Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 40



Saat hari mulai sore Fellix bergegas kembali kerumahnya, namun laju mobilnya mengarah ke tujuan lain, dan berhenti tepat diseberang rumah itu.


"Ini adalah tempat dimana wanita yang kucintai tengah menjalani kehidupannya yang bahagia dengan laki-laki pilihannya," gumam Fellix.


Tidak hanya itu ia juga menyaksikan dan mendengar langsung tawa Yaya yang sangat lepas ketika tengah bercanda dengan Alvin sambil mencuci mobil didepan rumah mereka.


Saat Fellix tengah fokus menatap kemesraan pasangan suami istri itu, ia terkejut saat Yaya menangkap basah mata Fellix yang sedang mengawasi mereka.


"Vin, bukankah itu Fellix, kan ?" tanya Yaya menunjuk kearah yang ia lihat.


"Iya itu Fellix, untuk apa lagi dia datang kemari !" seru Alvin kesal.


"Alvin sayang, tenang sedikit, mungkin dia kemari karena sudah menyadari kesalahannya, sebaiknya kau hampiri dia dan ajak bicara baik-baik didalam rumah,"


"Tidak, kenapa aku harus melakukan itu untuknya !"


"Ayolah sayang, jangan terlalu mudah terpancing emosi begitu, tidak baik,"


"Tidak, sekali tidak tetap tidak !" tegas Alvin.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku saja yang menghampiri dia, sedikit jalan-jalan dengan mobilnya sepertinya bagus juga," ucap Yaya berusaha memanasi Alvin.


"Diam disini, biar aku saja yang menghampirinya !"


"Baiklah, kalau begitu terimakasih sayang," ucap Yaya dengan menampilkan senyum manis yang membuat orang diabetes saat melihatnya.


"Hm," jawab Alvin malas, seraya berjalan mendekati mobil Fellix.


Tidak terlalu lama kemudian Alvin sudah mengetuk pelan kaca mobil itu, dan Fellix sedikit memberi celah untuk Alvin bicara.


"Apa yang tengah lo lakukan didepan rumah gua ?" tanya Alvin sinis.


"Jangan salah faham dulu Vin, gua kemari hanya karena bingung harus berbuat apa, dan harus minta pendapat pada siapa,"


"Tentang apa ?"


"Tentang masalah yang tengah gua hadapi saat ini,"


"Hm, masuklah dulu, Yaya meminta gua untuk membawa lo masuk kerumah,"


"Apakah tidak apa-apa Vin ?"


"Bakal ada apa-apa, jika hanya lo dan Yaya yang berada didalam, tidak masalah saat disana juga ada gua !


cepat sedikit jangan membuat istri gua terlalu lama menunggu !"


"Hm, baiklah," jawab Fellix.


Ketika memasuki rumah dan berhadapan langsung dengan Yaya, Fellix spontan menundukan wajahnya.


"Ada apa ?" tanya Yaya.


Fellix menjelaskan semua yang telah terjadi padanya hari itu, tidak lupa ia juga meminta saran pada Yaya untuk membuat Ocha mau menemuinya dan kembali memaafkannya.


"Terimaksih Yaya, aku sangat mengerti kenapa sampai detik ini aku masih menyimpan perasaan padamu--"


"Ehem," terdengar suara batuk Alvin yang dibuat-buat.


"Maaf Vin, tapi gua belum selesai bicara,"


"Baiklah kalau begitu lanjutkan !"


"Yaya, aku janji mulai detik ini juga, aku akan berusaha melupakan mu, dan belajar membuka hati lagi untuk seseorang yang tulus padaku,"


"Oh itu harus, bagus sekali itu, bagus," gumam Alvin.


"Vin,"


"Maaf sayang, aku hanya tengah berusaha memberi semangat saja pada Fellix," ucap Alvin berdalih.


"Fell, lakukan apa yang terbaik untuk hidup dan juga kebahagiaan mu, dengan catatan tanpa harus menyakiti perasaan orang lain, jika kau ingin menyudahi semuanya, sudahilah dengan cara terhormat, mengerti ?"


"Iya Yaya, aku mengerti.


