
Ketika sampai ditempat piknik Yaya dan Alvin terdiam sesaat, sesekali mereka saling tatap dan sesekali mereka juga memperhatikan genggaman tangan Nino dan Alena.
"Erat sekali sepertinya genggamannya," gumam Alvin terkekeh.
"Hm, ini--ini karena gua takut dia akan pergi lagi, akan lebih merepotkan ku nantinya, jadi gua pegang saja tangannya, begitu," jelas Nino yang dengan cepat melepaskan genggaman tangannya pada Alena.
"Begitukah ?
bukan karena lo takut dia akan lari lagi dari hati lo ?" goda Alvin.
"Lo cari gara-gara lagi !" seru Nino.
"Alvin sudah cukup !" Yaya menghentikan keisengan Alvin pada Nino.
"Dari mana saja kalian berdua ?" tanya Yaya.
"Dari mobil menjemput dia, bagaimana aku hebatkan Yaya bisa bawa dia kemari tanpa Paksaan," ucap Nino membanggakan dirinya dihadapan Yaya, sikap Nino membuat Alena jengkel dan pandangannya semakin tajam melihat kearah Nino.
"Bagus kalau begitu, terimakasih banyak Nino karena sudah berhasil membujuk Alena untuk bergabung dengan kita disini," ucap Yaya.
"Alena mari duduk disebelah ku, dan kita mulai makan siang, kau pasti sudah lapar, kan ?" tanya Yaya.
Alena tetap diam, ia sepertinya enggan menjawab Yaya.
Ketika semua duduk ditempat masing-masing Alena lekat memperhatikan Yaya yang dengan telaten dan cekatan melayani Alvin, hal ini membuatnya semakin merasa tidak nyaman berada diantara mereka.
"Alena mari makan," ajak Yaya.
Alena diam dan memalingkan wajahnya.
"Heh lo dengar tidak Yaya bicara ?" tanya Nino berbisik seraya sedikit mencubit kaki Alena, ia hanya membelalakan matanya menjawab Nino.
"Makan saja, jangan perdulikan aku, aku tidak lapar," jawabnya.
Namun suara perutnya tidak bisa berbohong, semua orang disana tersenyum tipis saat mendengar suara menyedihkan dari perut Alena.
"Lapar bilang lapar, tidak usah bersikap sombong seperti itu, sikap lo itu tidak bisa membuat perut lo berhenti bernyanyi, suaranya sangat mengganggu," goda Nino.
"Diamlah bukan urusan mu !"
"Dasar kau anak manja," umpat Nino lagi.
"Nino hentikan, jangan bersikap kekanakan seperti itu, mungkin Alena hanya belum terbiasa saja makan bersama kita," timpal Yaya.
"Berhenti membela, aku tidak membutuhkannya !"
"Alena jaga sikap mu !
kau mau makan atau tidak itu terserah padamu saja !" seru Alvin kemudian.
"Sudah-sudah, aku ambilkan kau nasi dan lauk-pauknya ya, kau harus mencicipi masakan ku," ucap Yaya seraya membawa piring Alena untuk mengisinya.
"Makanlah," ajak Yaya lagi.
Kali ini Alena menyerah ia mengangkat sendok didepannya dan mulai menyuap makanan yang Yaya berikan untuknya.
"Apa benar kau yang memasak ini ?" tanya Alena.
"Tentu saja, kenapa ?
apa ada yang salah dengan makanannya ?
atau mungkin tidak cocok untuk lidah mu ?" tanya Yaya khawatir.
"Hm, biasa saja," jawabnya singkat.
(Entah wanita ini benar-benar tulus baik padaku, atau hanya ingin pamer didepan Alvin dan Nino saja ?
tapi rasa masakannya ini benar-benar mengingatkan ku pada mama,) gumam Alena dalam hati.
#
Keesokan harinya.
"Pagi mas Alvin," sapa Alena.
"Pagi non," jawabnya.
"Hm, mas maafkan sikap ku yang keterlaluan selama ini ya,"
"Istriku sudah memaafkan mu, itu artinya aku juga tidak punya alasan untuk tidak memaafkan mu Alena,"
"Iya terimakasih mas,"
"Kenapa kau murung ?
apa yang tengah kau fikirkan ?" tanya Alvin yang melihat Alena dari kaca didepannya.
"Sebenarnya, makanan yang aku makan kemarin mengingatkan ku kembali pada mama ku mas, rasa dan teksturnya sangat mirip dengan masakan mama ku," jawabnya.
