
“Keluar! Cepat!”
Cansu menuruni mobil. Menarik bahu Cansu kasar, Yohan menghempas tubuh mungil itu sampai terseret di aspal.
“Arhh,” ringis Cansu memegang lututnya yang terluka.
“Berdiri sekarang!”
Cansu berusaha bangun, sedikit linglung, Cansu malah terjatuh di pelukan Yohan.
Yohan spontan saja mendorong tubuh Cansu kebelakang.
“Murahan! Kau sengaja heh?”
Deg!
Dalam dada, Cansu merutuki Yohan yang mengatakannya murahan, jelas-jelas ia kehilangan keseimbangan. Kenapa harus berkata kasar seperti itu? Padahal pria itu juga yang menghempasnya hingga tersungkur ke aspal.
“Apa kau bilang?! Jelas-jelas kau yang menghempasku Yohan!”
Yohan menarik rambut Cansu ke belakang geram karena bantahan gadis di depannya, Cansu memegang rambutnya kesakitan, tak tanggung-tanggung Yohan membenturkan kepala Cansu tepat di pintu mobil.
Duag!
“Jangan kau pikir karena kau perempuan, aku tak akan berani melakukan itu,” desis Yohan. “Ingat ini anjingku, kau tak boleh menggongong kepadaTuanmu. Mengerti!” tekan Yohan di ujung kalimat.
Yohan memang biadab! Bahkan kini kening Cansu memerah karena ulahnya. Pusing? Tentu saja merayap di kepala Cansu.
Lalu Yohan menarik Cansu memasuki mansion.
“Lepaskan aku! Aku tak ingin masuk! Lepaskan!” Berontak Cansu meronta-ronta. Namun Yohan tetap saja mengangap omongan Cansu seperti angin yang lewat.
Mencapai lantai dua, Cansu meronta-ronta semakin keras saat ia di atas anak tangga Yohan semakin kesal dengan tingkah pembangkangnya Cansu, tak berfikir panjang lagi, Yohan yang terlalu meledak karena ulah Cansu itu mencekik leher Cansu hingga gadis itu kehabisan oksigen dibuatnya, bahkan tubuhnya menggantung di atas lantai dasar.
“Argghh.” Meraih lehernya, Yohan semakin mencekik leher Cansu.
Sungguh Yohan benar-benar keterlaluan! Dia bahkan tak memberikan Cansu untuk menghirup nafas walau sedikit saja.
Lalu Yohan mendorong tubuh Cansu hingga gadis itu menggelinding di atas anak tangga.
Duag!
Tubuh cansu tersungkur di lantai dasar, badannya sakit semua bahkan untuk sekedar melihat langit-langit atas Mansion ia pun tak sanggup, mencoba untuk berdiri Cansu malah mendapati sepatu kulit yang berada di depan wajahnya, itu adalah sepatu Yohan! Dengan kasarnya Yohan menarik baju cansu untuk berdiri menatap nyalang matanya.
“Bangun, anjingku tak seharunya mati sebelum Tuannya.” Tatap Yohan tajam, Cansu menatap Yohan melemah, bahkan biasanya saja ia sering memaki Yohan, tapi kali ini ia tak sanggup. Yohan benar-benar sadis!
“Apa! Jangan menatapku begitu, kau pikir Jovan akan kemari mencarimu heh?! Ck yang benar saja, dia tidak akan kemari hanya untuk gadis sepertimu! Dirimu bukanlah level Jovan! kau itu hanyalah beban baginya, jadi jangan berharap pria itu akan menjadi pahlawan kesianganmu lagi! Karena aku sendiri yang akan menghancurkannya di depan matamu!” tekan Yohan di ujung kalimat. “Kau tak mau 'kan Yohan menjadi korban?” desis Yohan.
Lalu menarik rambut Cansu kebelakang. “Jawab!”
Cansu menggeleng, air matanya kini mengalir sangat deras, badannya remuk redam. Cairan darah tak berhenti- henti keluar dari tubuhnya yang terluka.
