
Malam itu malam yang bertaburkan bintang, seorang gadis termenung melihat betapa indahnya langit kala itu.
Dari atas balkon kamarnya, ia bisa menyaksikan malam yang indah itu di atas sini.
Sreakkk~
Sebuah gesekkan antara semak-semak membuat Cansu menajamkan matanya tak kala di bawah tempatnya berdiri ada seluit bayangan yang tak bisa Cansu jelaskan apa itu.
“Hantu?” guman Cansu.
Tapi saat wajah itu terkena sorot lampu ia melihat seorang pria dengan pakaian casualnya tersenyum menatap dirinya dari atas balkon.
“Jovan?”
Jovan mengambil anak tangga lalu menanjakkinya untuk mendekati Cansu.
“Suitt,” Jovan menempelkan Jari telunjuknya ke bibir Cansu, “Jangan keras-keras anak buah Yohan ada di bawah sana sekarang,” ujarnya berbisik.
“Kau gila?! Bagaimana jika Yohan tau?” ujar Cansu tak kala berbisik.
Jovan tak terlalu peduli dengan pertanyaan Cansu yang satunya itu. Ia memanjat balkon dan berdiri di samping Cansu.
“Biarkan saja dia tau itu malah lebih bagus.”
Gila dan bodoh itu ternyata itu sama persis ya? Bahkan orang yang terkenal IQ nya tinggi pun akan ada saat bodohnya, dan itu juga berlaku bagi seorang Jovan yang otak kosrelt sekarang.
“Kau bercanda heh? Apa yang tadi siang itu apa belum cukup?”
“Belum cukup apanya? Rahangku serasa patah jadinya, belum lagi perutku membiru,” jawab Jovan, Cansu menatap Jovan prihatin, jika bukan karenanya semua ini pasti tak akan terjadi.
“Maaf— gara-gara aku, kau jadi begini Jo.”
“Untuk apa meminta maaf? Lagian aku sendiri yang mau, jangan menyalahkan diri sendiri.”
“Tapi—”
“Yang seharusnya lebih kau perhatikan itu adalah pipimu,” lalu Jovan memegang pipi Cansu yang membengkak karena tamparan Yohan tadi siang. “Apa masih sakit? Kau tak mengkopresnya hem?”
“Sudah, Bibi Petty yang mengompresnya untukku, ini tidak terlalu bengkak seperti tadi, ini sudah kempes.”
Jovan menurunkan tangannya dari pipi Cansu, memeluk diri Cansu dari belakang membuat Cansu terkejut. Ini kali kedua Jovan melakukannya pada Cansu, yang pertama saat di tebing bukit villa ambosador, yang kedua di mansion Yohan.
Entah apa yang di lakukan Yohan jika melihat Jovan di kamarnya.
“Biarkan aku begini sekali lagi....” pinta Jovan membuat Cansu tak berkutik karena suara parau pria di belakangnya yang menyenderkan dagunya di bahu Cansu.
“Mau ke tebing seperti kemarin?” tawar Jovan, “saat malam lebih indah dari pada siang loh,” bisiknya ke Cansu tempat di kuping, otomatis sensasi geli menjalar ke seluruh tubuh Cansu.
Ia menatap Jovan menimbang. “Tapi bagaimana jika—”
“Tidak, dia tidak akan tau karena setelah aku membawamu aku akan mengantarmu kemari lagi, jadi Yohan mungkin tak akan menaruh curiga lagi,” terang Jovan.
Cansu mengangguk, ia berlari kecil untuk mengunci kamarnya lalu membuat bantalan yang di selimuti seolah bantal yang ada di dalam itu adalah dirinya yang sedang tertidur.
Jovan saja sampai tak berkepikiran begitu.
“Kau cerdas juga.” Puji Jovan.
“Jadi selama ini aku tak cerdas?”
“Ekmm, mungkin.”
“Aisss menjengkelkan!”
“Hahaha,... Iya-iya maafkan aku, aku hanya bercanda.” Jovan mengacak halus surai Cansu.
Lalu keduanya turun dari tangga yang masih berteger di samping balkon Cansu.
Jovan menengadahkan tangannya saat giliran Cansu turun, tampa sengaja Cansu malah bukan menginjak anak tangga dan hampir terjatuh ke dasar tanah kalau saja Jovan tak menangkapnya.
Brug!
Keduanya terjatuh, posisi mereka sekarang adalah Jovan yang di bawah dan Cansu yang berada di atasnya.
Netra biru laut dan juga coklat tua itu saling menatap menukar pandangan satu sama lain.
Bahkan tangan Cansu yang memegang dada Jovan tanpa sengaja saja tau seberapa berdebarnya laki-laki di bawahnya.
