LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{51}



“Wah wah siapa ini? Aku seperti pernah melihatmu tapi entahlah, kuharap kau tidak membuat nyawamu melayang jika hanya memberikan berita yang kurang menarik nantinya,” ujar Yohan yang tiba-tiba saja mengejutkan Jesy.


Jesy berdiri dari tempat duduknya. “Maaf telah mengganggumu Tuan, tapi aku ke sini membawa berita yang tak mungkin akan kau lewatkan.”


Yohan duduk di sofanya bersamaan dengan Jesy yang juga di persilahkan duduk oleh Yohan.


“Katakan.”


“Aku adalah manager Jovan, tempo lalu saat kau membuat kericuhan di gedung entertaimant aku juga yang memberitahumu tentang Casely yang menculik Cansu.”


“Akh! Aku mengingatnya, lalu?” tanya Yohan tajam seolah merasa tidak tertarik dengan perkenalan Jesy kepadanya.


“Kau tau? Jovan akan melamar Cansu nanti atau lebih tepatnya segera.”


“Ya? Terus kenapa? Biarkan saja,” jawab Yohan enteng membuat rahang Jesy terbuka menganga tak percaya. Bukan begini yang seharusnya respon seorang Yohan! Ia kira jika ia memberitahukannya Yohan akan mengamuk seperti tindakkannya tempo lalu.


Yohan tersenyum smirk, sebenarnya rahangnya sangat mengeres karena berita yang di bawa Jesy untuknya, namun tak semudah itu seseorang memberikan berita seperti ini tanpa ada tujuan yang menguntungkan untuk dirinya bukan? Maka dari itu Yohan akan memancing Jesy untuk mengatakan padanya niatnya yang sebenarnya.


“Kau tidak marah?” tanya Jesy tak percaya.


“Untuk apa?”


Jesy menggigit bibirnya frustasi, jika bukan cara ini cara apalagi yang harus ia lakukan untuk membuat Jovan tak jadi melamar Cansu?


“Tampaknya kau sangat tak suka dengan lamaran Jovan nanti dengan Cansu,” ujar Yohan membuat Jesy menatap Yohan terkejut.


Bagaimana pria di depannya dengan mudah bisa menebaknya?


“Perlu bantuan?”


•••


Di sisi yang berbeda, Jovan yang telah sampai di apartemant Rebecca menatap aneh pintu tak berpenghuni tersebut.


Jovan sudah beberapa kali menekan bel, tapi beberapa kali juga tak ada yang menyahutnya ataupun membukakan pintu untuknya.


‘Ke mana dia?’ batin Jovan.


Sebuah boneka Teddy besar berada di tangan Jovan, katakan saja ia menyukai Rebecca sejauh ini adalah sebuah cinta bertepuk sebelah tangan. Makanya dari itu Jovan berusaha datang ke sini dengan membawa boneka Teddy sebagai rasa maafnya kepada Rebecca.


Hatinya memang bercabang. Disatu sisi ia menyukai Rebecca karena sifatnya yang membuatnya mengingat Caca, padahal Jovan tak tau saja sifat asli wanita rubah itu. Walau Rebecca mengaku bahwa ia tak beniat menjadikan Jovan kekasihnya, tapi karena obsesi seorang Jovan, ia rela melakukan apa saja demi Rebecca termasuk membuat Yohan menandatangani map yang ia serahkan tempo lalu.


Sedangkan di satu sisi ia menyukai Cansu karena mengingatkannya dengan Caca juga. Tidak! Tidak! Cansu malah lebih mencerminkan seorang Caca yang sesungguhnya, makanya itu Jovan lebih melabuhkan hatinya terhadap Cansu.


Entahlah, mungkin jika ada seorang gadis lagi yang lebih mirip Caca mungkin Jovan juga menyukainya.


Ini yang dinamakan bahwa Jovan bukan menyukai ataupun mencintai keduanya. Ia hanya mementingkan siapa yang lebih mirip dengan Caca maka ia mengaku bahwa ia mencintainya padahal bukan perasaan itu yang ada, malahan ia seperti membohongi dirinya sendiri untuk mengaku kata cinta terhadap gadis yang memang mirip dengan Caca. Itu seperti sebuah pelampiasan karena sosok Caca yang telah tiada.


Aneh? Yohan sudah mengindap penyakit ini sejak lama, ia terlalu terobsesi dengan gadis yang mirip dengan Caca, mau itu wajah, sifat, karakternya dan hal lain yang berbau akan Caca.


Bahkan boneka Teddy yang ia bawa saja itu seperti sebuah pemberian Jovan kepada Caca dulu. Maka dari itu ia juga melakukan hal yang sama dengan gadis yang menurutnya mirip.


