Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 15



"Ya, kenapa diam ?


lo marah ?


jangan marah, gua hanya bercanda, maksud gua baik hanya ingin menghibur lo agar tidak melamun seperti ini terus-menerus," ucap Nino yang menyesali kata-katanya.


"Bercanda kamu tidak lucu Nino, kamu hanya membuat fikiran ku semakin bertambah buruk tentang suami ku sendiri !" seru Yaya kesal.


"Iya gua tahu gua salah, dan gua minta maaf,tapi Yaya, gua tidak mengenal sifat Alvin suami lo, gua juga baru mengenal lo, sebenarnya semua jawabannya ada pada diri lo sendiri, lo yang lebih mengenal dia, seharusnya lo juga lebih tahu kapan suami lo tengah berbohong atau pun menyembunyikan sesuatu, dengan siapa pun lo akan menceritakan masalah ini, dan jika mereka melihat sikap lo hari ini, fikiran mereka akan sama dengan candaan yang gua layangkan pada lo tadi.


Yaya gua yakin lo cukup pintar untuk menemukan jawaban kegelisahan yang lo rasakan saat ini," nasehat Nino.


Yaya mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Nino.


"Kenapa lo senyum ?" tanya Nino heran.


"Apa yang aneh dengan wajah gua ?" tanyanya lagi.


"Tidak ada yang aneh diwajah mu Nino, hanya saja aku tiba-tiba mengagumi sosok anak kecil yang bisa memberiku nasehat sedewasa ini, sungguh sebuah keajaiban," jawab Yaya masih dengan senyum yang terus menghiasi wajah cantiknya.


"Hm, lo cantik kak," gumam Nino.


"Ha ?


kamu bicara apa ?" tanya Yaya yang tidak begitu jelas mendengar suara Nino.


"Tidak, gua tidak bicara apa-apa, cepat periksa sana jawaban gua, lo disini dibayar untuk membuat gua pintar, bukan untuk melamun," ucap Nino mengalihkan pembicaraan.


"Sudah kembali ke sifat awal ya ?" tanya Yaya menggoda Nino.


"Diam lo," jawabnya tersipu.


(Gua harap lo akan terus tersenyum seperti ini kak, perasaan gua tiba-tiba aneh saat melihat senyum lo,) gumam Nino seraya menatap Yaya yang tengah fokus memeriksa lembar jawaban Nino.


"Jangan memandangku seperti itu," tegur Yaya.


"Siapa yang menatap lo, sudah fokus saja periksa jawaban gua !" seru Nino menyembunyikan senyumnya dibelakang Yaya.


#


Sementara itu Alvin sudah sampai dirumah Alena.


"Bi, mbak Alena dimana ?" tanya Alvin pada orang yang bekerja dirumah Alena.


"Mbak Alena ada ditaman belakang mas," jawabnya.


"Baiklah terimakasih bi," ucap Alvin seraya berlalu pergi mencari keberadaan Alena.


"Tampan sekali supir non Alena, kalau saya jadi non Alena sudah saya jadikan suami dia, ih gemas," gumamnya melihat punggung Alvin yang tengah berjalan pergi.


"Selamat siang mbak Alena," sapanya saat mendekati Alena.


"Hai, sudah datang mas Alvin ?


duduk mas," pintanya dengan suara lembut.


"Iya mbak, terimakasih saya berdiri saja,"


"Oh iya mas bisa tidak hari ini mengantar Alena mencari sekolah baru ?" tanya Alena.


"Tentu saja mbak, saya akan mengantarkan kemana pun mbak Alena ingin pergi," jawabnya lantang.


"Terimakasih mas,"


"Hm, maaf mbak memangnya mbak Alena tidak akan melanjutkan sekolahnya diluar negeri lagi ?"


"Tidak mas, Alena sudah berunding dengan papa semalam, dan papa menyetujui untuk Alena sekolah disini.


Semalam Alena menelphone mas Alvin tapi mas tidak angkat,"


"Semalam ?"


"Iya semalam, sekitar jam 02.00 malam,"


"Oh, mu-mungkin saya sudah tidur mbak," jawab Alvin terbata seperti ada yang tiba-tiba saja mengusik fikirannya.


"Hm, tidak apa-apa mas mungkin Alena saja yang tidak tahu waktu menghubungi mas Alvin.


Alena terlalu senang semalam jadi tidak tahu harus membagi kebahagian dengan siapa lagi, sementara saat ini teman Alena hanya mas Alvin saja, makanya Alena menghubungi mas Alvin," jelasnya.


"Iya mbak maafkan saya,"


"Sudah mas tidak apa-apa, kalau begitu Alena siap-siap dulu sebentar ya," ucapnya seraya pergi menuju kamarnya.


Alvin terdiam memikirkan Yaya yang terbangun semalam.


(Apa jangan-jangan Yaya melihat Alena menghubungiku semalam makanya dia terbangun ?) tanyanya dalam hati.


