Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 32



"Fellix sialan !


rupanya lo sedang berusaha memanfaatkan keadaan !" gerutu Alvin menggertakan giginya.


Alvin tidak ingin gegabah untuk langsung memergoki mereka, ia lebih memilih mengawasi mereka terlebih dahulu.


"Fell, lain kali tolong dengarkan aku, aku sudah mengatakan kau tidak perlu merepotkan dirimu untuk menjemputku, kenapa kau masih saja datang, kau benar-benar keras kepala Fell, kalau Ocha mengetahuinya dia pasti akan merasa kecewa,"


"Hm, tidak apa-apa Yaya, Ocha tidak merasa kecewa, karena kau sahabatnya, malah aku yakin dia tidak akan masalah jika tahu aku membantu mu, dan lagi aku juga tidak ada kegiatan, jadi sekalian jalan-jalan saja, tidak setiap hari juga, kan ?


Oh iya Yaya, aku sedikit tidak suka pada anak murid mu itu, gaya nya terlalu menantang semua orang yang melihatnya untuk memukul wajahnya, benar-benar menjengkelkan," gertu Fellix.


"Fell, kau tidak boleh berkata seperti itu, kau tidak mengenal Nino dengan baik, jika kau sudah dekat dengannya kau akan tahu, kalau Nino itu adalah anak yang baik dan menggemaskan, dia bersikap seperti itu sebagai bentuk pertahanan untuk melindungi dirinya," jelas Yaya.


"Benarkah !" teriak seseorang.


"Alvin," gumam Yaya dan Fellix.


"Kenapa wajah kalian tegang sekali, terkejut karena gua tiba-tiba berada disini atau terkejut karena gua memergoki kalian datang bersamaan ?


gua baru berfikir sekarang, jadi sebenarnya ini alasan lo nuduh gua selingkuh Yaya ?


hanya karena lo ingin menjalin hubungan dengan tunangan sahabat baik lo sendiri ?


wah wanita macam apa yang gua nikahi selama ini !


dan tiba-tiba gua juga membayangkan bagaimana kira-kira perasaan Ocha kalau dia tahu sahabat dan tunangannya ada main dibelakangnya, ya ?


sepertinya bakal seru !


gua sama lo hancur, Fellix dan Ocha juga hancur !


bagaimana menurut kalian berdua ?" tanya Alvin dengan tawanya yang dipaksakan.


"Hati-hati dengan pemilihan kata-kata lo Vin, jangan keterlaluan menyakiti Yaya !"


"Oh, jadi Yaya tidak boleh terluka, sementara Ocha terluka pun tidak masalah begitu maksud lo Fell ?


haha, sepertinya lo berdua memang sudah merencanakan ini sejak dahulu iya, kan ?"


"Alvin gua sudah memperingatkan lo untuk menjaga kata-kata lo !" teriak Fellix.


"Fell sudah cukup, lebih baik kamu segera pulang, jangan perdulikan dia bicara apa-pun, biarkan saja, dan sekali lagi terimakasih untuk tumpangan mu hari ini,"


"Kalau tidak ada Yaya, gua tidak bisa menjamin lo masih bisa tersenyum seperti ******** macam itu Vin !"


"Fellix cukup !" pekik Yaya.


"Wow, gua takut sekali dengan ancaman lo Fell," ejek Alvin cengengesan.


Sementara Fellix yang sudah dipaksa pergi oleh Yaya hanya bisa menunjukan wajah penuh amarahnya pada Alvin, kemudian pergi dari hadapan mereka, dengan membawa emosi yang tidak tersalurkan.


"Kenapa lo memintanya untuk pulang secepat itu ?


memangnya lo sudah puas sayang-sayangan dengan dia ?


kasihan sekali dia, kalau dilihat dari raut wajahnya sepertinya dia masih merindukan lo, dan enggan berpisah, lo benar-benar handal membuat hancur perasaan laki-laki Yaya, salut !" ucapnya diiringi tawa.


"Sudah cukup Vin !


Apa maksud kata-kata mu itu ?"


"Tidak ada, hanya saja gua ingin bermaksud baik pada kalian dengan memberikan kalian kesempatan untuk berduaan, memangnya salah ?"


"Begitukah ?"


