
“Sebut namaku Joguar saat kau menjerit nanti sayang,” ucapnya lagi lalu membuka satu persatu kancing kemeja Cansu.
Cansu tentu saja memberontak, ia kali ini berhasil melepaskan tangannya dari borgol itu, lalu mendorong Joguar hingga laki-laki itu terpental ke bawah lantai.
Cansu buru-buru membuka borgol di kakinya dan juga berhasil membukanya, namun saat ia hendak pergi Joguar berdiri dari lantai dan langsung menarik lengan Cansu lalu menghempas sepontan tubuh Cansu di atas ranjang.
“Lepaskan!!! Lepaskan aku!!!”
Joguar tak tinggal diam, melihat tekat Cansu ia akan memberikan gadis itu obat perangsang, sebelah tangan Joguar meraih sesuatu benda yang tak diketaui Cansu di laci nakas, dan sebelah tangannya lagi menghimpit kedua tangan Cansu di atas bantal.
Joguar menindih Cansu, kedua kakinya ditindih oleh kedua paha Joguar, Cansu tak berdaya kekuatan Joguar melebihi dirinya.
Pria ini benar-benar tak waras! Bahkan saat tau milik Joguar yang menegang di bawah sana, Cansu pikir lebih baik mati dari pada harus ada di bawah dekapannya.
Nafasnya memburu, ia tak mau mahkota yang ia rawat selama ini di ambil paksa, bahkan disaat gadis lain sudah tak perawan lagi. Ia masih memegang teguh pendiriannya yang harus memberikannya kepada calon suaminya kelak.
Menilik gelisah ke arah benda yang di ambil Joguar, Cansu yakin benda yang dicari Joguar adalah benda yang tak baik untuknya.
Berusaha melepaskan sebelah tangannya dari tindihan otot lengan Joguar, Cansu meraih sebuah figuran patung yang berada di samping nakas lalu menghantukkannya ke kepala Joguar kuat.
Duag!
“Gadis kurang ajar!!!” teriak Joguar marah, ia merasakan sakit di pelipisnya, saat Joguar pegang, ternyata pelipisnya mengeluarkan darah segar. “Kau akan merasakan akibatnya gadis kurang ajar!” Lalu Joguar meraih sebuah pil di laci nakasnya dan berlari mengejar Cansu.
Cansu hampir sampai di luar pintu apartement namun na'as nya ia, pintu itu harus menggunakan sidik jari dan juga password wajah dan angka.
Sial! Keamanan apartement ini begitu ketat.
Cansu menekan asal password sandi pintu karena keburu dikejar Joguar, namun juga tak bisa, beberapa kali mencoba sandi yang ia masukkan salah, otaknya buntu saat Joguar semakin mendekat.
“Bagaimana ini!!! Kumohonn ayolah!!!” risau Cansu
Saat melihat Joguar mendekatinya, Joguar langsung menarik pinggang Cansu kasar.
“Lepaskan!!!”
Kali ini tak bisa, Joguar mendorong tubuh Cansu kedinding, memaksa Cansu untuk menelan pil dari tangan Joguar, Cansu tentu saja menolakkanya dengan lidahnya, namun bukan Joguar namanya kalau tak memaksakan Cansu untuk menelannya, tak sengaja Cansu malah menelan obat itu.
Joguar tersenyum senang.
Cansu buru-buru mendorong dada Joguar kuat dan berlari kembali, namun Joguar menarik bajunya hingga terobek sebelah, dan nampaklah sebagian dua gundukkan yang terbungkus milik Cansu.
Air mata Cansu mengalir deras, nafasnya memburu, ia ketakutan sekarang, bahkan untuk berlari saja badannya bergetar hebat. Namun ia tak menyerah, ia harus lari dari genggaman Joguar.
Joguar menelan seliva susah payah, gadis yang ia dapat terlalu susah untuk ia santapi kali ini, tapi bukan Joguar kalau tak merasakan milik Cansu.
Cansu meraih sebuah payung di samping pintu apartement, yang gagangnya itu ia gunakan untuk menghancurkan gagang pintu apartement.
Duag!
Hampir saja pintu itu rusak, namun Joguar menarik bahu Cansu untuk menciumnya paksa.
“Oh ayolah, kau pasti menyukainya jika sudah mencoba,” desis Joguar mencengkram bahu Cansu, namun tak tinggal diam Cansu menendang milik Joguar hingga pria itu merintih kesakitan di atas lantai.
“K,,, kurang ajar!!! Awas kau!” geram Joguar menarik celana Cansu saat gadis itu ingin membuka pintu.
“Lepaskan aku brengsek!”
Joguar tak tinggal diam, ia menarik kaki Cansu hingga gadis itu tertarik dan jatuh kelantai bersamanya.
