
Di kediaman mansion Jovan, Rebecca gadis berambut sebahu itu mendudukkan dirinya manis menunggu Jovan di mansionnya.
“Nona Rebecca apa anda mau minum sesuatu?” tanya Geo.dah
Rebecca menoleh. “Tak perlu,” ujarnya dingin lalu mengusir Geo menggunakkan jari lentiknya itu.
Geo pun pergi dari hadapan Rebecca sambil menunduk. “Baik Nona.”
Deru suara mobil sprot terpakir di depan teras mansion membuat Rebecca menyunggikan senyumannya lantas berdiri dari sofa dan menyambut kedatangan orang yang ditunggu-tunggunya.
Jovan memasuki mansionnya. “Rebecca?” kejutnya melihat gadis itu tiba-tiba saja berada di mansion nya. “Sedang apa kau disini?”
“Tentu saja menunggumu Jo....” Manja Rebecca lalu memeluk lengan kekar Jovan.
Jovan melepaskan pelukan Rebecca dari lengannya. “Katakan, apa maksudmu sebenarnya.” To the point Jovan, karena ia sangat hafal dengan sifat gadis itu.
Jovan kira Rebecca hanya meneloponnya saja tanpa mengujunginya, nyatanya ia salah! Perempuan di depannya selalu menginginkan sesuatu dengan cepat tanpa tau apa yang harus Jovan hadapi sekarang.
Rebecca melepaskan pelukannya dari lengan kekar Jovan, seperti inilah yang ia suka dengan Jovan, selalu to the point terhadap sesuatu, jadi ia tak perlu merayu Jovan untuk segera melakukan tugasnya dengan cepat. Karena Jovan lah yang selalu ingat akan janjinya.
“Kau sudah berjanjikan, kontrak itu akan ditanda tangani Yo, sekarang mana map itu!” Seranya meminta dengan tangannya.
Dalam lubuk hati Jovan ia merasa aneh dengan Rebecca, gadis itu terlalu menuntut. Ia tak tau apa isi map yang diberikan Rebecca untuknya, yang jelas Jovan cemburu, ia kira jika ia melakukan permintaan Rebecca gadis itu akan senang, tidak taunya gadis itu seperti lebih mengharapkah Yohan adik nya, ia tak tau ini betul atau prasangka belaka saja, tapi ia tak menampakkanya. Ia terlalu percaya dengan Rebecca.
“Belum.” Lalu Jovan berlalu pergi meninggalkan Rebecca yang terpelongo mendengar jawaban Jovan.
“Jovan! Kau kan bilang kalau Yohan pasti menandatanganinya cepat atau lambat, sekarang kenapa kau menyerah begitu saja heh? Apa karena Yo terlalu susah bagimu? Itu kan wajar, makanya itu aku menyuruhmu!” teriak Rebbeca membuat Jovan menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya, cukup sudah ia sekarang sangat sterss membuat Cansu kembali ketangan Yohan, sekarang Rebecca pun membuatnya muak, apa gadis itu tak tau pengorbanan Jovan selama ini untuknya? Seolah-olah apa yang Jovan lakukan bukan apa-apa bagi Rebecca. Kenapa harus semarah ini di depannya, ia tak tau apa jika situasi di kediaman Yohan sedang panas-panasnya? Ia sedang perang dingin dengan pria itu! Boro-boro menanyakan map, berdiri di mansion Yohan saja kurasa ia akan dibakar habis oleh anak-anak buahnya itu.
“Rebecca! Kau ini tak bisa bersabar heh? Kau kira Yohan itu mudah dipancing? Kau tak tau gara-gara kau aku sudah perang dingin dengannya! Sekarang kau malah menceramahiku! Dasar menjengkelkan! Pulanglah sana! Jika kau mau mau cepat-cepat, kau lakukan saja sendiri jangan tanpaku.” Kesal Jovan.
Benar! Kalau saja ia tak datang untuk menanyakan kontrak itu dengan Yohan mungkin ia tak akan tau kalau Cansu sedang ditolak dari atas mansion oleh Yohan, pertemuan mereka yang singkat tidak membuat Jovan menyerah membawa Cansu kembali ketangannya, ia pastikan itu.
