Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 44



"Hm, baiklah-baiklah, sebaiknya aku mengerjakan soal ini saja, teori mu soal cinta terlalu sulit, aku tidak bisa menemukan rumus dan memecahkan jawabannya, sangat membosankan," gerutunya.


#


Hari karyawisata pun akhirnya tiba.


Bus sudah parkir didepan gerbang sekolah, semua anak sudah bersiap dengan barang bawaannya masing-masing.


"Pagi Alena !" teriak Wita.


"Pagi, Wit kau tidak salah membawa koper ?" tanya Alena.


"Tentu saja tidak, aku membutuhkan semua pakaian yang ada didalam koper ini, jangan salah aku juga sudah membawa kamera, aku akan mengambil banyak foto untuk memenuhi sosial media ku," jawabnya penuh semangat.


"Dan kau, hanya membawa tas ransel kecil ? apakah baju yang kau bawa akan cukup ?"


"Tentu saja, bukankah kita disana hanya dua hari, tidak berminggu-minggu !" tegas Alena.


Wita sedikit kesal, dan merajuk pada Alena.


"Sudahlah ayo naik," ajak Alena.


"Aduh-aduh," rengek Wita.


"Kau kenapa ?"


"Perut ku tiba-tiba sakit, sepertinya aku harus pergi kekamar mandi dulu.


Alena bisa tidak kau membawakan barang-barangku ke bus ?" pintanya.


"Hm, jangan terlalu lama, supir bus nya tidak akan menunggu satu murid cerewet seperti kamu !" seru Alena.


"Baiklah," jawabnya seraya berlari pergi.


Alena pun kemudian berjalan mendekati bagasi bus, cukup sulit untuknya mengangkat koper Wita yang cukup berat itu.


"Dasar anak manja, lo kira kita akan berlibur sampai bertahun-tahun, kah ?


sampai harus bawa koper dan ransel segala, berlebihan sekali, kenapa tidak sekalian saja lo bawa papa lo untuk ikut," ledek Nino yang baru saja datang dan berdiri tepat disampingnya.


Alena hanya menatapnya kesal tanpa menjawab sepatah katapun, ia kembali berusaha mengangkat koper itu untuk memasukannya kedalam bagasi, melihat Alena tidak menghiraukannya membuat Nino merasa kesal.


Nino pun membantunya memasukan koper itu.


Alena terdiam, mereka saling tatap, tidak ada senyum atau ekspresi berarti yang terlihat dari wajah keduanya.


"Tidak kah lo mempunyai sedikit sopan santun pada orang yang telah membantu lo," ucap Nino.


"Alena, terimakasih sudah membawakan koper ku !" teriak Wita yang baru saja berlari mendekati mereka.


"Kau datang tepat pada waktunya Wita, sebaiknya kau ucapkan terimakasih pada dia, karena dia yang telah membantu mu bukan aku," jawab Alena.


"Ha ?" Wita bingung dengan suasana mencekam disekitarnya.


"Tidak usah bingung Wit, kau hanya perlu mengucapkan terimakasih pada tuan yang gila pengakuan seperti dia," jelas Alena lagi.


"Hm, baiklah terimakasih No sudah membantu ku membawakan koper ku," ucap Wita kemudian.


"Ayo naik," ajak Alena, tidak lupa sebelum pergi ia meninggalkan senyum sinisnya untuk Nino yang terlihat tengah menahan kekesalannya.


Didalam bus semua orang bernyanyi dengan riang, sementara Nino masih menahan emosinya dan melihat kearah tempat Alena dan Wita duduk yang berada tepat berseberangan dengan tempatnya duduk.


Tidak lama datang seseorang yang Nino tidak kenal menghampiri Wita dan membisikan sesuatu padanya, tidak tahu apa yang ia katakan sampai membuat Wita rela bertukar tempat duduk dengan laki-laki itu, namun Alena sepertinya tidak begitu perduli dengan apa yang tengah terjadi.


"No lo mau ?" tanya Doni seraya menawarkan makanan ringan pada Nino.


Nino menerimanya dan meremasnya dengan kuat.


"No lo kenapa ?" tanya Doni.


"Ha ?


hm tidak apa-apa," jawab Nino sekenanya.


"No bukankah itu Raja, anak kelas lain ?" tanya Doni.