Debaran di dada membuat posisi mereka sangat tak bagus, Jovan tak ingin Cansu mengetahui debaran aneh apa yang tiba-tiba bergemuruh di hatinya.
Jovan langsung mengambil anjang-anjang berdiri karena tak tahan dengan posisi mereka. “Maaf aku tak menangkapmu dengan baik.”
“Tidak, seharunya aku yang minta maaf karena menyusahkanmu dan sampai terjatuh pula.”
“Ya lebih baik kita pergi sekarang, ayo.”
“Baiklah.”
•••
Desiran suara air laut yang menerjang tebing, bertaburkan bintang kedua insan di atas ujung tebing itu sangat menikmati pemandangan alam yang berada di depan mereka.
Jovan sesekali menatap gadis di depannya.
Hatinya masih tetap sama. Bergemuruh tak menentu tapi ia suka sensasi berdebaran ini.
Apa ia bilang saja semuanya pada Cansu?
Tidak! Belum saatnya. Sekarang dia harus mencari saat yang pas untuk mengungkapkannya.
Tapi kapan? Apa iya harus bertanya lagi pada Jesy seperti kemari? Mana tau gadis itu memberikan usulan yang sangat tepat untuknya.
Ya, seperti itu saja! Besok ia akan menjumpai Jesy.
“Jo,” panggil Cansu yang langsung di tatap Jovan, “kadang aku berfikir ini semua hanyalah mimpi,... Tapi nyatanya ini adalah kenyataan yang harus ku terima, aku kadang suka menerka-nerka apakah ini mimpi buruk? Saat aku di ambil dari panti asuhan duniaku yang kelam akhirnya terwarnai dengan kedua orang tua ku yang mengadopsiku, mereka sangat menyayangiku layaknya putri sendiri,” Cansu menoleh menatap Jovan yang kini juga sama menatapnya, “aku berfikir bahwa mereka yang telah tiada adalah mimpi buruk dari antara mimpi buruk yang pernah ku mimpikan, seorang Yohan yang keji kadang membuatku ingin mengakhir hidupku untuk berjumpa dengan kedua orang tua ku di atas sana, tapi dendamku mencegatnya, katakan padaku Jo, apa aku salah? Apa aku salah jika ingin Yohan juga merasakan hal yang sama seperti ku heh? Katakan Jo! Hiksss,... Hiks,... Hiks,...”
Jovan menarik tubuh Cansu dan memeluknya.
“Tak ada yang salah dengan itu.”
Cansu meremas baju Jovan tanpa peduli lagi dengan air matanya yang membasi baju Jovan. Hatinya terlalu sakit untuk menerima semua kenyataan yang hanya ia anggap mimpi buruk semata.
‘Tak perduli dari mana asalmu, dan siapa dirimu, ingat! Aku akan selalu menjadi malaikat pelindungmu.’ batin Jovan turut merasakan kepedihan yang sama.
•••
🐾“Yo, salahkah aku jika aku menyukaimu dan juga Jo?” kini Caca menatap Yohan yang duduk di samping pohon bersamanya.
Menatap bintang di atas, kedua anak laki-laki dan perempuan itu kini berada di taman panti asuhan. Ya, Yohan dan Jovan sebelumnya sudah meminta izin dengan kedua orang tua mereka untuk tinggal di sini semetara waktu.
“Tak ada yang salah dengan rasa suka Ca, tapi kau salah jika melabuhkan hatimu di antara keduanya,” ujar Yohan tersenyum kecut.
“Tidak Yo, aku menyukai Jo layaknya ia Kakakku sendiri. Tapi kau Yo, aku mencintaimu.”
Saat mendapat pengakuan dari anak perempuan di depannya mata Yohan menatap terkejut.
Ia kira selama ini Caca menyukai Jovan.
“AYO BERJANJI!” jawab Yohan spontan.
“Tentang apa?”
“Jika kita besar nanti kau dan aku akan menikah, bagaimana?”
“Menikah?”
“Iya menikah, aku Yohan Amor berjanji kepadamu Caca, bagaimanapun kamu di masa yang akan datang, aku ingin hidup denganmu sampai maut memisahkan, apa kau bersedia?” Yohan mengulurkan tangannya ke arah Caca, seolah-olah di adalah Romeo yang akan mengajak Juliet ke altar.
Pipi Caca memerah panas seperti tomat, tapi hal itu semakin membuatnya tampak menggemaskan sekarang.
“Ya, aku mau! Aku Caca, berjanji pada Yohan Amor bagaimanapun kau aku akan tetap selalu mencintaimu dan ingin hidup bersamamu sampai maut memisahkan.”
“Maupun senang taupun susah.”
“Maupun bahagia ataupun sedih.”
“Suka maupun duka.”
“Aku mencintaimu Ca.”
“Aku juga Yo.”