LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{40}



Sepulangnya Jovan dan Rebecca dari acara penobatan, Jovan dan Rebecca memutuskan untuk pulang.


Sambil menyetir Jovan sesekali melirik Rebecca, bukan karena cantik tapi yang membuat Jovan melirik Rebecca adalah karena melihat Rebecca dengan pandangan aneh, bagaimana tidak aneh? Gadis itu pakaiannya urak-urakkan, rambut sebahunya yang ia tata rapi kini seperti singa betina.


“Pfrttt–” Tawa Jovan tertahankan.


“Jovan berhenti meledekku!” Jengkel Rebecca.


Jovan tetap fokus menyetir mobilnya. “Tidak, aku tidak menertawaimu.”


“Tidak usah berakting! Sementang-mentang kau ini aktor terbaik, aku mudah tertipu apa?!”


“Hahaha, baiklah-baiklah jika kau sendiri yang bilang begitu, aku hanya aneh saja dengan pakaianmu.” Lirik Jovan dari atas sampai bawah. “Seperti gembel,” cibirnya.


“Jovan!” Jerit Rebecca.


“Baiklah aku minta maaf jika membuatmu tersinggung, lalu kenapa kau minta aku untuk lewat dari pintu belakang dan pulang? Memangnya kau sedang berjumpa dengan siapa sampai urak-urakkan begini?” tanya Jovan.


‘Jika aku bilang pada Jovan apa ia akan membelaku? Tapi bagaimana dengan yang Casely bilang di atas podium tadi? Apa benar Jovan itu sudah menjadi kekasihnya? Jika aku bilang aku bertengkar dengan Casely bisa-bisa Jovan tidak akan mau lagi menolongku! Aish!!! Ini semua gara-gara gadis ular itu!’ batin Rebecca kesal.


“Lalu,... Aku harus diam saja menunggu jawabanmu hem?” ujar Jovan.


“Lupakan! Aku sedang kesal! Antar aku pulang sekarang saja Jo.”


“Baiklah terserahmu jika tak mau memberi tahu 'kannya padaku.” Lalu Jovan memutar kemudinya ke arah apartement Rebecca.


Sesampainya di apartement Rebecca, Jovan keluar dari mobil dan berbalik arah membukakan pintu untuk Rebecca.


Rebecca menyambut uluran tangan Jovan. “Terima kasih Jo, kau ingin masuk? Aku akan menyiapkan teh hijau hangat untukmu,... Udara sekarang sedang dingin.” Keluh Rebecca memeluk tubuhnya sendiri.


“Tidak, kau masuklah deluan, aku ingin ke mansion Yohan.”


“Untuk apa? Apa kau akan menanyakan map itu?” girang Rebecca.


‘Ups, sepertinya aku salah bicara lagi’ batin Rebecca saat melihat ekspresi Jovan.


Jovan tersenyum kecut saat melihat ekspresi Rebecca yang lebih menyukai adiknya ketimbang dirinya. “Untuk sekarang tidak, aku tak ingin Yohan semakin marah denganku, tapi aku ke sana karena ada seorang gadis yang pasti menungguku.” Senyum Jovan lalu melepaskan jas nya dan menyelimuti tubuh Rebecca.


“Masuklah cuacanya semakin dingin sekarang,” ujar Jovan lalu memasuki mobilnya dan pergi.


Rebecca menggepal jas Jovan erat, entah perasaan dari mana ia begitu tak rela jika Jovan bisa menyukai gadis lain selain dirinya.


•••


“Kumohon lepaskan aku.” Ronta Cansu, Yohan menariknya kasar menuju kolam renang.


Ini bahaya! Cansu benar-benar dibuat gemetaran sekarang oleh tingkah Yohan padanya.


Berada di ujung bibir kolam Yohan berniat membuat luka ditubuh Cansu semakin perih, apalagi saat ia tau yang paling di takutkan gadis itu adalah air kolam.


Cansu tau niat Yohan, dan Cansu benar-benar tak ingin masuk ke air kolam yang dalam itu.


Ia trauma! Ini lebih baik dari pada Yohan mendorongnya dari anak tangga dan mecambuk beberapa kali.


Badan Cansu tak bisa menolak, tubuhnya pedih karena bekas cambukkan dan juga dorongan Yohan dari atas anak tangga yang membuat sekujur tubuhnya berlumuran darah.


