LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{23}



Joguar menggedong tubuh Cansu dan menindurkannya diranjang, tubuh Cansu terekspos di depannya, membuatnya sangat bergairah sekarang karena baju yang dikenakan Cansu kini terrobek sebelah karena ulahnya, dan menamppakkan dua buah gundukkan yang sintal itu.


Joguar menungguk selivanya susah payah.


Bagi Joguar sendiri ini bukan pengalaman pertamanya menjamahi tubuh wanita, tapi ini pertama kalinya ia sangat berhasrat dalam bercinta.


Cansu semakin kepanasan, tubuhnya seolah-olah tak terkendali, mendapat sentuhan demi sentuhan, Cansu semakin melayang, ia melupakan kesadarannya karena efek obat yang diberikan Joguar.


“Akhhh,... Ha,... Ha,... Panas....” erang Cansu mengeliat-liat diatas kasur, Joguar menutup mulut Cansu dengan jari telunjuknya.


“Suittt,,, diamlah sayang, kau sudah tak sabaran rupaya ya....” Senyum Joguar devil.


Juguar merobek baju kemeja Cansu yang sudah terobek sebelah tadi lalu membuangnya asal, Joguar juga membuka Celana yang dikenakan Cansu lalu membuangnya asal.


Kini tubuh putih mulus itu hanya menggunakan bra dan juga celana dalam, Cansu mengerang tak tertahankan, Joguar meng-kissmark bagian paha Cansu nikmat.


Kebiasanya selalu menjamahi wanita dari bawah ke atas selalu membuat para wanita melayang di dalam tangkupannya, kini Joguar tak tahan lagi untuk membuka semua pakaian dalam milik Cansu, namun saat Joguar ingin membuka penutup buah dada Cansu, alih-alih memegangnya, tiba-tiba saja suara dobrakan dari luar pintu membuatnya terkejut, suara segerombolan orang berlari mendobrak pintu kamarnya begitu saja.


Yohan datang menendang tubuh Joguar hingga terpental ke samping dinding. “Kurang ajar!!! Berani-beraninya menyentuh milikku!!!” marah Yohan, lalu menghajar rahang milik Joguar kuat.


Joguar tersenyum devil. “Milikmu? Cih! Dia milikku! Kau tak lihat dia sudah ku apakan tadi heh? aku—” Belum sempat Joguar berkata-kata, Yohan menghantam kepala Joguar kedinding dengan keras.


Duag!


“Shitt!” maki Yohan, lalu menghantukkan kembali kepala Joguar kedinding hingga mengeluarkan darah segar. Joguar tersenyum, sempat-sempatnya pria itu tersenyum di saat keadaannya seperti ini.


“Kau  sialan! Beraninya melakukan ini! Padahal aku tak tau kenapa disuruh, seharusnya kau menghajar manusia sampah itu!!! Dasar bedabah!” teriak Joguar menunjuk Casely yang ketakutan saat ditatap tajam oleh Yohan.


“Aku hanya menyuruhmu menyekapnya di apartement bukan menikmatinya di hotel!” sambung Casely.


“Urus mereka berdua Famoz!” titah Yohan yang enggan mendengar pedebatan mereka.


“Baik Tuan.”


Yohan kini berahli kepada gadis yang tertidur di ranjang, melihat tingkah Cansu, Yohan yakin bahwa gadis itu baru saja terkena obat perangsang, tubuhnya hampir saja dijamahi pria hidung belang kalau saja Yohan datang lebih telat, Yohan buru-buru melepaskan jass—nya dan menyelimuti tubuh Cansu yang hanya mengenakan pakaian dalam.


Cansu merasa tak tahan karena obat yang diberikan Joguar padanya.


Cup!


Cansu mencium rahang Yohan spontan lalu tersenyum semerengah seolah-olah dirinya yang pemarah terhadap Yohan, sirna begitu saja. Obat perangsang itu membuat alam sadarnya hilang begitu saja.


Yohan meneguk selivanya susah payah, Cansu kini membuatnya benar-benar tergoda bahkan dada Yohan tanpa sadar berdegub kencang karena ulah Cansu, sudah cukup gadis ini mengambil pelukan keduanya setelah Mommy kandungnya, dan sekarang ciumannya pun diambilnya, besok entah apa lagi yang akan dilakukannya, melihat itu Yohan membekap mulut Cansu dengan bius yang telah ia taruk di sapu tangannya. Kini Cansu  tertidur nyenyak dalam pangkuan Yohan, dari pada Cansu bertingkah lebih dari pada ini, lebih baik begini saja.


Yohan menggendong Cansu ala bradel sytle kembali ke dalam mobil yang berada di luar apartement.


Walau ia sering menyiksa Cansu, tapi Yohan tak rela jika ada orang lain yang juga turut ikut menyiksanya, cukup dia saja yang boleh melakukan hal itu dengan Cansu, hanya dia.


Ia tak akan memaafkan orang yang berani-beraninya menganggu milikinya, maka dari itu Yohan pastikan orang itu takkan aman selama hidupnya.


Yohan menidurkan Cansu yang pingsan ke dalam belakang kursi jok  mobilnya.


“Kalian bawa kedua manusia ini ke ruang bawah tanah dan ikat mereka, jangan beri makan, pancung saja jika mereka berani kabur dan berulah,” titah Yohan kepada anak buahnya.


“Baik Tuan.”


Casely dan Joguar tak bisa berkata, mereka memendam amarah saat Yohan mengatakan pada anak buahnya, bahwa mereka akan menjadi sandraan Yohan selanjutnya.


“Tidak bisa begini?! Aku disuruh wanita rubah ini!”


“Tuan ku mohon, aku sudah memberi taumu di mana Cansu, jika aku tidak memberi tahumu sebelumnya mungkin Cansu akan habis dengan setan kelamin ini,” sinis Casely ke arah Joguar, keduanya saling berteriak saat mereka dibawa masuk paksa ke dalam mobil.


”Kalian berdua diam! Atau aku akan merobek mulut kalian berdua!” ancam salah satu anak buah Yohan.


Yohan menaiki mobilnya sendiri tanpa dikawal anak buahnya yang menaiki mobil mereka sendiri.


Memutar kemudi, Yohan membawa Cansu kembali ke mansion.


Disisi lain Jovan mencengkram kemudi setirnya geram.


“Sial! Sial! Sial!!!” makinya karena kalah telak dari sang adik.


Jovan merasa bersalah karena hal ini, jika saja ia tak membawa Cansu ke mansion nya, mungkin saja gadis itu tak akan bertemu dengan manusia ular seperti Casely dan berujung begini.


Tapi Jovan juga tak ingin kalau Cansu kembali ke mansion Yohan, tapi mau bagaimana lagi? Jika ia berulah dan membawa Cansu paksa dari tangan Yohan, bisa-bisa bukan Casely dan Joguarlah yang dibunuhnya olehnya, tapi ia pun juga.


Mungkin ada waktunya ia kembali ke mansion adik nya dan membawa Cansu secara diam-diam.


Ya, begitu. Kalau ia biarkan Cansu kembali ke mansion itu, itu sama saja lebih mengerikan dari pada Cansu yang di culik Joguar.


Jovan menyalakan mobilnya yang terpakir disebrang jalan tempat mobil Yohan, saat mobil Yohan melaju ke mansion nya ia pun mengikuti mobil Yohan dari belakang secara diam-diam.