"Benarkah ?


"Ngaco lo, dia itu Raja, gua dengar-dengar semenjak Alena masuk kesekolah kita, dia memang sudah mengincar Alena, dia itu benar-benar pemain, hampir setiap kelas ada saja yang ia pacari, memang beruntung sekali bisa punya wajah setampan dia, betul tidak No ?"


"No !" teriak Doni yang melihat Nino melamun menatap Raja.


Teriakan Doni berhasil membuat Alena melirik sebentar kearah mereka.


"Lo kenapa berteriak !" gumam Nino kesal.


"Haha maaf-maaf, gua hanya takut lo kerasukan, soalnya lo diam saja dari tadi, lo melihat Raja seperti lo hendak menelannya hidup-hidup saja.


Sudahlah No jangan iri padanya, lo juga tampan, tapi sayang saja lo tidak pernah memanfaatkan kelebihan lo itu seperti Raja," jelas Doni.


"Tutup mulut lo Don, jika tidak gua yang akan menutupnya dengan sepatu gua !" seru Nino.


"Baiklah-baiklah, kalau begitu kembalikan makanan gua, dari pada hancur terbakar api cemburu," ledek Doni dengan tawa kecil.


Nino mencoba mengabaikan dua orang disampingnya, dan mengalihkannya dengan cara mendengarkan musik diponselnya dengan earphone yang ia bawa.


"Alena kau ingin makanan ringan ?" tanya Raja.


"Tidak terimakasih,"


"Hm, Len aku anak kelas sebelah nama ku Raja, seharusnya hari ini aku ikut kelas ku mendaki, tapi aku lebih memilih kepantai karena disana ada kamu," jelasnya.


"Hm," jawab Alena singkat seolah tidak begitu perduli dengan apa yang Raja jelaskan.


"Alena, bisa aku meminta nomor ponselmu, agar lebih mudah berkabar ?"


"Kau bisa memintanya pada Wita, bukankah kau mengenalnya ?"


"Hm, baiklah kalau begitu.


Len--"


"Bisa tidak kau biarkan aku tidur sebentar ?" tanya Alena yang memotong kata-kata Raja.


"Oh, maaf-maaf, silahkan istirahatlah, aku tidak mengganggu mu, aku hanya akan menjagamu saja," jawabnya.


Alena terus mengabaikan Raja tidak memperdulikannya, bahkan menganggapnya tidak ada.


#


Sesampainya ditepi pantai, semua orang bersiap saling bantu mendirikan tenda mereka masing-masing.


"Aku menyerah Len, aku tidak tahu cara mendirikan ini !" rengek Wita terus menerus.


"Berhentilah mengeluh, bukankah kau yang paling bersemangat untuk ikut acara ini !" teriak Alena kesal.


"Len, jangan marah," rayunya.


"Diamlah dan bantu aku !" tegas Alena.


"Jika tidak bisa mendirikan tenda, maka gunakanlah mulut lo itu untuk minta tolong pada orang lain, jangan pentingkan keegoisan lo dan membuat teman lo menderita karena kesombongan lo itu !" seru Nino.


Alena tidak menjawabnya dan terus melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan.


"Wit, bantu aku pegangi ini, aku akan memukulnya," pinta Alena.


Sementara Nino hanya sibuk memperhatikan mereka dengan kedua tangannya bersedekap.


Alena sudah siap dengan palu ditangan kanannya dan tangan kiri serta tangan Wita memegangi patok yang akan jadi sasarannya.


Alena salah memperhitungkan tempat jatuhnya palu, sampai palu itu mengenai tangannya dan juga Wita.


"Aw !!!" teriak Wita.


Nino yang terkejut pun dengan cepat menghampiri Wita dan memeriksa keadaan tangannya, sementara Alena sibuk menyembunyikan tangannya yang juga terkena palu, bahkan jauh lebih parah dari luka yang di derita Wita.


"Lo lihat perbuatan lo menyebabkan teman lo sendiri terluka !


teman macam apa lo ini !


berikan palu itu, biar gua yang mengerjakannya !" seru Nino.


Alena tetap menyembunyikan palu itu dan menggenggamnya dengan erat dibelakang tubuhnya, tidak hanya itu Alena juga berusaha menyembunyikan rasa sakit ditangan dan juga hatinya.