Padahal ia tau ia tak sanggup bergerak sedikitpun, tapi demi tak masuk ke dalam kolam itu ia mencoba mendorong dada Yohan yang menarik pinggangnya.


“Lepaskan!” Pukulnya ke dada Yohan.


“Tidak akan pernah.” Seringai Yohan licik, mencengkram pergelangan tangan Cansu, Yohan memelintirnya hingga gadis itu meringis kesakitan.


Hendak saja Cansu di dorong Yohan, tubuh Cansu bergetar hebat karena takut, ia malah tak sengaja mengatakan nama yang menjadi memorinya yang sedikit terlupakan dulu.


“Jojo tolong aku!!!” Pekiknya, Cansu hanya ingat Jojo adalah anak laki-laki yang selalu baik dengannya, selain itu ia tak mengenal sosok Jojo adalah Jovan, kata spontan itu membuat Yohan tercengang.


Kata-kata familiar yang selalu ia rindukan dari seorang anak perempuan yang berasal dari panti asuhan.


Tapi saat Yohan mendengar kata Jojo dari mulut Cansu, sebesit ingatan lamanya bermunculan.


🐾“Jojo tolong aku Jojo! Tolong! Api ini panas keluarkan aku Jojo!!!” Pekik seorang anak perempuan yang terkunci di dalam gudang panti asuhan, berharap ia bisa meraba kaca jendela dan memecahkannya, Yohan yang melihat kejadian kebakaran itu di luar hanya termenung tak menanggapi teriakan Cansu yang terbatuk-batuk di dalam karena api yang merabambat dengan cepat.


Tapi saat mulut anak perempuan itu hanya mengatakan nama seorang yang tak ingin ia dengar, ia mengurungkan niatnya, toh pasti anak perempuan itu akan berteriak namanya juga.


“Jojo!!! Yo,... Yoyo!!! Tolong!!! Yohan uhuk—uhuk....” Batuk Cansu, ia tak bisa lagi selamat keluar dari luar kaca jendela, alhasil ia pingsan di dalam.


“Caca!!!” teriak Yohan.


Jovan yang baru saja melihat api yang menggumpal di belakang panti asuhan, berlari sekuat tenaga, ia yakin di sana ada Yohan dan juga Caca, saat ia melihat Yohan meneteskan air mata dan mematung, ia yakin ada yang tak beres.


“Ada apa ini? Dimana Caca!!!” Mengguncang bahu Yohan, Yohan hanya menunjuk gudang yang terbakar itu.


“Caca!!!” teriak Jovan. “Kau pembunuh Yohan!!! Kenapa kau membiarkannya mati!!! Apa lagi yang kau tunggu cepat panggil Daddy dan Mommy!!!” Marah Jovan lalu berusaha mendobrak pintu untuk menolong Caca.🐾


Yohan kembali tersadar, memoru itu, Selalu terbayang tak kala Yohan selalu menatap wajah Cansu.


‘Kenapa gadis ini menyembut nama Jojo? Apa Cansu kenal dengannya?


Atau Cansu itu Caca? Tak mungkin! Caca itu sudah mati Yohan.’ batin Yohan.


Tak berfikir banyak Yohan mendorong tubuh Cansu masuk ke dalam kolam.


Byurrr


“Akhhh!” Pekik Cansu, kakinya lemah karena luka disekujur tubuhnya yang lukanya semakin terbuka dan perih. Ini menyakiktkan.


Kenapa Yohan begitu tega?


Yohan sebenarnya tak berniat menolak Cansu, ia hanya riflek karena lamunannya tadi.


•••


Disisi lain, Jovan mengendarai mobil lamborghini nya, menyelusuri jalan searah ke mansion adik nya. Yohan.


Berada di kediaman Yohan, Jovan turun dari dalam mobilnya.


Seorang wanita paru baya berlari khawatir menghampirinya.


“Tuan Jovan!!! Tuan Jovan!!! Cansu!! Komohon Tuan!!!” ujarnya panik di hadapan Jovan.


“Tenang Bibi Pet, ada apa dengan Cansu?” tanya Jovan, ia merasa ada yang tak beres sekarang.


“Yohan menyiksa gadis itu terlalu berat.”


“Apa?! Sekarang di mana dia?”


