Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 53



"Jangan melihat ku seperti itu, atau kamu akan menyesal nanti," ucap Nino mengancam.


"Menyesal ?


kenapa aku harus menyesal ?" tanya Alena heran.


"Karena aku akan mencium mu sampai kamu memohon ampun karena sudah tidak sanggup lagi menahan serangan dari ku, haha," jawabnya.


"Oh ya, aku tidak yakin kau bisa melakukannya, jangan terlalu percaya diri nanti kamu--" kata-kata Alena terhenti saat mulutnya tertahan oleh bibir Nino yang tiba-tiba saja memagut bibirnya dengan mesra kemudian mulai memanas.


Alena terdiam berusaha menguasai dirinya sendiri, namun tubuhnya terus mencoba mengikuti irama yang Nino ciptakan, kedua tangan Alena pun melingkar dengan indah diantara leher Nino.


Cukup lama kemesraan diantara mereka berlangsung, tapi terhenti hanya karena suara teriakan dari pejalan kaki yang membuat keduanya terkejut dan menjauh.


"Maaf Len, ada gangguan," ucap Nino salah tingkah.


"Tidak apa-apa, bukan salah kamu, karena jujur aku juga menginginkannya," jawab Alena tersipu.


Nino pun juga semakin dibuat tersipu oleh jawaban Alena.


"Hm, mau pulang sekarang ?" tanya Nino mencoba memecah kecanggungan diantara keduanya.


Alena menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Nino.


"Kenapa ?"


"Sebentar lagi bisa, kah ?


aku hanya ingin kamu mengatakan sesuatu. dan membuat hubungan kita jadi jelas," pintanya.


"Apa masih kurang jelas, bukankah baru saja kita melakukannya ?" tanya Nino.


Wajah Alena terlihat kesal saat mendengar jawaban Nino tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, namun untungnya Nino segera menyadari kesalahan pada kata-katanya.


"Kalau begitu ayo pulang," ajak Alena dengan suara malas, ia segera berbalik tanpa menunggu jawaban dari Nino.


"Alena tunggu !" teriak Nino menghentikan langkah kaki Alena.


"Apa lagi Nino, ini sudah larut malam, kalau kita tidak cepat orangtua kita akan marah," jawab Alena ketus.


"Kamu marah ?" tanya Nino.


"Tidak," jawab Alena singkat.


"Aku tahu kamu marah.


Jangan marah sayang, karena aku tidak tahan melihat wajah cantik mu saat kamu marah, apa kamu tahu, aku sedang lapar, kau tidak ingin aku memakan mu disini, kan ?" goda Nino.


"Hentikan candaan mu Nino, itu tidak lucu, membosankan," Alena memalingkan wajah berusaha menyembunyikan senyumannya.


"Baiklah, kalau begitu ayo aku antar pulang," ajak Nino seraya mennggenggam jemari tangan Alena.


Mereka kembali masuk kedalam mobil, Nino pun mengantarkan Alena pulang, ketika sampai didepan rumah Alena, sikap Nino tiba-tiba saja berubah, ia kembali terdiam seolah ada sesuatu yang berat tengah mengganggu fikirannya.


"Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang, terimakasih juga untuk tawa dan airmata malam ini, jujur aku sangat bahagia sekali Nino," ucap Alena yang kemudian mencium pipi Nino.


"Hm," jawab Nino singkat.


"Kamu kenapa ?" tanya Alena yang kembali duduk ditempatnya menatap heran kearah Nino.


"Tidak apa-apa, turun lah, dan istirahatlah dengan nyaman," jawab Nino.


"Jawab aku terlebih dulu !


apa yang sebenarnya sedang kamu fikirkan Nino ?"


"Len aku minta maaf," ucap Nino.


"Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf ?


dan maaf untuk apa ?" tanya Alena heran.


"Maaf karena aku belum ingin berpisah sama kamu malam ini, aku harus bagaimana Len ?" tanya Nino membalikan.


Alena terdiam, ia merogoh ponsel didalam tasnya, dan berusaha menghubungi seseorang.


Call :


Alena : Hallo mbak, papa sudah pulang ?


Art : Belum non Alena, non Alena dimana, cepat pulang non sudah larut malam, nanti kalau papa non pulang lebih dulu saya harus jawab apa ?


Alena : Malam ini Alena tidak akan pulang mbak, bilang pada papa Alena menginap dirumah teman, ada tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok.


