
Brakkkkk
vero menendang pintu kamar celi lalu melempar celi ke atas ranjang.
"kau sudah terlalu menguji kesabaran ku sekarang kau akan mendapat kan hukuman sayang" ucap vero tersenyum devil lalu pergi dari situ.
sedangkan celi sudah mematung,, beberapa kali dia sudah mencoba melarikan diri tapi selalu gagal.
"apa sebenarnya yang diinginkan oleh vero, kenapa dia tidak mengizinkan aku untuk pergi" batin celi memejamkan matanya karena terlalu pusing memikirkan yang sedang terjadi padanya.
"katakan keinginan mu sekarang, aku sudah muak terus menerus kau perlakukan seperti ini" ucap celi dengan nada serius tapi matanya tak kunjung terbuka untuk menatap orang di depannya itu.
"ohh,, kau sudah berani ya, oke tidak masalah, aku hanya akan menghukum mu supaya kau tau dimana posisi mu" ucap vero menyeringai lalu kembali menarik paksa celi.
"Lepaskan aku!! ini sakit,, lepaskan aku vero!!!" bentak celi karena terlalu emosi.
Setelah terjadi tarik tarikan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang gelap, celi menatap ruangan itu, sungguh menyeramkan batin celi.
Vero kembali menarik celi kedalam ruangan itu dan menatap mendudukkan celi di sebuah kursi.
"bukankan aku sudah beberapa kali mengatakan kalau kau sudah menjadi milikku tidak bisa pergi dari sini, jadi sebagai hukumannya aku akan berikan sebuah tanda supaya kau selalu mengingat bahwa kau sudah menjadi milik Vero Williams" tekan vero memegang dagu celi kuat.
"sekarang mari kita tutup mata mu supaya menjadi lebih seru,, hahaha" ucap vero menutup mata celi dengan sebuah kain hitam.
"ti-tidak,, aku tidak ingin menutup mataku, apa yang akan kau lakukan huhh!" celi terus menggeleng mengatakan tidak ingin matanya di tutup.
"shuffffff,,, kau nikmati saja ya sayang" ucap vero kembali sambil jari telunjuknya di bibir celi.
"bodyguard!!" panggil vero.
"ia tuan muda" jawab bodyguard itu.
"bawakan alatnya" perintah vero.
"baik tuan" bodyguard itu berlalu pergi.
πΈπΈπΈπΈ
"tuan, kami sudah mendapat beberapa petunjuk mengenai putri anda" ucap seseorang.
Clek
"ica,, kau dimana" panggil vino saat sudah memasuki kamar ica, mereka tidur pisah kamar, ica masih belum memaafkan vino.
"hiks,, celi,, celi,, maafkan mommy,, hiks,, pulang lah sayang,, mommy sangat merindu kan mu,, hiks,, sudah dua bulan kamu hilang, pulang sayang,, mommy rindu,, hiks,, hiks"
Vino langsung menghampiri ica yang sedang memeluk kedua lututnya sambil menangis di sudut ruangan.
"syuhhh,,, cupcupcup,, jangan menangis lagi ica, orang kepercayaan ku sudah menemukan jejak putri kita, mereka sedang melakukan pencarian lebih lanjut" mendengar itu ica mendongak dengan mata sembam nya.
"benarkah mereka sudah menemukannya?" tanya ica lagi memastikan.
"ia benar,, kau mau ikut mencarinya lagi?" ajak vino,, ingin menghibur ica.
"mau,, mau,, aku tidak sabar ingin bertemu dengan putri ku" ucap ica antusias.
"kalau begitu bersiaplah,, aku menunggumu di bawah" ucap vino mengelus rambut ica lembut.
π£π£π£π£
"Aaaaaaa,, hiks,, hiks,,, sakit,, huaaaaaa,, vero sakit,,, hiks,, mommy,,, hiks,,, hiks,,,, sakit hentikan hiks,,, vero aku mohon hiks,,, lepaskan" berontak celi saat merasakan kulit tangannya terbakar.
"tenang lah ini hanya sebentar,,nanti juga tidak sakit lagi" jawab santai vero.
"hikss,, tapi itu menyakitkan,, huaa,,, mommy,, hiks,, hiks" celi terus menangis dan meminta dihentikan tapi vero tidak mempedulikannya.
Brukkk
.
.
.
[**Bersambung]