“Di kolam! Cansu di kolam,” ujar Bibi Pet. “Tuan cepat selamatkan Cansu, gadis itu mempunyai trauma mendalam dengan air kolam.”


Deg.


Saat mendengar hal itu, Jovan berlari memasuki mansion Yohan.


Jangan sempat hal gila yang dilakukan adik nya membuat nyawa Cansu melayang! Maka Jovan berjanji ia tak akan memaafkan Yohan untuk kedua kalianya.


Baru sehari Yohan berbuat baik dengan Cansu, sudah ia katakan pasti feeling nya ini selalu benar.


Yohan itu termasuk orang yang tak pernah menerima rasa toleran sedikit pun, dari acara penobatan tadi saja Jovan tau kalau Yohan mempunyai niat terselubung lainnya.


Dan inilah yang ia takutkan, bahwa Yohan hanya memanfaatkan gadis itu, jika dirinya tak mendapat apapun, maka gadis itu imbasnya. Jovan harap Cansu benar-benar tidak mati ditangan adik nya itu.


Cukup sudah Caca korbannya.


‘Awas kau Yohan!’ batin Jovan menggeretakkan giginya geram.


“Akhh tolo—ng!”


Cansu hampir saja tenggelam kalau saja Jovan tak menceburkan badannya dan menolong Cansu segera.


Yohan? Jangan tanya ia gimana, wajahnya itu seperti patung! Menatap lurus seolah tak terjadi apa-apa.


Jovan menggapai pinggang Cansu dan menariknya ke atas permukaan lalu menidurkannya di tepi bibir kolam.


“Uhuk,,,Uhukk....” Batuk Cansu memuntahkan air dalam mulutnya.


Bibi Petty berlari membawa aduk dan menggulung benda berbulu itu ke tubuh Cansu yang terdapat bekas luka sayat yang amat banyak.


Gadis itu menggigil ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, pandangannya linglung dan matanya memerah karena lelah menangis.


“Jojo.” Sekilas Cansu mendumal, tapi Jovan dapat mendengar itu dengan sangat Jelas.


‘Tak mungkin 'kan—? Tidak Jovan! Dia sudah mati.’ batin Jovan.


“Bibi, bawa Cansu ke mobilku, aku akan membawanya pulang bersamaku,” ujar Jovan yang di angguki Bibi Petty.


Kini Jovan beralih menatap sang adik dengan tatapan murka, Jovan berjalan kearah Yohan, cukup sudah ia menahan rasa kesalnya ini, puncak rasa bersabar kian habis kalau menghadapi sifat Yohan yang begini.


Duag!


Jovan meninju rahang kokoh milik Yohan kasar, yang ditinju diam tak berkutik, ia masih linglung dengan perkataan Cansu yang tadi.


“Tak puaskah kau membunuh dia? Masih ingin membunuh Cansu?” bentak Jovan murka.


Yohan tau maksud pembicaraan Jovan, menatap Jovan benci, Yohan terlalu muak dengan kakaknya yang selalu ikut campur.


“Apa? Kau punya hak apa untuk melarangku heh?”


“Yohan sadarlah! Kau itu seorang pembunuh! Tak cukup satu kah yang kau bunuh selain dia heh?!”


Kesal! Yohan benar-benar tak tahan dengan mulut Kakak nya.


“Kau pikir kau siapanya heh? Cih! Jovan, Jovan, kau itu sampah! Sudah tau aku akan membunuh ‘dia’ yang dulu, kenapa kau tak bisa menyelamatkannya?"


Seperti kobaran api yang di siram minyak, Jovan benar-benar murka dengan perkataan Yohan. Amarahnya meledak dan berapi-api.


“Bajingan kau Yohan!!!”


Duag


Kali ini tinju itu mendarat di perut Yohan. Tak membalas, Yohan seakan merasa tinju itu pantas untuknya karena tak menolong nyawa Caca saat itu, hal itu sama saja seperti ia seorang pembunuh!


Duag


Duag


Duag


“Sudah cukup! Kali ini aku belum selesai denganmu Yohan! Kematian Caca adalah salahmu! Aku pergi.” berlalu pergi meninggalkan Yohan yang terkulai dengan bersimbak darah.


Yohan tersenyum sendu, otaknya benar-benar tak bisa menerima kematian Caca yang memang sepenuhnya karena dirinya.


‘Semua ini karena diriku!’ batin Yohan.