
"Maaf," gumam Nino.
"Apa ?
kau bicara apa ?"
"Gua bilang, gua minta maaf untuk hal keterlaluan yang gua lakukan sama lo dimasa lalu," ungkap Nino penuh penyesalan.
"Maaf ?
kau kira dengan hanya satu kata maaf dari mu itu bisa mengembalikan kehidupan masalalu ku ?
asal kau tahu Nino setiap aku melihat wajah mu itu, luka lama yang kau buat kembali terbuka, dan semakin lama membuat ku semakin membenci mu !"
"Lalu apa yang bisa gua lakukan agar lo bisa memaafkan kesalahan gua dimasalalu ?"
"Kalau begitu, pertemukan aku dengan istrinya Alvin !" tegas Alena.
"Ha ?"
Alena tersenyum sinis diujung bibirnya, saat melihat wajah Nino yang terkejut.
"Kenapa terkejut ?"
"Jadi benarkan dugaan gua, lo memang mempunyai niat jahat pada Yaya !"
"Nino, Nino, jangan munafik, kau dan aku, kita mempunyai misi yang sama, kau menyukai Yaya, kan ?
mari bekerjasama untuk mendapatkan apa yang kita inginkan,"
Nino terdiam dengan pandangan lekat menatap Yaya.
"Kau diam, itu artinya kau setuju bekerjasama dengan ku.
Kalau begitu aku pergi dulu,"
"Tunggu !" teriak Nino.
"Ada apa lagi ?"
"Gua tidak akan membiarkan lo menyakiti Yaya, gua memang menyukai Yaya, tapi gua tidak ingin memaksanya untuk menyukai gua juga !"
"Terserah jika kau ingin merasakan sakitnya hanya dianggap sebagai seorang adik, atau mungkin hanya sekedar teman, maka aku tidak akan memaksa mu lagi, tapi sekarang fikirkan baik-baik dulu tawaran ku !" tegas Alena masih dengan senyum sinisnya seraya pergi meninggalkan Nino.
(Siapa yang gua hadapi kali ini sebenarnya ?
kenapa sifatnya jauh berbeda dengan Alena yang gua kenal dulu ?) gumam Nino.
##
Siang harinya.
"Ma tolong jaga Alya, Yaya harus pergi bekerja,"
"Memang Alvin sudah datang menjemput mu ?" tanya sang ibu mertua.
"Hm, Yaya pergi diantar teman ma,"
"Siapa teman mu nak ?
dia seorang wanita, kan ?"
"Ha ?
i-iya ma," jawabnya gelagapan.
"Yasudah kalau begitu hati-hati Yaya,"
"Baiklah ma,"
#
Ketika kelua, sebuah mobil putih sudah terparkir didepan rumah itu, Yaya tersenyum melihatnya dan segera masuk kedalam mobil.
"Hai Fell, apa kau sudah datang dari tadi ?" tanya Yaya menyapa.
"Tidak, aku juga baru saja sampai,"
"Maaf Fell aku merepotkan mu,"
"Aku sama sekali tidak pernah merasa direpotkan oleh mu Yaya, malah aku senang karena bisa membantu mu,"
"Dimana Ocha ?"
"Hm dia masih ada kuliah siang ini Ya," jawab Fellix ragu.
"Oh,"
Diperjalanan menuju rumah tempat Yaya bekerja, beberapa kali terdengar suara ponsel Fellix berdering.
"Fell, kenapa kau tidak mengangkat ponsel mu ?" tanya Yaya.
"Ahh tidak penting Ya, ini hanya teman ku yang kurang kerjaan," jawabnya.
"Oh,
tapi itu bunyi lagi Fell, angkat saja siapa tahu penting," ucap Yaya.
"Biarkan saja Ya, tidak penting,"
"Yasudah.
Hm tapi aku benar-benar tidak mengganggu waktu mu, kan Fell ?
aku jadi merasa tidak enak,"
"Kalau tidak enak jangan kau makan Ya, haha"
"Aku serius Fell !"
"Aku juga serius, kamu tidak pernah mengganggu waktu ku Yaya, dari dulu sampai sekarang aku masih sama, perasaan ku pun masih sama,"
"Maksudnya ?" tanya Yaya heran.
"Kau pasti mengerti apa maksud ku tanpa harus ku perjelas lagi Yaya,"
"Fell--"
"Sudahlah Yaya aku tahu apa yang akan kau katakan.
Lebih baik kau duduk diam dan aku akan mengantar kemana pun tujuan kamu !" tegas Fellix.
