
Hari ini adalah hari pertama Yaya untuk memulai pekerjaannya, ia bangun pagi seperti biasanya mempersiapkan sarapan pagi untuk Alvin dan juga keperluan lainnya, setelah selesai ia membangunkan sang suami untuk berpamitan, karena hari libur Alvin terbiasa bangun agak siang.
"Bangun sayang, sarapan sudah ku siapkan, aku sudah akan pergi untuk bekerja," pamit Yaya seraya mencium pipi Alvin yang masih tertidur sampai membuatnya membuka mata.
"Sepagi ini ?" tanya Alvin.
"Seharusnya jam 10 hanya saja Ocha akan menjemputku sekarang, karena sebelum ketempat kerja aku harus membeli dulu beberapa buku yang aku perlukan untuk menunjang pekerjaan ku," jawab Yaya.
"Hm," jawab Alvin singkat.
Ditengah perbincangan mereka tiba-tiba terdengar suara klakson mobil menggema cukup panjang.
"Sepertinya Ocha sudah datang, aku akan pergi sekarang, habiskan sarapan mu, dan kembali tidur jika kamu tidak ada tugas dikampus, dan ingat jangan lakukan hal apa-pun yang bisa membuat ku cemburu," pesan Yaya dengan senyum manis diwajahnya.
"Hm, bukankah seharusnya aku yang berpesan seperti itu ?" tanya Alvin yang sudah berdiri dan memeluk Yaya.
"Tidak perlu kamu berpesan, karena disini (seraya menunjuk kebagian dada) sudah penuh dengan nama kamu, jadi tenang saja," jawab Yaya.
"Hm, kalau begitu hati-hati dan semangat untuk hari pertama mu bekerja, aku akan mengantar mu menemui Ocha,"
"Iya, baiklah," ucap Yaya.
#
"Cha hati-hati membawa istri ku," pesan Alvin.
"Baiklah bos !" seru Ocha dari dalam mobil.
"Kalau begitu aku pergi sekarang sayang,"
pamit Yaya seraya terlebih dahulu mencium seluruh wajah Alvin kemudian melangkah masuk kedalam mobil Ocha.
"Semoga ini adalah awal yang baik untuk hidup keluarga ku," gumam Alvin setelah Ocha dan Yaya pergi.
#
"Ya, aku heran sama kamu, kenapa kamu lebih memilih bekerja dari pada melanjutkan kuliah mu ?
bukankah kamu dulu sangat berharap bisa kembali belajar ?
dan apa tanggapan Alvin tentang kamu yang mulai bekerja hari ini ?" tanya Ocha.
"Hm, banyak sekali pertanyaan yang ia ajukan semalam sampai membuat ku sedikit bingung menjawabnya, dan juga awalnya aku berfikir seperti yang kamu katakan itu Cha, tapi semenjak aku memiliki Alya, dan tiba-tiba suami ku ingin hidup terpisah dari orangtua nya, maka aku merubah fikiran ku sendiri, bahwa aku harus membantunya.
Alasannya pasti kamu sendiri faham, kan ?"
"Faham.
Pasti karena kamu ragu Alvin bisa bekerja, secara kita semua tahu dia itu anak pak Adiwijaya yang kalau ia butuh sesuatu tinggal minta dan dia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan kedipan mata saja, betul kan ?"
"Betul sekali," jawab Yaya dengan cepat.
Waktu pun menunjukan pukul 09.40, sudah waktunya untuk Ocha mengantarkan Yaya kerumah tempat ia akan mengajar, setelah sebelumnya ia mengantarkannya mencari beberapa buku yang Yaya perlukan.
"Nah, Yaya ini dia rumah om Bimo, ayo kita masuk," ajak Ocha.
Mereka masuk kedalam rumah om Bimo setelah dipersilahkan masuk oleh pekerja disana, duduk diruang tamu menunggu kedatangan sang tuan rumah.
Cukup lama menunggu akhirnya om Bimo dan istrinya keluar dan menghampiri kami.
"Kamu Ocha keponakannya Dito ?" tanya om Bimo.
"Iya om, dan ini teman saya Yaya yang akan mengajari anak om dan tante," jawab Ocha.
"Perkenalkan nama saya Yaya pak, bu," ucap Yaya memperkenalkan dirinya.
"Saya Bimo, dan ini istri saya.
