.


MAAF JERO GK BISA CARZY UP, PERATURAN DALAM CARY UP JERO.


1 EPS 500 VOTE. JADI KALAU MAU CARZY UP KALIAN SAMA-SAMA KUMPULIN 500 VOTE, JERO GK BILANG 1 ORANG 500 VOTE, TAPI KALAU KALIAN SAMA-SAMA VOTE JERO, PASTI TERKUMPUL TU 500 VOTE. YA TERGANTUNG VOTE TERGANTUNG CARZY UP. YANG GK MAU KASIH JERO GK MAKSA ASAL JANGAN KOMEN YANG ENGGA².


TETAP MENJADI PEMBACA YANG MEMBERIKAN JEJAK SAY🐾


UNTUK JADWAL UP DATE SELANG-SELING YA SAY:)


JANGAN LUPA, LIKE KOMEN, RATE 5 DAN VOTENYA.