
"Kenapa ?
lo takut gua akan benar-benar melakukannya ?
atau lo takut kekasih lo ini akan marah, dan memutuskan hubungan kalian hanya karena hukuman dari permainan bodoh ini ?" tanya Nino sinis.
"Nino jaga ucapan lo !" seru Raja.
"Diam, gua tidak ada urusan dengan lo !" Nino menjawab Raja seraya mengarahkan telunjuknya didepan wajah Raja.
"Nino, kau membenciku, bukankah memang tidak pantas jika kau benar-benar melakukannya !"
"Tapi jika ternyata gua ingin melakukannya bagaimana ?
apa lo keberatan ?" tanya Nino menantang.
Alena terdiam, dia sudah tidak memiliki kata-kata lagi untuk membantah Nino.
Nino mendekat dan menarik tubuh Alena mendekat juga padanya, jarak diantara mereka sangat dekat saat ini, membuat setiap orang yang melihatnya dibuat sesak.
Dengan kepintaran Nino memanipulasi mata setiap orang seolah ia dan Alena benar-benar tengah berciuman.
"Lo bukan Yaya dan itu artinya lo bukan tipe gua, jadi maaf gua tidak akan pernah melakukannya pada wanita seperti lo meskipun lo sudah sangat berharap !" bisik Nino ditelinga Alena.
"Baiklah Nino sudah menjawab tantangan yang aku berikan, bagaimana kalau kita lanjutkan lagi permainannya ?" tanya Wita.
Nino dan yang lainnya mengangguk kecuali Alena yang dengan cepat berlari menjauh dari mereka dan diikuti dengan Raja yang mengikuti Alena.
"No, kenapa lo diam ?" tanya Doni.
"Memangnya gua harus melakukan apa ?" tanya Nino kembali.
"Apa mungkin Alena tidak terima karena kau menciumnya No ?
apa itu bisa dikatakan adalah kesalahan ku, karena aku yang memberikan tantangan itu ?
tapi aku memberikan tantangan itu bukan tanpa alasan !" seru Wita.
"Menang lo punya alasan apa untuk meminta hal bodoh itu ?" tanya Nino.
"Aku hanya ingin memberi mu pelajaran Nino, karena baru saja kau mengatakan bahwa kau sangat membenci Alena, jadi aku ingin kau membuktikannya rasa yang kau punya benar-benar benci atau yang lainnya !" jelas Wita.
Nino tidak menjawab, ia hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kesal, lalu pergi meninggalkan Doni dan Wita.
Langkah kaki Nino menuntun tubuhnya sampai akhirnya ia menemukan keberadaan Alena dan Raja ditepi pantai.
Raja membelai kepala Alena dengan lembut, tidak hanya itu Alena juga bersandar dibahu Raja, pemandangan itu membuat Nino merasa udara dipantai malam itu mulai terasa panas disekitarnya.
Nino segera kembali dan duduk disamping Doni yang tengah merayu Wita dengan gitar ditangannya.
"Lo kenapa No ?" tanya Doni.
"Memangnya gua terlihat kenapa !" Nino menjawab Doni dengan kesal dan tatapan mata tajam.
"Wajah mu memerah No, apa kau mabuk ?
atau kau tengah marah ?" tanya Wita menambahi.
"Berisik lo berdua !
diam dan lakukan saja kesenangan kalian, tidak usah perdulikan keberadaan gua !
anggap saja gua tidak ada disini !" bentak Nino.
Tidak lama kemudian Alena dan Raja kembali, Alena memakai jaket yang sejak awal dipakai oleh Raja.
"Alena dari mana saja kalian ?" tanya Wita yang berdiri mendekati Alena.
Sebelum Alena menjawab pertanyaan Wita, Nino beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"No mau kemana lagi lo ?" tanya Doni.
"Tenda !
gua mengantuk !
dan juga tidak ingin mengganggu kalian semua berpasang-pasangan !
sangat memuakan !" teriak Nino seraya melangkah pergi.
"Don, sebaiknya kau juga kembali ketenda kalian dan tanya ada apa dengan Nino, sikapnya sangat aneh hari ini," pinta Wita.
"Baiklah,"
Ditenda Doni berbaring disamping Nino.
"No, lo tidak bisa lagi berbohong kali ini," ucap Doni.
"Maksud lo ?"
