
"Tapi wanita itu mengatakannya sendiri padaku dengan sangat yakin, bahwa ia akan merebut mu dari ku, dia mengatakannya seolah mengambil hati mu itu sangat mudah untuknya, sebenarnya apa yang sudah kau berikan padanya sampai ia bisa memiliki keyakinan sebesar itu Vin ?"
"Aku tidak pernah memberikan apa-pun pada anak itu, aku hanya mengerjakan semuanya sesuai dengan tugasku.
Yaya tolong percayalah, aku tidak mungkin berkhianat !"
"Aku ingin memberikan kepercayaan yang kau minta Vin, namun kata-katanya terus mengganggu fikiranku, sampai membuatku takut jika suatu saat nanti ia berhasil mewujudkan semua yang ia katakan, menurutmu apa aku egois jika aku mengatakan bahwa saat ini aku takut kehilangan kamu Vin ?"
"Tidak, tidak sayang, kau tidak perlu mempunyai ketakutan seperti itu, karena percayalah secantik apa-pun wanita yang mendekatiku, wanita milikku jauh lebih cantik, kau dan Alya adalah hidupku, bahkan demi kalian aku yang tidak pernah bekerja sebelumnya, rela menyampingkan harga diriku hanya agar aku bisa memberimu makan dari hasil keringatku sendiri, tapi aku tidak pernah berfikir akan seperti ini jadinya.
Aku akui semua masalah ini berasal dari aku yang memaksa mu untuk keluar dari rumah papa, maafkan aku,"
"Aku mengerti niat baik mu Vin,"
"Lalu apakah sekarang kita baik-baik saja ?" tanya Alvin penuh harap.
"Hm, aku tidak begitu yakin, tapi jika kau bisa tegas pada wanita itu, mungkin aku akan mempertimbangkannya,"
"Apa itu artinya hatimu yang membatu sudah mulai kembali terkikis ?"
"Kau mengejekku ?"
"Tidak, aku tidak berani mengejek tuan putri keras kepala, nanti yang ada wajahku babak belur, akan hilang ketampananku," jawab Alvin dengan senyum yang perlahan mengembang dari bibirnya.
"Aku malah berharap kau kehilangan ketampanan mu itu !"
"Kenapa begitu ?"
"Masih berani tanya kenapa !"
"Baiklah baiklah aku faham, tenang saja sayang mulai besok aku akan membuat tanda didahiku,"
"Tanda apa ?"
"Tulisan bahwa Alvin milik Yaya, agar tidak ada lagi yang berani mendekatiku,"
"Kekanak-kanakan !"
"Biar saja, yang terpenting istriku akan merasa damai dan tenang dimanapun aku berada, benarkan ?"
"Terserah,"
"Ahh aku pusing, sepertinya aku akan pingsan,"
"Apa kau sakit ?"
"Iya aku sakit,
sakit jika tidak melihat senyuman istriku sehari saja,"
"Tidak lucu,"
"Ayolah sayang, beri aku senyuman, karena senyuman mu itu candu, membuatku ketagihan dan ingin melihatnya terus, terus dan terus,"
"Alvin hentikan kata-kata mu semakin membuatku pusing," gerutu Yaya seraya menyembunyikan senyumnya.
"Akhirnya Alvin kau berhasil mendapatkan kembali kehidupan mu, haha," Alvin meloncat kegirangan.
"Hentikan Vin, suaramu akan membangunkan seisi rumah ini lagi,"
Alvin tidak menghiraukan kata-kata Yaya, ia hanya dengan cepat memeluk erat tubuh Yaya, kemudian mengecup lembut bibirnya.
Disaat mereka larut dalam kehangatan malam itu, ponsel Alvin terdengar nyaring berdering, memecah kemesraan diantara mereka.
"Siapa yang menghubungi mu malam-malam begini ?" tanya Yaya melepaskan diri dari cengkraman Alvin.
"Tidak tahu, mengganggu saja !"
Ketika ia mengetahui nama yang tertera diponselnya, Alvin spontan menatap Yaya yang juga melihat ponsel Alvin.
"Sayang," gumam Alvin.
"Angkat saja, bagaimanapun juga kau masih bekerja untuknya,"
Alvin mengikuti perintah Yaya, namun dengan speaker ponsel diperbesar sehingga Yaya juga dapat mendengar semua yang Alena katakan.
