LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{32}



Entah pikiran dari mana Yohan memikirkan ide gila itu. “Aku merajuk, Mommy jika kau ingin aku tidak merajuk lagi cium aku!” ujar Yohan.


Caca melotot lalu menatap Jovan. “Apa aku harus melakukannya?” tanya Caca.


“Tentu saja, seorang Mommy dan anak selalu biasa mencium anaknya,” balas Yohan.


“Hei nak, Daddy tak suka itu, Mommy hanya untuk Daddy, dan Mommy hanya boleh mencium Daddy,” balas Jovan.


Kini perang sengit terjadi antar Yohan dan Jovan. Caca yang melihat itu berinisiatip mencium keduanya di kening laki-laki dihadapannya.


Jovan dan Yohan menegang, seolah pasokan oksigen menipis bagi mereka. “Sudah, jadi jangan bertengkar lagi okay?” sambung Caca tersenyum.


“Caca!” Caca menoleh mendapati Tuan Lucas dan Nyonya Gresia, Daddy dan juga Mommy Jovan dan Yohan.


“Om, Tante?”


“Terima kasih untuk hari ini Caca sudah menemani anak Om, Jovan dan Yohan akan pulang ke mansion, minggu depan mungkin kami akan kesini lagi,” ujar Tuan Lucas.


Ketiga anak itu menuduk, tatapan mereka kembali suram, Nyonya Gresia yang melihat itupun kepikiran sebuah ide.


“Bagaimana kalau kalian bertiga, berfoto?” terang Nyonya Gresia mengeluarkan kamera digitalnya.


“Foto?” cicit Caca yang baru pertama kali melihat kamera. “Aku harus apa?” tanyanya lagi.


“Bergayalah Caca sebelum kita di foto,” jawab Jovan.


Tapi Caca tak pandai bergaya di depan kamera, alhasil saat Nyonya Gresia mengambil foto mereka saat itu juga hasil foto keluar dari kamera.


Menampakkan Caca yang tersenyum dengan Jovan dan Yohan yang menciumnya disebalah kanan dan kiri pipi Caca.


“Yaampun kalian ini.” Kejut Tuan Lucas saat melihat foto yang diambil istrinya.


“Sudahlah Luc, namanya juga mereka anak kecil, mereka membagi kasih sayang mereka dengan cara begitu.”


“Kalau sudah besar, Om mau kau jangan sembarangan dicium laki-laki ya Ca.” Elus Tuan Lucas di pucuk kepala Caca.


“Kenapa? Walau dengan Jovan dan Yohan sekalipun?” tanya Caca polos.


“Nanti kalau kau sudah besar kau tau sendiri jawabannya,” jawab Tuan Lucas.


Semua hasil foto sama saja gayanya, jadi Nyonya Gresia memberikan satu orang satu hasil foto itu kepada mereka.


Sampai menjelang sore akhirnyapun Jovan dan Yohan harus pergi dari panti asuhan.


“Jojo, Yoyo bakal kemari lagi kan?” tanya Caca sedih saat melihat mobil keluarga Amor terpakir di luar pagar panti.


“Tentu saja aku dan Yoyo bakal kemari lagi Ca,” balas Jovan.


“Aku juga akan kemari dan membawa mainan yang  lebih bagus dari pada milik Jojomu itu.” Cemberut Yohan kecil, membuat Caca terkekeh dibuatnya.


“Baiklah, aku tunggu Yoyo memberikan mainan yang bagus untukku dan kita bakal bermain bersama lagi.”


Lalu Jovan, Yohan dan kedua orangtua merekapun pamit dari panti dan pulang ke mansion.


Caca melambaikan tangannya saat mobil keluarga Amor berlalu pergi menjauh dari pandangannya.


“Caca ayo masuk sayang.”


“Baiklah Bibi perawat.”🐾


Cansu terbangun dari mimpinya saat seberkas cahaya matahari menyinari matanya yang tertutup melalui jendela kamar.


Hari ini ia merindukan Jojo dan Yoyo.


Ya, Jojo dan Yoyo, Cansu tak tau kalau kedua anak laki-laki itu adalah dua anak laki-laki yang sama memperebutkannya, Jovan dan juga Yohan.


Karena suatu insiden separuh ingatannya terendam begitu saja, bahkan ingatannya yang lama tak pernah muncul sampai sekarang. Baru kali ini Cansu ingat, ia memiliki dua sahabat terbaik.


Bahkan ia tak ingat dengan jelas wajah kedua anak laki-laki di ingatannya itu. Yang ia ingat hanya nama dan juga sifat mereka.


Tapi anehnya, Cansu tak mengerti kenapa posisi mereka selalu berada di panti asuhan saat itu.


‘Kenapa ingatanku selalu mengarah ke panti asuhan itu ya?’ batin Cansu.


Kalau Cansu tau semuanya, mungkin ia akan membenci Yohan yang tak lain adalah masa kecilnya yang telah membunuh kedua orang tuanya itu.


Tok-tok-tok


Sebuah ketukan pintu dari kamar Cansu membuat gadis itu bediri dan membuka pintunya. “Bibi Pet?”


“Nona anda di panggil Tuan Yohan ke ruang kerjanya.”


“Baik Nona.”


