LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{10}



Di sisi lain, Cansu sedang melakukan hal konyol seumur hidupnya, ia kini sedang mengurut kaki Yohan di atas sofa king size.


What?! Yang benar saja?! Ya, walau ini lebih baik dari pada harus disiksa seperti kemarin.


“Kau ini bagaimana sih! Kurang kuat, urut yang betul! Jika tidak—” belum sempat Yohan berujar, Cansu memukul kuat kaki Yohan kencang.


“Auwww!” ringis Yohan memegang sebelah kakinya, ternyata pukulan Cansu seperti wanita sumo yang pernah Yohan lawan tepo dulu di dunia mafia.


Atau bisa dibilang pukulan gadis yang terlihat kecil itu didepannya memang kuat?


“Jika tidak apa heh? Kau ingin membunuhku? Kalau bisa ya bunuh saja! Itu lebih bagus! Lagian kalau aku kurang kuat mengurutmu, suruh saja orang lain untuk mengurutmu! Kenapa harus aku heh? Kau kira aku ini budakmu apa!” jengkel Cansu.


“Tapi memang kau budak ku 'kan?”


“Kalau bukan karena alasan balas budiku aku tak akan mau melakukan hal ini.”


“Balas budi?”


“Ya, aku ini beda denganmu! Walau kau telah tega membunuh kedua orang tuaku, setidaknya aku punya rasa terima kasih pada orang yang menolongku walau kau pernah berbuat jahat padaku!”


“Oh kau merasa aku jahat?”


“Tentu saja, jadi kau pikir dirimu itu sangat baik heh?”


Yohan tersenyum simpul saat melihat gadis didepannya, yang terus mengumpat, ngendumal, tapi tangannya tetap saja melakukan tugasnya, yakni mengurut kakinya.


Yohan akui, Cansu sangat lihai mengurut kakinya. Entahlah, ia hari ini tak bernafsu menyiksa gadis didepannya, mungkin lain kali, rasa-rasanya mansion besarnya yang dulu sepi kini menjadi lebih berwarna saat ada suara Cansu yang selalu mengumpat namanya.


“Kalau kau ingin mati, tunggu aku puas menyiksamu.”


“Sialan!” gerutu Cansu.


“Hah? Kau bilang apa?”


“Kau sialan Yohan!!!” teriaknya.


“Kau...”


“Apa?” tantang Cansu.


“Kerjakan tugasmu yang betul, aku berikan kebebasan untuk tidak kusiksa hari ini karena kau masih belum betul-betul sembuh total, jika sudah kau akan merasakan akibatnya nanti, lihat saja!” seringai Yohan.


Lalu, menilik penampilan Cansu dari atas sampai bawah, layaknya orang yang mesum. “Jika kuperhatikan kau ini cantik juga ya?”


“Apa maksudmu? Heh!” seranya menutup dadanya menyilang menggunakan tangannya.


“Bagaimana jika hukumanmu ku ganti saja?”


“Hah?”


“Kau cukup membuatku puas dengan tubuhmu, penawaran yang bagus kan?” seringai Yohan, lalu ia memajukan tubuhnya kedepan wajah Cansu, sebanarnya Yohan tak begitu tertarik dengan tubuh wanita. Tapi jika itu Cansu, entah kenapa hasrat dalam dirinya terbangun begitu saja, apa yang ia lakukan sekarang sebetulnya hanya untuk bisa sembuh dari traumanya terhadap wanita dengan menggunakan Cansu, mungkin kata-kata Leyos kemarin, patut untuk ia coba.


“Ap—apa maksudmu heh! Kau jangan macam-macam ya!” peringat Cansu, lalu mendorong tubuh Yohan agar tak semakin mendekat kewajahnya.


“Tapi itu penawaran yang bagus 'kan budak? Atau lebih tepatnya budak nafsu?”


Cansu menggepal telapak tangannya geram, dadanya seolah panas tak kala Yohan mengatakannya begitu. “Kurang ajar! Kau pikir aku wanita apa!”


“Cih, wanita seperti kalian itu kan sama saja 'kan? Murahan, menjijikan dan rendahan! Aku bisa memberikan bayaran sesuai yang kau mau.”


