Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 54



Keesokan paginya, Nino membuka sedikit pintu kamarnya, terdengar sayup kedua orangtuanya tengah berbincang membicarakan dirinya.


Seolah tidak mau ambil pusing Nino dengan santai berjalan melewati mereka.


"Tunggu Nino !" Pekik ayahnya.


Nino menghentikan langkah, tanpa menjawab.


"Kemana kau pergi semalam ?" tanya sang ayah.


"Bukankah kalian sudah tahu kemana aku pergi semalam, kenapa harus bertanya lagi ?"


"Lihat, lihat sifat anak mu tidak pernah berubah, malah semakin hancur saja, dia bahkan berani membawa wanita datang ke vila, bagaimana cara ku mempertanggung jawabkan pada orangtua gadis itu jika terjadi sesuatu padanya !" seru sang ayah memarahi ibu Nino.


"Cukup !


ini kesalahan saya, bukan salah mama, jika anda ingin mencaci, caci saya saja !"


"Oh baguslah kau menyadari kalau ini kesalahan mu, anak bodoh kau ku besarkan bukan untuk menjadi laki-laki bejat seperti--!"


"Jangan teruskan kata-kata anda !


sekarang apa yang anda inginkan untuk saya lakukan ?" tanya Nino.


"Pergi temui anak itu dan meminta maaflah padanya, setelah itu jangan pernah mencoba untuk menemuinya lagi !


ingat Nino kau adalah satu-satunya yang akan meneruskan usahaku, jadi jangan membuat malu dirimu sendiri, semua yang ku lakukan demi masa depan mu kelak,"


"Anda fikir aku sangat menginginkan perusahaan anda ?


dan satu lagi aku berterimakasih karena anda sudah rela membesarkan ku sampai sekarang, tapi maaf hidupku tidak bisa anda atur semau anda !" jawab Nino seraya melangkah pergi.


"Nino tunggu !" teriakan emosi sang ayah memenuhi setiap rongga rumah itu.


"Sudah mas, maafkan sikap Nino," ucap ibu Nino memohon.


"Dia memang bukan anak kandung ku, tapi aku mencintainya melebihi diriku sendiri, aku bekerja siang malam hanya untuk dia, tapi kenapa aku tetap gagal membimbingnya, aku hanya ingin dia hidup bahagia, itu saja," jelasnya.


"Aku tahu kau menyayanginya mas, maafkan dia, dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa dia bukan anak kandung mu,"


Ayah Nino hanya mengangguk, tidak lama kemudian ia menatap lekat pada istrinya.


"Bukankah kau pernah mengatakan bahwa Nino sangat menuruti kata-kata Yaya ?" tanyanya seraya menyeka bulir bening diwajahnya.


"Lalu ?"


"Hubungi dia minta dia membantu kita bicara pada Nino,"


"Baiklah,"


Ayah Nino segera menghubungi Yaya dan menceritakan semua yang terjadi pada Nino dan gadis yang dibawanya malam itu.


###


Saat Yaya menutup sambungan telphone wajahnya terlihat kesal, ia menggenggam kuat ponsel ditangannya.


Melihat itu Alvin menjadi khawatir ia pun mendekat, dan memegang lembut bahu Yaya.


"Ada apa sayang ?" tanya Alvin.


Yaya pun mengulangi apa yang orangtua Nino ceritakan padanya.


"Lalu apa kau tahu kemana anak itu pergi sekarang ?" tanya Alvin yang sama geramnya.


"Aku tidak tahu, aku akan coba menghubunginya," jawab Yaya, seraya menekan nomor ponsel Nino.


Call :


Yaya : Dimana kau ?


Nino : Dirumah, ada apa Yaya ?


bukankah ini hari minggu waktunya untuk sama-sama istirahat, kan ?


sudah dulu ya, aku ingin melanjutkan tidurku.


Yaya : Tidur ?


tidur dimana ?


di jalan maksud mu ?


kau tidak bisa membodohiku Nino !


katakan sekarang dimana kamu ?


apa orangtua ku sudah menghubungi mu ?


Yaya : Nino, ingat kau bisa menceritakan apa saja padaku !


kalau kau tidak ingin ada yang tahu, kau bisa menjemputku sekarang, hanya ada kita berdua.


Nino : Lalu bagaimana dengan suami mu ?


Yaya : Alvin pasti mengerti.


Nino : Baiklah.


Sambungan telphone terputus.