Ia menindih Cansu, Cansu meronta-ronta, air mata mengalir tak habis-habisnya.
Joguar tak tahan ia sudah hilang kendali, baru kali ini ia bernafsu sekali.
Cansu menronta sekuat tenaga, ia mengambil gagang payung yang sempat ia pegang dan memukulnya ke badan Joguar.
“Akhhh wanita kaparat! Malam ini akan ku pastikan kau habis ditanganku sialan,” umpat Joguar memegang bahunya yang kesakitan.
Sesuatu di bawahnya seperti berdenyut dan ingin merasakan sesuatu yang lebih yang Cansu tak tau apa itu.
Joguar tersenyum senang tak kala Cansu membuang payung yang ia gunakan untuk merusak gagang pintu apartementnya.
Obatnya berjalan sangat cepat ternyata.
“Cukup sudah bermain-mainya my sweety heart kemarilah, kau pasti kesakitan sekarangkan, biar aku yang menyembuhkannya.” Senyum Joguar seranya merentangkan tangannya minta dipeluk Cansu.
“Joguar apa yang kau kasih itu heh?! Haaa,... Hah,... Ha....”
“Tak perlu risau, itu hanya obat perangsang dengan dosis besar, sudah ku duga pasti dalam beberapa menit kau akan mendekat dengan sendirinya denganku.” Lalu Joguar mendekati Cansu dan mengendongnya masuk kembali ke kamar.
•••
“Jika anjingku sampai kenapa-kenapa, jangan salahkan aku jika kepalamu tidak berada pada tempatnya lagi,” ujar Yohan dingin.
Semua anak buah Yohan menyebar kesalah satu apartement yang dimaksud Casely.
Keringat dingin bercucuran didahi hingga leher Casely mendengar ancaman Yohan.
Casely juga beberapa kali menelepon Joguar, namun pria itu tak menjawabnya.
‘Ya Tuhan jika pria bodoh itu sampai melakukan sesuatu terhadap Cansu, habislah aku.’ batin Casely gelisah.
Aparat hotel menghadang anak buah Yohan yang berpulahan orang itu untuk masuk kedalam.
“Ada apa ini? Kenapa kalian masuk tanpa izin terlebih dahulu,” ujar kepala manager hotel.
Yohan menatap tak suka, sedangkan anak buahnya terus berjalan memeriksa setiap ruangan.
“Kalian tak mendapat izin untuk mengeledah hotel kami!”
“Cepat cek kamar atas nama Joguar Marcus,” panik Casely.
“Maaf Nona kami tak megizinkan orang luar mengetahui identitas tamu hotel,” ujar manager itu kembali.
Awalnya Casely mengira bahwa Joguar membawanya ke apartement, nyatanya ia salah, pria hidung belang itu membawanya ke kamar hotel demi nafsu gilanya itu, hal ini Casely ketahui saat ia mendapati sepucuk surat di apartementnya yang mengatakan bahwa akan lebih menyenangkan melakukannya di hotel.
Bodoh memang!
“Kalian tidak tau berhubungan dengan siapa?! Cepatt!!! Jika kalian tak melakukan apa yang ku perintahkan jangan salahkan aku jika hotel ini segera ditutup!” peringat Casely.
“Tidak bisa be—”
“Kau ingin aku membunuhmu sekarang, atau kau akan mengecheck nama tamu itu di hotel ini.” Todong Yohan dengan sebuah pistol ditangannya.
Kepala menager hotel itu mengangkat tangannya takut. “Baiklah tuan, Baiklah, jangan menodong senjata itu denganku, aku akan menyuruh bawahan hotel untuk memeriksanya.”
“Waktumu sepuluh menit, sebelum menjelang kematianmu.”
Glek!
Ancaman Yohan membuat kepala manager hotel mengkerahkan bawahannya untuk cepat bertindak.
Semua orang panik, mereka sibuk mengecheck layar monitor atas nama orang yang di maksud Casely.
Untungnya mereka mendapatkan permintaan Casely kurang lebih delapan menit lamanya.
“Atas nama Joguar Marcus nomor kamar 1045 lantai 34,” ucap salah satu teller hotel.
Bawahan Yohan segara berhamburan berlari menuju kamar yang dimaksud, termasuk Yohan yang tangannya menggepal geram.
Sedangkan Casely hanya berucap doa dengan pasrah, berharap Joguar belum melakukan hal lebih terhadap Cansu.
Kalau tidak, habislah ia, Yohan bukanlah orang yang mudah diajak kompromi ataupun dibujuk dengan wajahnya saja. Pria itu sangat anti dengan makhluk bernana 'wanita' jadi Casely tau ia tak punya cara lain agar selamat selain dengan Joguar yang masih bisa mengendalikan pikiran setannya itu.