LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{20}



Satu pukulan mendarat diwajah Jovan. “Brengsek kau Jovan!!!” teriak Yohan diwajah Jovan, Jovan yang dipukul Yohan tak kala sengit, ia membalas pukulan Yohan di perutnya.


Brug!


“Kenapa heh? Bukannya kau benci gadis itu.” Lalu Jovan meninju rahang kokoh milik Yohan hingga mengeluarkan darah segar, Yohan menyeka darah dari mulutnya seranya tersenyum devil melihat Kakaknya itu, tanpa aba-aba Yohan meninju kembali Kakaknya itu beberapa kali.


“Dia anjingku! Cuman aku yang bisa memilikinya! Karena aku majikannya!”


“Cih!” Jovan meludah karena gusinya yang berdarah akibat ulah Yohan.


Jovan kembali memukul Yohan secara brutal menindih tubuhnya dan memukul area wajah Yohan, namun Yohan tak kalah sengit ia menendang perut Jovan hingga terhantuk dinding bahkan ia bisa menghancurkan organ dalam Jovan dengan memukul perutnya, kali ini Jovan tak bisa melawan, perbandingan mereka sangatlah berbeda.


Yohan sudah ahlinya jika diajak bertarung, sedangkan Jovan? ia sebatasnya saja. Ia lebih ahli akting bertarungnya saja.


Satu tijuan kembali mendarat di hidung Jovan membuat hidungnya kini berceceran darah, Jovan tersungkur ke lantai tak kala Yohan meninju perutnya lagi dan lagi, kini darah dari mulutnya pun ikut keluar begitu saja.


Tapi Jovan seolah merasakan itu semua bukan apa-apa, ia malah tersenyum miring mendapati Yohan yang menatapnya tajam.


Yohan mengarahkan pistolnya ke kepala Jovan. “Beritau gadis itu! Atau—” Yohan menarik senapannya siap untuk menembakkan pistolnya kearah Jovan, namun Jovan malah tertawa terbahak-bahak.


“Lalu apa? Kau akan membunuhku di hadapan semua orang ini heh? Dan muncul sebuah scandal ‘aktor Jovan ditembak di tempat kerjanya oleh adik nya sendiri karena merebutkan seorang gadis?’ hemmm,” desisnya menyinyir.


“Tak malukah kau wajah brutalmu ini akan menjadi tranding dalam beberapa jam ke depan?” ancam Jovan.


“Ck! Lihatlah Jovan tak ada yang berani berurusan denganku, jika besok wajah ku terpampang di dunia maya, maka akan ku pastikan kepala orang itu putus!” desisnya menggeretakkan.


Semua orang dalam ruangan itu tertunduk tak berani membantah, bahkan untuk merekam saja mereka tak ada yang mampuh, menurut mereka nyawa lebih berharga dari pada berita yang menghasilkan pundi-pundi uang.


Yohan yang melihat tatapan takut mereka kembali melihat Jovan. “Kau lihat? Bahkan untuk berurusan denganku saja mereka tak berani Jovan,” hardik Yohan picik.


Sial! Jika mereka mendapat ancaman begini, mana ada yang berani melawan Yohan?


Yohan melirik Famoz, ia memberikan perintahnya. “Famoz cari gadis itu.” Famoz pun mengangguki perintah Yohan lalu berlalu mencari Cansu di gedung ini bersama dengan anak-anak buahnya yang lain.


Yohan bukanlah orang yang bodoh, jika Jovan tak memberikan Cansu padanya, ia sendiri yang akan menarik gadis itu kepadanya.


Menurutnya tak perlu persetujuan Jovan pun gadis itu harus berada digenggamannya, cukup sudah waktu bermain rumah-rumahan bersama Jovan, Yohan memberikan waktu gadis itu di bawa Jovan bukan karena apa, ia ingin membuat gadis itu tau bahwa walau kau pergi ke ujung duniapun seorang Yohan pasti akan mendapatimu kembali ketangannya.


Yohan tersenyum smrik, aura kekejamanya seolah tak ciut jika melihat akibat dari perbuatannya.


“Ck! Jovan,... Jovan,... Kau kira aku peduli dengan itu? Malahan aku akan membuat mereka sama sepertimu jika mereka berani berurusan denganku,” seringai Yohan membuat semua orang yang menyaksikan mereka tak berani bertindak, bahkan menelpon aparat polisi saja tidak ada yang berani.


“Kau akan mendapat karmanya jika kau menyiksa gadis itu lagi Yohan!" peringat Jovan.


“Tak ada yang bisa menghalangiku, termasuk kau Jovan! Jadi jangan pernah larang apa yang akan ku lakukan karena kau tak pantas! Aku deluan yang memungutnya,” desis Yohan dikuping Jovan.


Menggebu-gebu, dada Jovan seolah tak menyetujui perkata Yohan yang seperti menghina Cansu layaknya sampah. Bahkan sampah saja sekarang bisa didaur ulang dan dipakai kembali.


“Jovan! Jovan! Apa yang terjadi disini?! Hentikan!!! Kumohon hentikan!!!” teriak Jesy lalu memeluk Jovan takkala Yohan ingin menembaknya.


“Ck! Gadis menjengkelkan.”


“Kalian semua! Kenapa hanya menonton? Cepat telpon polisi!” teriak Jesy kepada yang lainnya, yang hanya memperhatikan dan takut, seolah-olah tatapan Yohan bisa menghipnotis mereka untuk tidak berkata apa-apa. “Tunggu apalagi cepat!!!” marahnya kembali.


