Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 41



"Kenapa dengan wajah mu Fell ?" tanya Ocha.


"Tidak apa-apa Cha, aku hanya baru saja mengerti dengan kondisi kita saat ini, wajar jika kau menolak untuk memperbaiki hubungan kita, aku faham," jawabnya seraya menatap kearah lain.


"Siapa yang mengatakan aku menolaknya ?"


"Bukankah kau tidak memakai cincinnya, itu artinya kau membuangnya kan ?"


"Tidak, aku tidak membuangnya,"


"Lalu ?


dimana cincinnya ?" tanya Fellix bingung.


"Cincinnya ada disini Fell," ucapnya seraya membuka kepalan tangannya yang sebelah lagi.


"Sama saja, bukankah cincin itu juga tidak kau pakai, kan ?


itu artinya kau juga menolak ku, sudahlah jangan paksakan kalau memang tidak bisa lagi diperbaiki Cha, aku mengerti, aku permisi pergi," pamit Fellix penuh rasa kecewa.


"Tunggu dulu Fell, kenapa kau sangat mudah menyerah jika itu untuk hubungan kita ?


kau membuat ku kembali ragu Fell,"


"Aku tidak menyerah Cha, aku hanya tidak ingin memaksakan lagi kehendak ku sendiri, aku tidak ingin kau merasa sakit hati lagi,"


"Lalu bagaimana jika aku ingin kau memaksa ku ?"


Fellix kebingungan saat menatap Ocha yang terus-terusan menebar senyuman.


Cukup lama berfikir ia pun akhirnya bisa menangkap dengan jelas maksud dari kata-kata Ocha tersebut.


Fellix pun mulai berani menarik tangan Ocha mendekat sampai membuat tubuh keduanya tanpa jarak lagi.


"Apa kau sedang mencoba bermain dengan ku sekarang ?


ha ?" tanya Fellix.


"Aku hanya ingin melihat reaksi mu saja Fell, dan ternyata kau sangat mudah putus asa kalau itu tentang aku,"


"Tidak akan lagi, mulai sekarang apa-pun itu jika itu tentang kamu, aku tidak akan pernah lagi dengan mudah menyerah, dan kau harus percaya padaku !"


"Apakah ini sebuah paksaan ?"


"Tentu !"


"Hm, baiklah-baiklah, apa-pun itu jika untuk Fellix dan terbaik untuk kita, tidak dipaksa pun aku akan mengatakan setuju !" jawab Ocha tegas.


"Begitukah ?


kalau begitu bisakah kita--" Fellix menghentikan kata-katanya dan tersenyum menggoda kearah Ocha.


"Apa ?


jika kau mengatakan hal yang tidak pantas aku akan memukul mu !"


"Kau bilang akan selalu setuju,"


"Baiklah aku tambahi kata-kataku, aku akan menyetujuinya dengan syarat semua yang baik-baik untuk aku, kamu dan hubungan kita, mengerti ?"


"Hm, gagal," rajuk Fellix melepaskan rangkulan tangannya pada pinggang Ocha.


Melihat Fellix yang memasang wajah kecewa, Ocha tersenyum dan mencium pipi kanan Fellix.


"Tidak semuanya gagal, kan ?"


"Hm," jawab Fellix yang sudah kembali tersenyum.


"Cha, sebentar lagi aku akan segera lulus, aku akan mencari pekerjaan lalu segera menikahimu, aku sudah tidak ingin menunggu lagi,"


Ocha mengangguk, tanda ia menyetujui keinginan Fellix, keduanya pun tersenyum dan kembali berpelukan.


#


Keesokan harinya.


"Siapa yang mengantar Alena sekolah pagi ini pak ?" tanya Alena pada pak Yanto.


"Mas Alvin nona, dia sudah menunggumu didalam mobil," jawab pak Yanto dengan senyum.


Alena hanya mengernyitkan dahinya tanpa banyak bertanya lagi pada pak Yanto.


"Pagi Alena," ucap Alvin.


"Hm," jawab Alena ketus.


"Kau masih memikirkan masalah waktu itu ?" tanya Alvin.


"Tidak !"


"Benarkah ?


lalu kenapa kau terlihat kaku sekali saat bicara padaku ?


bukankah tadi saat berbincang dengan pak Yanto kau tidak begini, kan ?" tanya Alvin dengan senyum ramah.


