Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 06



Setelah selesai menerima telphone dengan wajah tegang Alvin kembali duduk disamping Yaya.


"Ada apa Vin ?" tanya Yaya.


"Ajeng Ya," jawab Alvin terbata.


"Kenapa dengan Ajeng ?"


"Ajeng akan keluar dari rumah sakit sore ini," jelas Alvin.


"Ha !!!" Teriak Ocha dan Felix secara bersamaan.


"Bukannya keadaan dia saat itu sangat tidak memungkinkan untuk pulih secepat ini ?


kenapa bisa dengan mudahnya ia pulih ?" tanya Ocha.


"Semuanya bisa saja terjadi Cha, karena disana ia ditangani oleh para profesional makanya ia bisa cepat membaik, seharusnya kita senang karena dia sudah pulih," jawab Yaya.


"Memangnya kamu tidak merasa khawatir ?" tanya Alvin.


"Kenapa harus khawatir ?" Yaya menjawab Alvin dengan pertanyaan lagi.


"Mungkin saja dia akan kembali membuat kamu dan aku salah faham dan merusak rumah tangga kita lagi,"


"Hm, kalau sampai itu semua terjadi, bukankah seharusnya kita sudah tahu apa penyebabnya ?


Vin kamu seharusnya sudah bisa belajar dari apa yang ia lakukan pada kita dulu, dan lagi aku percaya dia pasti sudah mendapatkan banyak pelajaran selama ini," jawab Yaya.


"Luar biasa Yaya, aku ingin sekali selalu punya fikiran positif seperti kamu," ucap Ocha mengagumi Yaya.


"Makanya kamu harus banyak belajar dari Yaya, biar jangan bisanya hanya marah-marah terus, mau itu datang bulan atau pun tidak kamu selalu marah, sangat mengherankan !" seru Felix.


"Teruskan !" jawab Ocha.


Ketika semua orang tertawa dengan perdebatan Ocha dan Felix, Alvin hanya tersenyum hambar seraya terus menetapkan pandangannya pada sang istri.


Yaya yang merasakan Alvin tengah menatapnya pun, hanya memberi senyum dan anggukan kecil untuk membuat Alvin lebih tenang.


"Wah ada tamu," ucap seseorang yang baru saja datang dan menghampiri mereka.


"Iya pa, Felix dan Ocha datang untuk membantu Alvin dan Yaya mempersiapkan barang-barang yang akan kita bawa," jawab Alvin.


"Oh begitu, Felix Ocha terimakasih atas bantuan kalian berdua," ucap sang ayah.


"Sama-sama om," jawab Felix dan Ocha.


"Alvin Yaya ikut papa keruangan kerja papa sebentar," ajak sang ayah seraya melangkah pergi, yang kemudian diikuti oleh keduanya.


#


"Ada apa pa ?" tanya Alvin.


"Alvin, papa fikir sebelum kamu bisa mendapatkan pekerjaan tetap bagaimana kalau Alya untuk sementara diasuh oleh mama mu ?"


Alvin dan Yaya terdiam dan saling tatap untuk beberapa saat.


"Vin, jangan tersinggung, papa yakin kamu mampu merawatnya, tapi papa hanya tidak siap berpisah dengan Alya, dan lagi papa mengkhawatirkan kesehatannya nanti,"


"Jawaban Alvin tergantung pada jawaban Yaya pa, karena Yaya adalah ibu nya," jawab Alvin.


"Bagaimana menurut mu Yaya ?


papa harap kamu tetap bisa berfikir terbuka Yaya, tolong fikirkan kesehatannya, papa tahu Yaya pasti sangat sedih tapi ini semua juga demi Alya, dan kalau Alya disini kamu bisa kembali meneruskan kuliah mu nak," ucap sang ayah berusaha meyakinkan Yaya yang masih bertahan dengan diamnya.


Melihat Yaya terus diam membuat Alvin marah pada ayahnya yang terkesan memaksakan kehendaknya pada Yaya.


Namun sang ayah terus berusaha meyakinkan mereka bahwa itu memang yang terbaik.


Setelah mendengar semua penjelasan yang ayah Alvin ucapkan, membuat Yaya cukup lama dalam mengambil keputusan, hingga Alvin dan ayahnya kembali terlibat dalam perdebatan, keduanya berhenti berdebat saat Yaya kembali membuka mulutnya yang sudah cukup lama bungkam.


"Kalau begitu tolong jaga Alya dengan baik Pa !" seru Yaya yang membuat Alvin terkejut karena tidak menyangka Yaya bisa membuat keputusan demikian.