Terimakasih untuk semuanya, kalau begitu aku permisi mau langsung kerumah Ocha," pamit Fellix.


"Silahkan Fell, hati-hati dijalan,"


#


Saat keberaniannya muncul ia pun bergegas mengetuk pintu rumah itu.


Orang yang membukakan pintu adalah ibu dari Ocha, dan wanita paruh baya itu segera membawa Fellix ketaman belakang rumah dimana Ocha berada saat ini.


Setelah mengucapkan terimakasih, wanita itu pun segera pergi meninggalkan mereka.


"Hai Cha," sapa Fellix dari arah belakang Ocha.


"Ha-hai Fell, ada apa malam-malam begini kemari ?" tanya Ocha terkejut dan langsung berdiri menghadap Fellix.


"Kau menangis ?" tanya Fellix seraya menyentuh lingkaran dibawah mata Ocha yang membengkak.


"Hm tidak, aku hanya kurang tidur beberapa hari ini, maklum banyak tugas kampus yang harus segera ku selesaikan,


oh iya kau belum menjawabku, ada apa kemari ?"


"Memangnya harus ada alasan jika aku ingin menemui mu ?" tanya Fellix.


"Hm," gumam Ocha bingung.


"Cha, maafkan aku sudah membuat mu sampai seperti ini, kau jadi seperti ini semua karena kebodohan ku, sekali lagi aku minta maaf,"


Ocha memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Kau tidak perlu minta maaf Fell, aku mengerti dengan apa yang kau rasakan, dan kau tidak bodoh, kau hanya tengah dimabuk oleh perasaan mu sendiri, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri Fell, aku mengerti, aku mengerti,"


untuk beberapa kali Ocha menyebutkan kata-kata itu dengan suara lirih.


"Cha, berhenti berbohong, aku tahu kau tidak akan pernah bisa mengerti saat kau juga merasa tersakiti,"


"Lalu aku bisa apa ?


aku harus bagaimana ?


apa aku bisa egois dan bilang, aku mencintai mu Fellix dan cuma aku yang pantas untuk bersama mu !


apa aku bisa berkata seperti itu Fell ?" tanya Ocha yang sudah tidak mampu lagi menahan airmatanya.


"Bisa !" tegas Fellix.


"Ha ?


maksudmu apa ?


tolong jangan mengeluarkan kata-kata yang mungkin saja bisa membuat harapanku semakin besar !" seru Ocha memasang wajah bingung dengan apa yang ia dengar.


"Cha, apa kau bisa memaafkan semua kesalahan dan melupakan luka yang ku perbuat ?"


"Aku sudah memaafkan mu Fell,"


"Lalu apakah kau bisa kembali berjuang bersamaku dan membuatku menjadi milikmu seutuhnya ?"


"Fell bicaralah yang jelas jangan membuat ku bingung seperti ini !"


"Baiklah, aku akan lebih membuat semuanya jadi jelas, dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan pernah mengulangi kata-kata ku lagi,"


"Hm,"


Fellix merogoh kedalam sakunya dan menggenggam sesuatu diantara telapak tangannya.


"Terima dan pakailah ini dan kembali lagi padaku untuk menjalani hidup bersama, jika kau menolak, kau bisa membuangnya jauh-jauh," ucap Fellix seraya membuka tangannya yang berisi cincin pertunangan mereka.


Ocha terdiam untuk sesaat tanpa mampu berkata-kata ia hanya bisa menangis dan menangis.


"Berhenti menangis dan jawab aku," pinta Fellix.


"Baiklah, kalau begitu tutup matamu, dan biarkan aku menyelesaikan sisanya,"


"Hm," jawab Fellix yang sudah bersiap menutup mata.


Terdengar ada gerakan seperti orang yang setengah melompat saat itu.


(Dia melompat, cincin itu dia buang !) gumam Fellix dalam hati.


"Buka matamu," pinta Ocha.


Wajah Fellix seketika berubah murung, ia sadar bahwa kesalahan yang ia lakukan sangat fatal, pasti sangat sulit untuk Ocha menerimanya kembali seperti semula, terlihat pula raut pasrah dari wajah Fellix saat menatap jari manis Ocha yang polos.