
‘Kini aku tau apa kebahagian itu, yakni melihatmu tersenyum dan tertawa bersamaku merupakan suatu kebahagian tersendiri bagiku.’
~Jovan Amor~
•
•
•
Karena kali ini Jovan sengaja membawa Cansu kesuatu tempat, gadis yang duduk di sampingnya nampak terlihat bahagia.
“Jo, menurutmu kau akan membawaku kemana? Jalanan disini sangat sepi sekali.”
Menilik ke luar kaca jendela, sepanjang jalan yang ia lihat hanyalah pohon pinus yang menemani perjalanan mereka.
Jovan tersenyum dengan penuh arti.
“Kau akan tau jika sudah sampai.”
“Aku jadi penasaran jika kau berkata begitu.”
“Mau kutunjukkan hal yang menarik?”
“Hah?”
Jovan lalu menekan salah satu tombol di mobilnya, otomatis atap kap mobil yang awalnya menutup terbuka dengan sendiri.
Laju mobil yang Jovan bawa kini mulai sedikit lambat, terpaan angin menerpa wajah mereka.
“Hahaha ini yang kau bilang menarik Jo?” tawa Cansu.
“Hem....” Melirik Cansu yang tertawa, entah kenapa hati Jovan ikut menghangat.
“Bardirilah, maka akan lebih menyenangkan,” lanjutnya.
“Benarkah?”
Berdiri dari tempat duduknya, kini Cansu tau sensasi apa yang Jovan katakan. Ini menyenangkan!
“Sudah siap?”
“Apa?”
“Berpeganglah yang erat, aku akan mengebut sekarang.”
Tanpa perlu jawaban Cansu, Jovan menginjak pedal mobil dan menjalankan mobilnya dengan sangat kencang.
Sesekali ia juga tertawa karena rambut Cansu yang bertebrangan kesegala arah.
“Jo,...Jo ini kencang sekali hahaha.” Membetulkan anak rambut yang bertebrangan kesegala arah, Jovan semakin melajukan mobilnya.
“Kau bilang apa? Aku tidak dengar,” teriak Jovan.
“INI KENCANG DAN MENYENANGKAN!” teriak Cansu lalu membentang tangannya seolah menyambut angin yang menerpa tubuhmya.
Jovan tersenyum hangat, melihat Cansu yang bahagia, dirinyapun ikut bahagia.
Jovan memegang pegangan stir lalu mengemudikan mobilnya zig-zag.
“Kau gila Jo?”
“Tidak ada orang yang lewat di sini hahaha.”
“Kau ini hahaha....”
•••
Menyetir kemudinya kencang seperti orang yang kesurupan, Yohan mengemudi tanpa mengindahi peraturan jalanan. Memangnya kenapa?
Takut di tilang? Yang ada polisilah yang malas berurusan dengannya.
Beberapa mobil juga setia menemani mobilnya yang melaju paling depan.
Anak buah Yohan kali ini akan menyerbu kediaman Jovan. Jangan tanya kenapa, tentu ia tak akan membiarkan Cansu berada ditangan Jovan, itu tak akan pernah! Lagian Cansu itu budaknya jadi tidak ada seorangpun juga yang boleh mengambil miliknya.
Beberapa polisi yang menjaga rambu lalu lintas tak mengejar mobil Yohan bersama dengan anak buahnya yang lewat begitu saja.
Itu lambang kelompatan Mafia terbesar di Dunia, bahkan tak ada satupun negara yang bisa mengalahkan komplotan terbesar Yohan yang berada hampir di seluruh penjuru.
Kekuasannya bahkan bisa menghancurkan satu buah negara.
Sesampainya di kediaman mansion Jovan, Yohan bersama anak buahnya sudah siap dengan senapan di tangan mereka.
Yohan berjalan di depan dengan di sampingnya Famoz, beberapa anak buah Yohan menyebar keseluruh penjuru mansion agar jika Jovan dan Cansu ingin kabur mereka tidak akan pernah bisa lepas semudah itu.
Dan beberapa sisanya masuk dari pintu utama bersama Yohan.
“Tunggu! Siapa kalian berani-beraninya berada di kediaman Tuan kami heh?” hardik salah satu penjaga.
Beberapa penjaga Jovan berkumpul untuk mencegah Yohan dan anak buahnya.
Namun, penjaga Jovan tidak sekuat anak buahnya Yohan.
Akhirnya perkelahianpun terjadi, Yohan menerobos masuk ke dalam mansion.
Ia mengangkat sebelah tangannya dan menembakkan anak peluru dari pistolnya mengenai bola lampu kaca yang tergantung di atas langit-langit mansion.
Dor!
Prang!
Serpihan bola lampu kaca yang terjatuh, dengan suara tembakkan yang memekakkan telinga membuat para pelayan berkumpul dan melihat ke ruang utama.
“Penyusup!!!”
“Penyusup! Penjaga!” teriak mereka.
Geo. Ketua pelayan yang telah lama berkerja di mansion Jovan seperti tak asing dengan wajah Yohan.
Ya! Dia ingat! Ia ingat saat pernah membersihkan foto lama keluarga Jovan yang masih lengkap, dikatakan kalau itu adalah adik Jovan yang bernama Yohan Amor.
“Yohan? Anda Tuan Yohan?” tanya Geo.
Yohan melirik Geo, tersenyum sinis lalu berjalan menghampiri dirinya. “Ternyata kau mengenalku ya?” Menodongkan pistol itu tepat di kepala Geo.
Geo di buat bergemetaran sekarang.
“Jika kau tak ingin semua penghuni di mansion ini mati, panggil Jovan se-ka-rang,” tekannya di ujung kalimat.
“Tuan Jovan tidak ada di mansion Tuan.”
“Bohong!!!” teriak Yohan.
“Aku bersumpah, Tuan Jovan dan Nona Cansu baru saja pergi,” terang Geo gelagapan.
“Ke mana?”
“Ak-aku-aku tidak tau.”
“Jangan sampai anak peluru ini tertancap di otakmu,” ancam Yohan, “bagaimana? Ingin menjawab atau mati?”
Geo tak punya pilihan, ia sebenarnya ingin melindungi Tuan nya, tapi jika ia mati, ada anak dan istri nya yang mesti ia nafkahkan.
“Mereka—”
“Cepat!”
“Mereka ke Villa Ambosador,”
Yohan mengerinyitkan dahinya, setahunya itu Villa kesukaan Mommy nya, mereka dulu pernah ke sana.
Di sana sangatlah indah dengan pemandangan air laut di atas tebing.
Yohan menurunkan pistolnya dari kepala Geo.
Geo menghembuskan nafasnya saat Yohan dan anak buahnya memilih menyusul Jovan.
“Kita ke Villa Ambosador!”
‘Tuan, ku harap kau akan baik-baik saja. Semoga Tuhan memberkatimu.’ batin Geo.