"Tapi Ya," protes Alvin.


"Kamu bilang jawaban aku berarti adalah jawaban kamu kan Vin, maka kamu sudah tidak berhak menjawab lagi, karena aku sebagai ibu nya sudah membuat keputusan ku sendiri !" tegas Yaya seraya berbalik dan pergi meninggalkan ruangan kerja ayahnya.


"Papa !" gumam Alvin kesal, kemudian ikut pergi mengejar Yaya.


"Yaya tunggu !" seru Alvin.


"Kamu menangis ?" tanya Alvin.


"Yaya aku tidak mengerti sama jalan fikiran kamu, kenapa kamu harus menuruti permintaan papa kalau itu membuat kamu menangis seperti ini ?"


"Vin, aku sudah membuat keputusan ku !"


"Tapi Ya--"


"Tidak ada yang perlu diperdebatkan Vin !


lebih baik kita kembali mempersiapkan diri untuk pergi !"


"Terserah kamu saja Ya !"


Waktu untuk pergi pun akhirnya tiba.


"Vin, jaga Yaya baik-baik, setelah kamu yakin mampu, jemputlah Alya," pesan sang ayah.


"Iya pa,"


"Ma tolong jaga Alya, Yaya akan sering mengunjunginya," ucap Yaya.


"Tenang saja Ya, mama akan menjaga cucu mama dengan baik, cepat kembali," jawab ibu.


Setelah menerima kunci rumah yang akan mereka tempati, usai berpamitan mereka pun akhirnya pergi.


Diperjalanan suasana didalam mobil sangat hening, diamnya Yaya membuat semua orang sungkan untuk memulai pembicaraan.


"Ya, kamu baik-baik saja ?" tanya Ocha yang duduk tepat disebelah Yaya.


Yaya hanya menjawabnya dengan anggukan pelan, sementara Alvin terlihat tengah berusaha menahan emosinya.


"Vin, ada apa sebenarnya ?" tanya Felix dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Alvin hanya melayangkan sorot mata tajam pada Felix, dari sana lah Felix faham kemudian membungkam mulutnya.


Sekitar 1 jam menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai dialamat yang mereka tuju.


"Cha, tolong minta kunci rumahnya pada dia, biar aku yang membukanya," ucap Yaya yang enggan bicara dengan Alvin.


"Vin, Yaya minta kunci rumahnya," Ocha mengulangi kata-kata Yaya.


"Beritahu pada dia aku yang akan membukanya !


duduk diam saja jika ia tidak ingin membuat masalah yang lebih besar lagi !" jawab Alvin seraya membuka pintu mobil dan keluar, dan diikuti oleh Felix yang saat ini sama bingungnya dengan Ocha.


"Ya, ada apa sebenarnya ?" tanya Ocha.


"Tidak ada apa-apa Cha," jawab Yaya.


"Kamu tidak ingin cerita ?" tanyanya lagi.


"Tidak perlu Cha, aku baik-baik saja, ayo keluar dan bantu mereka," ajak Yaya.


Mereka ber-empat membereskan semua barang dan meletakannya ditempat yang seharusnya, ketika semua selesai hari pun mulai malam, sudah saatnya untuk Ocha dan Felix berpamitan.


Setelah Ocha dan Felix pergi Yaya bergegas masuk kedalam kamar, mematikan lampu, tidur meringkuk menghadap tembok dan menutupi seluruh tubuh sampai kepalanya dengan selimut.


Saat itu pula Alvin datang dan menghidupkan kembali lampu kamar itu, lalu mendekati Yaya yang tengah tidur diujung kasur.


"Ya," panggilnya perlahan.


"Yaya," kedua kalinya ia memanggil masih perlahan.


"Yaya !" teriak Alvin seraya menarik selimut yang Yaya kenakan.


"Ada apa Vin, aku sedang tidak ingin berdebat saat ini aku lelah dan mengantuk, biarkan aku tidur," jawabnya.


"Apa yang terjadi dengan mu sebenarnya ?


kenapa kamu bersikap dingin seperti ini ?" tanya Alvin.


"Aku tidak apa-apa, hanya lelah dan mengantuk saja," jawabnya mengulang kata-katanya tadi.


"Aku tahu kapan kamu baik-baik saja dan kapan kamu sedang marah Yaya !


saat ini sikap seperti ini yang kamu bilang baik-baik saja !" seru Alvin.


Kali ini tidak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut Yaya, Alvin yang sudah dari siang menahan emosinya pun masih tetap mencoba menahannya dengan mencoba bicara perlahan.