Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 51



Tidak begitu lama kemudian ia sudah sampai didepan rumah, disambut oleh Yaya yang sudah menunggunya dengan tatapan hendak menguliti Nino hidup-hidup.


"Ada apa dengan tatapan itu ?" tanya Nino.


"Lalu ada apa dengan wajah frustasi itu ?" tanya Yaya membalikan pertanyaan.


Nino tersenyum dan segera berjalan menuju meja tempat mereka belajar.


"Makan ?" tanya Yaya.


"Tidak lapar," jawabnya lesu.


"Kenapa ?


apa kau sudah makan ?"


"Hm," jawabnya singkat.


"Nino, ada apa ?" tanya Yaya mulai serius, sikapnya seperti seorang kakak yang perduli pada adik kandungnya.


"Sudah ada yang memilikinya sekarang," jawabnya seraya menunduk, tidak ingin Yaya melihat wajah kecewanya.


"Kau ingin menangis ?" tanya Yaya.


"Untuk apa ?


gua laki-laki, bukankah masih banyak gadis yang lebih cantik, baik, dan tidak keras kepala diluar sana, bukan ?"


"Banyak, tapi apa mungkin salah satu dari mereka bisa menggeser posisinya ?"


"Mungkin," jawabnya ragu, kemudian muncul senyum paksa dari ujung bibirnya.


"Senyum itu terlihat mengerikan Nino, berhenti memaksakan !" seru Yaya.


"Hm,"


"Aku akan mencaritahunya untuk mu,"


"Sudah tidak perlu lagi Yaya, gua tidak ingin memiliki hak orang lain,"


"Wah benarkah ?


lalu kemana Nino yang beberapa minggu lalu berusaha membuat keributan dengan suami orang karena ia berusaha mendekati seorang istri ?" tanya Yaya mengingatkan.


Nino terdiam mati kata.


"Nino, aku tidak bermaksud mengajarkan mu untuk merebut hak oranglain, aku hanya ingin bertanya apa kau sudah berusaha mengungkapkan perasaan mu padanya ?"


Nino menggelengkan kepalanya perlahan.


"Kenapa ?"


"Untuk apa ?


mengatakannya hanya akan membuat gua terlihat bodoh didepannya !


dan gua tidak ingin dia menindas gua !" tegas Nino.


"Oh jadi menurutmu mengungkapkan perasaan terhadap seseorang itu adalah perbuatan yang bodoh ?"


"Bukan seperti itu,


Yaya gua yakin lo mengerti maksud gua, tapi kenapa harus lo putar-putar ?" tanya Nino kesal.


"Kalau begitu ungkapkan dulu !" seru Yaya memaksa.


"Tidak akan pernah !"


"Baiklah kalau begitu biar aku yang turun tangan membantu mu !" seru Yaya seraya merebut ponsel Nino dan menekan nomor kontak Alena.


"Yaya jangan konyol berikan ponselnya !" teriak Nino.


"Sst, Alena mengangkat telphone," ucap Yaya meletakan jari telunjuk diantara bibirnya sendiri.


Call.


Yaya : Alena.


Alena : Ada apa ? (malas)


Yaya : Malam ini sibuk tidak ?


Alena : Tidak.


Yaya : Ikutlah pulang kerumah kami bersama Alvin.


Alena : Ada apa ?


Yaya : Ha ?


hm, Alvin ulang tahun malam ini, bisa, kan ?"


Alena : Baiklah.


(Telphone terputus)


"Lo ini terlalu sembarangan !" seru Nino.


Yaya terdiam seolah ada yang mengganggu fikirannya.


"Kenapa lo diam, bukannya minta maaf,"


"Alena, dia--" gumam Yaya terbata.


"Dia kenapa ?" tanya Nino heran.


"Dia langsung menyetujui ajakan ku setelah aku mengatakan malam ini adalah ulangtahun Alvin," jawabnya, ada perasaan kesal dari nada bicara Yaya.


"Lalu apa yang salah, lo cemburu ?"


"Tidak, hanya saja tadi aku berbohong, sebenarnya Alvin tidak ulangtahun malam ini,"


"Apa rencana lo sebenarnya membuat kebohongan seperti itu Yaya ?


"Aku hanya ingin kau menjadi laki-laki,"


"Maksudnya memang yang lo lihat selama ini gua bukan laki-laki ?"


"Bukan masalah fisik, tapi kelakuan dan keberanian, sudahlah tidak usah dibahas, ayo belajar," ajak Yaya dengan fikirannya yang masih berantakan.


(Sepertinya Alena belum sepenuhnya melupakan perasaannya pada Alvin.


