
Yaya masuk ke dalam kamar dan menemukan Alvin yang tengah tertidur dengan pulasnya.
Ia merapikan posisi tidur Alvin dan juga menyelimutinya, dengan perlahan ia menarik selimut itu agar Alvin tidak terbangun.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan dariku Vin ?
Mengapa aku merasa kau seperti sedang berusaha menutupi sesuatu dariku ?" gumam Yaya seraya melihat Alvin yang masih tertidur.
Tidak terlalu lama kemudian Alvin pun terbangun karena mendengar suara gumamannya.
"Hei kamu sudah pulang Sayang, kenapa tidak membangunkan aku ?" tanya Alvin yang baru saja membuka matanya.
"Aku baru saja tiba Vin, dan aku melihatmu tertidur dengan sangat pulas jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu sepertinya kamu terlihat sangat lelah Vin hari ini, apakah kamu sudah makan ?" tanya Yaya balik.
"Aku sudah makan tadi ditempat kerja, dan hari ini pekerjaan yang mereka berikan padaku cukup banyak jadi aku sedikit merasa lelah, makanya aku jadi tertidur dan tidak menunggumu sampai pulang Maafkan aku sayang," jawab Alvin Seraya memeluk Yaya.
" Oh begitu, aku fikir sedang ada tamu didalam, karena aku melihat ada mobil diparkir didepan rumah,"
"Tidak ada tamu sayang,"
"Lalu mobil siapa itu ?" tanya Yaya heran.
" Oh, hm mobil yang di depan, mobil itu, hm itu--" jawab Alvin terbata-bata.
"Apa itu mobil fasilitas dari kantor tempat mu bekerja ?" tanya Yaya lagi, ia seolah tengah berusaha membantu Alvin membuat kebohongan baru.
"Oh iya, itu fasilitas yang perusahaan berikan untukku sayang.
Karena mereka tahu aku setiap harinya naik kendaraan umum dan aku selalu terlambat jadi mereka memutuskan untuk memfasilitasi ku mobil itu.
Jadi untuk sementara waktu aku bisa memakainya sampai aku bisa membeli kendaraan ku sendiri," jelas Alvin tanpa berani menatap Yaya.
"Sepertinya perusahaan tempatmu bekerja sangat murah hati Vin, kamu beruntung bisa bekerja di sana, jarang sekali ada karyawan paruh waktu yang bisa mendapatkan fasilitas seperti kamu sekarang," ucap Yaya.
"Ha ?
i-iya sayang ini juga kan semua berkat doa dari kamu, kamu yang selalu menyemangatiku sampai aku akhirnya bisa menemukan pekerjaan yang pantas untukku," jawabnya makin mempererat rangkulannya pada bahu Yaya.
Alvin mencoba mencium pangkal leher Yaya,namun Yaya menarik pelan tubuhnya dari dekapan Alvin, sikap Yaya membuat Alvin sedikit curiga padanya, apalagi ditambah dengan fikiran yang siang tadi sempat mengganggunya.
"Maaf Vin, aku belum mandi, badan ku penuh dengan keringat, aku pergi mandi dulu," ucap Yaya seraya melangkah kekamar mandi dan menguncinya dengan rapat.
"Kamu mulai tidak jujur Vin, kenapa sikap kamu sama sekali tidak membantu ku untuk berfikir positif tentang kamu Vin," gumam Yaya dibalik pintu kamar mandi.
Selesai mandi, Yaya segera berbaring membelakangi Alvin.
Alvin yang melihatnya pun berusaha bersikap tidak pernah terjadi apa-apa, ia mendekap tubuh Yaya dari belakang, dan menciumi punggung Yaya.
"Vin, maaf aku sedang tidak bisa melayani mu," ucap Yaya.
"Kenapa ?"
"Aku lelah dan mengantuk Vin," jawabnya.
"Ada apa dengan sikap mu malam ini sayang ?" tanya Alvin lembut.
"Aku tidak apa-apa,"
"Duduk sebentar, mari bicarakan apa yang tengah kamu fikirkan dan apa masalah mu sebenarnya," ajak Alvin.
"Aku mengantuk Vin, mari bicarakan besok saja,"
"Yaya !" seru Alvin dengan suara sedikit tinggi.