Apa?! Yohan pikir dirinya itu wanita night club yang menjual tubuh mereka dengan mucikari? Bahkan seumur hidupnya Cansu, ia tidak pernah sama sekali berhubungan dengan yang namanya lawan jenis, dan seenak jidatnya Yohan berkata seolah-olah ia memang seperti wanita hina yang ia pikirkan, itu membuat Cansu semakin geram, lantas menampar rahang kokoh itu keras.


Plak!


“Jaga ucapanmu Yohan! Tidak semua wanita bisa kau samakan seperti itu,” bentak Cansu, nafasnya naik turun saat Yohan mengatakan dirinya seolah-olah wanita murahan yang bisa dibeli dengan segepok uang.


Yohan mencengkram pergelangan tangan Cansu kuat hingga membuat Cansu meringis kesakitan.


“Kau!!! Berani-beraninya kau menamparku, wanita sialan!!!” teriak Yohan geram lalu dalam sekali hentakan Yohan menarik rambut Cansu kasar.


“Auwww lepaskan aku Yohan!!!” pekik Cansu mendapati jambakkan dari Yohan, seumur hidup Yohan, ia tidak pernah diperlakukan kurang ajar oleh namanya wanita yang menurutnya sama saja seperti manusia sampah, kecuali Mommy kandungnya, dan kini gadis didepannya malah menamparnya, okay, cukup sudah rasa tolerannya dengan gadis didepannya kini, Yohan tak tahan lagi, niat awalnya agar tidak menyiksa gadis itu akan berbanding terbalik sekarang.


“Hah? Lepaskan kau bilang? Cih! Setelah kau berani-beraninya berlaku kurang ajar padaku? Kau pikir siapa dirimu heh! Jangan sementang-mentang aku baik sedikit kau bisa kurang ajar dengan Tuanmu!” teriak Yohan tajam lalu semakin keras menarik rambut Cansu kasar kebelakang.


“Auwwww sakit,... Sakit,...Yohan!!!” erang Cansu.


Cansu kesakitan tak kala rambutnya semakin ditarik Yohan, namun ia tak akan pernah menunjukkan rasa memelasnya dengan pria iblis seperti Yohan, jika ia menunjukkan rasa memelasnya Yohanlah yang semakin senang karena ulahnya mendatangkan hasil.


“Pria busuk sepertimu seharusnya sudah mati dan membusuk dineraka Yohan!!!” teriak Cansu sambil menggenggam rambutnya yang tetarik Yohan kebelakang, mata Cansu menatap tajam Yohan, tak kala Yohan menatap nyalang matanya juga.


Benar-benar gadis pemberontak dan cari mati. Pikir Yohan.


“Gadis naif!” cibir Yohan.


Duag!


“Akh!!!”


“Minta maaf cepat!” titah Yohan.


“Tidak akan!” tolak Cansu, hal itu sontak membuat Yohan geram lantas menghepas kepala Cansu hingga terkena lantai marmer.


Duag!


Darah seger mangalir di area pelipis Cansu, Yohan berjalan mendekat kearah Cansu dan berjongkok menyamakan tingginya, menarik rambut Cansu kebelakang, Yohan tersenyum puas. “Ini akibat kalau kau tak patuh denganku.”


Walau cairan merah kental itu sudah memenuhi kepala Cansu hingga menghiasi separuh keningnya, Cansu  tak mau juga mematuhi Yohan. “Kau kira dengan kau begini, aku takut heh?!” ancam Cansu menyungging tersenyum. “Tentu saja tidak!”


“Biar kukasih tau kau bagaimana rasanya kematian itu.” Lalu Yohan menarik rambut Cansu, menyereti tubuh gadis itu kasar yang masih teduduk.


“Yohan!!! Lepaskan aku! Ini sakit!” pekik Cansu, namun Yohan tak mempedulikannya sama sekali, Yohan tetap nekat menariknya.


“Yohan kau mau bawa aku kemana heh?” Tak mendapat sahutan, Yohan kini membawa Cansu menaiki lift mansion.


Pintu lift terbuka.


“Cepat!!!” bentak Yohan mendorong tubuh Cansu masuk kedalam lift hingga terdengar hentakan yang cukup kuat takkala jidat Cansu kembali terhantuk dengan pinggir besi pegangan lift.


