
*Rebecca tersenyum semerengah saat mendengar hal itu dari Bibinya yang sudah ia anggap seperti Maminya sendiri.
“Beca, ingat ini baik-baik... Kau harus membuat Jo tak berpaling denganmu, sebelum Yohan benar-benar menerimamu menjadi istrinya, mengerti?” nasehat Fanny.
“Tentu saja Mami*.”
Saat Rebecca keluar dari ruangan studio ia kepikiran untuk menemui Jovan kali ini.
Mungkin saja pria itu sudah agak mendingan.
“Rebecca? Kenapa kau ke sini? Apa kau tak mengikuti sesi pemotretan hah?” tanya Jovan tapi ia seoalah tetap sibuk dengan ponselnya saat Rebecca masuk ke ruangannya.
Rebecca duduk di samping Jovan. “Jovan kau sudah makan?”
“Sudah, kau pergilah sana jangan nganggu aku, aku sudah makan tadi.”
“Temani aku makan ya? Bagaimana?”
“Tidak Beca, aku sepertinya akan ada syuting beberapa menit lagi.” Seranya menilik jam tangannya, Jovan berdiri.
“Mau kemana?”
“Pergi kelokasi syuting,” ujar Jovan lalu berlalu dari ruangannya.
Kali ini Jovan masih marah dengannya, mungkin lain kali saja ia membuat pria itu bisa memaafkannya.
“Baiklah, aku tau kau marah denganku, tapi nanti jika kau sudah agak mendingan datanglah padaku Jo.”
•••
Jesy menatap sendu wajah Jovan yang akhir-akhir ini berbeda dari yang biasanya, bahkan karena pikirannya yang melayang entah kemana itu membuat semua perkerjaannya jadi berantakan mulai dari sesi pemotretan, syuting, iklan dll.
Jovan duduk di kursi santainya seranya termenung menatap lurus dinding ruangannya, Jesy berjalan kearah Jovan lalu menepuk pundak pria itu lembut.
“Kau kenapa Jo?” tanya Jesy lalu duduk di samping Jovan, Jesy memang pengertian dengan Jovan bukan karena dia managernya saja namun, lebih dari itu ia juga memendam perasaannya diam-diam kepada Jovan sejak ia merintih karir di dunia entertaimant sampai sekarang, siapa lagi kalau bukan dia yang selalu berada di sisi Jovan dan mendukung pria itu hingga bisa membuat sosok Jovan bisa menjadi dikenal banyak orang, kalau bukan Jesylah sosok itu.
“Tak apa Jesy,” jawab Jovan tak ingin managernya itu terlalu mengekhawatirkannya, Jovan menepuk tangan Jesy lembut yang masih tetap berada dibahunya beberapa kali agar memberikan ketenangan pada gadis yang telah lama menjadi sahabatnya itu dari masa sekolah menengah atasnya dulu.
Jesy menghembuskan nafasnya gusar, selalu seperti itu, walau Jovan menganggapnya sebagai sahabat terbaiknyapun ia seolah-olah enggan memberi tahukan masalahnya padanya dan selalu mencoba untuk memendamnya sendiri, ada apa ini? Jesy bukannya tak suka, melainkan walau ia tau Jovan menganggapnya hanya sebagai sahabat bukannya sebagai seorang wanita, tapi Jesy juga tak bisa membiarkan Jovan begitu saja memendamkan rasa tak enak dihatinya sendiri, walau ia hanya sahabat setidaknya biarkan ia bisa menjadi sahabat yang bisa menjadi tempat curhatnya Jovan, itu saja,... Hanya itu yang Jesy harapkan, apa Jovan terlalu tidak percaya dengannyakah? Sampai-sampai pria itu enggan curhat dengannya? Enggan membagikan bebannya kepadanya?
“Jo, aku memang managermu, aku memang berhak mengurus semua kebutuhanmu bahkan setiap hal privasi yang ada padamu, aku pasti harus tau karena aku menagermu! namun, aku tak berhak ikut campur masalah privasimu, tapi aku ini juga sahabatmu Jo, dari lama. Sejak lama,... Tapi kenapa kau seolah-olah menganggapku bukan temanmu Jo?” terang Jesy terus terang, dadanya seolah-olah sesak mengatakan hal itu kepada Jovan.
Jovan menatap Jesy yang kini matanya berkaca-kaca karenanya, bukan ini yang Jovan harapakan.
“Jesy bukan begitu—”
“Setidaknya kau bisa memberikan masalah yang kau pikul bersamaku! Aku ini sahabatmu Jovan! Kenapa kau begitu? Apa terlalu tak percayakah kau dengan persahabatan kita?!” bentak Jesy yang kini telah mengeluarkan air matanya, matanya berkaca-kaca namun, Jesy langsung menghapusnya buru-buru dan membuang mukanya asal tak ingin menatap Jovan.
Dalam hati sebenarnya Jesy juga ingin mengatakan.
‘Bisakah kau sesekali menatapku sebagai wanita? Bukannya hanya seorang sahabatmu saja?!’
Jovan menatap sendu Jesy, ia merasa bersalah dengan sahabat lamanya itu, Jesylah yang selalu ada untuk Jovan sampai ia sekarang menjadi artis yang dikenal banyak orang, tapi mungkin yang dibilang Jesy memang ada benarnya, kenapa ia tak pernah berbagi masalahnya dengan Jesy? Bukankah ia berhak mengetahuinya karena mereka sahabat?
“Maaf.” Tunduk Jovan. Jesy menatap Jovan yang kini menunduk. “Untuk segalanya,” lanjutnya lalu menatap Jesy dan tersenyum lembut.
“Aku bukannya tak ingin berbagi masalahku padamu, bukan karena aku tak menganggap persahabatan kita Jes,... Kau sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri, tapi aku seperti ini tak pantas menceritakan masalah ini padamu atau kepada orang lain, karena aku tak ingin membuatmu khawatir tentangku, hanya itu saja Jes,... Jadi kumohon berhenti berfikiran buruk seperti itu.”
“Lalu sekarang kau juga tak ingin membagi masalahmu itu denganku hem?”
“Baiklah aku akan bilang,” ujar Jovan menarik nafasnya dalam-dalam.
“Aku mengkhawatirkan Cansu yang kembali ke mansion Yohan.”
Deg.
Serasa hati Jesy dihantam oleh beribu tombak yang menancap di lubuk hatinya, hatinya benar-benar perih saat Jovan menyebut wanita lain, sampai-sampai membuatnya kepikiran.
Jesy memang tak tau asal-usul Cansu, tapi yang ia tau, Jesy lebih deluan mengenal Jovan dari pada Cansu, dan sekarang dengan mudahnya gadis itu memasuki hati Jovan hingga Jovan terus-terussan memikirkannya! Apa jangan-jangan Jovan....