Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E' iLu 07



"Ya, ayo bangun sebentar kita perlu bicara, katakan apa yang membuat kamu bisa bersikap seperti ini ?


tolong jangan terus menguji kesabaran ku, aku sudah menahan emosi ku dari tadi siang," ucapnya dengan lembut seraya mengusap-usap bahu Yaya.


"Hentikan Vin, aku sudah mengatakan bahwa aku baik-baik saja, dan aku sedang tidak ingin membicarakan apa-pun dengan mu, saat ini aku hanya ingin tidur," jawab Yaya.


(Kita lihat kalau kau memang baik-baik saja, apa jika aku melakukan ini kau akan tetap bersikap biasa) gumam Alvin dalam hati.


Kemudian Alvin berusaha menggoda Yaya dengan mencium leher bagian belakang Yaya, dan tangannya pun mulai bergerak meraih jemari tangan Yaya.


"Vin diam, aku mengantuk !" seru Yaya.


Namun Alvin tidak mengindahkannya, ia tetap terus berusaha menggoda Yaya, sampai akhirnya bom waktu yang Alvin nantikan pun meledak juga.


Yaya bangun dari posisi tidurnya, duduk menghadap Alvin kemudian mulai meluapkan kemarahannya dengan meneriaki Alvin.


"Aku bilang diam-diam !


aku mengantuk apa kamu tidak mengerti dengan bahasa ku !" teriak Yaya.


"Tidak, aku tidak ingin mengerti dengan bahasa orang yang terus bersikap dingin pada ku !


sekarang katakan apa mau mu !"


"Kamu ingin tahu ?"


"Iya," jawab Alvin singkat.


"Baiklah kalau begitu !


Aku benci sifat kamu yang tidak pernah tegas !


aku benci ketika kamu memintaku mengambil keputusan !


aku benci harus berpisah dengan anak ku, walaupun aku bisa kapan pun menemuinya, tapi itu akan sangat jauh berbeda saat dia berada disini Vin !


aku membenci diriku sendiri Vin !


apa kamu mengerti !" teriak Yaya menjelaskan.


"Lalu kenapa kamu harus menyetujuinya kalau nyatanya kamu membencinya Yaya ?"


"Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk menolak permintaan papa Vin, aku tidak tahu caranya !


yang aku tahu hanya hidupnya akan jauh lebih baik jika dirawat oleh mama, itu saja, sebegitu tidak berguna nya aku sebagai ibu Vin, sampai aku tidak mampu merawat anak ku dengan tangan ku sendiri," jawabnya dengan suara terisak.


"Secara tidak langsung pula kamu ingin mengatakan bahwa aku juga tidak berguna begitukah ?


kalau begitu ayo kembali kerumah papa, dan kita bawa Alya bersama kita lagi !"


"Aku tidak bermaksud bicara seperti itu Vin, dan jangan bercanda Vin, papa mama akan sangat sedih jika kita membawa Alya saat ini juga, lagi pula kita belum punya apa-apa untuk membiayainya,"


"Lalu mau kamu apa ?"


"Aku tidak akan kembali kuliah, kalau kamu ingin kita hidup bertiga disini, maka biarkan aku membantu kamu bekerja, kita kumpulkan biaya untuk meyakinkan papa dan mama bahwa kita mampu membuat Alya layak hidup bersama kita berdua," jawab Yaya.


Alvin terdiam merenungi semua kata-kata Yaya, ia yang merasa bersalah pun segera meraih tubuh Yaya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Intinya kamu ingin menyalahkan ku, kan ?


karena aku membawa mu keluar dari rumah papa," tanya Alvin.


"Maafkan aku sayang, aku hanya tidak ingin ada campur tangan orang lain dalam mengurus rumah tangga ku, aku hanya ingin dikenal sebagai Alvin yang berhasil membahagiakan keluarga kecilnya, dan kamu tenang saja, aku akan bekerja keras agar Alya bisa bersama kita lagi, lalu kamu bisa merawatnya dengan tangan mu sendiri, maafkan aku yang terlalu mementingkan ego ku sendiri, maaf," ucap Alvin dengan suara lirih, masih didalam pelukan Yaya.


"Vin, kamu menangis ?" tanya Yaya seraya mencoba melihat wajah Alvin, namun Alvin memperkuat rangkulannya sehingga membuat Yaya kesulitan untuk melepaskannya.


"Jangan lepaskan sayang, aku hanya ingin memeluk mu sebentar lagi," jawab Alvin.


