LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{50}



Kenyataan yang harus kau terima, di saat hatimu untuk dirinya kau hanyalah tak lebih dari kata sahabat, menyakitkan tapi pahit itu harus kau telan sendiri.


Sudah beberapa hari Jesy tidak menemani Jovan yang pergi ke lokasi syuting dan studio potret, katanya untuk beberapa hari ini Jesy punya keperluan mendadak yang tak tau Jovan apa itu.


Apa Jesy sakit?


Pikiran itu yang selalu menghantui pikiran Jovan, ia merasa ada yang aneh dengan tingkah Jesy kemarin.


Beberapa hari tidak di temani Jesy, beberapa hari itu juga hari-hari Jovan dipenuhi hantu Casely, gadis yang begitu membuat Jovan muak.


“Jo, kau nanti akan ikut aku pergi makan bersama di resto baru itu ya,” bujuk Casely.


“Untuk apa kau mengajakku? Biasanya saja kau pergi bersama Joguar.”


“Pria itu? Ck, dia itu pasti sedang ada di ranjang sekarang,” decik Casely. “Ayolah Jo, temani aku, yayayaya.”


“Aku tak bisa, banyak kerjaan yang harus kukejarkan.”


“Yaampun Jo, kali ini saja?! Kenapa kau begitu sih?!”


Cukup sudah! Jovan sudah tak tahan lagi dengan sikap Casely yang selalu seenaknya. Kemarin saat acara oscar gadis itu mengatakan bahwa ia kekasihnya dan sontak hal itu membuat Jovan tak tenang karena dirinya yang di kejar ke sana kemari oleh para wartawan pers.


Belum lagi, scandal dia dan juga Joguar yang keluar dari gedung acara kemarin menuai banyak sindirin karena orang kira itu adalah dirinya, padahal jelas itu bukan dirinya. Bahkan gara-gara berita konyol itu Rebecca malah marah-marah dengan dirinya sampai sekarang.


Tunggu Rebecca? Kenapa akhir-akhir ini Jovan tak ingat gadis itu ya?


“Casely aku harus pergi.” Jovan mengambil jaketnya dan kunci mobil yang tergeletak di kaca meja rias.


“Jovan kau mau ke mana?! Ck!” decak Casely karena di tinggal pergi oleh Jovan.


‘Selalu seperti ini, makan siang sendiri lagi di kantin perusahaan.’ batin Casely mendumal.


Sedangkan Jovan harus memastikan perasaannya terhadap Rebecca hanyalah rasa suka biasa atau sebaliknya, sebelum ia akan melamar Cansu nantinya.


•••


Jesy mengendarai mobilnya menggila memasuki jalan searah menuju mansion Yohan. Entahlah apa yang akan ia lakukan sekarang, padahal ia mengambil cuti beberapa hari karena ada keperluan dan ya ini lah keperluannya bagi Jesy, yakni menemui Yohan.


Setelah beberapa hari mengurung dirinya karena frustasi menangisi Jovan, Jesy mengambil langkah yang mungkin akan membuat Jovan membencinya nantinya.


Layaknya orang yang hilang kesadaran, Jesy mengendarai mobilnya brutal, nafas memburu, ia terlalu takut untuk sebuah kenyataan yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.


Ia tau pria dingin itu adalah orang satu-satunya yang bisa membuat Jovan tak bisa melamar Cansu, katakanlah Jesy jahat sekarang. Tapi ia tidak bisa melihat Jovan dan Cansu di atas altar di saat hatinya masih sakit dengan kejadian Jovan yang melamarnya hanya sebagai uji coba!


Ia tau pria seperti Jovan tak mungkin melakukan hal itu dengan sengaja, jelas Jovan tidak tau perasaan Jesy yang sebenarnya, jadi menurut Jovan adalah hal yang biasa bagi seorang sahabat membantu sahabatnya bukan? Walau cara Jovan yang kelewatan salah. Dari pada Jovan melakukannya dengan Casely atau Rebecca? Itu mungkin tak akan sesuai ekspentasi Jovan nantinya, makanya Jesylah yang membuat Jovan yakin untuk menguji coba caranya untuk melamar Cansu nantinya.


Sesampainya di kediaman Yohan, Jesy memberhentikan mobilnya di pelantara mansion, para boyguard menghadang Jesy di depan pintu utama saat gadis itu mencoba untuk masuk.


“Katakan pada Tuan kalian, ada hal penting yang harus kubicarakan.”


“Maaf Nona, kediaman Tuan kami bukanlah tempat biasa yang bisa kau masuki tanpa adanya janji terlebih dahulu.”


