LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{19}



Yohan kini sedang melihat beberapa lembar foto yang diterimanya oleh Famoz.


“Tuan, Nona Cansu bersama Tuan Jovan kini masih baik-baik saja dan menurut info yang ku dapat juga mereka hari ini akan pergi ke lokasi syuting,” tutur Famoz.


Yohan menggulung lembaran foto antara Cansu dan Jovan. Lalu membuangnya kesembarangan arah.


“Cukup sudah bermain-mainnya anjingku,” ujar Yohan dingin. “Ayo kita jemput dia Famoz.” Lalu Yohan berlalu pergi bersama Famoz meninggalkan mansion.


•••


Di lokasi syuting Casely dan Jovan sedang membaca naskah drama mereka untuk melakukan adegan selanjutnya.


Beberapa kali juga Casely mencuri-curi pandang ke arah Jovan, ya, walau tetap saja Jovan tak pernah menganggapnya ada.


Jesy menghampiri Jovan. “Jovan dimana Cansu? Tadi aku menyuruhnya membawakan kotak riasmu ke ruangan ini, tapi belum juga balik-balik,” terang Jesy khawatir.


Jovan mengerinyitkan dahinya bingung. “Tidak balik-balik? Apa maksudmu Jes?”


“Benar, aku tak menemukannya di manapun Jo,” lanjut Jesy.


“Kalau begitu biar aku yang mencarinya,” ujar Jovan lalu berdiri dari kursinya.


"Jo! Aku ikut!" ucap Casely tiba-tiba seranya berdiri bersamaan dengan Jovan.


Tapi Jovan langsung pergi tanpa mempedulikan Casely sedikitpun. “Sial!” gerutu Casely melihat punggung Jovan yang meninggalkannya.


Tak mendapati respon Jovan, Casely pun berlalu pergi meninggalkan Jesy di ruangan ini sendiri, Casely tidak berniat mengikuti Jovan tapi ia berjalan ke ruangan sepi untuk menelepon seseorang di ujung sana.


Sesampainya di tempat sepi Casely pun menelepon seseorang.


“Kau yakin dia tak akan bangun 'kan?”


“...”


“Awas saja kau! Cepat bawa di ke apartement! Jangan sampai Jovan menemukannya, jika tidak akan kupotong masa depanmu itu!” lalu Casely menutup ponselnya secara sepihak.


Casely tak tau dibalik dinding Jesy dari tadi mengikutinya curiga dan menguping pembicaraannya sejak tadi.


Casely tersenyum licik. “Ini akibat kau penghancur hubunganku dengan Jovan, Cansu!” gerutunya lalu berlalu pergi.


Jesy yang mendengar hal itu dari mulut Casely tidak percaya sama sekali, ia terkejut, bahkan ia menutup mulutnya tak percaya. Di mata publik imag Casely yang bagaikan dewi itu ternyata memiliki hati yang busuk di dalamnya, dan hal ini akan Jesy beri tahukan oleh Jovan segera.


Jesy berlalu pergi mencari Jovan untuk memberitahukan apa yang ia dengar barusan.


•••


Di sisi lain, Jovan mencari Cansu ke berbagai ruangan di gedung tempatnya berkerja, tapi tak ada satupun yang melihat Cansu.


Bahkan Jovan juga mengerahkan penjaga gedung entertaimant untuk mencarinya.


Segerombollan penjaga berdatangan menghampiri Jovan. “Tuan tidak ada juga, kami bahkan sampai mencari di gudang dan ruang saluran airpun sama saja tidak ada,” jelas salah satu dari mereka.


Jovan menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu kalian boleh pergi, aku akan tanya orang mansion apa dia ada didisana.”


“Baik Tuan.”


Jovan menelepon Geo, sang ketua pelayan.


“Ya Tuan,” jawab nada sambung di sana.


“Geo! Apa Cansu sudah pulang ke mansion?” bahkan sangking khawatirnya Jovan, ia tak sempat menjawab sapaan Geo.


“Belum Tuan, apa terjadi sesuatu dengan Nona Tuan?” tanya Geo.


“Dia menghilang, aku bahkan sampai menyuruh penjaga untuk mecarinya tapi dia juga tidak ada,” terang Jovan. “Kalau begitu lanjutkan tugasmu, jika ada kabar tentang Cansu, segara kabari aku lagi,” tutur Jovan kembali.


“Baik Tuan.”


Jovan mematikan ponselnya, saat tangannya ingin menelepon aparat polisi, tiba-tiba hal mengejutkan membuat orang-orang dalam gedung berteriak tak kala suara tembakkan memecahkan kaca pintu utama gedung.


“Akhhhh lari!!!” teriak mereka.


Jovan melihat segerombolan orang berpakaian hitam-hitam itu, dan matanya menilik tajam tak kala ia tau bos dari mereka semua.


Yohan?!


“JOVAN!!! KEMBALIKAN GADIS ITU ATAU AKAN KU LEDAKKAN GEDUNG INI SEGERA!” teriaknya garang, semua orang terlihat panik, mereka tau siapa yang di maksud Yohan.


Ketua mafia yang terkenal itu, bahkan bisa menghancurkan gedung ini dalam sekejap mata tanpa jejak sedikitpun.


Jikapun ketahuan oleh aparat hukum? Nama Yohan akan membuat mereka ketakutan jika beberusan dengan seorang Yohan, kenapa? Karena Yohan akan menghancurkan diri mereka berserta orang-orang di sekitar mereka sampai dengan keakar-akarnya. Begitulah Yohan, jika dia sudah marah sampai ke atas puncaknya, ia lebih parah mengerikannya dari pada letusan gunung berapi yang siap memuntahkan isi perutnya.


Ia ibarat tsunami yang akan melulantakkan kota dalam waktu cuman beberapa menit saja.


Mata Yohan mencari keseluruh penjuru ruangan, dan di sana tepat sekali! Ia menemukan Jovan di depannya menatapnya tak percaya, antara rasa marah, terkejut, menjadi satu.


Yohan menghampiri Jovan yang kini menatapnya enggan, saat tubuh mereka berdekatan Yohan kembali menampakkan sorot mata tajamnya yang seolah-olah seperti kobaran api yang menyala-nyala.


Yohan menabrak dada Jovan secara jantan. “Kembalikan gadis itu! Jovan,” bisik Yohan tajam di telinga Jovan, bahkan kalau bukan seorang Jovan yang mengetahui peringai adik nya itu, mungkin saja mereka sudah menggidik ketakutan sekarang.


Jovan yang mendapat ancaman dari Yohan bukannya semakin takut ia malah menyunggikan senyumnya meremehkan Yohan.


“Aku tidak akan memberikan gadis itu padamu Yohan,... Dia MI-LIK-KU,” tegas Jovan di ujung kalimat, sambil menirukan gaya adik nya yang mengancamnya.


Mungkin karena terbawa suasana Jovan malah mengecap Cansu miliknya membuat rahang kokoh milik Yohan mengeras seketika, wajahnya memerah padam, dengan matanya yang menatap Jovan tajam.


Brug! Bruk!