Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 38



Setelah sampai didepan rumah Ocha.


"Terimakasih sudah mengantarku pulang, dan terimakasih juga sudah berpura-pura didepan Yaya dan Alvin, aku permisi turun Fell," ucap Ocha berpamitan dengan harapan Fellix akan melemah hatinya.


"Hm," jawabnya singkat seolah tidak begitu perduli dengan apa yang Ocha katakan,kemudian Ocha benar-benar turun tanpa banyak basa-basi lagi, karena apa yang ia harapkan pun ternyata sia-sia.


(Sudah saatnya untuk bangun Cha, dan percayalah sampai kapanpun juga dia tidak akan pernah melihat lebih kearah ku, dari dulu sampai detik ini dihati dan matanya cuma ada satu orang yaitu Yaya, pengorbanan ku tidak akan mengubah apa-pun, sebaliknya hanya akan membuat luka yang lebih besar saja nantinya, aku memang harus berhenti Fellix !) gumam Ocha saat mobil Fellix melaju meninggalkannya.


#


Keesokan harinya.


"Apa rencana mu hari ini ?" tanya Alvin.


"Aku akan pergi menemui Ocha,"


"Apa kau sudah memberitahunya ?"


"Sudah, tadi pagi-pagi sekali aku sudah menghubunginya, dan dia mengatakan hari ini dia tidak pergi ke kampus karena tidak enak badan,"


"Oh, kalau begitu aku akan mengantar mu, tapi aku juga ingin berpesan agar kau jangan terlalu dekat dengan Fellix !"


"Baiklah sayang,"


Kecupan mesra dikening dan bibir, menyudahi perbincangan mereka pagi itu.


Kali ini Yaya sudah berada diberanda rumah Ocha.


"Yaya, ayo masuk kedalam kamarku," ajak Ocha lemas.


"Cha kamu sakit apa ?


dan dimana Fellix ?" tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya kedahi Ocha.


"Hanya sedikit demam Ya, Fellix ada tugas dikampus.


Keadaan ku tidak terlalu parah sampai membuat wajah mu memucat begitu," jawab Ocha dengan tertawa kecil.


"Cha, lihat aku," pinta Yaya seraya menggenggam erat kedua tangan Ocha.


"Ada apa sebenarnya ?"


"Memangnya ada apa Yaya, tidak ada apa-apa, berhenti menatap ku seperti itu, kau hanya akan membuat ku malu,"


"Cha, kita berteman bukan satu atau dua hari saja, tapi sudah cukup lama, semua masalah yang ku alami kau pasti tau, karena aku selalu terbuka menceritakan semuanya padamu, tapi kenapa sekarang saat kau sedang ada masalah kau malah berusaha menyembunyikannya untuk dirimu sendiri, atau kau memang tidak pernah menganggapku sebagai sahabat mu selama ini ?"


"Bukan seperti itu Ya,"


"Lalu seperti apa ?"


"Memang tidak ada sesuatu yang penting yang harus diceritakan itu saja,"


"Kau bohong !


yasudahlah kalau memang begitu adanya, aku minta maaf karena telah memaksa mu, aku permisi pulang saja, istirahatlah, maaf karena sudah mengganggu waktu mu," pamit Yaya yang langsung berdiri dan melepaskan genggamannya pada tangan Ocha.


"Yaya tunggu !" teriaknya memanggil dan langsung berlari memeluk Yaya.


"Kau menangis ?" tanya Yaya.


"Aku tidak apa-apa Ya, aku baik-baik saja, aku bisa menghadapi semuanya dengan caraku sendiri, aku sudah terlanjur terbiasa," gumamnya terisak.


"Apa maksud mu ?


mari duduk, dan bicaralah dengan tenang," ajak Yaya, seraya memberikan segelas air untuk Ocha.


"Sekarang beritahu aku ada apa ?


apa ini ada hubungannya dengan Fellix ?" tanya Yaya perlahan.


Ocha hanya mengangguk tanpa menjawabnya dengan kata-kata.


"Aku sudah menduganya, ada apa sebenarnya dengan kalian berdua ?"


"Maafkan aku Yaya, tidak seharusnya aku merasa cemburu padamu, tidak seharusnya aku takut saat Fellix terlalu dekat dengan mu, aku memang bukan sahabat yang baik untuk mu,"


"Bicara apa kau ini ?" tanya Yaya heran.


