Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 49



Nino menatap Alena dengan mata membelalak heran.


"Kenapa tiba-tiba berhenti tertawa ?" tanya Alena dengan senyum kemenangan tersungging diujung bibirnya.


"Ha ?


tidak apa-apa," jawab Nino dengan tatapannya yang semakin tajam, ia hampir tidak sanggup berkedip lagi saat menatap Alena.


"Kau bersikap seolah ini kali pertama kau diperlakukan begitu oleh wanita.


Jangan salah faham dengan apa yang aku lakukan, karena aku hanya ingin menghentikan tawa mu yang menyebalkan itu !


sebaiknya sekarang kau cepat pulang !"


"Tidak sebelum lo jawab dulu pertanyaan gua !"


"Pertanyaan apa ?"


"Apa benar lo memiliki hubungan khusus dengan Raja ?"


"Sudah berulang kali aku katakan kalau itu bukan urusan kamu !


kenapa kau sangat ingin tahu ?"


"Jawab saja !"


"Kalau begitu beritahu aku apa alasan yang tepat kenapa aku harus memberitahu mu prihal hubungan ku dan Raja ?"


"Merepotkan !


baiklah sebenarnya ada seorang teman yang sepertinya dia menyukai lo, gua tidak mengerti kenapa dia bisa menyukai wanita macam lo, padahal gua sudah memberitahu semua kekurangan lo, tapi dia tetap bersikeras ingin mendekati lo, dan meminta gua mencari informasi tentang lo dan Raja, puas !"


"Oh jadi hanya karena seorang teman ?"


"Ya,


kenapa ?


ada masalah ?" tanya Nino.


"Tidak," jawab Alena singkat.


"Kenapa wajah lo seperti orang yang sedang merasa kecewa ?


oh atau lo berharap seseorang itu gua ?


mimpi lo !"


"Jangan asal tebak !


kalau begitu tolong beritahu teman mu bahwa aku dan Raja belum memiliki ikatan apa-pun, tapi mungkin besok aku akan menerima pernyataan cintanya,"


Nino terdiam sesaat menatap Alena tidak percaya.


"Besok ?


apa dia sudah menyatakan perasaannya ?


apa lo yakin akan menerima dia ?


apa lo tahu siapa Raja sebenarnya ?


dan sudah berapa lama memangnya kau mengenal dia ?" tanpa Nino sadari, ia terus menghujani Alena dengan banyak pertanyaan yang saat itu membayang difikirannya.


"Tentu aku sudah mengenalnya, Raja pria yang baik, dia juga perhatian, dan yang paling penting aku sudah mencari tahu tentang dia, asal-usul keluarganya pun sangat jelas, jadi apa lagi alasan yang bisa membuat ku ragu untuk menerimanya ?


bukankah dia sangat pantas untuk ku, sedangkan seorang teman yang kau maksud itu, aku tidak mengenalnya sama sekali bagaimana bisa aku ingin dekat dengan seseorang yang tidak jelas !" jawab Alena.


"Oh,


kalau begitu gua akan menyampaikan pesan lo, agar teman gua berhenti dengan niatnya untuk mengejar lo," ucap Nino mengalihkan pandangannya dari Alena.


"Hm," jawab Alena singkat.


"Gua permisi pulang sudah terlalu larut, istirahatlah agar besok lo bisa kembali masuk sekolah, dan menyampaikan niat lo pada Raja,"


"Hm," jawab Alena.


"Kalau begitu permisi, selamat malam, sampaikan salam gua pada papa lo," ucap Nino yang segera pergi sebelum Alena menjawabnya.


(Seorang teman ?


teman seperti apa yang ingin kau jodohkan padaku !


dasar kau Nino jelek !) gumam Alena kesal.


#


Keesokan harinya disekolah.


"Kenapa lo melihat gua seperti itu ?" tanyanya ketika melihat Nino berjalan mendekat dengan tatapan membunuh.


"Gua yang punya mata, terserah gua ingin melihat dengan cara apa saja, kenapa lo atur hidup gua !" seru Nino.


"Terserah lo saja Nino, tapi hari ini gua sedang tidak ingin merusak kebahagiaan gua dengan ribut sama lo,"


"Lo menunggu Alena ?" tanya Nino mengganti topik pembicaraan.


"Hm," jawabnya singkat.


