
Ceklekkk,,,
"vin,, aghkkk,,,"teriak ica saat melihat vino bertelanjang dada.
"hmmm" jawab vino.
"k-kenapa tidak menggunakan baju mu" tanya ica membelakangi vino.
"disini gerah" jawab vino cepat.
"bukankan pendingin udaranya menyala?" tanya ica.
"aku butuh kehangatan di sini" ucap vino sambil menunjuk ke arah ranjang.
"ngomong ngomong kau sudah mendapatkan jawabannya no 1 atau no 2?" tanya vino sambil tersenyum karena melihat pergerakan ica yang mulai linglung.
"aku cuma mau mengatakan kalau aku akan balik ke pantai" ucap ica.
seketika ekspresi wajahnya vino yang tadinya tersenyum berubah menjadi dingin, ica ingin membuka pintu tapi tidak bisa di buka.
"ini pintu kenapa gak bisa di buka?" batin ica bingung dan terus membuka pintu.
"gimana bisa?kalau kau bisa keluar dari sini silahkan pergi tapi jika tidak bisa kau akan menemani ku di sini" ucap vino, ternyata dialah pelakunya, vino menekan remot kecil yang membuat pintu kamar itu terkunci otomatis.
Sudah 15 menit ica mencoba dengan segala cara tetapi hasilnya tetap nihil, pintu tetap tidak bisa terbuka.
"sudah lah,, kau temani saja aku di sini" ucap vino sambil menepuk kasur di sebelahnya.
"jangan mimpi" ucap ica kesal, karena sudah tau ini akalan vino.
"emmm,, ok" ucap vino sambil melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah pintu dimana ica berdiri.
"m-mau apa huh?" gagap ica karena sudah gugup.
"menurut mu?" jawab vino sambil mengurung ica di pintu dengan ke dua tangannya.
Ica terbelalak dan mencoba mendorong tubuh kekar vino tapi nihil semakin ica memberontak semakin dalam vino membekap ica.
"kau sekarang milik ku" bisik vino dan menci*m leh*r j*nja*ng ica dan membuat tanda k*pem*likan di sana.
Seperti yang di rencanakan vino mereka melakukan 10 ronde.
πππππ
Keesokan harinya,,,,,
krekkk,,,,,
"awhhh,,, tubuh ku remuk semua,, huaaaaa" pekik ica saat merasakan nyeri di pinggangnya, kakinya sangat berat,, bahkan dia tidak bisa bangun diri tempat tidur.
Vino yang menyaksikan kekesalan ica hanya terkekeh kecil lalu mendekat ke arah ica.
"apakah masih sakit,,? atau kita lanjutkan lagi di kamar mandi?" tanya vino sambil tersenyum nakal.
"yakkkkk,,, kau ingin membunuh ku hahh!?" pekik ica, dia benar benar kesal dengan vino bahkan semalam dia tidak diizinkan tidur sebelum 10 ronde itu selesai.
"awhhhsss,," desis ica kesakitan,, dia kembali menarik nafas benar benar mengesalkan.
"sini aku lihat dimana yang sakit" ucap vino ingin membuka selimut.
"tidak perlu" jawab ica cepat.
"jangan keras kepala" ucap vino tegas.
"aku bilang aku,,, aghkkk,,," teriak ica saat vino langsung masuk ke selimut ica dan melihat V nya sambil mengoleskan salep,,, setelah selesai dia keluar kembali.
Ica dia mematung antara malu dan kesal dia bingung harus bagaimana.
"aku pergi dulu" ucap vino lalu mengecup dahi ica.
ica benar benar tersentuh perasaan ini,,, apa ini? benak ica bertanya tanya.
πΌπΌπΌπΌ
"ehhh,, bukannya itu tara?" ica baru saja keluar dari cafe bersama teman temannya.
"emm,, ia,, apa yang dia lakukan di sini?" tanya lisa.
"entah lah,,, ayo kita pergi" ajak melda.
"tunggu! sepertinya aku harus mengikutinya,,gerak geriknya sangat mencurigakan" ucap ica.
"lo bener ca,, sepertinya dia menunggu seseorang" ucap lisa saat melihat tara yang celingak celinguk mencari seseorang.
********
"hah,,,syg aku rindu" ucap tara.
"aku juga" ucap seorang pria.
"Hah,,, sayang? bukannya dia pacaran sama vino ca?" tanya melda.
"ia,,,ada apa ini sebenarnya?" ica terus memantau hingga tara dan pria itu keluar.
"aku harus memberi tau vino" ucap ica bergegas pulang.
.
.
.
.
.
[jangan lupa like, komen & vote ya chagiyaπ]