"Sayang," ucap Yaya menatap Alvin seolah meminta persetujuannya.


"Pergilah, bimbing dia, jangan sampai apa yang terjadi pada kita diulangi lagi oleh Nino," jawab Alvin memberinya izin.


"Terimakasih sayang," ucap Yaya seraya memeluk Alvin.


Tidak lama kemudian Nino mengabarkan bahwa ia sudah berada didepan rumah Yaya.


Yaya berpamitan pada Alvin lalu bergegas menemui Nino.


"Ingin pergi kemana ?" tanya Nino.


"Pantai, tempat dimana kau banyak menghabiskan waktu," jawab Yaya.


Nino mengangguk, dan mulai mengemudi.


Sesampainya ditepi laut, Yaya memulai pembicaraan dengan bualan-bualan agar suasana sedikit mencair terlebih dahulu, kemudian perlahan ia masuk ke inti masalahnya.


"Kemana kau pergi membawa Alena semalam Nino ?" tanya Yaya.


"Pulang," jawabnya singkat seraya tersenyum.


"Kau yakin ?"


"Ya,"


"Nino, katakan yang sebenarnya !" seru Yaya.


"Aku sudah mengatakan kebenarannya Yaya," jawabnya lagi masih dengan senyum yang menurut Yaya sangat menyebalkan.


"Aku sudah pernah mengatakan untuk berhenti menunjukan senyum mu itu Nino !" teriak Yaya mulai kehabisan cara untuk membuat Nino berkata jujur.


Nino terkejut, dan membalas tatapan tajam Yaya, suasana mulai menegang, untuk beberapa saat hanya angin dan debur ombak yang terdengar bersenandung, seolah ikut menunggu Nino bercerita.


"Baiklah, sebenarnya aku sudah berhasil mendapatkan hatinya, dan dia pun menjadi kekasihku, awalnya semua berjalan lancar, tapi saat aku mengantarkannya pulang, tidak tahu kenapa ada perasaan aneh didalam diriku, perasaan ingin memiliki dan tidak ingin berpisah malam itu sangat mengganggu, kemudian fikiran ku mulai kacau, aku mencoba menahannya untuk tidak pulang dulu dan dia setuju, kemudian aku membawanya ke vila keluarga ku.


Bodohnya, aku malah melecehkannya disana !


sekarang aku sangat yakin dia pasti sangat membenciku, aku harus bagaimana ?


apa yang harus aku lakukan ?


baru saja aku merasakan bahagia karena perasaan ku selama bertahun-tahun ini terbalaskan, tapi dengan mudah aku sendiri yang menghancurkannya !" jelas Nino penuh emosi, terlihat juga penyesalan terlukis diraut wajahnya.


Yaya memeluk Nino dengan penuh kasih sayang sebagai seorang kakak, mengusap rambut Nino untuk menenangkannya.


"Nino temui dia, minta maaflah padanya, dan buktikan penyesalan mu, aku yakin Alena pasti bisa mengerti kalau memang dia benar-benar menginginkan mu," jawab Yaya.


"Tapi Ya, aku sudah sangat keterlaluan, dia menangis malam itu, dari wajahnya aku bisa melihat kalau dia kecewa, bahkan saat aku mengantarnya pulang, dia tidak mengucapkan satu patah kata pun, aku yakin dia tidak ingin bertemu dengan ku lagi Yaya,"


"Dari mana asalnya fikirin itu ?


bukankah kau belum menemuinya ?


kenapa bisa kau berfikir seperti itu tentangnya ?


Nino, yang paling terpenting sekarang kau harus berani menghadapi segala kemungkinan, datang temui dia, akui kesalahan mu !"


"Aku tidak yakin tentang itu," jawabnya menunduk.


"Tapi aku yakin," jawab Yaya mantap.


Nino menatap lekat pada Yaya, ia menghambur kepelukan Yaya secepat kilat.


"Terimakasih Yaya, memang hanya kau yang tidak pernah berhenti memperdulikan ku," ucapnya.


"Hm, asal kau jadi anak baik, dan tidak melakukan lagi hal yang dapat merusak masa depan mu, maka aku akan tetap disini mendukung mu," jawab Yaya, seraya membalas pelukan Nino.


Setelah mengungkapkan semuanya pada Yaya, kini Nino sedikit merasa tenang, dan akhirnya ia juga kembali memiliki keberanian untuk menemui Alena, ia juga bertekad tidak akan menyerah sebelum Alena benar-benar memaafkan kesalahannya.