Oh ia Yaya apa kamu sudah diberitahu akan mengajari seorang anak kelas 3 SMA ?
dan apa kamu siap untuk bekerja hari ini juga ?" tanya om Bimo.
"Sudah pak.
Iya tentu saja saya bisa pak," jawab Yaya cepat.
Ma Nino sudah bangun ?" tanya om Bimo pada istrinya.
"Sudah pa, tapi dari tadi dia hanya diam didalam kamarnya," jawabnya.
"Hm, kalau begitu Yaya kamu langsung masuk saja kedalam kamar Nino," perintah om Bimo.
"Maaf pak, apakah bisa belajar diruang tamu atau ruangan terbuka lainnya saja pak ?" tanya Yaya gugup.
"Hm, anak saya Nino orang yang cukup keras, keinginannya tidak bisa dilarang, kalau dilarang dia akan memberontak dan akhirnya tidak mau belajar, saya juga bingung dengan sifat anak itu," jelas istri om Bimo.
"Oh, begitukah ?"
"Kamu tidak keberatan kan kalau belajar dikamar Nino, tenang saja dia tidak akan berbuat macam-macam pada mu," ucap om Bimo.
"Tidak apa-apa pak kalau begitu," jawab Yaya.
Sang istri tuan rumah pun mengantarkan Yaya menuju kamar Nino.
(Tok-tok-tok) suara pintu diketuk.
"Nino, bu guru yang akan mengajari mu sudah datang, ayo buka pintunya dan sambut dia !" teriaknya.
"Aku sudah katakan kalau aku tidak ingin belajar selain disekolah !
mama sama papa saja yang belajar !" seru Nino dari balik pintu kamarnya.
"Nino jangan bersikap seperti anak kecil seperti ini, ayo buka pintunya terlebih dahulu, kalau tidak mama akan bicara dengan papa agar fasilitas dan uang saku mu ditiadakan sama sekali !" ancam sang ibu.
"Baiklah, tapi Nino tidak akan menjamin guru itu akan bertahan bekerja disini !" seru Nino lagi seraya membuka pintu kamarnya.
Ketika pintu terbuka Nino langsung mengarahkan pandangan sinisnya pada Yaya.
"Perkenalkan diri kamu sayang," pinta sang ibu, namun Nino tetap diam tidak menurutinya, akhirnya Yaya lah yang mulai mengulurkan tangannya pada Nino.
"Hai nama saya Yaya," ucapnya.
"Gua Nino," jawabnya tidak menyambut sama sekali tangan Yaya, yang ia lakukan adalah berbalik dan menjauh dari pintu tempat Yaya dan ibunya berdiri saat ini.
"Maafkan anak itu Yaya, sifatnya memang keras, saya juga tidak mengerti bagaimana cara merubahnya," kata sang ibu.
"Iya tidak apa-apa bu," jawab Yaya.
"Baiklah kalau begitu silahkan masuk, dan mulai mengajar, saya tinggal untuk menyiapkan minuman untuk kalian," ucapnya seraya pergi setelah Yaya mengangguk menjawabnya.
(Aku melihat Alvin yang dulu didalam diri anak ini, sifatnya sama persis !
sepertinya ini akan sangat melelahkan,) gumam Yaya dalam hati.
"Sedang apa lo berdiri didepan pintu !
kalau lo berubah fikiran lebih baik pergi dari sini sekarang !" seru Nino dari dalam kamarnya.
(Anak ini benar-benar tidak bersahabat, lihat saja aku tidak akan kalah dengan permainannya !) gumamnya dalam hati lagi.
"Baiklah Nino kalau begitu kakak masuk ya," ucap Yaya berusaha semanis mungkin.
Ketika menginjakan kakinya dikamar Nino ia mengarahkan pandangannya kesemua penjuru kamar itu.
"Tempat ini lebih layak jika disebut gudang," gumamnya bersuara kecil.
"Maka dari itu pekerjaan pertama lo adalah membersihkan kamar gua !" seru Nino yang ternyata mendengar gumaman Yaya.
"Ha ?
tapi itu tidak ada dalam kontrak kerja saya,"
"Siapa perduli !
cepat kerjakan !" perintahnya.
(Anak ini apa dia tidak bisa bicara baik-baik, kenapa harus selalu membentak, sepertinya sifat Alvin yang dulu jauh lebih baik dari pada anak ini,) kali ini ia kembali bergumam dalam hati agar Nino tidak bisa lagi mendengarnya.