“Komohon,... Lepas_... Lepas,... Lepaskan aku,... In—Ini—Ini, sakit,” erang Cansu tak tahan, matanya menyayup dengan air mata mengalir begitu saja. “Jangan. Jovan,” lanjutnya.
“Kau tau diri juga,” sinis Yohan melepaskan jambakkannya dari rambut Cansu.
“Kau tak akan menyakiti Jovan 'kan?” tanya Cansu, suaranya bahkan melemah. Wajahnya pucat pasi karena kebahabisan banyak darah.
•••
Pletak!
“Arghhh!”
Pletak!
“Arghhhh.”
Pletak!
“Arggh!!!”
Darah segar menempel di lantai yang kasar, dengan keadaan memprihatinkan dengan kaki yang diikat dengan borgol yang tertempel di dinding. Mencambuk tubuh mungil Cansu, bahkan pakaian indah yang baru saja dipakainya hingga jadi tak berbentuk karena kerasnya cambukan Yohan yang bahkan menembus hingga ke bagian permukaan kulit Cansu .
Perih, sakit, nyeri tak tertahankan dirasakan oleh Cansu, tubuhnya mati rasa! Ini benar-benar sangat menyakitkan, apalagi saat Yohan mengangkat tangannya dan mencambuknya tanpa ampun dan belas kasih.
“Katakan, apa kau masih berani membalaskan dendammu itu untuk ku Cansu Yan Rasly?”
Menetap sinis Yohan sinis, walau dalam keadaan memprihatinkan sekalipun, Cansu tak akan menyerah dengan tekatnya untuk menghabisi Yohan! Dendam atas kematian kedua orang tuanya selalu menghantui pikirannya yang terbayang akan kenangan manis keluarganya.
Dan hal itu sudah tidak dapat lagi ia alami karena Yohan yang merenggut hak kebahagianya selama ini!
Ia benci pria seperti Yohan. Benar-benar amat membencinya, bahkan walau ia beri kesempatan untuk memohon padanya saja, ia lebih memilih mati dari pada bersujud syukur di bawah kaki Yohan.
“Dendamku akan selalu ada! Karma itu berlaku Yohan! Tuhan tidak pernah tidur! Dia akan membalas semua kekejianmu selama ini,” ujar Cansu berusaha terlihat kuat walau keadaannya dari kata yang sebaliknya.
Yohan membuang mukanya meremehkan, lalu kembali menatap Cansu. “Ck! Terlalu banyak omong, tidak bagus untuk seekor hewan peliharaan.”
“Aku bukan hewan peliharaan!”
“Sejak aku memungutmu, kau sudah menjadi anjing milikku Cansu.”
“Sampai aku matipun aku tak sudi menganggapmu Tuanku, Sialan!”
Pletak!
“Arghhh.”
Cambukkan itu kembali mengenai kulit Cansu, gadis itu terkapar di lantai tanpa bisa bergerak sedikit pun.
“Tak usah berusah menahannya seolah kau itu orang yang kuat.”
“Ck kau, kau pi–Pikir de—dengan kau me–menyiksaku aku akan me–memohon pa–padadamu heh?” sinis Cansu, walau ia kehabisan tenaga dan terlihat sekarat, tapi is tak akan pernah menampakkan sisi lemah itu kepada manusia seperti Yohan.
“Berlaga sok kuat hem? Kalau begitu kita lihat sampai mana lagak sok mu itu.” Melepaskan borgol di kaki Cansu, Yohan menarik rambut Cansu hinggi gadis itu meringis kesakitan.
“Lepas,... Lepas,” ujar Cansu kian melemah. Namun Yohan seolah tak peduli dengan itu semua ia akan membawa Cansu ke kolam renang sekarang.
Di mana air dingin di kala malam akan membasahi luka sayatan Cansu yang membuatnya semakin menjerit tak tertahankan.
Membayangkan saja sudah menyenangkan bagi Yohan, apalagi melakukannya.