"Iya,"


"Kalau memang benar kau sebaik itu, bagaimana kalau kau segera kirimi aku surat cerai !" Seru Yaya mencoba menahan amarahnya yang tidak bisa ia bendung lagi.


Senyum yang sedari tadi Alvin tunjukan untuk mengejek Yaya pun seketika menghilang, ia kini hanya bisa terdiam tanpa mampu berkata-kata lagi.


Merasa tidak mendapatkan respon dari Alvin, Yaya melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam rumah.


"Pa, Yaya masuk kamar dulu," pamit Yaya.


"Tunggu nak,"


"Pa, kalau papa hendak membicarakan tentang pertengkaran kami tadi, tolong jangan sekarang, maaf pa bukannya Yaya tidak sopan, tapi Yaya butuh waktu untuk diri Yaya sendiri !" tegas Yaya.


Kakinya melangkah dengan pasti menuju kamarnya, dan dengan segera mengunci pintu kamar itu.


(Alvin, kau yang memaksa ku untuk mengambil keputusan ini,) gumamnya.


##


"Alvin," sapa sang ayah menghampiri Alvin yang masih diam mematung diluar rumah.


"Pa," jawabnya, dengan cepat ia menghapus air matanya.


"Kau menangis ?"


"Tidak pa,


Oh iya Alvin dan Yaya sudah baik-baik saja, hm kalau begitu Alvin masuk dulu untuk menemui Yaya dan membujuknya untuk pulang kerumah kami pa," jawabnya dengan tersenyum seolah ia menganggap Yaya tidak pernah mengucapkan apa-apa.


"Tunggu Vin !


papa sudah mendengar semuanya," ungkap sang Ayah.


Alvin terdiam, dan dengan cepat memeluk sang Ayah.


"Apa yang harus Alvin lakukan pa, masalah yang Alvin hadapi semakin melebar saja, seolah tidak akan pernah ada titik terang,"


"Alvin, papa sudah sering sekali mengingatkan kamu untuk bertindak menggunakan akal, bukan dengan emosi,"


"Iya Alvin tahu pa, tapi Alvin juga bisa merasakan cemburu, sama seperti ketika dia cemburu terhadap Alena yang memang pada kenyataannya kami tidak berhubungan dekat," jelasnya terisak.


"Iya papa faham maksud mu Vin, tapi percuma saja jika kau menjelaskannya pada papa, sekarang kau hanya perlu menenangkan dirimu terlebih dahulu, kemudian ajak baik-baik istrimu untuk bicara lagi," nasehatnya.


"Tapi dia sudah mengucapkan kata cerai pa, bukankah itu artinya dia sudah tidak menginginkan Alvin lagi ada dihidupnya ?"


"Alvin, sama seperti kamu, Yaya juga saat ini tengah termakan oleh emosinya, makanya papa mengatakan agar kau ajak kembali dia bicara saat kalian berdua sudah mulai dingin, dan bisa berfikir menggunakan akal sehat,"


"Baiklah pa,"


"Malam ini kau tidurlah dikamar tamu,"


"Iya pa,"


Malam itu Mereka kembali tidur secara terpisah, baik Yaya atau pun Alvin keduanya tidak bisa terlelap malam itu.


Alvin membuka ponselnya dan melihat foto kenangan disaat mereka tengah bahagia, ia juga mengirimkan foto itu pada Yaya.


Chat :


Alvin : ingat saat itu ?


Alvin : atau kau memang sudah melupakannya ?


Alvin : untuk siapa hati mu itu sebenarnya ?


Alvin : kenapa kau tidak menjawab pesan ku, apa kau sudah tidur ?


Alvin : aku akan memenuhi permintaan mu untuk berpisah, asalkan kau tidak membawa Alya bersama mu !


Alvin : aku tahu kau masih terjaga, tolong buka pintu kamar mu, kita harus membicarakan hal ini dengan serius !


Dari sekian banyak pesan yang Alvin kirimkan untuk Yaya, tidak ada satu pun yang Yaya jawab.


(Apa memang sudah seharusnya begini ?) gumam Alvin.


Alvin merasa frustasi dengan fikiran buruk yang memenuhi kepalanya, seketika itu dia melupakan semua nasehat yang ayah nya berikan, tanpa fikir panjang Alvin keluar dari kamarnya menuju kamar Yaya.