"Baiklah kalau begitu nona muda,"


Cukup lama terdiam, Alvin kembali memulai perbincangan dengan Alena.


"Alena, mas tahu kau masih marah karena kejadian beberapa hari yang lalu, maaf jika mas menyakiti perasaan mu, mas hanya terpancing emosi saat itu,"


"Hm,"


"Mas hanya tidak menyangka kau anak yang lembut, baik hati, anak yang sangat cantik dan juga sudah mas anggap seperti adik mas Alvin sendiri, ternyata cukup berani memfitnah istri mas dan berusaha merusak rumah tangga kami, itu sungguh membuat mas Alvin kecewa pada Alena,"


"Lalu siapa peduli kau kecewa atau tidak ?


dan lagi memangnya aku pernah mengatakan ingin menjadi adik mu ?"


"Tidak, hanya saja itu anggapan mas Alena,"


"Aku tidak membutuhkan kakak !"


"Hm baiklah.


Alena sebenarnya siang ini istri mas mengajak mu makan siang bersama, apa kau bisa memenuhi undangannya ?"


Alena kembali mengernyitkan dahinya dan menatap kesal kearah Alvin.


"Kau fikirkan saja dulu, jangan langsung kau jawab,"


Sesampainya disekolah, Alena segera turun dan berlari setelah keluar dari mobil.


"Dia kembali ?" tanya seseorang dari balik tiang besar.


"Siapa ?"


"Bukankah Alvin yang mengantar lo ?"


"Kenapa ?"


"Gua fikir dia akan berhenti bekerja setelah mengetahui ternyata anak majikannya adalah seseorang yang berusaha menghancurkan keluarganya, jadi bagaimana cara lo meyakinkan seorang Alvin yang terkenal keras kepala itu untuk kembali bekerja ?" tanya Nino sinis.


"Bukan urusan mu, lebih baik kau urus saja hidup mu sendiri !"


"Lo jangan lupa, gua pernah mengatakan jika itu menyangkut Yaya, itu akan jadi urusan gua juga, jangan bilang gua belum pernah mengingatkan lo tentang ini sebelumnya !"


"Nino, kenapa kau dari dulu selalu saja cari masalah dengan ku, apa sebenarnya tujuan mu ?"


"Tidak ada, gua hanya tidak menyukai wanita licik yang selalu berpura-pura baik !" seru Nino seraya berlalu pergi.


(Dari dulu sampai sekarang, kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya bisa menyakiti hati ku saja !


Nino sialan !) gumamnya geram.


#


Jam pelajaran pun berakhir, semua anak berhambur keluar kelas untuk kembali kerumah masing-masing.


Sementara Alena dengan malas melangkahkan kakinya menuju tempat Alvin menunggunya.


"Perempuan itu, kenapa harus datang kemari," gumamnya seraya menatap kearah dua orang yang tengah tertawa kecil.


"Alena kau sudah selesai belajar ?" tanya Alvin saat Alena berjalan mendekati pintu mobil.


"Hm," jawabnya malas.


Yaya segera berjalan menghampiri Alena dan meraih jemari tangan Alena.


"Alena, ayo makan bersama, aku sudah memasak untuk kita bertiga makan siang,"


"Masak ?


siapa yang tahu jika makanan yang kau masak itu beracun atau tidak ?"


"Jika makanan itu beracun mungkin bukan cuma lo saja yang akan mati, tapi mereka berdua juga sama !


coba gunakan isi kepala lo itu untuk berfikir yang baik-baik tentang seseorang !" seru seseorang dari arah belakang Alena.


"Kau !!!" gumam Alena kesal.


"Nino jaga bicara mu, jangan katakan hal yang kasar pada wanita secantik Alena," ucap Yaya menengahi keduanya.


"Cantik ?


wajahnya ?


apa hatinya ?" tanya Nino sinis.


"Aku tidak akan ikut kalian, aku akan pulang sendiri !" seru Alena kesal seraya melangkah hendak mencari kendaraan umum.


"Berhenti !


jika lo pergi itu artinya lo mengakui bahwa hati lo tidak secantik wajah lo !" teriak Nino.


Alena kembali membalikan badannya dan menatap tajam kearah Nino yang tengah tersenyum sinis membalas tatapan Alena.