“Hei dengarlah ini gadis naif, mereka semua tak akan melakukannya, jika berani, maka aku Yohan Amor tak akan melepaskan orang itu.”


“Apa? Yohan, Yohan Amor?” Ulang Jesy terbata-bata, ia kenal dengan nama itu, sosok berdarah dingin yang bahkan klannya itu bisa mengalahkan aparat militer negara sekalipun.


Tak disangka sosok divdepannya itu adalah Yohan Amor.


“Tunggu apa maksudmu siapa?”


“Ck! Kau tak perlu ikut campur, siapa lagi jika seorang gadis yang di ambil tanpa izinku oleh Jovan hemmm?”


“Cansu? Apa makasudmu gadis itu?” tebak Jesy. “Aku tau gadis itu di mana!” ujarnya kembali.


“Wah-wah, gadis hero di siang bolong, kau tidak bercandakan? Jika kau main-main denganku bukan kepala Jovan saja yang ku tembak tapi kau Juga!”


Jovan menggelengkan kepalanya seranya menolak agar Jesy tak berurusan dengan Yohan lagi.


“Apa yang kau lakukan Jes,” bisik Jovan.


“Aku tau Cansu di mana,” balas Jesy tak kalah berbisik untuk meyakinkan Jovan.


Setelah ia melihat Casely adalah dalangnya ia berniat mencari Jovan untuk memberitahukan hal ini, namun saat ia mendapati Jovan, pria itu malah bersimbak darah dengan seorang pria yang Jesy tak tau siapa malah mengarahkan pistolnya ke arah kepala Jovan, tentu saja Jesy tak mau hal itu terjadi.


Dari arah sebaliknya Famoz datang bersama anak buahnya Yohan kembali. “Tuan gadis itu tak ada,” terangnya. “Kami sudah mencari keseluruh ruangan di gedung ini,” lanjutnya.


“Dia memang tak ada, kami saja berusaha mencari gadis itu,” terang Jesy membuat Yohan kembali menatapnya.


“Kalau begitu beritahu aku apa yang kau tau,” ujar Yohan


“Tidak! Jika kau berjanji tidak akan menembak Jovan.”


“Cih! Gadis naif kau mau aku membuat perjanjian denganmu heh?”


“Tentu saja,” terang Jesy takkala lebih yakin dengan jawabannya.


Yohan melihat sorot mata Jesy yang sepertinya mengetahui sesuatu yang lebih membuat Yohan tak bergikir panjang dan menyepakati perjanjian itu.


“Baiklah aku setuju,” ujarnya. “Sekarang dimana gadis itu? Jika kau bermain-main denganmu, habislah nyawamu!” ancam Yohan.


Tapi Jesy tak takut sama sekali, karena ia yakin atas jawabannya dan akan mempertangung jawabannya jika memang benar ia terbukti bersalah.


“Dia! Casely lah yang membawanya!!!” tunjuk Jesy kearah Casely membuat semua orang yang berada di gedung itu menatap tak percaya kepada pelakunya, imagnya sebagai gadis polos dan baik hati dimata publik harus berakhir dengan tindakkannya yang membawa singa ke dalam gedung ini.


Tamatlah riwayatnya kini, bukannya membawa keuntungan ia harus berurusan dengan seekor singa yang lapar. Casely meneguk selivanya susah payah takkala Yohan menghampirinya dengan tatapan membunuh.


Semua orang saling berbisik antara Jesy yang mengada-gada. Dan antara Casely yang tertuding karena difitnah.


Sifatnya dimata publik menutup hati nurani mereka bahwa Casely tak lain adalah wanita berhati busuk.


Casely menggeleng takut. “Bukan aku!” teriaknya.


“Kau!!!” tunjuk Casely ke arah jesy. “Kau pasti berbohong 'kan Jesy? Kenapa kau mengfitnahku? Apa salah ku terhadapmu? Aku tak pernah menyakitimu selama ini.” Casely meneteskan air matanya sedih, menurutnya untuk sekedar berakting agar tak di curigai Yohan adalah hal yang gampang.


“Apa kau bilang? Aku mefitnahmu? Jelas-jelas aku mendengarmu menyuruh orang untuk menculik Cansu!”


“Tapi kau tak punya bukti!” bela Casely ke dirinya sendiri. Menatap Yohan memohon. “Tuan, aku tak berbuat demikian, mohon keadilannya, Jesy mefitnahku! Dari dulu ia memang tak menyukaiku karena ia menyukai Jovan! Jadi karena aku selalu di sisi Jovan, Casely iri denganku,” terang Casely.


Semua orang menatap Jesy tak suka. Melihat tatapan Jovan yang ragu-ragu membuat hati Jesy terbakar. “Casely! Aku tak pernah ingin mencelakaimu! Jelas-jelas memang kau orangnya!”


“Cukup. Diam! Biar aku yang melihat sendiri siapa orang yang berani mencelakai budakku,” ujar Yohan dingin, ia menatap Casely tajam dan berjalan semakin mendekat.


Glek!


Casely menunduk menelan ludahnya sendiri, jangankan untuk berkata-kata, menatap Yohan saja ia tak berani, ia ragu, ia takut Yohan akan menebakkan senapannya itu ke arah kepalanya.