Yaya menghela nafas panjang, dan menuruti permintaan Alvin untuk duduk bersama.
"Lihat aku," pinta Alvin, namun Yaya tidak bergeming ia tetap menundukkan kepalanya.
"Yaya lihat aku !" teriaknya.
"Berhenti berteriak depan ku Vin, aku masih bisa mendengar mu walaupun kamu bicara perlahan !
"Maksud kamu apa Yaya ?
aku salah apa sama kamu sampai kamu bersikap seperti ini padaku ?"
"Tanya pada dirimu sendiri apa kesalahan mu padaku !"
"Kalau kamu tidak menjawab ku, bagaimana aku bisa memperbaiki kesalahan ku itu Yaya. Tolong berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini !
Jelaskan apa masalah mu !"
"Kekanak-kanakan kata mu ?
baiklah aku akan menjelaskan apa isi kepala ku saat ini jika itu mau mu !
pertama malam itu ada yang menelphone mu jam 02.00 malam dengan nama kontak yang tidak ku kenal !
kedua mobil itu, tidak masuk akal sehat ku Vin, mana mungkin perusahaan menyiapkan fasilitas mobil untuk karyawan paruh waktu yang kapan saja bisa keluar dari pekerjaannya !
dan yang ketiga didalam tas mu aku menemukan seragam supir dan juga bekal yang ku siapkan bahkan tidak kau sentuh sedikitpun !
ada apa dengan kamu sebenarnya Alvin !
apa yang kamu tutupi dariku !" jelas Yaya yang emosinya sudah mulai meluap seraya menahan tangisnya.
"Kamu periksa tas ku !
lancang sekali !"
"Lancang kata mu ?
Vin aku ini istri mu bukan teman atau hanya sekedar kekasih mu, aku berhak atas semua yang ku lakukan !
dan aku berhak atas dirimu seutuhnya, karena kamu suami ku !
aku selalu berusaha jujur pada mu tentang apa-pun itu yang ku kerjakan dibelakang mu, tapi lihat seperti apa sekarang balasan mu ? jika kamu fikir perbuatan mu ini sudah benar maka lanjutkan, tidak usah lagi kau perdulikan tentang perasaan ku !" ungkap Yaya.
"Diam Yaya, kamu terlalu banyak bicara !" bentak Alvin.
"Hm, baiklah aku diam jika itu mau mu !"
Yaya kembali berbaring dan menarik lagi selimutnya.
Alvin yang tidak ingin bertengkar pun kembali menyentuh lembut tubuh Yaya, dan berbaring disamping Yaya.
"Sayang, maafkan aku sudah membentak mu, beri aku kesempatan menjelaskan semuanya,"
"Tidak perlu Vin, ayo tidur,"
"Tidak kamu harus mendengarkan aku terlebih dahulu.
Yang pertama tentang orang yang menghubungi ku malam itu, kamu memang belum mengenalnya, karena dia adalah atasan ku dikantor, dan--" kata-kata Alvin terhenti saat Yaya mulai memotongnya.
"Lalu untuk apa dia menghubungi mu tengah malam ?
apa dia tidak berfikir kalau istri mu akan curiga dengan nya ?
atau memang kau tidak memberitahunya kalau kau sudah berkeluarga ?" tanya Yaya.
"Kumohon diam dan dengarkan aku dulu bicara, dia menghubungiku karena ada pekerjaan yang saat itu belum ku serahkan padanya,"
"Lalu ?"
"Masalah mobil.
Mobil itu memang difasilitasi oleh perusahaan itu kenyataannya, dan yang terakhir baju yang kau temukan bukanlah baju supir, melainkan seragam disana memang seperti itu, dan satu lagi masalah bekal, aku tidak memakannya karena atasan ku memaksa kami untuk makan bersama nya, aku sudah berusaha menolak dengan menunjukan kotak bekal yang kau siapkan, namun atasan ku tetap memaksa, bagaimana menurut mu seharusnya aku bersikap ?" jelas Alvin.
Yaya terdiam sesaat mendengar semua penjelasan Alvin yang sedikit masuk akal, ia membalikan badan mengahadap Alvin dan memeluknya dengan masih terisak.