Hufh sudahlah, aku tidak harus termakan oleh fikiran buruk ini, lagi pula aku sangat mempercayai Alvin,) gumamnya, membuat suasana hatinya kembali membaik dan menciptakan senyum manis dibibirnya.


#


Setelah selesai mengajar Yaya mempersiapkan dirinya untuk kembali kerumah.


"Sudah mau pulang ?


dijemput ?


hati-hati dijalan," ucap Nino yang masih duduk ditempatnya seraya melambaikan tangan pada Yaya.


"Ayo berdiri !" seru Yaya seraya menarik tangan Nino.


"Apa ?


minta diantar pulang ?


memang suami kesayangan lo tidak datang menjemput ?" tanya Nino.


"Kau lupa atau bagaimana ?


malam ini Alvin akan membawa Alena pulang kerumah kami untuk makan malam, dan kau harus ikut bersama ku !" jawab Yaya dengan tegas.


"Kenapa harus ?


tidak, aku lelah ingin istirahat dirumah saja, cepat pulang sana," jawabnya, tidak hanya itu, Nino juga menguap untuk meyakinkan Yaya bahwa ia memang tengah lelah, namun sepertinya Yaya tidak mau tahu.


"Tidak menerima bantahan, ayo pergi !"


"Sepertinya kau sudah jadi bos besar sekarang.


Hm, baiklah, tapi setidaknya biarkan gua ganti pakaian dulu,"


"Cepat, berdandanlah sedikit, agar tidak terlalu menakutkan wajahmu itu," ucap Yaya terkekeh.


Nino mengernyitkan dahinya tanpa menjawab cibiran dari Yaya.


#


Sementara itu.


"Mas Alvin selamat ulangtahun, maaf Alena tidak memberi hadiah, karena Alena baru tahu mas Alvin ulangtahun hari ini," ucap Alena seraya mengulurkan tangan.


"Ha ?


siapa yang ulangtahun ?" tanya Alvin heran.


"Bukannya ini hari ulangtahun mu mas ?


tadi istri mas menelphone mengundang Alena untuk makan malam merayakan ulangtahun mas Alvin," jelas Alena.


"O-oh, ia-ia, terimakasih ucapannya Len, terlalu fokus bekerja sampai lupa dengan hari ulangtahun sendiri, mungkin faktor umur juga mempengaruhi ya Len, hehe," jawab Alvin dengan tawa yang terdengar aneh.


Alena ikut tersenyum, namun tetap dengan tatapan curiga.


"Kalau begitu Alena ganti pakaian dulu mas, setelah itu kita pergi bersama kerumah Mas Alvin," ucapnya.


Alvin mengangguk, Alena pun segera masuk kedalam kamarnya.


Chat :


Alvin : Sayang, apa lagi sekarang rencana mu ?


Yaya : Kenapa kau tahu aku ada rencana ?


Alvin : Baru saja Alena datang menghampiriku dan mengucapkan selamat ulangtahun, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, setidaknya aku bisa menyiapkan jawaban agar dia tidak curiga.


Yaya : Ya ampun aku lupa, maaf sayang, tapi dia tetap akan datang, kan ?"


Alvin : Iya dia tengah bersiap.


Yaya : Baiklah, aku juga sedang menyiapkan semuanya dirumah bersama Nino.


Alvin : Hm, jadilah istri yang baik, jangan meladeni anak ingusan itu.


Yaya : Baiklah sayang.


#


Semua yang dibutuhkan sudah selesai dipersiapkan.


"Tinggal menunggu tuan putri, dan kamu jangan menyia-nyiakan kesempatan, kasihanilah aku yang sudah cukup lelah memasak semua ini," ucap Yaya.


"Cerewet sekali, Alvin kenapa bisa tahan hidup bersama wanita seperti ini,"


"Karena selera orang berbeda-beda, dan rasa sayang orang sudah ada porsiannya, faham,"


"Hm,"


Ditengah perdebatan mereka tiba-tiba saja Alvin membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Alena ayo masuk," ajak Yaya.


"Lain kali kalau ingin menjebak orang, buat semua menjadi serapih mungkin, jujur saja rencana mu sangat mudah terbaca," bisik Alena ditelinga Yaya.


Yaya tersenyum.


"Tolong ikuti saja alurnya, rencana ku tidak akan menyakiti mu, jika kau tidak menyukainya berikan alasan yang masuk akal agar tidak ada yang terluka," jawab Yaya yang juga berbisik ditelinga Alena.


Alena terdiam tanpa menjawab apa-pun lagi, kali ini ia menuruti kata-kata Yaya, dan duduk tepat berhadapan dengan Nino, keduanya tidak saling sapa satu sama lain, yang bicara dan tertawa hanya Alvin dan Yaya.