"Vin, aku tahu niat kamu sangat baik, dan aku sangat mengerti itu, orang yang seharusnya meminta maaf itu adalah aku Vin, mungkin aku terlalu terbawa suasana karena dari Alya lahir sampai hari ini, baru kali ini kita terpisah, makanya aku bersikap seperti ini,"


"Aku faham," jawab Alvin.


Kali ini Alvin menuruti perintah Yaya dan duduk saling berhadapan, ketika itu pula Yaya mengacungkan jari kelingking kearah Alvin.


"Maaf karena sudah mendiamkan kamu dari sore sampai detik tadi," ucap Yaya seraya tersenyum.


Alvin pula ikut tersenyum dan membalasnya dengan mengaitkankan jari kelingkingnya.


"Berhenti menangis, mana Alvin yang sok kuat selama ini, kenapa jadi lemah seperti ini, kalau Alya sampai tahu ayah nya menangis, memangnya kamu tidak malu ?" tanya Yaya menggodanya.


"Diam berisik," jawab Alvin seraya tersenyum.


"Oh iya tadi kamu mengatakan ingin membantu ku bekerja ?


lebih baik jangan Ya, tidak perlu, biar aku saja yang bekerja,"


"Tidak Vin, kita harus berjuang bersama, kalau kamu tidak memberiku izin, maka aku akan kembali kerumah papa walaupun tanpa kamu !" seru Yaya.


"Hm, ancaman mu sangat tidak bermutu ! maka baiklah lakukan, tapi jika aku sudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, aku minta kamu untuk diam dirumah mengurus aku dan Alya, setuju ?"


"Tentu saja aku sangat setuju sayang," jawabnya dengan cepat.


"Pintar !


Oh iya, Yaya karena kita cuma berdua, bagaimana kalau kita melanjutkan yang semalam, ayo ?"


"Vin, aku mau tidur ah lelah, besok saja jangan sekarang," jawab Yaya seraya kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya lagi, sementara Alvin hanya tersenyum kemudian ikut tidur disebelahnya.


#


Beberapa hari kemudian Yaya terlihat senyum-senyum sendiri seraya menatap ke layar ponselnya hingga membuat Alvin yang penasaran langsung merebut ponsel yang tengah Yaya pegang.


"Alvin kembalikan ponselku !" seru Yaya.


"Sebentar, aku hanya ingin tahu kamu sedang menghubungi siapa sampai senyum-senyum tidak jelas seperti itu !"


Yaya tidak lagi menjawabnya, ia hanya membiarkan Alvin memeriksa ponselnya dengan tenang.


"Oh, sedang berkerim pesan dengan Ocha," ucap Alvin seraya mengembalikan lagi ponsel Yaya.


"Apa yang tengah kalian bahas ?" tanya Alvin.


"Memang kamu tidak membacanya ?"


"Tidak, ponsel itu adalah area pribadi kamu,tapi karena sikap mu mencurigakan makanya aku hanya ingin tahu kamu sedang mengobrol dengan siapa, itu saja," jawab Alvin.


"Hm, jadi begini Vin, kemarin aku meminta Ocha untuk membantuku mencari pekerjaan, dan hari ini dia memberi kabar bahwa mulai besok aku sudah diterima bekerja, seperti itu," jelas Yaya.


"Dimana ?


dan pekerjaan macam apa itu ?"


"Ocha sudah mengirimi alamat tempat ku bekerja juga Vin, dan aku akan kembali mengajar,"


"Mengajar siapa ?


anak umur berapa ?


dan apa anak itu punya kakak laki-laki atau apa ayah anak itu masih muda ?" tanya Alvin.


"Banyak sekali pertanyaan mu Vin," protes Yaya.


"Aku harus tahu istri ku akan bekerja dengan siapa, dan kamu jawab saja pertanyaan ku !"


"Baiklah-baiklah, pertama aku belum tahu siapa nama anak itu, tapi yang jelasnya aku akan mengajari seorang anak SMA, lalu selanjutnya aku tidak tahu apa dia punya kakak laki-laki atau ayah yang masih muda, tapi besok aku akan memberitahukan jawabannya padamu setelah aku mulai bekerja, bagaimana ?" tanya Yaya.


"Hm," jawab Alvin singkat.


Mendengar Yaya akan mulai bekerja membuat Alvin seperti seseorang yang kebakaran jenggot, karena tiba-tiba saja yang melintas difikirannya adalah kata-kata Felix waktu itu, namun ia pula tidak bisa bersikap terlalu mengekang terhadap Yaya, karena itu akan memicu keributan lagi diantara mereka berdua.