"Hm, baiklah,"
##
Sesampainya didepan rumah Nino.
"Terimakasih Fell sudah mengantarkan aku ketempat kerja," ucap Yaya.
"Iya sama-sama Yaya,"
"Aku turun ya,"
Ketika Yaya sudah menutup pintu mobil, Fellix juga keluar, dan kembali memanggilnya.
"Tunggu dulu Ya,
hm, bolehkah aku menjemput mu lagi setelah kau selesai mengajar ?"
"Tidak perlu Fell, karena sepertinya aku akan lama,"
"Aku tidak keberatan kapanpun kau selesai mengajar aku akan menjemput mu,"
"Tidak usah repot-repot mas, karena saya yang akan mengantarnya pulang," sambung seseorang yang tiba-tiba datang mendekati mereka.
"Siapa kau ?" tanya Fellix.
"Siapa aku, apa itu penting untuk mas ketahui ?" tanya balik Nino dengan wajah menantang.
"Kau !" seru Fellix yang sudah mulai kesal.
"Fellix Nino cukup !
kalau kalian tidak bisa berkenalan secara baik-baik, apa perlu aku yang memperkenalkan kalian berdua !
jangan bersikap kekanak-kanakan !" teriak Yaya.
Mendengar Yaya yang mulai berteriak Fellix akhirnya mengalah dan mulai mendahului mengulurkan tangannya pada Nino.
"Saya Fellix, sahabat Yaya," ucapnya
"Nino, anak murid Yaya," jawab Nino tanpa menyambut tangan Fellix.
"Fell, kau tidak perlu menjemput ku nanti, aku bisa pulang sendiri, sebaiknya kau lebih perbanyak waktu bersama Ocha, jangan sampai kau mengabaikannya, apa lagi menyakitinya, ingat Ocha itu sahabatku !" tegas Yaya.
"Hm, baiklah.
Kalau begitu aku permisi pergi Yaya," pamit Fellix.
"Iya, hati-hati dijalan, dan sampaikan salam ku pada Ocha,"
Fellix hanya tersenyum dan mengangguk, sementara saat melihat Nino ia melayangkan tatapan sinis sebelum ia masuk kedalam mobilnya.
Setelah Fellix pergi, tanpa menunggu Nino lagi, Yaya sudah terlebih dahulu masuk kedalam rumah.
"Yaya tunggu Yaya, kenapa lo berjalan sangat cepat, memangnya kau sedang dikejar siapa ?"
"Diamlah Nino !
sebaiknya kau jangan banyak bicara, dan cepat kerjakan soal yang sudah ku siapkan untuk mu !
kalau ada satu soal saja yang salah aku akan memberikan mu lebih banyak soal lagi !"
"Hm, baiklah," jawab Nino malas.
"Yaya, boleh gua tanya sesuatu ?"
"Tanya saja," jawab Yaya seraya membaca buku ditangannya.
"Bagaimana kabar lo dengan suami ?"
"Baik-baik saja,"
"Yakin ?"
"Nino !
sebenarnya apa yang ingin kau ketahui ?"
"Jangan marah Yaya, gua hanya ingin menghibur lo jika memang dibutuhkan,"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja,"
"Baguslah kalau memang begitu,"
(Sepertinya anak ini ingin menyampaikan hal yang lain,) gumam Yaya dalam hati.
"Nino, ada apa ?" tanya Yaya lembut.
"Hm, sebenarnya, sebenarnya," ucapnya mengulang kata.
"Sebenarnya apa ?"
"Sebenarnya, gua mengenal Alena sejak lama," ungkapnya dengan cepat.
"Lalu ?" tanya Yaya seolah tidak terlalu perduli.
"Kau tidak marah ?"
"Kenapa harus marah ?"
"Bukankah gua sudah menutupi kenyataan kalau gua ternyata mengenal Alena ?"
"Kalian satu sekolah, sudah pasti kalau kalian saling mengenal, kan ?"
"Hm, iya,"
"Tapi Yaya,"
"Apa lagi Nino ?" tanyanya dengan nada jengkel.
"Alena ingin bertemu dengan lo,"
Yaya yang terkejut akhirnya berhenti membaca bukunya dan menutup buku itu saat Nino selesai bicara.
"Kalau lo tidak ingin bertemu juga tidak apa-apa Ya, sudahlah lebih baik abaikan saja ajakannya, jangan terlalu difikirkan,"
Nino merasa bersalah saat melihat Yaya terdiam dengan tatapan kosong, ia sangat faham dengan apa yang tengah dirasakan oleh Yaya saat ini.