"Tidak apa-apa mas, aku hanya ingin bertanya bisakah dia mengajariku memasak ?" tanya Alena.
"Ha ?
kau ?
memasak ?" tanya Alvin terkejut tidak menyangka.
"Kalau tidak bisa, tidak apa-apa mas, lupakan saja, fokuslah pada perjalanan," jawabnya ketus.
"Alena jangan mudah tersinggung begitu tidak baik.
Baiklah aku akan menanyakannya pada Yaya,"
Mendengar jawaban Alvin Alena berpaling dan menyembunyikan senyum bahagianya.
#
Sesampainya disekolah.
Semua orang berkerumun didepan papan pengumuman, Alena yang malas dengan keramaian pun mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya kekelas.
"Alena-Alena !!!" teriak seseorang yang berlari kearahnya dari dalam kerumunan itu.
"Wita, kenapa kau berteriak ?"
"Kenapa kau tidak ikut melihat pengumuman itu ?" tanya gadis mungil berparas ayu itu dengan nafas terengah.
"Terlalu ramai, tidak akan bisa menyelinap masuk juga," jawabnya malas.
"Hm, yasudah kalau begitu aku saja yang akan memberitahu mu, minggu depan sekolah kita akan mengadakan karyawisata, yey," jelas Wita bersemangat.
"Karyawisata ?" gumam Alena.
"Iya karyawisata, dan kelas kita akan pergi kepantai lalu kita akan bermalam ditepi pantainya, seru sekali bukan ?"
"Biasa saja," jawabnya seraya melangkah pergi.
"Alena tunggu, bagaimana kau akan ikut, kan ?"
"Tidak,"
"Ikutlah, jika kau tidak ikut apa itu artinya kau tega membiarkanku satu tenda dengan gadis-gadis centil dikelas kita itu Len," ucapnya memasang wajah muram.
"Iya kalau begitu kau--" kata-kata Alena terputus karena ada yang menimpalinya.
"Anak manja macam dia, tidak mungkin bisa tidur diluar rumah, karena dia itu akan selalu bersembunyi dan tidur diketiak papa nya, jadi Wita mending lo membiasakan diri untuk berteman dengan anak-anak lainnya," ucap suara itu dari arah belakang Alena.
"Apa maksudmu !" seru Wita.
"Wita cukup, aku akan ikut pergi," jawab Alena tanpa melihat orang yang masih berdiri dibelakangnya, ia pun segera berlalu pergi, menyisakan senyum tipis diujung bibir Nino.
Dikelas.
Semua orang mengumpulkan formulir pendaftaran dimeja Alena.
Nino berdiri tepat disamping Alena yang tengah duduk dikursinya, tiba-tiba saja seseorang berlari dan membuat Nino kehilangan keseimbangannya, ia pun terjatuh dan tidak sengaja menyentuh area sensitif Alena.
Alena menatap marah padanya, sementara Nino hanya terpaku melihat kedalam mata Alena kemudian tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Kecil," gumam Nino seraya berlalu pergi.
"Kau !" teriak Alena kesal.
Nino hanya melambaikan tangan berjalan memunggungi Alena.
#
Sepulang sekolah Nino bergegas pulang dan kembali belajar dengan pembimbing kesayangannya.
"Apa soal itu terlalu mudah sampai kau tersenyum seperti itu ?" tanya Yaya yang merasa aneh melihat Nino tersenyum menatap buku soalnya.
"Siapa yang tersenyum, aku tidak senyum, kau salah lihat saja," jawabnya berdalih.
"Aku masih bisa melihat dengan sangat jelas Nino, ayo ceritakan padaku apa yang membuat mu tersenyum malu seperti tadi, jangan-jangan kau tengah mengingat seseorang ?"
"Tidak, aku tidak mengingat siapa-siapa, hanya tengah memikirkan kejadian lucu saja,"
"Hm, baiklah jika kau tidak ingin cerita, tapi jika kau tengah jatuh cinta beritahu aku, aku akan mengajarimu bagaimana caranya mendekati seorang gadis,"
"Kenapa aku harus memberitahu mu sementara kau tahu orang yang aku sukai itu kamu,"
"Nino suka, dan cinta itu adalah dua hal yang berbeda, kau bisa menyukai setiap orang tapi kau tidak bisa mencintai semua orang,"
Nino terdiam, meletakan pena nya, dan menatap Yaya dengan kedua alisnya yang hampir menyatu.