"Sikap lo dari pagi sampai detik ini menunjukan dengan sangat jelas kalau lo tengah bingung dengan perasaan lo sendiri," jelas Doni.
apa yang bisa membuat lo berfikir kalau gua tengah merasa bingung dengan diri gua sendiri ?"
"Nino gua kenal lo sudah sangat lama, dan gua tidak pernah melihat lo kesal sampai seperti ini saat melihat Alena dan Raja sangat dekat,"
"Jadi ?"
"Hm, menurut gua lo tengah cemburu dengan kedekatan mereka,"
"Cemburu ?
pada siapa ?
Alena ?
tidak mungkin, karena gua hanya menyukai Yaya, dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun juga !" tegas Nino.
"Lo yakin perasaan lo terhadap mbak Yaya itu benar-benar cinta ?
sementara lo sendiri pun tahu, jika perasaan lo terhadap mba Yaya itu adalah satu hal yang tidak mungkin terbalaskan ?" tanya Doni meyakinkan Nino.
Nino terdiam, berusaha kembali menutup matanya dan mencoba menghindari pertanyaan Doni selanjutnya.
(Gua juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini,) gumam Nino dalam hati.
Dua hari berlalu, sore itu setiap orang sudah bersiap untuk kembali, Nino pun kembali disajikan dengan pemandangan yang aneh, ia melihat Alena sudah bisa tertawa saat Raja menggodanya, tidak seperti dihari pertama sikapnya begitu dingin pada Raja.
"Lo ingin mengelak lagi kali ini No ?" tanya Doni tersenyum menggoda Nino.
"Diam lo !" seru Nino.
Sesampainya disekolah setiap anak berhamburan turun dari bus dan kembali kerumah masing-masing.
"Alena, ingin pulang bersama ku ?" tanya Raja.
"Tidak Raja, aku akan dijemput," jawabnya.
"Hm, kalau begitu aku akan menemanimu sampai orang yang menjemputmu datang," ucapnya.
"Kau pulanglah Raja ini sudah larut malam, aku tahu kau pasti lelah dengan perjalanan kali ini karena kau terus membantu ku, dan membawakan semua barang ku, aku tidak ingin lebih merepotkan mu lagi,"
"Aku tidak pernah merasa kau merepotkan, jadi aku akan menunggu disini bersama mu,"
"Pulanglah," pinta Alena lagi.
"Hm, baiklah kalau begitu, jaga dirimu ya, aku pulang terlebih dulu," pamitnya.
"Hm," jawab Alena mengangguk kecil saat Raja kembali mengusap lembut kepalanya.
Dari awal Alena berdiri disana sudah ada sepasang mata yang mengawasinya, dan diam-diam menunggu bersamanya.
Cukup lama menunggu, jemputan Alena tidak kunjung datang, Alena terlihat panik dan terus menatap layar ponselnya.
Nino yang merasa aneh dengan sikap Alena segera menghampirinya.
"Lo masih disini ?" tanya Nino yang saat ini sudah berdiri disamping Alena.
Alena menatap arah datangnya suara yang menyapanya, lalu kembali memalingkan wajahnya.
"Lo tidak tuli, kan ?
lo bisa mendengar gua sedang bertanya sama lo, kan ?" tanya Nino mulai kesal.
Alena tetap diam.
"Sampai kapan lo akan mengabaikan gua seperti ini ?" tanya Nino seraya meraih pergelangan tangan Alena dan menekannya dengan kuat.
"Lepas, sakit !" seru Alena.
"Hanya itukah kata-kata yang bisa keluar dari mulut lo itu !"
"Memangnya kau ingin aku mengeluarkan kata-kata apa lagi !
lepaskan sakit Nino !" teriak Alena.
"Lo marah ?
marah kenapa ?"
"Bukan urusan mu !"
"Oh gua tahu, jangan-jangan lo marah karena saat itu gua tidak benar-benar mencium lo seperti yang lo inginkan, begitukah ?
jika lo benar-benar menginginkannya, maka sekarang juga lo akan mendapatkannya !" tegas Nino.
Masih tetap menggenggam kedua pergelangan tangan Alena, Nino berusaha meraih wajah Alena sampai ia benar-benar bisa merasakan lembutnya bibir Alena, perasaan aneh didalam dirinya membuat pegangannya melonggar, dan memberikan kesempatan pada Alena untuk melepaskan genggaman Nino.
setelah berhasil melepaskan diri, Alena dengan cepat mendorongnya dan segera mendaratkan telapak tangannya kewajah Nino.