
Sementara Yaya membersihkan ruangannya, Nino asik membaca komik seraya duduk diatas sofa disamping tempat tidurnya.
Kemudian seseorang datang membawakan minuman dan makanan ringan untuk menemani mereka belajar.
"Apa yang tengah kamu lakukan Yaya ?" tanyanya.
"Hm, saya hanya tengah membersihkan ruangan tempat saya akan mengajar bu," jawab Yaya dengan tersenyum.
"Tapi itu bukan pekerjaan kamu disini !
tugas kamu adalah mengajari Nino agar dia bisa mendapatkan nilai seperti harapan ayah nya !" serunya seraya mengambil kantong sampah yang ada ditangan Yaya.
"Nino, kamu benar-benar keterlaluan !" teriak sang ibu.
"Keterlaluan bagaimana maksud mama ?
Nino tidak mengerti.
Yang Nino tahu bukankah tempat belajar itu harus bersih ?
dan apa salahnya kalau Nino memanfaatkan pekerja yang mama bayar untuk sekedar membersihkan kamar Nino, lagi pula dia juga tidak keberatan, ia kan ?" ia melayangkan pertanyaan pada Yaya.
"Hm, ia bu Nino benar tempat belajar harus bersih dan nyaman, saya tidak masalah jika harus membersihkannya sebentar sebelum mulai belajar," jawab Yaya seraya menghela nafas panjang, sementara Nino terlihat mengembangkan senyum kemenangan kearah Yaya.
"Nino !" seru ibu nya geram.
"Apa ma ?" tanya Nino santai masih dengan senyum nya yang menyebalkan.
"Mama sudah tidak mengerti lagi dengan sikap mu Nino !
kamu benar-benar tidak pernah memikirkan resiko yang akan mama terima karena sikap mu ini !"
"Kalau begitu Yaya lakukan apa saja yang menurut mu harus kamu lakukan, apa-pun itu saya tidak akan melarang mu, asalkan anak ini bisa sedikit merubah perangainya, saya mempercayakan semuanya pada mu," ucap sang ibu.
"Dan kamu Nino bantu Yaya, agar cepat selesai dan segera mulai pelajarannya !" sang ibu kembali meneriaki Nino.
"Apa-pun itu kalau untuk mu mama akan ku lakukan, sekarang lebih baik mama cepat keluar, kami akan membereskannya dengan segera," jawabnya seraya menggiring ibunya keluar dari dalam kamar, kemudian mengunci pintu kamar itu.
"Kenapa pintunya dikunci ?" tanya Yaya merasa heran.
Nino kembali melangkah menghampiri Yaya, sampai jarak mereka sangat dekat.
"Kenapa, lo takut ?
lo fikir gua akan melakukan hal yang lain sama lo ?" tanya Nino seraya menunjukan jari nya kebagian dada Yaya.
"Maaf tapi gua tidak tertarik, karena bagian-bagian yang ada ditubuh lo terlalu sederhana !" seru Nino lagi.
"Bersikaplah sopan sedikit sama saya Nino, karena saya lebih tua dari kamu !" jawab Yaya.
"Lalu ?
Lo berharap gua akan memanggil lo apa ? kakak ?
ibu ?
oh atau tante ?" tanya Nino sinis.
Yaya membelalakan matanya menatap tajam kearah Nino yang berlalu pergi seraya tertawa menyindir Yaya.
Yaya menarik nafas panjang mencoba menahan emosinya yang hampir saja meledak.
(Sabar Yaya sabar, ini semua demi Alya, dan Alvin) gumamnya dalam hati seraya mengusap perlahan dadanya.
Ia kembali meneruskan pekerjaannya, setelah selesai ia membawa beberapa buku ditangannya.
"Nino ayo mulai belajar," ajak Yaya.
Nino menatap kearah Yaya sebentar lalu kembali fokus ke komik yang tengah ia baca.
"Nino," panggilnya lagi.
Untuk kesekian kalinya Nino tetap mengabaikan ajakan Yaya.
Yaya yang sudah benar-benar kesal pun mendekatinya dan merebut paksa komik yang tengah Nino baca.
"Apa yang lo lakukan !" teriak Nino seraya berdiri sejajar dengan Yaya.
"Kamu tidak mendengar saya bicara, jadi terpaksa saya harus melakukan ini," jawab Yaya.
"Lo siapa ?
kenapa gua harus mendengarkan ucapan lo ?"