‘Kenapa lagi dengan dirinya kali ini?’ batin Cansu, namun ia membuang semua pikiran itu. Ia terlalu malas mimikirkan makhluk bernama Yohan.


Lalu, Cansu berlalu ke kamar mandi kamarnya, setelah beberapa menit mandi, ia pun selesai dan menggantikan bajunya dengan baju di dalam lemari kamarnya, memang semua pakaian dalam lemari ini pun Yohan yang menyediakan, untung saja ini bukanlah pakaian terbuka sehingga Cansu tak perlu mengkhawatirkan itu.


Cansu kini memakai dress polos berwarna biru dengan bordir putih sederhana di sisi pakaiannya, mengikat rambut ikal panjangnya menjadi satu, Cansu kini telah selesai.


Ia berjalan bersama Bibi Pet yang telah menunggunya di ruang kerjanya Yohan.


“Masuklah Nona,” tutur Bibi Pet tak masuk ke dalam ruangan Yohan.


Cansu membuka pintu itu takut-takut lantas menogolkan kepalanya terlebih dahulu.


“Masuk, tak perlu mengintip,” ujar suara seorang pria itu dingin tampa sendikitpun menoleh.


Cansu masuk ke dalam ruangan Yohan dan berdiri di depan meja kerjanya.


Aura dingin pria itu semakin dingin  karena nuansa ruangan Yohan yang menusuk, warna dinding abu-abu hitam mendominasi warna elagan putih dipinggir dinding.


Yohan menaruh tablet laporannya di meja dan menatap Cansu lakmat. “Ayo,” ajak Yohan lalu berdiri dari kursi dan menarik lengan Cansu.


‘Apa? Kenapa pria ini? Apa otaknya sedang miring kali ini heh?’ batin Cansu.


“Tunggu! Aku-aku tak mengerti, maksudnya kemana? Pergi kemana?” tanya Cansu bingung melihat pungung Yohan yang terus menariknya keluar mansion, kali ini pria itu tak menarik lengan Cansu kasar seperti biasanya, ia menarik tangan Cansu lembut, sehingga Cansu tak memberontak dibuatnya.


“Tentu saja menemaniku ke acara penobatan Jovan.” Seringai Yohan licik, bukannya apa Yohan berkata begitu, sejak kejadian Jovan yang mengecap Cansu adalah miliknya, Yohan akan membuat perhitungan dengan kakaknya itu, tapi bukan dengan cara yang biasa ia lakukan, namun ia akan membuat Cansu jatuh hati dengannya dengan Jovan yang patah hati, tentu itu adalah hal yang menyenangkan bagi Yohan.


“Tapi— Tapi aku belum juga—”


“Nanti kita akan pergi ke salon dahulu, aku tak mau jika orang memandangku membawa gadis kumuh dan jelek ke acaran penghargaan bergensi,” sambung Yohan seolah tahu kata-kata Cansu selanjutnya.


‘Sialan! Pria ini.’ batin Cansu jengkel dengan kata-kata sindiran Yohan.


“Jika aku jelek kenapa kau mengajakku?! Dasar menyebalkan, pergi saja dengan yang lebih cantik dari pada aku!”


“Tentu akan repot jika aku harus memilih lagi gadis cantik.”


“Aku tak mau pergi!”


“Kau tidak punya pilihan, aku ini Tuanmu jadi ingat itu.”


“Kenapa harus aku?”


“Tentu saja membuatmu terkenal sebagai budakku hahaha.”


“Sudah puas mengejekku?”


“Belum juga.”


“Menyebalkan!”


Yohan tak menjawab, ia terlalu melayang dengan pikirannya yang melihat Jovan yang akan sangat terkejut melihat dirinya bersama Cansu di acara benobatan aktor dan model terpopuler di tahun ini, dan juga Yohan akan membuat kejutan dimata publik yang akan menyorotkan kemeranya kearahnya bersama seorang gadis yang pertama kali ia kenalkan sebagai. ‘KEKASIHNYA’ itu.


Dan itu akan membuat semua mata terkejut tak kecuali sang Kakak.


“Kita lihat saja nanti reaksimu seperti apa Jovan.”


Para boyguard yang menunggu Tuan mereka di pelantara mansion pun menunduk saat Jovan masuk ke mobil bersama dengan Cansu.


“Selamat sore Tuan Amor dan Nona Cansu,” ujar salah anak buah Yohan membukakan pintu sambil menunduk.


“Ah, selamat pagi juga,” balas Cansu, sedangkan Yohan? Pria itu tak berniat menjawab.


“Tuan Amor kita akan pergi kemana?” tanya sopir mobil.


“Bawa kita ke salon langganan,” jawab Yohan.


“Baik Tuan.”


Lalu sopirpun melajukan mobilnya menuju ke tempat yang Yohan inginkan. Dalam hati Cansu merasa tak enak hati.


Dalam benaknya ia selalu bertanya-tanya, apa benar Yohan akan mengajak Cansu untuk pergi ke penobatan Jovan? Kalau begitu mungkin saja pria itu akan pergi bersama gadis lain mewakili dirinya menjadi pasangannya kali ini.


Entah kenapa hati Cansu merasa bergemuruh jika membayangkan hal tersebut.


‘Memangnya kau siapa sampai harus membayangkan Jovan yang akan mengajakmu heh?!’ batin Cansu.