
...POV Jeremy...
Bagai durian runtuh aku pun tercengang saat bertemu dengan sosok centil dan cantik itu di kediaman nenek tetangga dekat rumahku. Aku sangat suka sekali menggodanya dengan menarik ulurnya agar dia marah. Dia pun sedikit marah padaku awalnya saat aku menggodanya untuk meninggalkannya sendiri tanpa menemaninya saat neneknya sudah mempersilahkan kami untuk berbincang-bincang di depan taman halaman rumah nenek itu.
Bibirnya yang mungil pink kemerahan pun di monyongkan sampai 5 cm membuat sekujur tubuhku meremang dan menghangat Ingin sekali aku ses ap bibir mungil merekah pink kemerahan itu hingga lama sambil bersilat lida h sampai dia lemas tak berdaya di dalam kungkunganku. Aku suka sekali menggodanya apalagi saat dia marah kepadaku yang bisa begitu dekat dengannya dalam waktu singkat di kediaman neneknya itu. Lalu aku pun dengan nekat mengajaknya ke tempat nongkrong anak muda dengan ukuran yang sesuai dengan kantong ku dengan mengesampingkan perasaanku yang sangat terganggu dengan adanya kenyataan bahwa gadis cantik itu adalah tunangan dari biang keonaran di sekolahku.
Aku pun membawanya berboncengan dengan motor sport ku walau aku tahu dia tidak pernah sama sekali menaiki motor apalagi sejenis motor sport yang bagian belakangnya menungging hingga terpaksa dia harus melekatkan dad anya di punggung bidangku. sesuatu di bawah di antara kedua kaki ku pun berdiri tegak meminta pertanggungjawabannya saat kulihat gadis cantik itu sangat takut berpegangan erat dan menempel di punggung bidangku.
Naluri ke laki lakian kupun memuncak dan seketika membuatku menerawang membayangkan hal yang enak-enak seperti pikiran pria normal pada umumnya. dengan kecepatan yang tidak begitu kencang aku pun melajukan motorku untuk menuju ke Cafe muda-mudi tempat biasanya aku nongkrong santai dengan Demian sahabat karibku yang notabene seorang jomblo abadi predikat kami selama ini.
Demian mengatakan bahwa mengapa aku harus capek-capek menjadi jomblo abadi saat berjejer gadis mengantri untuk meminangku menjadi kekasih mereka. Namun sekali lagi aku pun menekankan pada Demian agar tidak membahas lagi tentang hal itu. sesampainya di kedai muda-mudi aku pun memesankan makanan yang sesuai seleraku lalu dia pun menginginkan hal yang sama karena aku sangat tahu gadis cantik itu tidak pernah sama sekali memasuki kedai sederhana seperti itu.
Aku melihat dari sudut matanya bahwa gadis cantik itu sangat kebingungan bagaimana harus beradaptasi di tempat yang baru saja dia kunjungi bersamaku itu. aku pun mulai memperlakukannya dengan mesra saat aku tahu jauh di belakang kami terdapat dua orang pengintai yang notabene adalah mata-mata sang biang keonaran sekolah. rupanya diam-diam sang tunangan sedang menyelidiki mengapa gadis cantik itu lari dari rumahnya dan mangkir dari acara pertunangannya dengan Si biang keonaran.
Raut wajah gadis cantik itu pun tidak terlihat panik sedih sedikitpun saat matanya begitu bersinar ketika mata kami tidak sengaja bertemu pandang. Mataku pun selalu tertuju ke arah bibir pink kemerahannya yang sangat menggoda iman itu. sungguh anugerah ciptaan tuhan yang begitu luar biasa indah.
...POV continued.....
✨
✨
✨
"Mah tadi Jeremy kesini kan?" tanya Kevin pada Cindy karena sepertinya sampai jam 9 malam belum nampak batang hidung Jeremy mengapa orang tua Kimberly.
"Iya kata Andien pah, kenapa sih? biarlah kayaknya Kimberly lagi ngambek makanya Jeremy bawain bunga Ama cokelat pah."
"Mah ini kan hari kelulusan Jeremy ya katanya? prestasi Jeremy memang selalu membuat iri orang tua wali murid yang lain ya mah?"
"Heem pah Jeremy bisa membuktikan bahwa dengan perpisahan orangtuanya tidak mempengaruhi prestasinya di sekolah, padahal gosip diluaran sangat santer sekali menyerang keluarga Cintyara Alona waktu itu ya kan pah? Tapi aku senang kalo akhirnya pandangan miring orang-orang sudah mulai bisa di redam, dan terbantahkan dengan adanya hal itu."