"Tidak mungkin !


karena aku sudah sering kali memperingatkannya tentang hubungan kita Cha, aku fikir dia mengerti, karena yang aku lihat selama ini hubungan kalian semakin dekat saja,"


"Kedekatan kami yang kau lihat itu hanya cara dia untuk menutupi perasaannya agar kau percaya bahwa dia sudah tidak mengharapkan mu lagi !"


"Cha tenanglah Cha, percaya padaku Fellix akan berubah, dan kembali lagi padamu, jadi aku mohon berhenti menangis,"


"Bagaimana caranya Ya, ha ?


kau tahu saat rumah tanggamu dan Alvin diambang kehancuran, setiap hari aku melihat Fellix tersenyum penuh harapan dan aku tahu jelas apa yang ia harapkan !


tapi kemarin saat ia mengetahui kau dan Alvin baik-baik saja, dia menunjukan sikap seperti ia sudah siap untuk mati hari itu juga !


aku tidak bisa hidup dengan orang yang terus memiliki wanita lain dihatinya Yaya, apa lagi wanita itu adalah sahabat baik ku sendiri !"


"Iya aku mengerti perasaan mu Cha, kau harus tenang dulu ya,"


"Mengerti ?


kau bohong !


kau tidak akan pernah mengerti Yaya, karena hidupmu selalu dikelilingi oleh para laki-laki yang mencintaimu dan rela melakukan apa saja untuk mu !


apa sebenarnya yang Fellix lihat dari mu !" teriak Ocha.


Melihat Ocha berteriak histeris Yaya dengan cepat menampar wajahnya, hanya sekedar untuk membuatnya tersadar.


"Maaf Cha aku hanya--"


Ocha menatap Yaya dengan airmata yang tidak ada henti-hentinya mengalir kemudian menghambur kepelukan Yaya.


"Maafkan aku Yaya, aku tidak bermaksud meneriaki mu, apa lagi dengan kata-kataku yang kasar, maafkan aku, aku sedang tidak bisa berfikir sehat," ucap Ocha


"Tidak apa-apa Cha, sekarang lebih baik kau istirahat, minum obat mu, dan cepatlah sembuh,"


"Kau mau kemana Ya ?"


"Aku harus pulang, karena tadi aku belum berpamitan pada Alvin saat kesini, aku takut dia akan mencariku," ucap Yaya berbohong.


"Hm, hati-hati Yaya, terimakasih sudah datang menemuiku,"


"Iya sama-sama Cha, aku permisi," pamit Yaya lagi.


Dengan wajah kesal Yaya berjalan dengan sangat cepat menuju kampus.


"Vin, istri lo datang, tapi kenapa wajahnya seperti tengah menahan amarah,"


"Tidak tahu, gua temui dia dulu," jawab Alvin yang langsung berlari menghampiri Yaya.


"Apa yang kau lakukan disini sayang ?


sepertinya kau tidak sedang mencari ku ?" tanya Alvin.


"Vin, apa kau melihat Fellix ?" tanya Yaya kembali tanpa menjawab Alvin.


"Untuk apa kau mencari Fellix ?


bukankah aku sudah mengatakan agar kau tidak lagi--"


"Beritahu saja aku dimana Fellix !" teriak Yaya saat memotong kata-kata Alvin.


"Hm, maaf aku tidak tahu,"


"Tidak apa-apa biar ku cari sendiri saja !" tegas Yaya.


Yaya berjala melewati Alvin masih dengan wajah marahnya ia menelusuri setiap sudut kampus diikuti oleh Alvin yang berada tidak jauh dibelakangnya, sampai akhirnya ia pun menemukan orang yang ia cari.


"Fellix !!!" teriak Yaya dari tempat yang agak jauh.


"Yaya," gumam Fellix perlahan.


Dengan penuh semangat Yaya menghampiri Fellix dan setelah dekat ia segera mendaratkan telapak tangannya diwajah Fellix, perbuatan Yaya membuat semua orang yang melihatnya melongo termasuk Alvin, ia terdiam tidak ada keberanian untuk mendekati Yaya, ini pertama kalinya untuk Alvin melihat Yaya marah sampai menampar teman baiknya sendiri.