“Kau tak mengerti! Ini penting!” teriak Jesy naik pitam, jujur ini adalah hal penting bagi Jesy, ia tak mau langkahnya untuk membatalkan pelamaran Jovan membuatnya semakin menderita layaknya orang yang tak waras, bahkan sekarang saja dirinya bukan seperti dirinya yang biasanya. “Minggir! Biar aku sendiri yang memanggilnya!”


Jesy menubruk para boyguard yang menghalangi jalannya, namun para boyguard itu tak tinggal diam, mereka menarik lengan Jesy dan menghempasnya keluar.


“Nona, jika kau terus begini jangan salahkan kami memakai cara yang kasar.”


“Aku bersumpah, ini hal paling penting, jika kalian tidak mengizinkanku masuk setidaknnya salah satu dari kalian panggillah Tuan kalian, karena ini menyangkut gadis bernama Cansu.”


“Peliharaan Tuan?” guman salah satu dari mereka, “Baiklah Nona saya akan menyampaikannya.”


Lalu salah satu dari boyguard itu memasuki mansion untuk menyampaikan maksud kedatangan Jesy pada Yohan.


“Pakai!” bentaknya.


Cansu menggeleng, ia melempar tali bertaburkan briliant dengan ukiran emas itu ke lantai. Bagaimana tidak Cansu membuangnya? Yohan ingin gadis itu memakai tali leher yang persis seperti anjing, tapi bedanya ini di buat lebih mewah.


“Aku tidak mau!”


“Kau—” geram Yohan menggeratakkan giginya tajam.


“Kau pikir aku hewan heh?”


“Kau memang bukan hewan, tapi kau budak yang aku pelihara layaknya hewan.”


“Brengsek! Pria sepertimu seharusnya sudah mendekam di neraka Yohan!”


“Kurang ajar!”


Yohan yang terlalu kesal manarik rambut Cansu kebelakang dalam sekali sentak.


“Arghhh!”


“Satu lagi yang harus kau perhatikan Cansu, nampaknya kau belum puas juga setelah aku menyiksamu sama seperti saat itu, apa perlu aku mengulanginya lagi heh?” desis Yohan kembali menarik rambut Cansu semakin kuat.


Cansu menggigit bibirnya menahan semua rasa sakit yang Yohan berikan padanya, menurutnya tak ada yang pantas di takutkan oleh orang seperti Yohan.


“Kau pikir aku takut dengan ancamanmu heh?” remeh Cansu.


Yohan yang semakin geram hendak saja menampar Cansu, bahkan gadis itu pun memejamkan matanya saat Yohan ingin menamparnya.


Tapi tak ada sebuah rasa perih yang membercak di pipinya, saat Cansu membuka matanya.


Sebuah ketukan pintu menghalangi Yohan untuk menghajarnya kali ini.


Tok~Tok~Tok~


Yohan menoleh kembali ke Cansu lalu menatap gadis itu tajam kalau ia belum selesai dengan ini semua. Yohan menghempas tubuh Cansu hingga tersungkur ke lantai.


Brug!


Rasa perih mengenai lulut Cansu, setidaknya ia bisa bernafas lega untuk kali ini karena Yohan belum menghajarnya, tapi bukan berarti nanti tidak akan.


“Apa?! Kau ingin menggangguku heh?!” bentak Yohan kepada anak buahnya yang mengganggu aksinya untuk membuat Cansu jera.


“Tu-Tu-Tuan ad, ada—”


“Katakan dengan jelas atau kepalamu yang menjadi taruhannya karena telah menggangguku.”


“Seorang gadis mengaku ada hal penting yang ingin di sampaikan kepada Tuan,” ujarnya cepat takut-takut Yohan benar-benar menghilangkan kepalanya dari tubuhnya.


“Orang gila dari mana yang mendapat izinku heh?! Bukankah sudah kukatakan pada kalian? Jika mereka tidak ada janji denganku jangan pernah mengangguku!” murka Yohan.


“Bukan begitu Tuan, gadis itu mengatakan ini menyangkut peliharaan anda, yakni nona Cansu.”


“Cansu?” Mengerinyitkan dahinya, Yohan kembali menoleh ke belakang, di sana ia masih melihat Cansu yang memeluk lututnya di sudut kamar takut.


Yohan menutup pintu kamar tak lupa juga menguncinya, ia lalu melemparkan kunci itu ke anak buahnya yang mengganggu aksinya tadi.


“Jaga dia, jangan sampai ia kabur.”


“Baik Tuan.” Tunduknya.