Dan untuk kesekian kalinya, Jovan hanya memastikan hatinya saja, ia akan memilih antara Rebecca atau Cansu yang lebih mendominasi kata mirip seperti Caca.


1 menit


Belum ada juga yang membuka pintu.


2 menit


Tetap sama saja.


3 menit


Masih sama.


Alangkah kangetnya saat netra biru laut itu melihat Rebecca sekarang, gadis yang ia anggap baik tak lebih hanya seperti seorang perempuan murahan yang di gendong oleh orang yang jauh lebih tua darinya.


“Beca?”


“Jo? Kapan kau kemari? Kenapa tak memberitahuku dulu?” gelagap Rebecca.


“Ck, untuk apa aku memberitahumu? Ku pikir jika aku ke sini sebagai kejutan kau akan senang, nyata penyambutanmu sungguh luar biasa,” decik Jovan jijik.


“Siapa dia sayang?” tanya pria tua bertubuh gempal dengan badan di penuhi cincin briliant dan kalung emas.


“Maaf telah mengganggumu Beca, aku hanya ingin memberimu ini.” Menyerahkan boneka Teddy di tangan Rebecca, Jovan berlalu pergi.


Rasa sesak dan nyeri menjalar ke hati Rebecca, rasanya kepergian Jovan akan membuat penyeselannya di suatu hari yang akan datang.


“Sayang~” panggilan itu membuat Rebecca menoleh, lalu Rebecca dan seorang pria tua di sampingnya kembali masuk ke dalam apartement untuk melanjutkan aksi mereka yang tertunda.


Rasa sesak menjalar ke hati Jovan, ia merasa separuh dari hati Caca yang ia temukan dalam diri orang lain kini di miliki oleh orang lain.


Jovan berusaha menahan rasa sesak itu, ia yakin jika jiwa Caca tidak akan ada di tubuh Rebecca, karena sejatinya Caca adalah anak perempuan yang baik, bukan sekedar gadis pemuas nafsu.


Dan kini pilihan Jovan kembali tetap, ia tak akan salah pilih, mungkin memang benar jiwa Caca yang telah mati kini berada di tubuh Cansu.


Jovan tidak tau saja kalau Cansu itu adalah Caca yang sebenarnya. Ia menganggap bahwa semua gadis yang mirip Caca adalah jiwa Caca yang masuk ke tubuh gadis yang mirip Caca.


Rasa obsesi gilanya memang menjadi-jadi sejak kejadian kematian Caca. Jangan salahkan Jovan, Jovan begini juga karena kejadian itu.


Ini yang di namakan cinta sampai mati.


•••


Sebuah tali anjing sudah, sebuah kertas kontrak sudah, dan satu lagi yang belum ada yakni tanda tangan Cansu.


Katakan ini adalah tingkah bejat Yohan yang lain, beberapa hari ini memang Yohan tak tau kalau Cansu yang tiap malamnya selalu keluar bersama Jovan.


Yang Yohan tau adalah gadis itu tetap ada di mansion tanpa kabur-kabur lagi seperti biasanya, tapi ini aneh bukan? Tak mungkin seorang Jovan bisa menyerah begitu saja.


Saat ia tau Jovan yang akan melamar Cansu untuk menjadi pendamping hidupnya dari Jesy, baru di saat itu juga Yohan memutar otaknya dan semakin mengekang Cansu dengan hukum.


Ya hukum, jika sudah bersangkutan dengan hukum maka Jovan pasti akan lebih susah membawa kabur Cansu bukan?


Hukum yang di maksud Yohan tak lain dan tak bukan adalah sebuah PERNIKAHAN PAKSA yang akan di kontrakkan atas kemauan Yohan sahaja.


‘Sudah kukatakan, budak tetaplah budak, jadi kau tak akan bisa lari dari Tuanmu ini Cansu—’





IKUTIN AJA DULU ALURNYA, NANTI BAKAL ADA WAKTU DIMANA YOHAN DAN JOVAN TAU CANSU ITU CACA, KALAU MEREKA UDAH TAU CANSU ITU CACA KEBAHAGIANPUN MENJALAR~


INGAT KOMEN KALIAN BISA MENGUBAH ALUR CERITA, KEMARIN ADA YANG NANYA KAPAN YOHAN TAU CANSU ITU CACA.


TAPI SEBELUMNYA ADA KOMEN GINI, THOR BUAT YOHAN NYESEL UDAH NYIKSA CANSU.


NAH BIAR ALURNYA ALAMI IKUTIN AJA NARASINYA DULU, KOMEN KALIAN ITU BAKAL ADA PARTNYA NANTI. TAPI TETAP ENDING HAPPY ATAU SADNYA ITU SESUAI KEMAUAN JERO.


JADI BERHATI-HATILAH SAAT KOMEN😆


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE LIMA DAN VOTENYA SAY🐾