Saat pintu lift terbuka, Yohan mendorong tubuh Cansu keluar lift hingga menghepas ke lantai kembali.


Sesampainya di atas lantai dua dalam balkon, Yohan menarik tubuh Cansu kasar mendekati balkon lalu mendorong tenguk Cansu sampai-sampai gadis itu bisa kapan saja terjatuh dari lantai dasar.


‘Ya, Tuhan,... Dia tidak seriuskan?!’ batin Cansu, meneguk seliva susah payah karena sangat takut akan ketinggian, namun ia berusaha untuk tetap santai agar Yohan tak nekat betul-betul mendorongnya kebawah.


“Cepat memohon atau kau akan kutolak dari atas disini!” titah Yohan


“Tidak akan! Dan jangan harap aku mau!”


“Cansu! Cepat!!!” dorong Yohan ketenguk Cansu, bahkan Cansu bisa melihat seberapa tingginya dirinya dari atas sini sampai lantai dasar.


Cansu tertawa, lantas tersenyum meremehkan Yohan. “Kau pikir dengan ancamanmu ini aku akan takut? Itu tidak akan pernah!”


“CANSU!!!” teriak Yohan geram bahkan satu mansion bisa mendengar suara teriakan Yohan yang amarahnya memuncak saat itu.


“Apa? Kau ingin menolakkukan, ya tolak saja! AKU TAK TAKUT KAU YOHAN!!!”


Yohan hendak saja mendorong Cansu langsung dari atas balkon, namun tiba-tiba saja ada seseorang dari lantai dasar meneriaki namanya.


“Yohan!!! Apa yang kau lakukan! Kau  sudah gila hah?!!” teriak seseorang dari bawah lantai dasar, dia adalah Jovan. Niat awalnya ingin membicarakan sesuatu hal dengan Yohan, malah kini ia disambut dengan adiknya yang hendak membunuh seorang gadis.


Yohan menoleh kebawah lantai dasar. “Jovan?” gumannya. “Kau pergilah, aku sedang ada urusan,” peringatnya kepada Jovan.


Yohan kembali menatap Cansu sinis. “Cansu, kuulangi sekali lagi, memohonlah atau kau akan mati dengan cara yang mengenaskan,” peringat Yohan untuk terakhir kalinya.


“Sudah berapa kali kukatakan aku tak mau!!! Kau ini tak dengar hah sialan!!!” pekik Cansu.


“Memang gadis yang mencari mati,” cibir Yohan.


“Baik jika itu maumu, aku akan menghargainya.” Tanpa persiapan apapun Yohan langsung menolak Cansu dari atas lantai mansion.


“Akh!!!” teriak Cansu.


Yohan tetaplah Yohan, hanya dengan gadis yang suka memberontak ia takkan berani membunuhnya? Itu tak akan masuk dalam kamus dirinya, sudah berapa nyawa yang ia cabut tampa belas kasih, dan itu juga berlaku untuk seorang gadis seperti Cansu.


Jovan yang melihat itu langsung berlari untuk menangkap tubuh gadis yang dilempar Yohan santai dari atas lantai.


Hap!


Cansu tak sadarkan diri, ia sudah pasrah jika nyawa berakhir disini.


Jovan berhasil menangkap gadis yang dilempar Yohan, namun kini gadis itu tak sadarkan diri karena ulah gila adik nya.


“Yohan kau bisa membunuhnya!!! Kau gila heh!!!” teriak Jovan dari lantai dasar, Jovan memeriksa detak jantung Cansu, untungnya saja gadis itu masih bernafas dan hanya pingsan saja.


“Kau tak pernah bisa mengangguku seharian saja heh? Menjengkelkan,” seru Yohan.


“Yohan! Aku tanya sekali lagi padamu, apa kau gila heh? Kau bisa membunuhnya!!!”


“Memang aku ingin membunuhnya, sebaiknya kau tak mengurus urusanku Jo, aku muak melihat wajahmu,” jengkel Yohan lalu berlalu pergi dari hadapan Jovan yang menatap nyalang adiknya itu.


“Yohan!!!” teriak Jovan karena Yohan yang berlalu saja pergi.


Jovan membopong tubuh Cansu lalu membawanya ke kamar tamu untuk mengistirahatkan gadis yang ditolongnya dari ulah sang adik.