(Tapi kenapa dia tidak bicara apa-apa tentang ini, dan lagi tidak ada yang salah dengan sikapnya tadi pagi, tapi kenapa aku tiba-tiba jadi merasa bersalah padanya,) gumamnya.


"Mas !" teriak Alena memanggil Alvin.


"Mas,


Mas Alvin !" pekiknya.


"Ha ?


Setelah didalam mobil.


"Mas Alvin kenapa ?


seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat ?" tanya Alena.


"Saya tidak apa-apa mbak, hanya ada masalah sedikit tadi dikampus," jawabnya.


"Hm begitu.


Oh iya mas, nanti setelah Alena mulai sekolah, mobil ini bawa pulang saja kerumah mas Alvin, tapi pagi-pagi mas Alvin jemput Alena untuk ke sekolah ya, agar lebih mudah untuk mas Alvin," ucapnya.


"Iya baiklah mbak,"


Hari itu mereka memutari kota, mengunjungi setiap sekolah menengah atas, sampai akhirnya Alena memutuskan memilih salah satu sekolah favorite di kota itu.


"Alena diterima mas disekolah ini, akhirnya ya Alena bisa sekolah disini juga," ungkapnya gembira.


"Selamat ya, mbak Alena pintar jadi pasti bisa diterima disekolah mana pun yang mbak inginkan,"


"Terimakasih mas pujiannya,"


"Sekarang kita kemana lagi mbak ?" tanya Alvin.


"Ayo kita pergi makan mas, untuk merayakan keberhasilan Alena lulus ujian masuk sekolah ini, ayo !" ajak Alena girang.


"Baiklah mbak, mari," jawabnya seraya membukakan pintu mobil untuk Alena.


Sesampainya dicafe.


"Ayo masuk mas," ajak Alena.


"Saya tunggu didalam mobil saja mbak,"


"Lalu Alena makan dengan siapa ?


sendiri ?


mas Alvin tega ?" tanya Alena memelas.


"Tapi mbak saya kan supir, dan pakaian saya--" kata-kata Alvin terpotong saat Alena kembali bicara.


"Lalu kenapa kalau supir ?


dan kenapa dengan pakaian mas ?"


"Saya hanya takut mbak Alena akan malu jika makan dengan seorang supir," jawabnya.


"Alena tidak pernah memandang seseorang dari seragamnya mas, Sudahlah ayo turun," ajak Alena memaksa.


(Baik sekali gadis ini, dia tidak pernah memandang status sosial seseorang,) gumam Alvin dalam hati.


Akhirnya mau tidak mau Alvin pun menuruti permintaan Alena.


Setelah selesai makan Alvin mengantarkan Alena kembali kerumahnya.


"Mas Alvin kalau ingin pulang tidak apa-apa,"


"Memangnya mbak Alena tidak ingin kemana-mana lagi ?"


"Tidak mas, hari ini Alena ingin beristirahat yang cukup agar besok hari pertama sekolah bisa semangat," ungkapnya dengan tersenyum manis.


"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang mbak, mobilnya saya bawa ya mbak,"


"Bawa saja mas," jawabnya.


Setelah berpamitan Alvin pun pergi setelah mengganti terlebih dahulu pakaiannya.


Sesampainya dirumah ia meletakan tas ranselnya dikursi ruang tamu, lalu Alvin masuk kamar dan berbaring ditempat tidur.


"Ternyata sangat melelahkan kuliah sambil bekerja gua baru tahu rasanya selelah ini. Tapi Yaya dulu sampai punya 2 pekerjaan setelah kuliah dan dia masih tetap bisa tersenyum, istriku itu memang wanita luar biasa, gua tidak boleh mengeluh depan dia," gumam Alvin.


Alvin memejamkan matanya dan akhirnya ia pun tertidur.


Beberapa saat kemudian Yaya juga pulang kerja.


(Mobil siapa ini ?


apa mungkin sedang ada tamu didalam ? memangnya Alvin sudah pulang ?") tanyanya dalam hati.


Karena penasaran Yaya pun segera masuk kedalam rumah dan menemukan tas Alvin tergeletak diatas kursi.


"Hm, Alvin-Alvin kenapa kamu tidak pernah bisa menyimpan tas mu sendiri ditempatnya," gumam Yaya seraya mengangkat tas itu.


"Oh iya kotak bekalnya harus segera dicuci kalau tidak dikeluarkan sekarang besok lupa lagi," gumamnya lagi.


Saat tas itu terbuka Yaya terkejut karena ia menemukan baju yang ia yakini itu bukan milik Alvin, dan kotak bekal yang ia bawakan tadi pagi untuk Alvin itu juga masih utuh, seakan Alvin tidak menyentuh bekal itu sama sekali.


(Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan dariku Vin ?) tanya Yaya dalam hati.