"Raja, gua ingatkan sama lo, jangan pernah lo menyakiti Alena, kalau sampai satu helai saja rambutnya jatuh karena perbuatan lo, gua akan membuat perhitungan sama lo, sampai semuanya menjadi setimpal, mengerti lo !" seru Nino mengancam.


"Lo siapa ?


kakaknya ?


saudaranya ?


orangtuanya ?


atau mungkin pacarnya ?" tanya Raja dengan tersenyum sinis.


"Siapa pun gua itu tidak penting, yang terpenting adalah lo ingat-ingat saja apa yang gua katakan tadi !"


"Haha, Nino-Nino, bahkan semua orang sudah tahu, siapa orang yang sering sekali membuat Alena kesal sampai menangis, dan kenapa tidak lo berlakukan juga ancaman lo itu untuk diri lo sendiri !


misalnya dengan cara lo menjauh dari hidupnya, asal lo tahu bagi dia lo itu ibarat hewan berbisa, sekali menggigit bisa membuat dia lumpuh atau bisa juga mati !"


"Lo !!!" seru Nino, seraya mendaratkan kepalan tangannya kewajah Raja sampai membuat Raja jatuh tersungkur, bunga mawar yang Raja genggam pun terlepas dari tangannya.


Tidak sampai disitu, Nino kembali berjalan dan menginjak bunga mawar itu sampai benar-benar hancur.


Kemudian ia kembali mengangkat tubuh Raja, dan sekali lagi meninju wajahnya.


(Aneh, anak ini terus diam dan seolah menerima pukulan ku, ini tidak seperti Raja yang biasanya,) gumam Nino.


"Sudah ?" tanya suara yang terdengar tenang dari arah belakangnya.


(Alena, sial ternyata Raja sudah melihat kedatangan Alena, pantas saja dia tidak membalas pukulan gua !


dasar licik !) gumam Nino dalam hati.


Alena berjalan mendekati Nino dan Raja, namun Alena lebih memilih tidak menganggap keberadaan Nino disana.


"Len, kamu sudah datang, maaf bunga yang kau minta hancur, tadi Nino tidak sengaja menginjaknya, jangan marah padanya aku bisa menggantinya lagi dengan yang baru," ucap Raja, ia hendak melangkah pergi ingin mencarikan bunga pengganti untuk Alena, namun.


"Tidak usah, aku tidak membutuhkan bunga itu, karena aku sudah melihat semua pengorbanan kamu, dan kebaikan kamu,"


"Kebaikan apa ?" tanya Raja.


"Ya, kau masih ingin melindungi orang jahat yang sudah memukuli mu, bukankah itu perbuatan orang baik ?"


"Hm," jawab Raja singkat.


"Orang baik apa, dia itu hanya bersandiwara, lo jangan---" kata-kata Nino terhenti saat Alena menggenggam lengan Raja dan membawanya pergi dari hadapan Nino.


Nino mengepal erat kedua tangannya, menggertakan giginya dengan kuat, sesekali ia menggerakan bola matanya melihat kearah atas untuk membuat air didalam matanya mengering agar tidak terjatuh.


#


Sementara itu.


"Len, terimakasih kau sudah mengantarku ke ruang kesehatan dan kau juga mengobati luka ku, aku benar-benar tidak menyangka tadi kau akan membelaku seperti itu," ucap Raja.


"Hm," jawab Alena singkat.


"Dan maaf tadi aku juga mengatakan bahwa bunga mawar itu adalah permintaan dari mu, aku hanya--"


"Lain kali jangan bersandiwara lagi, karena tidak ada lain kali untuk aku membantu mu !" tegas Alena yang memotong kata-kata Raja.


"Baiklah, maaf Alena," ucapnya penuh penyesalan.


"Aku sudah selesai mengobati luka mu, anggap saja apa yang aku lakukan ini sebagai bentuk permintaan maaf Nino padamu, jadi jangan mencari masalah lagi dengannya !


permisi aku akan kembali kekelas sekarang,"


"Alena tunggu !" seru Raja.


"Kenapa kau harus merepotkan dirimu hanya untuk Nino ?" tanya Raja.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaan mu,"


Raja dibuat kesal dengan tingkah laku dan juga jawaban yang Alena berikan, itu membuat kebencian didalam dirinya semakin besar saja untuk Nino.


(Ternyata lo berdua sedang mencoba bermain-main sama gua, lo bisa melihat nanti Alena apa yang akan gua lakukan pada orang yang sangat lo bela itu !


Nino lo tunggu saja kekalahan lo !) gumam Raja kesal.