Call :
Alena : Mas Alvin, sedang berada dimana ? apa mas baik-baik saja ?
Alvin : Aku berada dirumah, dan aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.
Alena : Baguslah kalau mas baik-baik saja, kalau begitu Alena bisa tenang sekarang.
Alvin : Alena, ada yang harus ku katakan padamu besok, sampai jumpa besok.
Tanpa menunggu jawaban Alena, Alvin sudah terlebih dahulu menutup sambungan telphone nya.
"Memang apa yang gadis itu katakan padamu tentang aku Vin ?" tanya Yaya penasaran.
"Aku bahkan lupa membahasnya dengan mu, karena aku sudah terlebih dahulu tersulut api cemburu saat melihat Fellix mengantarkan mu pulang,"
"Hm, jangan bahas itu lagi Vin, jawab saja pertanyaan ku !"
"Baiklah, baiklah jangan marah lagi sayang," pinta Alvin seraya mencium kening Yaya.
Akhirnya Alvin pun menceritakan apa yang terjadi pada Alena dan semua yang Alena katakan tentang Yaya.
"Lalu apa kau percaya aku melakukan hal seperti itu padanya Vin ?"
"Awalnya aku hampir saja percaya, tapi mendengar kalau dia berkata seperti itu padamu, aku lebih mempercayaimu, dan aku jadi yakin kalau sebenarnya Alena itu mempunyai sifat yang hampir sama seperti Ajeng, mereka sama-sama pintar memutar balikan fakta yang sebenarnya,"
"Hm, terimakasih," ucap Yaya pelan hampir tidak terdengar oleh Alvin.
"Ha ?
kau berkata apa ?"
"Aku bilang terimakasih karena sudah mempercayai ku, walaupun awalnya kau juga termakan dengan hasutannya, menyebalkan,"
"Sudahlah tidak perlu kita bahas lagi, oh iya Yaya, apa kau akan tetap melanjutkan keinginan mu untuk berpisah ?" tanya Alvin yang tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.
"Untuk sekarang mungkin tidak, tapi jika suatu saat kau kembali berbohong apa lagi ada hubungannya dengan wanita lain, aku tidak akan berbaik hati lagi padamu Vin, ingat itu,"
"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi lagi sayang, sekarang kita sudah benar-benar berbaikan, ya ?" tanya Alvin antusias.
"Hm," Yaya hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Yey !!!" seru Alvin seraya menghambur memeluk Yaya.
"Vin aku sudah mengatakan untuk kecilkan suara mu, malu jika papa dan yang lain mendengarnya,"
"Biarkan saja, aku tidak bisa menahan kebahagiaan ku karena bisa kembali memeluk dan mencium istriku yang beberapa hari terakhir ini tidak memberiku izin untuk mendekat,"
Alvin terus menciumi wajah Yaya dengan gemas.
"Hentikan, kau akan membuat kulit wajahku mengelupas Vin,"
"Walaupun begitu kau tetap wanitaku yang paling cantik,"
"Hm, benarkah kata-kata mu itu,"
"Tentu saja !"
"Kalau begitu mana yang lebih cantik, aku Ajeng atau Alena ?" tanya Yaya.
"Jelas cantik kamu sayang, mereka tidak ada apa-apa nya.
Eh tapi kenapa kau tiba-tiba menyebut nama Ajeng ?"
"Tidak apa-apa, hanya saja waktu itu ada yang menyampaikan padaku kalau kau mendapatkan lowongan pekerjaan itu dari Ajeng, benar atau tidak ?"
"Hm, benar tapi--"
"Tidak usah ada kata tapi sayang,"
"Kau tidak marah lagi, kan karena hal ini ?
"Tentu tidak, karena yang terpenting untuk ku, kau tidak menghindari kebenarannya lagi,"
"Terimakasih sayang,"
"Malam ini bolehkah ?" Alvin memberikan pertanyaan penuh misteri pada Yaya.
"Apa ?"
Tanpa banyak bertanya dan basa-basi lagi, Alvin segera menunjukan kerinduannya yang selama beberapa hari ini hanya bisa ia pendam saja, Yaya sempat menolaknya dengan alasan mereka baru saja berbaikan, namun kata-kata dari mulutnya, berbeda dengan gerak tubuhnya yang mengikuti keinginan Alvin.