"Yah mungkin memang Alona juga tidak pernah lepas dari Jeremy mah, perhatian dan kasih sayang yang diberikan keluarga itulah syarat utama seseorang bisa fokus belajar."
"Hemm by the way aku takut Jeremy dan Kimberly lapar pah, biar aku suruh Andien untuk memanggil keduanya untuk turun MK. Malam bersama kita, andieeen andieeeen."
"Ya nyonya."
"Tolong kamu suruh turun kedua bocah itu agar ikut makan malam bersama kita disini."
"Baik nyonya besar."
*
*
*
"Siapa?!" Tanya Ily sambil keduanya membenarkan kancing baju masing masing yang sudah terbuka dan berantakan.
"Andien non."
"Yaa ada apa ndin?"
"Anu Enon dan Aden di panggil nyonya ke abwah untuk malam malam bersama, apa tidak lapar sudah dua jam berada di kamar? Di isi dulu perutnya agar berstamina non, nanti bisa lanjut kembali kegiatan yang sudah tertunda hehehe."
"Sial! Apa-apaan Andien itu sembarangan saja biacaranya udah gitu pakai ketawa lagi!""
"Udahlah semok sayang, kan emang bener yang dia katakan bahwa kegiatan itu harus tertunda tiba-tiba karena panggilan penting orang tua kamu ayolah cepat nanti mereka malah mengira kita sedang apa.kok Alma banget."
"Yaahh ya kan emang kita tadi lagi iya iya, ahaha, " Kimberly pun akhirnya bisa tertawa kembali setelah mendengar celoteh Jeremy yang baru saja dia katakan.
Setelah 5 menit menuruni lift dan berjalan sejenak ke arah ruang makan mansion mewah yang hanya di huni oleh ke tiga orang majikan dan juga 15 maid sekaligus chef ini pun sampailah Jeremy dan Kimberly di depan meja makan dengan beraneka ragam makanan yang sudah siap tersaji di meja makan luas itu.
"Jer, apa kabar kamu, oh iya selamat ya atas prestasi kamu menjadi juara umum dengan nilai terbaik di sekolah kalian, om sangat bangga melihat anak muda seperti kamu yang semuda ini sudah menjadi contoh tauladan untuk Kimberly dan juga teman-teman kalian."
"Iya Jer Tante juga ucapin selamat karena kamu telah membanggakan orang tua kamu sekali lagi dengan menyabet juara umum dengan nilai yang memuaskan."
Baik Cindy maupun Kevin pun bahu membahu menyelamati Jeremy dengan menyalaminya lewat jabatan tangan keduanya dengan mantap.
""Terimakasih om dan Tante atas pujiannya, sebenarnya semua bisa mencapai apa yang saya capai om dan Tante asal mau tetap berusaha dan bekerja keras tanpa kenal lelah dan patah semangat."
"Udah ah ma Jeje kan laper kelamaan ah ucapin selamatnya. Ily aja belum ngucapin selama kita ngobrol tadi, Ayoo ke kita makan, ini aku ambilkan ya kamu mau ikan apa? Ini ada masakan Padang."
"Iya sayang makasih iya boleh itu yang masakan Padang deh."
Lalu..
"Nyonya ada telepon dari kantor polisi."
...DEG...
...To be continued.....
...Hai hai zeyeng ippiiee yang ippiiee kasihi yuk beri vote coment kopi dan bunganya untuk Jeremy dan Kimberly ditunggu zakat dan dukungannya untuk novel ini. Jangan hanya like ayo coment yang banyak kalo perlu hujat deh karya otor yang banyak kurangnya ini. Hampir karya otor sebelumnya selalu ramai pembaca sekarang makin redup dan tak ada nyawa didalamnya. Semoga kita semua di beri kesehatan dan kelancaran rejeki. Para Readers kesayangan ippiiieee yang makin hilang di telan bumi ippiee yakin dengan mengungkap isi hati kalian yanh kritis mengenai karya ippie. Ippie yakin kedepannya bisa dijadikan perbaikan untuk next karya ippie yang lain. Semangat terus untuk ippiiieee untuk membuat karya yang semakin hari makin ditinggalkan hiks, ippie tidak perlu hadiah dan segala macamnya, Koment aja sok yang banyak, apa aja deh mau lanjut, mau semangat mau bubar terserah deh asal masih menunjukkan kalo karya ippie ini masih ada yang baca dan masih ada makhluk hidup disana. Dengan saran kritik dari Readers semua ippiiieee harap ippiiieee bisa mempersembahkan cerita mengenai kisah hidup sesuai yang Readers mau sehingga tidak terjadi kekosongan seperti ini. Ippie mohon sekali lagi koment, koment dan koment. Mmuaaahhh😘😘😘...