Rebecca menggempal tangannya kesal lantas menhentakkan kakinya beberapa kali saat mendapati Jovan yang berlalu meninggalkannya.
‘Awas saja kau Jovan!’ batin Rebecca seranya pergi meninggalkan kediaman Jovan.
•••
Di kediaman Yohan Amor.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Cansu menatap kosong kamar Yohan yang bagaikan neraka baginya, ia masih trauma dengan kejadian kemarin yang dialaminya.
Syukur saja kalau Yohan menolongnya saat itu, jika tidak mungkin saja ia sudah tak tau bilang lagi.
Suara pintu berdecit menampakkan Bibi Petty yang membawakan nampan berisi makanan untuk Cansu.
Cansu menoleh, lantas kembali lagi menatap lurus dinding di depannya, Bibi Pet tau semua yang dialami gadis itu, karena Famoz lah yang memberi taunya.
Bibi Pet menaruh nampannya di atas nakas lalu duduk disamping Cansu, sungguh keadaan Cansu kini sangatlah mengenaskan saat dilihat. “Nona ayo makan dulu,” ujar Bibi Pet lembut.
Walau ia tak sempat diapa-apakan oleh Joguar tapi trauma itu tetap ada di dalam dirinya.
Memeluk lututnya dan menyelimuti dirinya sendiri, pandangan mata Cansu kosong tak bernyawa.
“Nona ayolah, kau sudah tak makan-makan beberapa hari ini," pinta Bibi Pet tapi Cansu tetap menolaknya.
Lantas Cansu teringat dengan Jovan yang tak ada saat itu.
“Bibi Pet.” Dan ini suara Cansu setelah beberapa hari lamanya ia tak berbicara, sekarang ia pun berbicara.
“Iya Nona.” Senang Bibi Pet yang mendapati Cansu yang sudah mau berbicara.
“Jovan,... Jovan di mana?” tanya Cansu lalu menatap Bibi Pet.
‘Kenapa Nona malah bertanya Tuan muda pertama? Kenapa bukan Tuan muda kedua? Apakah kemarin is tak sadar kalau Tuan muda Yohan lah yang menolongnya kemarin.’ batin Bibi Petty.
“Jovan? Tuan muda Jovan maksud anda?” tanya Bibi Pet kembali, Cansu pun mengangguk.
“Dia—" Belum sempat Bibi Pet melanjutkan pembicaraannya, Yohan yang sudah berada di ambang pintu entah dari kapan langsung menyambungnya.
“Kanapa kau menanyakan manusia sampah itu heh? Tidakkah kau ingat jika bukan karena kau main kabur-kabur saja dengannya kau takkan jadi seperti ini!” sinis Yohan.
Bibi Pet berdiri dari ranjang Cansu. “Nona, saya pergi ke dapur deluan.” Pamit Bibi Pet dan berlalu pergi dari kamar Cansu.
Bibi Pet memberikan ruang privasi untuk Yohan dan Cansu, lebih baik masalah ini dibicarakan antar keduanya, makanya Bibi Pet memilih mencari alasan ke dapur untuk meninggalkan mereka berdua.
Yohan memasuki kamar Cansu, melihat makanan yang tak tersentuh di atas nakas sedikitpun olehnya membuat Yohan mengambil bubur yang sudah disiapkan Bibi Pet lantas duduk disamping Cansu.
“Makan.” Seranya menaruh nampan di atas kasur.
Cansu menatap makanan itu, ia tak berselera sama sekali.
Bibirnya yang pucat, mata yang berkantung hitam. Cansu menggelengkan kepalanya menolak.
“Makan,” titah Yohan tegas, seolah perkataannya itu adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan segera.
Cansu tetap kekeh dengan pendiriannya untuk tidak makan. Membungkam mulutnya rapat-rapat, persis seperti anak kecil.
“Makan!” Tak sabar, rasanya Yohan ingin saja melempar kembali gadis pembangkang ini dari lantai balkon seperti kemarin, tapi ia juga tak bodoh membiarkan gadis itu langsung mati tanpa menyiksanya.
“Tidak!”
“Kau—”
Percuma, benar-benar percuma jika ia membuang amarahnya untuk gadis seperti Cansu.