"Saya adalah seorang pembimbing yang dibayar orangtua kamu untuk mengajari kamu," jawab Yaya.
"Gua tidak akan pernah mau belajar selain disekolah !
mengerti !" seru Nino membentak, seraya berjalan menuju pintu hendak keluar dari kamarnya.
"Hari ini gua tidak dalam suasana hati yang baik untuk belajar, kembali lah besok, dan berdoa saja semoga besok suasana hati gua membaik !
lo tenang saja, gua akan memberitahukan pada orangtua gua kalau lo sudah menjalankan pekerjaan lo dengan baik, hari ini cukup sampai disini saja, silahkan tinggalkan kamar gua sekarang !" seru Nino seraya membukakan pintu untuk Yaya.
"Tapi Nino, orangtua kamu tidak akan menyewa jasa saya untuk mengajari mu kalau nilai-nilai pelajaran mu itu bagus !
karena nilai mu dianggap kurang baik, maka
itu lah guna saya ada disini, yaitu untuk membuat kamu mendapatkan nilai yang lebih pantas bukan malah jadi pelampiasan amarah kamu !" jelas Yaya.
"Tidak usah banyak bicara !
Pergi !!!" teriak Nino seraya meraih tangan baju Yaya dan memaksanya untuk keluar.
"Nino, saya akan kembali lagi besok, suka atau tidak suka saya akan tetap datang !" teriak Yaya dari luar kamar Nino.
(Apa yang terjadi dengan anak itu sebenarnya ?) tanya Yaya dalam hati.
Saat hendak turun dari lantai 2 kamar Nino, langkah kaki Yaya sempat terhenti saat mendengar dari salah satu ruangan dibawah ada seseorang dengan suara berat tengah memaki dengan kata-kata kasar.
"Apa yang lo lakukan disini !" seru seseorang yang membuat Yaya hampir melompat karena terkejut.
"Bukankah gua sudah meminta lo untuk pergi !"
"Ha ?
saya-- saya," jawab Yaya gugup.
"Saya-saya apa !" teriak Nino.
Nino kembali menyeret Yaya agar segera keluar dari rumahnya, namun ia berhenti saat melihat sang ibu terjatuh dihadapannya.
"Mama !" teriaknya seraya berlari menghampiri sang ibu.
"Ma, mama tidak apa-apa ?" tanya Nino dengan wajah cemas.
"Mama tidak apa-apa Nino, kamu kembali saja kekamar mu dan lanjutkan belajar," jawab ibunya.
"Tidak ma, Nino tidak akan pernah ingin belajar !" seru Nino.
"Lihat !
lihat anak yang kamu besarkan, dia tidak pernah bisa membuat saya bangga !
yang ia bisa hanya membuat masalah, dan membuat saya malu !
sama tidak berguna nya seperti kamu !" maki sang ayah.
"Cukup !" teriak Nino seraya berdiri mendekati sang ayah.
"Anda fikir anda bisa terus melakukan hal ini pada ibu saya !
saya bukan lagi anak kecil yang hanya bisa diam melihat anda memperlakukan ibu saya tidak seperti layaknya seorang manusia !
saya juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan ke ibu saya !
jangan anggap diri anda---"
Belum selesai Nino dengan kata-katanya, sang ibu sudah terlebih dahulu berdiri dan melayangkan tamparan yang cukup keras kewajah Nino.
Sementara Yaya hanya tetap terdiam ditempatnya menyaksikan pertengkaran didalam keluarga itu.
"Jangan tidak sopan pada papa mu Nino !
cepat minta maaf !" seru sang ibu.
"Mama," gumam Nino lirih dan memegangi pipi kanannya.
"Cepat minta maaf !" perintah sang ibu.
"Tidak akan pernah !" jawab Nino seraya pergi keluar dari dalam rumah, yang kemudian disusul oleh Yaya yang mengikutinya dari belakang.
(Kenapa kisah nya hampir mirip dengan Alvin,) gumam Yaya yang masih berjalan dibelakang Nino.
"Lo mengikuti gua ?" tanya Nino yang berhenti tiba-tiba.
"Ha ?
hm, ti-tidak, saya memang mau berjalan pulang, dan kebetulan saja jalannya searah dengan mu," jawab Yaya.
Nino hanya menatapnya sinis dengan menaikan sebelah halis nya.
"Yasudah kalau begitu saya permisi," pamit Yaya.
"Tunggu !" seru Nino kembali menghentikan langkah kaki Yaya.