Art : Tapi non...


Sambungan telphone terputus.


"Lalu sekarang kamu mau membawa aku kemana ?" tanya Alena penasaran.


Nino tersenyum kemudian mengecup dahi Alena.


"Nakal, tapi terimakasih ya," gumam Nino.


"Hm, sama-sama,


ayo pergi," ajak Alena.


Nino kembali melajukan mobilnya, tujuannya hanya ke satu tempat yaitu vila milik orangtuanya.


"Kita dimana Nino ?" tanya Alena, matanya kembali menjelajahi tempat yang asing untuknya itu.


"Vila milik kekuarga ku," jawabnya singkat.


Seorang penjaga vila membukakan pintu gerbang untuk Nino.


"Mas Nino bawa wanita cantik," gumam pak Trisno salah satu penjaga disana, pada Yuli istrinya yang merupakan asisten rumah tangga di vila itu.


"Ini tidak benar pak, mas Nino masih sekolah, demi kebaikannya kita harus melaporkannya pada nyonya besar," jawab Yuli.


"Besok saja bu, ini sudah larut,"


"Iya," jawabnya singkat, lalu masuk mengikuti Nino dan Alena.


"Mas Nino," sapa mbak Yuli.


"Iya mbak Yuli,"


"Apa perlu dibantu untuk mengantar nona cantik ini kekamar tamu ?" tanya mbak Yuli.


"Tidak perlu mbak, Nino bisa sendiri, mbak Yuli istirahat saja," jawab Nino.


"Baik mas,"


Mbak Yuli berlalu pergi meninggalkan Nino dan Alena.


"Sepertinya mbak Yuli curiga kita akan melakukan hal yang terlarang disini No," ucap Alena.


"Oh ya, tapi sayangnya kecurigaan dia tepat sekali !


sepertinya niat ku terlalu mudah dibaca," seru Nino tersenyum.


"Maksud kamu ?" tanya Alena heran.


Tanpa menjawab, Nino segera menarik Alena untuk masuk kesalah satu kamar dilantai 2.


Nino menjatuhkan tubuh kecil Alena terlebih dahulu ditempat tidur, kemudian disusul olehnya.


"Nino apa yang akan kamu lakukan ?" tanya Alena, terdengar getar ketakutan dari suaranya.


"Membuktikan keseriusan tentang perasaanku agar kamu tidak ada rasa ragu lagi," jawabnya, seraya berusaha mencumbu Alena ditempatnya berbaring.


"Tunggu Nino jangan lakukan itu aku mohon hentikan Nino !" rengek Alena, ia terus berusaha menghindari cumbuan Nino.


"Kenapa sayang ?


apa kau tidak serius menyukai ku ?


makanya kau ragu melakukan hal lebih denganku ?" tanya Nino disela usahanya membuka satu persatu kancing baju yang melekat ditubuh Alena.


"Cukup Nino !!!" teriaknya seraya mendorong tubuh Nino menjauh.


Merasa mendapatkan penolakan dari Alena,Nino segera beranjak berdiri dan menatap kesal pada Alena.


"Ada apa dengan kamu sebenarnya ?" tanya Alena lirih, ia mendekap tubuhnya sendiri dengan pakaiannya yang hampir sepenuhnya terbuka.


"Rapihkan pakaian mu, aku antar kau pulang sekarang !" seru Nino tanpa menjawab pertanyaan Alena, ia juga meninggalkan Alena sendiri didalam kamar itu.


(Kenapa sikap mu tiba-tiba berubah menakutkan seperti ini Nino,) gumam Alena disela tangis yang membasahi pipinya.


Setelah selesai merapihkan pakaiannya Alena segera keluar menyusul Nino yang sudah berada didalam mobil menunggunya.


Jam menunjukan pukul 01.00 dini hari, Nino dan Alena masih diperjalanan kembali kerumah Alena, tanpa ada percakapan apa-apa diantara keduanya.


Tidak lama kemudian mobil yang mereka kendarai berhenti tepat didepan rumah Alena.


Tanpa basa-basi Alena membuka pintu mobil dan segera keluar.


Nino pun seolah tidak ingin berlama-lama disana, ia juga segera melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Malam itu berlalu begitu saja, menyisakan tanda tanya besar dihati Alena, tentang siapa dirinya untuk Nino sebenarnya ?